
HAPPY READING...
***
"Ayo berangkat...". Sasa telah siap lebih dulu dari Hema. membawa tas kecil dan merapikan penampilannya sebelum benar-benar memakai sepatu. sedangkan Hema masih berada di dalam kamar, sibuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum berangkat bekerja.
hingga langkah kakinya benar-benar mengikuti Sasa keluar dari Apartemen.
Sejenak tatapannya tertuju pada unit di sampingnya. Apartemen kosong tapi masih terawat kebersihannya karena memang ada pegawai yang disewa untuk membersihan tempat itu.
Seperti pagi ini, pintu Apartemen terbuka. Hema sempat terkejut mengira si pemilik Apartemen telah kembali. tapi saat yang keluar orang lain, Hema sedikit kecewa karena tak sesuai dengan yang ia harapkan.
Ternyata tidak...
Waktu telah berlalu tapi masih ada harapan di hati Hema. andai pria itu datang dan berdiri di hadapannya, mungkin saja Hema tak bisa membendung kesedihannya. mungkin yang ia lakukan adalah memeluk pria itu tanpa ragu.
"Ayo,".
Lamunan Hema kembali buyar saat Sasa kembali memanggilnya. dan pagi itu, masih seperti pagi-pagi sebelumnya Hema berangkat bersama dengan sahabatnya.
berboncengan sepeda motor menuju ke tempat kerja.
Suasana pagi hari terlihat begitu cerah saat Hema dan Sasa tiba di Asian Star. sudah banyak karyawan yang berdatangan di bagian masing-masing. Hema dan Sasa juga berpisah di Lift, karena penempatan mereka yang berbeda.
"Bye...".
Lift itu semakin membawa Hema naik ke lantai dimana ia bekerja.
"Selamat pagi".
Rekan kerja Hema menjadi orang pertama yang menyapa.
"Sudah lama datang kak?" tanya Hema berbasa-basi. merapikan meja kerjanya dan segera duduk.
Pagi ini dimulai dengan pekerjaan yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Hema, bisa tolong antar ini ke ruangan CEO?".
Awal bencana di mulai ketika salah satu senior di Staf sekertaris meminta Hema melakukan tugas yang sebenarnya bukan tugasnya.
"Tapi Pak,". sempat protes karena biasanya bukan dia yang mendapat pekerjaan ini.
menyerahkan berkas kepada CEO langsung. toh, Hema tidak bisa akan bicara apa nanti.
"Tolong kali ini saja, perut saya sakit...". untuk memperlancar aksinya, senior itu juga menyentuh perutnya dan benar-benar terlihat seperti sakit perut. "Tinggal bilang berkas dari Saya setelah itu keluar..." lanjutnya.
Agghh...
Sebenarnya Hema takut sekaligus bingung, bagaimana nanti saat dia menyerahkan berkas itu. walaupun hanya diminta untuk menyerahkan berkas, tapi tetap saja Hema takut.
ia lebih baik bekerja di belakang layar saja daripada harus berhadapan langsung dengan atasan.
"Sudah ya Hema... Bapak percaya padamu...". senior itu menepuk pelan bahu Hema dan langsung berlari. mungkin saja menuju ke toilet untuk menuntaskan hajatnya.
Sekarang Hema terlihat panik. menatap berkas di tangannya dengan keringat dingin di pelipisnya.
Agghhh... bagaimana ini?
Tapi menolak pun tidak akan berguna, hingga mau tak mau Hema benar-benar bangkit dari duduknya. menangkup berkas di dada dan berjalan perlahan ke arah ruangan CEO.
Bagaimana kalau gue dimarahi nanti?
__ADS_1
Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu,
tok tok tok... bahkan sampai memejamkan mata karena takut.
"Masuk...".
sebuah suara mampu Hema dengar dengan jelas. sebagai perintah bahwa kehadirannya di sambut. tapi bukan akhir kegugupan Hema. gadis itu semakin panik dan takut.
bahkan jantungnya berdetak tak karuan.
Dengan tangan gemetar, Hema menyentuh gagang pintu itu. menggigit bibir bawahnya dan sedikit mendorong pintu agar dirinya mampu masuk ke dalam sana.
Selamatkan aku Tuhan...
Di dalam ruangan itu, hanya ada seseorang yang duduk di kursi CEO sambil membelakangi ruangan. jelas terlihat kalau atasannya itu melihat ke arah jendela menikmati pemandangan Ibukota.
"Permisi Pak...". ucapan Hema untuk pertama kali.
Gue bahkan bisa mendengar suara nya yang bergetar... batin CEO.
"Saya di minta senior untuk menyerahkan berkas ini..." lanjutnya. mendekati meja CEO dan meletakkan berkas itu di tumpukan paling atas.
"Berkas? berkas apa?". bahkan Hean sampai merubah sedikit suaranya agar tidak dikenali.
Eh, Hema panik. Karena jawaban untuk pertanyaan yang satu ini belum ia rencanakan sebelumnya.
Gue harus jawab apa?
"Saya tidak tau Pak, saya hanya diminta untuk menyerahkannya saja...".
Jawab saja seperti itu, daripada sok tau dan membuat gue terlibat masalah nanti...
Lagian Hema tak sempat membaca berkas yang tadi ia bawa. jadi tak tau apa isinya.
Hema semakin panik dengan jawaban atasannya itu.
tapi lebih dari itu, kenapa Anda tidak memutar kursi anda Pak?
Bahkan Hema benar-benar tidak bisa melihat seperti apa sosok CEO barunya itu.
"Maafkan saya Pak,".
meminta maaf adalah hal pertama yang dilakukan.
"Jadi berkas apa yang kamu bawa?".
Lagi, pertanyaan yang Hema sendiri tak tau harus menjawab apa. karena memang dia tak sempat membacanya tadi.
"Saya tidak tau Pak... saya hanya diminta senior untuk mengantarkan berkas ini kepada Bapak...". alasan yang jelas.
Decit kursi terdengar menggema. membuat Hema seketika mundur beberapa langkah dari meja dan menundukkan kepalanya amat dalam
hingga yang mampu ia lihat hanyalah ujung sepatunya di bawah sana.
Bersamaan dengan itu, kursi telah berbalik arah. menatap ke arah Hema.
Akhirnya bisa bertemu...
Tap Tap Tap...
terdengar langkah kaki Hean, seperti memutar hanya untuk mendekati Hema yang masih menundukkan kepalanya. jangankan untuk melihat apa yang tengah terjadi, mengangkat pandangannya saja gadis itu terlalu takut.
__ADS_1
bahkan lebih dari itu, keringat seperti mengucur di punggungnya, padahal pendingin ruangan dalam keadaan menyala.
Berdoa, meminta keselamatan hanya itu yang ada di dalam benak Hema. khawatir jika hari ini adalah hari terakhir ia bekerja di Perusahaan ini.
"Hema Febriani,".
Deg...
Jantung Hema seakan berhenti berdetak. bingung karena atasannya itu bahkan hafal nama panjangnya. Apa gue sudah masuk blacklist perusahaan?
Hema menerka-nerka.
Tapi anehnya kenapa secepat itu? padahal baru beberapa menit yang lalu ia datang ke ruangan ini. bahkan ini adalah kali pertamanya berhadapan langsung dengan sang atasan.
Apa gue dijebak?
bahkan pikiran buruk itu terlintas dalam kepalanya. hanya itu kemungkinan yang membuat Hema dalam masalah. karena, jelas ia ingat bagaimana reputasinya di Perusahaan ini. karyawan yang tak terlalu mencolok dan mungkin tak ada yang menyadari bahwa ada pekerjaan bernama Hema di tempat ini.
Tapi kenapa juga dijebak? Hema tak memilikimu jabatan yang membuat orang iri dan ingin merebutnya. ia hanyalah bagian dari staf sekretaris yang sibuk berkutat dengan komputer.
"Bagaimana kabarmu?".
Ha?
Pertanyaan yang seketika membuta Hema menaikkan pandangannya. tapi keputusannya adalah salah. ia lebih terkejut dengan sosok CEO di depannya daripada pertanyaan aneh barusan.
Langkahnya goyah hingga sempat membuat tubuhnya terhubung ke belakang. mata Hema membulat seperti melihat hantu di depan sana.
lidahnya terlalu kelu untuk sekedar mengucapkan sebuah kata.
"Bagaimana kabarmu Hema?". kali lagi pertanyaan itu terlontar dengan mudahnya.
He-an? dia benar He-an kan?
batin Hema tak percaya dengan sosok CEO baru yang ternyata tak asing baginya.
sosok pria yang pernah begitu dekat dengannya. pria yang tiba-tiba menghilang 4 tahun lalu, tanpa mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu.
Pria yang begitu mudah mengobrak-abrik hidup Hema. dan dengan mudahnya pul pria itu kembali lagi seperti sekarang. berdiri di depan Hema tanpa ragu sedikitpun.
entahlah, Hema bingung menjelaskan seperti apa Hean baginya.
"Lama tidak bertemu ya...".
Ucapan yang sangat berbeda dari tadi, saat pertama kali Hema menginjakkan kaki di ruangan ini. kali ini Hean berbicara dengan lembut, sama seperti waktu dulu.
Dada Hema bergemuruh. rasanya benar-benar sesak. orang yang ingin Hema lihat tiba-tiba berdiri di depannya. menunjukkan wajah yang terlihat biasa saja. padahal Hema sangat ingat dengan perlakuan pria itu terhadapnya.
sakit... Hema ingin menjerit, tapi tak bisa.
"Apa lo terkejut Hema?". lagi dan lagi, hanya Hean yang berbicara di situasi ini. meluapkan rasa kerinduannya pada kenangan masa lalu yang pernah mereka rajut.
"Gue merindukan lo, Hema... sangat rindu...".
Sebuah kata yang mampu membuat Hema menitikkan air mata. wajahnya memanas bukan karena malu, tapi karena ucapan pria itu yang benar-benar melukai hatinya.
seharusnya Hema senang mendengar kata rindu dari Hean, tapi entah kenapa bertatap muka seperti ini Hema semakin sakit hati.
"Hema...".
***
__ADS_1
Halo semuanya... semoga syuka dengan Part pagi ini yak...