Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
40. Masa Kini.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


4 Tahun kemudian.


Waktu telah berputar begitu cepat. tak terasa sudah 4 tahun lamanya Hema berada di Ibukota setelah lulus kuliah waktu itu.


waktu telah mengajarkan Hema bagaimana menikmati hidup. sudah 4 tahun lamanya, berjuang untuk masa depannya, banyak hal yang berubah dari hidup Hema. semuanya...


tapi jauh dari itu, waktu telah membuat gadis itu semakin tumbuh menjadi wanita yang kuat. wanita yang memiliki pendirian dan tak mudah di goyahkan.


Entah kebaikan apa yang dilakukan Hema di sama lalu, hingga hidupnya sekarang benar-benar berjalan dengan sangat baik. karir, pekerjaan juga dengan masalah-masalah lain.


tapi ada satu hal yang tidak berubah, percintaan. Hema tak seberuntung itu.


"Kamu tau ... karena kesehatan CEO lama yang semakin buruk, beliau telah menyerahkan jabatan ke CEO baru...".


"Ya, aku pernah mendengar hal itu..." jawab Hema sambil mengerjakan pekerjaannya.


menatap layar komputer bersama rekan satu timnya.


seperti inilah pekerjaan Hema, bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Ibukota.


sudah 4 tahun ini Hema menggantungkan hidupnya disini, bersama Sasa tapi beda penempatan.


yang mana hanya bisa bertemu ketika jam istirahat saja.


"Katanya CEO baru itu sangat tampan dan muda...".


Sejenak Hema mengerutkan keningnya. Benarkah?


karena yang ia dengar dari yang lain, CEO baru itu sudah berumur dan memiliki postur tubuh pendek dengan perut membuncit.


biasa seperti postur bapak-bapak.


"Siapa yang bilang?". gadis di sebelah Hema menyanggah ucapan rekannya.


"Ma, kata Pak Doni bukan seperti itu kan?".mencari pendukung karena Hema juga mendengar hal itu beberapa hari yang lalu.


"Katanya lebih tua dari CEO yang sebelumnya...".


"Apa aku yang salah dengar ya...". sang pembawa gosip mulai ragu dengan gosipnya sendiri. "kita lihat saja lusa...".


"Lusa?".


Semuanya terkejut.


"Kalian tidak tau kalau dia akan datang lusa?". kembali percaya diri karena yang lain tak mengetahuinya. berarti berita yang dibawanya kali ini masih terdengar berita hot bukan?


begitu hatinya bicara.

__ADS_1


Semua staf sekertaris itu menggelengkan kepala. membuat si pembawa berita tentu saja tersenyum bangga. merasa dirinya paling penting hingga tau kabar baru tersebut.


"Aaa... aku sangat penasaran... bagaimana sosoknya ya? apakah galak?". ragu jika atasan barunya itu sangat galak. pasti mereka akan selalu terlibat masalah paling awal bukan? karena Staf Sekertaris itu adalah bagian paling inti dan dekat dengan ruangan CEO. jadi jika ada kesalahan, mereka lah yang akan menanggung akibat nya paling awal dari yang lain.


"Ayo-ayo jangan banyak bicara... pekerjaan kita masih banyak..." sela Hema. karena sejak awal ia tak begitu tertarik dengan bahasan CEO baru di tempatnya bekerja.


seperti apapun sosoknya, tak mengubah nasib Hema. kecuali jika ia yang mendapat masalah, itulah akhir dari karirnya di Perusahaan tersebut.


Mereka pun kembali mengerjakan pekerjaannya hingga matahari berangsur-angsur tenggelam di barat.


Sambil menaiki motor matic nya berboncengan dengan Sasa, membelah jalanan Ibukota menuju ke tempat tinggal yang selama ini menjadi tempat berlindung dari hujan dan panas.


Apartemen yang sudah 4 tahun ditinggalinya.


Masih sama seperti dulu, suasana Ibukota. kedua gadis itu berjalan menuju ke unitnya berada. lelah, itulah yang terlihat dari wajah Sasa dan Hema. tapi bagaimanapun lelahnya, mereka tetap berusaha untuk mewujudkan semua impian.


"Nanti tidak apa kalau lo sendirian?". pertanyaan Sasa membuat Hema menggelengkan kepala.


Beda dengan Sasa yang telah memiliki kekasih, Hema justru terlihat menutup diri. entah apa yang membuat gadis itu tidak tertarik dalam masalah percintaan, kembali membuka hati yang pada akhirnya akan terluka lagi. Hema tak mau.


Bahkan di usianya yang masuk 27 tahun, gadis itu masih nyaman hidup sendiri.


"Jangan lupa makan Ma, atau mau gue bawakan makanan nanti?".


Sasa tau, Hema tidak akan berselera makan tanpanya.


"Jangan khawatir Sa, gue akan makan nanti...". keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing.


membersihkan diri, sedangkan Sasa langsung pamit keluar bersama dengan kekasihnya.


Sasa duduk di bangku samping kemudi. "Kasian Hema..." keluhnya.


Sudah banyak tahun yang Sasa lalui bersama dengan Hema. apapun yang Hema lalukan, Sasa menjadi orang pertama yang tau. termasuk dengan sikap menutup diri gadis itu. sudah berbagai cara yang Sasa lakukan untuk membuat Hema seperti dulu kala. menjodohkannya pada pria yang menurutnya baik, tapi nyatanya Hema tak berkeinginan sama sekali.


"Lo dengar ucapan gue tidak sih," Sasa protes karena kekasihnya tak menggubris keluhannya tentang Hema.


"Ya sayang... gue dengar..." pria itu sedikit melirik Sasa. pria yang terkenal playboy di masa kuliah pada akhirnya berlutut di depan Sasa, memohon untuk diterima cintanya.


dari peristiwa yang tidak sengaja, membuat kedekatan mereka semakin bertambah dan pada akhirnya menjalin hubungan.


Jio, salah satu sahabat Hean waktu kuliah.


"Lalu?".


"Lalu bagaimana? gue juga bingung mau memberi masukan apa?". Jelas Jio tak mau ikut campur dalam masalah hati.


karena yang bisa memutuskan adalah yang bersangkutan.


walaupun Jio tau, apa yang membuat Hema seperti sekarang tapi tetap tak bisa berbuat apapun untuk gadis itu.


"Gue bahkan pernah menyumpahi sahabat lo itu! tidak akan pernah bahagia karena menyakiti Hema!".

__ADS_1


"Sayangg..." Jio protes walaupun kelakuan hean tak bisa dibenarkan.


pria itu bak menebar harapan yang justru langsung mematahkannya begitu saja. itulah yang Hean lakukan pada Hema. meninggalkan gadis itu saat Hema sudah begitu dalam menyukainya.


"Kenapa? dia pantas untuk disumpahi...". Sasa tetap pada pendiriannya.


baginya Hean tak lebih dari pria pecundang yang selalu memberi harapan lalu menghilang.


***


Malam semakin larut.


Hema, dengan jaket tebal membungkus tubuhnya berdiri di balkon. angin malam mampu membuat anak rambutnya berkibar sesekali menutupi pandangannya.


tak tau apa yang gadis itu pikirkan. tapi tatapannya sangat dalam ke arah langit, sesekali menatap balkon kosong di sampingnya.


jelas terlihat tak ada kehidupan disana. karena, sudah 4 tahun lamanya Unit itu sengaja di tinggalkan.


Agghh... Hema sesak mengingatnya lagi.


Waktu itu, malam setelah ia melihat kembang api bersama Hean.


Hema menekan pintu Bell Apartemen pria itu. sangat lama, tapi tak ada jawaban sama sekali.


setiap hari Hema mencoba untuk berkunjung, tapi tak juga dibiarkan masuk. hingga puncaknya, Hema tau kalau pria itu telah pergi.


"Hean... kenapa lo jahat sekali?". tangisnya pecah ketika menyadari pria itu telah menghilang tanpa memberi kabar kepadanya. bahkan untuk berpamitan saja, Hean tak mampu melakukannya. pria itu hanya meninggalkan sepucuk sepucuk surat yang dititipkan kepada Jio.


Sorry Ma...


mungkin saat lo membaca surat ini, Gue telah pergi...


gue bahkan tidak bisa mengatakannya langsung kepada lo. itulah sebabnya gue menulis surat ini untuk lo...


Gue pergi... gue akan pergi jauh dari sini.


jangan menunggu gue ataupun menunggu kabar gue, hema ... karena gue pergi sangat lama dan tidak akan pernah kembali...


kalaupun nanti kembali, mungkin salah satu diantara kita telah berkeluarga...


Terimakasih atas segala waktu yang pernah kita lalui bersama. terimakasih karena lo pernah hadir di hidup gue...


tapi untuk bersama dengan lo, gue tidak bisa.


Gue harap lo mampu menepati permintaan gue, selalu bahagia Hema ku... jangan pernah menangis lagi...


Hema menghela nafas. merenungi semuanya di masa lalu. jika Hean tau, mungkin Hema tak pernah menangis lagi saat ini. tapi ada sesuatu dalam dirinya yang ikut terampas. ia mungkin kehilangan air matanya tapi lebih dari itu, Hema lupa caranya tersenyum.


senyum yang dulu tampak indah menghias wajahnya tak pernah terlihat sejak kepergian Hean dari hidupnya.


Yang paling membuat sesak bukanlah ditinggal Hean, tapi karena Hema tak mempunyai kesempatan untuk melepas pria itu pergi. tak punya kesempatan untuk bilang bahwa Hean berarti baginya. itulah yang Hema sesali sampai sekarang.

__ADS_1


Jika dalam surat Hean bilang untuk tidak menunggu kepulangannya, yang Hema lakukan justru lebih dari itu. gadis itu tak berniat untuk membuka hatinya kepada pria lain. bahkan berumah tangga, bukan lagi impiannya.


***


__ADS_2