
HAPPY READING...
***
"Jadi mau membawaku kemana?" Intan tersenyum sepanjang jalan. betapa Intan penasaran kemana pria yang di tengah mengemudi sepeda motor itu membawa dirinya malam ini.
Banyak waktu yang telah mereka lalui bersama. dari setiap obrolan yang terasa nyambung membuat mereka sama-sama nyaman. dan tanpa bisa dicegah, tumbuh benih-benih cinta diantara Intan dan pria itu.
Walaupun begitu, mereka masih menjalin hubungan secara diam-diam. banyak alasan yang membuat Intan menyembunyikan semuanya, termasuk pada kakaknya sendiri. bagaimana tidak? Hean sudah kerap kali mewanti-wanti agar tidak terlalu dekat dengan pria itu. tapi tetap saja yang namanya cinta, apalagi inilah pertama bagi Intan merasakan yang namanya jatuh cinta.
Mereka dengan cara yang cukup epik, sesekali mencuri kesempatan untuk bisa keluar berdua seperti sekarang.
bahkan hanya makan berdua saja sudah membuta hati mereka berbunga-bunga.
"Ada satu tempat makan yang ingin gue datangi bareng lo...".
"Benarkah? ayo kita kesana sekarang..." ucap Intan antusias.
Motor itu semakin melaju jauh dari tempat mereka bertemu tadi.
"Dingin kan?". Dengan perhatian, pria itu segera menggenggam jemari tangan Intan dengan satu tangan. sedangkan tangan satunya menjaga kemudian laju kendaraannya.
"Kalau nanti uangnya udah terkumpul, gue tidak akan tega mengajak lo dengan motor seperti ini Tan,".
Siapa sih yang tega melihat kekasihnya menderita. sama halnya dengan pria itu, tak mau melihat Intan menderita saat pergi dengannya.
"Jangan khawatir, gue oke-oke saja kok..." hibur Intan. ia pun tak banyak menuntut. karena yang dimiliki kekasihnya hanya sepeda motor, Intan tak masalah. asal hubungan mereka baik-baik saja itu sudah cukup baginya.
karena mobil bisa dibeli ketika sudah ada uang yang lebih.
"Untuk sekarang, boncengan seperti ini sangat menyenangkan...".
Siapa yang tak bersyukur memiliki pacar seperti Intan. walaupun pria itu tau gadis itu adalah kesayangan keluarganya, tapi Intan tak pernah mengeluh sedikit pun kepadanya.
Terimakasih Intan... gue janji akan lebih cepat mengumpulkan uang...
Tibalah keduanya di depan sebuah Restoran dengan tema warna merah di dinding maupun ornamennya.
"Ayo..." menggandeng tangan Intan dan masuk ke dalam sana.
"Jadi kita mau makan Ramen?". Intan senang. ini adalah pertama kalinya ia dan kekasihnya makan di tempat ini.
"Hm,".
Tapi baru melangkah masuk, Intan dan kekasihnya terdiam membatu. matanya membulat dan tertuju pada salah satu meja di dekat jendela.
Mati Gue!
Mereka tak menyangka kalau malam ini adalah malam naas baginya. bertemu dengan orang yang tidak mereka harapkan sama sekali.
Tautan tangan Intan dan kekasihnya langsung terlepas bersamaan dengan tatapan horor seseorang di depan sana.
"Kalian?". Hean.
Tak menyangka kalau malam ini ia bisa memergoki adiknya tengah jalan berdua dengan seseorang yang mampu membuat dirinya serangan jantung tiba-tiba.
"Hehehe... kakak," Intan pias. bahkan tak terasa peluh membanjiri keningnya. lututnya terasa gontai karena takut akan kemarahan kakak laki-lakinya itu.
Jadi mereka? Dimas... agghh... bagaimana bisa?
__ADS_1
Hean benar-benar terkejut. bahkan sampai membuatnya tersedak tadi.
"Kalian?".
"Hai Yan," sapa Dimas dengan senyum kaku. tak ada kesempatan untuk kabur kali ini. hingga yang dilakukan pria itu adalah membawa Intan mendekati meja Hean.
"Lo makan disini juga ternyata..." lanjutnya sambil melirik ke kursi sebelah Hean.
"Hai..." sapanya juga pada Hema.
"Intan...". Hean tak merespon sapaan Dimas. yang ia pikirkan saat ini hanyalah adiknya itu.
"Kakak..." Intan semakin pias. tau kalau kakaknya tengah marah saat ini.
Hean menunjuk kursi di seberang tempat duduknya. meminta sangat adik ikut duduk disana dan menjelaskan semuanya.
"Intan, duduk!".
Hingga yang dilakukan Intan hanyalah menuruti keinginan Hean, duduk dan diam.
suasana restoran justru berubah seperti sebuah meja sidang. dimana nasib Intan dan Dimas sedang dipertaruhkan disana.
"Kakak...".
Memperlihatkan wajah menyedihkan berharap Hean memaafkan segala kesalahannya.
"Jadi ini yang lo lakuin tiap malam?".
Hean seringkali mendengar keluhan Ibu bahwa Intan sering keluar rumah dengan Dimas. tapi saat ditanya, gadis itu selalu menjawab tidak sedang berhubungan dengannya.
Tiap malam?
"Tidak... tidak tiap malam..." ucap Intan sebagai bentuk pembelaan diri. karena memang tak setiap malam ia pergi dengan Dimas. hanya saat keduanya tidak sibuk saja.
"Kakak..." rengek Intan lagi.
Hean mengangguk, "Jadi kalian melakukannya sembunyi-sembunyi...".
"Hean, jangan salahkan Intan..." sela Dimas. membuat tatapan Hean beralih kepada sahabatnya yang satu itu.
"Gue yang mengajak Intan makan malam bersama..." lanjut nya.
Bagaimanapun, Dimas tak mau menjadi pengecut. sebagai seorang pria, tentu ia tau konsekuensi membawa gadis muda jalan di malam hari. apalagi Intan, anak perempuan di keluarga Hean dan menjadi kesayangan semuanya.
"Tapi Kak-,"protes Intan. Ia ingin mengatakan kebenarannya, kalau Intan lah yang mengajak Dimas pergi malam ini. tapi Intan mengurungkan niatnya saat menyadari tatapan begitu tulus dari Dimas.
Diam saja dan percaya padaku... begitu sorot mata Dimas bicara hingga yang dilakukan Intan kembali diam seperti semula.
"Maaf karena gue menyembunyikan ini Yan, tapi gue tidak bisa jauh dari adik lo..." aku Dimas.
Ha? Jadi Dimas suka dengan Intan? Hema bahkan sampai terkejut dengan ucapan pria itu. tak menyangka kalau sahabat Hean sendiri suka dengan adiknya.
"Tapi Nyet...-". Hean tak bisa melanjutkan ucapannya. dirinya terlalu syok melihat kenyataan bahwa hubungan Intan dan Dimas bukan hanya sekedar teman. keduanya sama-sama suka dan menjalin hubungan di belakangnya.
Agghh... apa yang harus gue lakukan?
"Lo tau kan kalau Intan masih kuliah?". Hean kembali melayangkan sebuah fakta.
Adiknya masih terlalu muda untuk urusan percintaan. Hean takut kepolosan Intan justru disalah gunakan seseorang. apalagi Dimas, pria yang begitu banyak tau dan faham bagaimana sebuah hubungan.
__ADS_1
"Sampai dimana hubungan kalian?".
Degg...
Dimas dan Intan sama-sama terkejut.
"Kakak,... Kakak salah paham,".
Ucapan Intan tak juga membuat Hean sedikit bergeming. "Sampai dimana hubungan kalian? jawab!".
"Kakak...".
"Gue tidak pernah melakukan apapun terhadap Intan... sumpah,". ucap Dimas terdengar yakin.
mungkin Hean mengira kalau Dimas masih seperti dulu, menjalin hubungan dan bermain-main saja. tapi tidak untuk saat ini. Dimas benar-benar mencintai Intan dan menjaga gadis itu.
"Sungguh kak, kami tidak aneh-aneh..." tambah Intan meyakinkan kakaknya.
Ck... Hean frustasi melihat keduanya.
apalagi melihat tatapan polos adiknya. siapa yang tega?
"Tapi lo masih kecil Tan, Lo masih kuliah...". Hean bersuara lagi.
Kecil?
Hema tergelitik dengan ucapan Hean barusan. lucu sekaligus aneh. tapi di sisi lain, entah kenapa Hema iri. karena sejak dulu ia tak pernah bisa merasakan bagaimana memiliki seorang kakak laki-laki. mungkin jika Hema punya, pasti akan memperlakukannya seperti Hean memperlakukan Intan.
"Kakak...".
"Lo bisa pegang omongan gue Yan,.." ucap Dimas sambil menatap sahabatnya lekat.
"Kalau gue sampai mengecewakan Intan, lo berhak melakukan apapun terhadap gue...".
Uhh... manis sekali sih... Intan menatap Dimas penuh haru. tak menyangka kalau kekasihnya itu sampai mempertaruhkan dirinya.
"Awas saja kalau sampai lo nyakitin adik gue, gue akan jadi lawan lo Dim!" ancam Hean terdengar serius.
"Hm,".
"Jangan senang dulu Tan," cegah Hean pada adik perempuannya.
padahal tadinya Intan sudah ingin tersenyum lega, tapi sekarang ketegangan kembali terjadi.
"Lo harus bicara dengan Ayah dan Ibu dulu...".
"Kakak..." rengek Intan.
bicara dengan orangtuanya? sungguh Intan belum siap. ia tak mempunyai keberanian untuk itu.
"Gue akan menemani lo..." ucap Dimas mengejutkan semua orang.
Gila... Hema bahkan sampai mengumpat dalam hati. tak mengira kalau Dimas sangat bertanggung jawab dan bisa diandalkan.
Beda sekali dengannya... Lirik Hema pada pria di sebelahnya. pria yang seringkali bersikap plin-plan dan membingungkan.
Apa? begitu sorot mata Hean pada Hema.
tau dirinya sedang dibandingkan dalam hati.
__ADS_1
Setelah ketegangan itu hilang, semuanya melanjutkan makan malam mereka.
***