Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
31. Hari Ke-35.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pernah, aku pernah berada dalam situasi yang sulit untuk dijelaskan. aku ingin pergi, langkah kakiku berat hingga membuatku berhenti untuk melangkah. ingin lari, tapi tak juga beranjak.


tubuh ku menegang bersamaan dengan binar mata yang selalu tertuju pada seseorang.


Wajah yang teduh, tatapan mata sayur namun mengunci pergerakan, aku selalu ingin melihat nya.


Raga ku tak bisa jauh darinya. sebuah tali kasat mata seolah mengikat ku hingga yang bisa kulakukan hanyalah melihatnya.


pria itu telah jauh masuk ke dalam hatiku, sangat jauh hingga tanganku saja tak sampai untuk menggapainya.


sosoknya perlahan mulai singgah tanpa berkeinginan untuk pindah.


dan itulah yang aku rasakan. saat dimana Hean, nama pria itu terukir dalam hatiku.


***


Hema menutup kembali buku hariannya. malam telah naik ke peraduan bersama dangan angin malam yang sejuk menusuk tulang.


gadis itu mulai beranjak naik ke atas ranjang. menarik selimut tebal untuk membungkus tubuhnya. hingga hitungan jari, Hema benar-benar terpejam. masuk dalam dunia mimpi yang begitu indah.


Waktu terus berjalan, detik jam terus berputar hingga kegelapan malam telah digantikan oleh sang surya yang mulai mengintip dari ufuk timur. tersenyum menyambut dunia pagi hari.


Alarm berbunyi tanpa henti, menjadi penanda seseorang harus segera bangun dan meninggalkan dunia mimpinya.


bersamaan dengan itu, jemari lentik keluar dari selimut. meraba nakas meraih ponsel yang masih berbunyi.


hingga sekali tekan, suasana kamar menjadi sunyi kembali.


Hema menggeliat. mengumpulkan kesadarannya sebelum akhirnya bangun, duduk sambil mengucek mata.


Kelopak mata indah itu akhirnya terbuka sepenuhnya. menatap sebuah koper kecil di samping ranjang sebelum beranjak pergi ke kamar mandi melakukan aktifitas paginya.


Langit memang masih sedikit gelap, tapi Hean telah bersiap. pagi ini perjalanan panjang akan ia tempuh demi menemui orang yang begitu ia sayangi. nenek...


Ya, Hari ini Hema akan meninggalkan Ibukota untuk bertemu neneknya di desa.


Tak terlalu lama, hanya 3 hari saja dan setelahnya ia akan kembali ke Ibukota.


"Biar gue bawa koper lo..." Sasa bersuara setelah masuk ke dalam kamar sahabatnya.


Gadis berambut pendek itu segera mengeluarkan koper milik Hema dan membawanya keluar Apartemen.


Rencananya, Sasa juga akan pulang menemui orang tuanya. tapi bedanya kota Sasa dan Hema berbeda jadi mereka tidak bisa berangkat bersama.


"Gue bisa membawanya sendiri Sa...". Hema mengikuti Sasa keluar.

__ADS_1


bersamaan dengan itu, Hean juga telah menunggu di depan sana.


Rencana pulang menemui nenek tak lepas dari campur tangan Hean. pria itulah yang memesan tiket kereta untuk 2 orang. satu untuknya satu lagi untuk Hema. "Sudah siap?". memastikan apakah ada yang mereka lupakan atau tidak.


Apalagi ketiganya akan meninggalkan tempat ini untuk beberapa hari.


"Beres..." jawab Sasa.


Mobil yang biasanya dikendarai Hean, hari ini terasa berbeda. kali ini Dimas yang akan mengantarkan mereka. Menurunkan Sasa di terminal bus dan setelahnya mengantarkan Hema dan Hean ke Stasiun Kereta.


"Hati-hati di jalan..." Sasa berteriak sebelum akhirnya berpisah dengan sahabatnya untuk beberapa hari.


Mobil itupun kembali melaju di jalanan.


"Jio sudah memberi kabar?" tanya Hean.


Sahabatnya yang satu itu juga telah kembali ke kotanya sehari sebelum mereka.


lebih tepatnya kemarin, dimana Hean juga mengantarkan kepergiaan Jio.


"Sudah, dia sampai tadi malam..." jawab Dimas sambil berkonsentrasi mengemudi. melihat jalanan di depan sana yang sedikit lebih lenggang dari biasanya.


jelas, karena jam masih terlalu pagi untuk beraktifitas.


"Syukurlah...".


Hema yang duduk si bangku tengah bersebelahan dengan Hean hanya terdiam mengamati jalanan dari balik jendela.


"Jadi berapa hari kalian disana?". pertanyaan kembali terlontar dari mulut Dimas.


bukan tanpa sebab, pria itu hanya memastikan saja.


"Tidak lama, mungkin 3 hari saja..." jawab Hean setelah menatap Hema seolah mencari pertimbangan dari gadis itu.


Oh...


Tibalah Mereka di Stasiun Kereta. Di tempat itu Dimas melepas kepergian Hean dan Hema. mungkin Ibu kota akan terasa sepi karena Dimas di tinggal oleh kedua sahabatnya.


"Jaga diri kalian...". Dimas menepuk bahu Hean. karena hanya doa yang bisa ia lakukan saat ini. berharap perjalanan Hema dan Hean lancar sampai pulang nanti.


"Yoi... sampai ketemu lagi...".


"Kita pergi dulu ya Dim..." ucap Hema.


Di perjalanan, Hema dan Hean memilih untuk melanjutkan tidur mereka. perjalanan memang butuh waktu yang lama. mereka harus mengisi energi untuk tidur karena semalam pun tidurnya tidak begitu nyenyak. Apalagi Hema yang tidak bisa tidur karena terlalu bahagia bisa pulang menemui sang nenek.


8 jam waktu perjalanan benar-benar melelahkan.


Mereka tiba di kota asal Hema menjelang sore. Itupun mereka harus mencari transportasi online menuju ke desa.

__ADS_1


"Ayo kita makan dulu..." ajak Hean. selain butuh tenaga, ia juga butuh makan agar kuat menghadapi kenyataan.


Keduanya mampir di sebuah warung pinggir jalan yang menjual Baso.


Hean sangat ingin makan makanan berkuah. apalagi meraciknya dengan sedikit kecap manis, saus, juga dengan sambal yang begitu menggiurkan.


Beda dengan Hema, Hean memperhatikan cara makan gadis itu. hanya menambahkan sedikit sambal hingga membuatmu kuah baso terlihat tetap bening.


"Apa enak makan seperti itu?". Hean penasaran. karena baginya, racikannya lah yang juara. bukan seperti milik Hema yang terlihat tak ada bedanya dengan yang tadi.


"Tentu saja... gue lebih suka begini..." jawab Hema dengan bangganya. karena selera orang beda-beda, termasuk dengan cara meracik semangkuk Baso.


"Coba," pinta Hean. ia penasaran dengan Baso milik Hema yang terlihat bening.


Hema menyodorkan mangkuknya ke arah Hean. dan setelahnya Hean merasai Baso racikan Hema. terasa hanya asin dan pedas saja. tidak seperti miliknya yang ada rasa manis juga asam.


"Apa lo selalu makan seperti itu?". Hean hanya penasaran saja, padahal jelas-jelas masih enak miliknya.


"Iya... karena hidupku saja terlalu pahit, jadi kenapa kecap hanya untuk merubah rasa?"Jawaban Hema benar-benar membuat Hean menaikkan alisnya heran.


Ck filosofi macam apa itu


"Tidak perlu untuk berpura-pura terlihat bahagia sedangkan keadaan yang sebenarnya begitu menyakitkan... kadang gue juga ingin tertawa seperti orang lain, tapi di sisi lain gue tak bisa menutupi tangis dengan sebuah tawa... jadi ketika yang lain tertawa, gue akan menghindar dan menangis sendirian...".


Hean menghentikan maknanya mendengar ucapan Hema yang seperti tengah mengeluarkan unek-unek di hati.


"Gue sudah bilang jangan pernah menangis lagi bukan?". Mungkin bukan hanya sekarang, Hean terlalu sering mengatakan hal itu. apapun yang terjadi, Hema harus bahagia.


"Iya-iya, gue ingat... tapi Yan, gue boleh tanya sesuatu?". Ingatan Hema saat tadi di perjalanan seperti mengganggunya.


saat dimana mereka tidur di dalam kereta, Hema tak sengaja mendengar Hean mengigau.


Benar apa yang dikatakan Ibunya Hean waktu itu, Hean memiliki kebiasaan aneh. mengigau ketika tidur.


"Hm,".


"Jangan pulang... gue mohon jangan pulang Nes...".


Itulah yang Hean katakan data tidur tadi. Hema hanya penasaran, siapa yang Hean maksudkan itu. dan siapa yang tidak boleh pulang? tapi di sisi lain, Hema merasa tak enak untuk menanyakan hal yang mungkin sebuah privasi bagi Hean.


"Tidak jadi...".


Pada akhirnya Hema tak jadi menanyakan hal yang sempat membuatnya penasaran.


"Katakan..." desak Hean.


"Tidak jadi Yan... lupakan saja...".


"Hemaaa...". Kali ini dengan nada merendah, ada sebuah kekesalan yang di bungkus rapi oleh kemarahan.

__ADS_1


"Gue lupa...". elak Hema. berharap Hean tak lagi penasaran dengan apa yang hendak gadis itu tanyakan.


***


__ADS_2