Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
60. Keisengan Hean.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi hari.


Jio telah bersiap. mengenakan salah satu pakaian Hean dengan rapi dan tengah membawa sebuah nampan berisi susu hangat dan beberapa roti menuju ke ranjang dimana Hean masih berbaring.


"Bangun Yan... lo harus bekerja bukan?" ucap Jio hingga membuat Hean menggeliat bangun.


"Jam berapa sekarang?" tanya Hean dengan suara khas orang bangun tidur. bahkan matanya masih mengerjab berulang kali menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang perlahan menembus kamarnya.


"Enam..." jawab Jio.


Pria itu sudah siap dan sekarang tengah memakai sepatunya. sesekali memperhatikan Hean yang mulai beranjak bangun dan duduk sambil mengucek kedua matanya.


Rasa pening di kepala masih Hean rasakan akibat minuman semalam.


"Minum itu biar pusingnya hilang..." perintah Jio.


Susu hangat benar-benar obat paling mujarab bagi mereka yang tengah merasakan pusing akibat minuman keras.


Hean perlahan menenggaknya hingga tersisa setengah gelas saja.


"Makan juga rotinya... gue pergi duluan ya..." pamit Jio.


"Sepagi ini?" tanya Hean sambil menikmati roti dengan selai cokelat buatan Jio.


"Barengan aja...". masih ada waktu bagi Jio jika menunggu Hean selesai dengan kegiatan paginya.


"Tidak usah... gue pesan taxi saja..." tolak Jio.


apalagi motornya juga masih tertinggal di Club malam dan Jio harus mengambilnya.


"Yakin?".


"Hm, gue duluan ya..." pamit Jio.


bersiap keluar kamar Hean hingga di ambang pintu, langkahnya kembali terhenti "Oh iya... gue pinjam ini...". memamerkan pakaian Hean yang telah melekat di tubuhnya.


"********** juga?" tanya Hean penasaran.


"Hahaha... yoi..." jawab Jio sedikit geli. karena bukan hanya pakaian Hean yang ia pakai, termasuk ****** ***** milik sahabatnya.


"Tapi gue ambil yang baru kok... yang masih tersegel..." jelasnya.


Jio juga geli jika harus memakai bekas Hean.


"Gue berangkat..." teriak Jio dan hilang dari pandangan Hean.


Apartemen kembali sunyi. Dengan langkah gontai, Hean pergi ke kamar mandi melakukan rutinitas paginya sebelum berangkat bekerja.


mandi untuk menghilangkan rasa pusing karena sisa mabuk semalam.


Cukup sudah Hean terlihat bodoh. cukup sudah meratapi kisah kelam percintaannya. seseorang yang tak bisa berkomitmen pada satu hati saja, tidak bisa dibawa ke jenjang yang lebih serius lagi.


Cukup sekali saja Hean salah memilih. cukup Agnes saja yang membuatnya seperti sekarang. dan di masa depan, Hean lebih selektif dalam memilih kemana hatinya kembali berlabuh.


Tak pernah sekalipun Hean mengucapkan kata "Seandainya...".


Tapi kali ini kata itu muncul tiba-tiba.


Seandainya waktu itu ia lebih menggunakan hatinya, seandainya ia lebih realistis, mungkin Hean tak akan terluka lagi.


karena, hanya untuk kembali bersama Agnes ia telah melukai hati seorang gadis lain.


dan sekarang, Hean kehilangan dua-duanya.


Dikhianati dan kehilangan Hema dalam genggaman tangannya.


***


Perusahaan terlihat seperti biasa. sibuk dan terlihat para karyawan lalu lalang dengan berbagai pekerjaan.


Di ruangan para Staf sekertaris, juga lebih sibuk lagi. Hema bahkan tak sempat untuk sekedar berbicara dengan rekan sampingnya.

__ADS_1


pikiran dan matanya hanya tertuju pada layar komputer di depan sana.


Drrtt... drrtt...


Sebuah pesan masuk, tapi dihiraukannya hingga jam istirahat tiba.


Hema baru bisa membaca pesan itu ketika yang lain telah menuju ke Kantin untuk mengisi perut.


Dari siapa ini?


Hema bingung karena pesan itu dari nomor baru.


"Nanti jam makan siang, temui gue di ruangan...".


Begitulah isi pesannya. membuat Hema mengerutkan keningnya bingung walaupun ia tau siapa pengirim pesan itu. siapa lagi kalau bukan Hean.


Ck... Ganti nomor lagi... batin Hema.


"Lihatlah... jangan terlalu percaya dengan buaya seperti dia Hema..." bicara pada dirinya sendiri dan meletakkan ponselnya kembali ke meja.


Entah sudah berapa banyak nomor Hean yang Hema simpan, nyatanya semua itu bukan lah nomor ponsel terakhir pria itu. Hean kembali mengganti nomornya berulang kali entah apa alasannya.


"Hema...".


"Ya Pak,". panggilan seseorang langsung membuat Hema beranjak bangkit dari duduknya.


spontan melihat ke arah sumber suara yang ternyata Asisten pribadi CEO yang berjalan menuju ke meja kerja Hema.


"Kamu diminta Pak Hean menemuinya..." lapor pria berkacamata itu.


Ha? Jadi dia serius memintaku datang? Hema kira, pesan Hean hanya gurauan saja.


tapi ternyata memang benar. kedatangannya benar-benar ditagih saat ini.


"Cepatlah, selagi tidak banyak karyawan yang ada di dalam sini..." tambah pria itu.


"Baik..." jawab Hema lemah.


Setelah mengatakan itu, Hema berjalan gontai ke arah pintu ruangan CEO. harap-harap cemas entah apa yang akan terjadi di dalam sana. bukan masalah apa, Hema hanya tak mau hatinya goyah.


karena, kharisma CEO itu benar-benar tidak mampu diabaikan.


terlalu berharap itu sakit, dan Hema tak mau seperti dulu.


"Permisi..." ucapnya sambil mengetuk pintu itu.


"Masuk,".


Pertama, Hema menjulurkan kepalanya. mengintip sebelum tubuhnya masuk ke dalam sana.


"Duduk!".


Ya Tuhan... salah lagi kan gue... batin Hema tapi tetap menuruti keinginan Hean. menuju ke sofa yang ada di sudut ruangan dan berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat.


Tap Tap Tap...


langkah kaki Hean membawa pria itu mengikuti Hema. duduk di sebelah nya tanpa ragu sedikitpun.


"Jangan mengabaikan ku Hema...".


"Ha?".


"Bisa tidak sih tidak bilang ha he ha he ketika gue bicara...?". Sewot sendiri dengan tanggapan Hema.


"Kenapa nomor lo ganti lagi?". Hema mengalihkan pembicaraan.


gara-gara Hean, entah sudah berapa banyak nomor yang Hema simpan dengan nama Hean. dan tadi nomor pria itu berganti lagi. yang membuat Hema otomatis akan menyimpannya ulang bukan?


beda dengan dirinya yang tidak pernah berganti nomor seperti yang Hean lakukan.


"Hapus saja semuanya... nomorku cuma yang tadi..." ucap Hean dengan entengnya.


"Mana ponsel lo...". menggantungkan tangan meminta Hema segera menyerahkan ponsel miliknya.


"Ngapain?". selidik Hema. jangan sampai Hean macam-macam terhadap ponselnya. karena ponsel adalah salah satu privasi Hema.

__ADS_1


"Sini..." ucap Hean dengan nada penuh menekankan. membuat Hema terpaksa menyerahkan ponsel nya walaupun dengan bibir yang mengerucut kesal.


Masih dengan Hean yang sibuk menghapus nomor-nomornya dahulu, Hema juga sesekali mengintip.


"Jangan lihat!". hingga pada akhirnya ucapan Hean membuat gadis itu menjauhkan diri.


Ck, apa-apa dia itu... protes Hema dalam hati.


"Nih...". setelah puas menyabotase ponsel Hema, Hean kembali mengembalikannya.


otomatis Hema penasaran dengan apa yang telah Hean lakukan sejak tadi.


Dan, Hema memicingkan mata menatap ke arah Hean. sedangkan pria itu hanya menanggapi dengan senyum penuh kemenangan.


"Sayang... apa-apaan ini..." rengek Hema. ternyata Hean menamai nomornya dengan nama "Sayang". tentu saja Hema protes.


"Awas saja kalau lo ganti..." ancam Hean terdengar yakin. ia tak mau Hema mengganti nama kontak tadi.


"Tapi-,".


"Jangan tapi-tapian, mau gue cium?".


Tentu saja ancaman itu membuat Hema semakin menutup mulutnya rapat-rapat. takut Hean merealisasikan ucapannya tadi.


Hahaha... Hean tersenyum penuh kemenangan. senang sekali mengerjai Hema.


dan ia akan terus melakukannya lebih dari ini.


Hean kembali berulah. mengambil kembali ponsel Hema tanpa meminta ijin.


"Ck... jelek sekali..." ucapnya sambil mengamati wallpaper ponsel itu. memperlihatkan suasana taman yang Hean yakini bawaan dari ponsel itu.


Ia kembali berulah, ingin mengganti wallpaper tanpa meminta ijin kepada Hema lebih dulu.


"Kemari..." ucapnya seraya mengambil ancang-ancang untuk berfoto bersama.


"Apa lagi?". protes Hema.


entah kenapa pria itu selalu berulah. membuat dirinya kembali kesal.


"Mendekatlah..." paksa Hean.


Hema terpaksa duduk lebih dekat. mendekatkan wajahnya agar terlihat dari ponsel.


tapi posisi sekarang tak membuat Hean puas. apalagi dengan wajah Hema yang terlihat cemberut.


"Ayo senyum..." pintanya lagi.


Hema tersenyum di paksakan. dan cekriikk...


Hean mengambil foto mereka berdua.


"Sana..." usirnya. meminta Hema menjauh untuk beberapa saat.


Sial! umpat Hema dalam hati. Hean benar-benar seenaknya sendiri. dan sangat menjengkelkan dari dulu.


"Nih,". Hean menyodorkan ponsel kembali pada pemiliknya.


"Apa ini?".


lagi dan lagi Hema protes. Ternyata foto berdua tadi digunakan untuk mengganti wallpaper di ponselnya.


"Jangan di ganti!".


"Tapi yan..." rengek Hema.


"Malu? kenapa? gue terlihat tampan disana..." ucap Hean dengan jumawa.


Iya tampan, tapi beda dengan Hema. ia terlihat bodoh dengan senyum lebar itu.


malu karena fotonya digunakan untuk Wallpaper.


"Pokoknya jangan diganti..." ancam Hean sama seperti tadi.


"Tapi-,".

__ADS_1


***


Haha... kenapa iseng sekali Hean ini...


__ADS_2