Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
77. Tinggal Terpisah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tak mempercayai ucapan Sasa beberapa saat yang lalu, Hean memutuskan untuk melihat dengan mata dan kepalanya sendiri.


dengan mobil hitam itu, Hean pergi menuju ke Apartemen. membelah jalanan Ibukota yang sedikit sesak karena jam pulang bekerja telah tiba.


Tidak... dia pasti hanya membohongi ku...


itulah keyakinan yang Hean pegang teguh. tak mempercayai kalau Hema benar-benar pergi dari kota ini dan juga hidupnya.


30 menit berlalu, mobil yang dikendarainya telah berhenti di basement Apartemen. terparkir dengan kendaraan lain. Hean berlari kencang masuk ke dalam sana. nafasnya naik turun seirama dengan rasa khawatir yang semakin membuncah. Hean takut kehilangan.


Tapi kepercayaannya tiba-tiba runtuh begitu saja. Unit Apartemen di sebelah tempat tinggalnya itu benar-benar telah kosong. tak lagi berpenghuni seperti terakhir kali ia kesana.


Hema...


Tapi sia-sia. Memanggilnya namanya pun tak membuat Hema datang kehadapan Hean. gadis itu telah pergi jauh entah kemana.


"Hema..." gumam Hean lirih sambil mengepal jemarinya kuat. inilah yang namanya penyesalan. Hean tak bisa mencegah kepergian Hema dan membuat gadis itu bertahan di sampingnya.


sekarang, Ia benar-benar sendirian.


Dengan langkah gontai, Hean meninggalkan gedung Apartemen. wajahnya kalut dan sulit untuk dimengerti. ada sebuah penyesalan dalam hatinya dan kesedihan yang tak bisa dibendung lagi.


bahkan konsentrasi untuk menyetir saja, Hean tak mampu.


Menginjak Rem, mobil berwarna hitam itu menepi. Hean menjatuhkan kepalanya di stir kemudi. kepalanya benar-benar berat dan tak terasa air mata itu kian menetes membasahi pipinya.


dalam kesendirian, Hean menumpahkan kesedihannya. kehilangan Hema dan kepercayaan gadis itu sangat menghancurkan Hean sendiri.


Hingga kata andai, terngiang di kepalanya.


Andai saja tak seperti ini, andai saja tak seperti itu, Andai saja Ia tak kehilangan Hema...


"Hiks... apa yang harus gue lakukan?" ucap Hean bersamaan dengan rintik hujan yang mulai jatuh perlahan. bahkan langit saja ikut bersedih dengan kepergian Hema dari Ibukota.


***


"Agnes... apa yang sedang kamu lakukan di sini?".


Pria berkacamata baru saja tiba, siapa lagi kalau bukan Papa. masih dengan wajah angkuhnya, pria itu berjalan ke arah Agnes. bertanya kenapa anak perempuannya berdiri di depan pintu saat keadaan tengah turun hujan seperti ini.


"Hean belum juga pulang Pa..." adunya. masih dengan tatapan ke arah pintu gerbang di depan sana. berharap pria yang ia nantikan segera datang membelah hujan sore ini.

__ADS_1


"Pasti terjebak macet..." jawab Papa. karena ia juga sempat terjebak macet tadi.


"Tunggu saja suamimu di dalam rumah..." perintahnya.


"Hm," Agnes pun menyetujui saran dari Papa nya. karena cuaca juga sangat dingin di luar sini.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan pintu itupun tertutup.


Di dalam, Agnes memilih menunggu Hean di sofa ruang keluarga. menonton televisi dan sambil menikmati cemilan yang ada di sana.


Sesekali Agnes mengelus perutnya yang masih rata. tersenyum bahagia karena di dalam sana ada sebuah nyawa yang Tuhan titipkan kepadanya. Agnes tak sabar untuk merasakan bagaimana bayinya itu tumbuh semakin besar di dalam perut. menendang dan membuat dirinya sedikit kerepotan.


Tumbuhlah dengan sehat anakku... batin Agnes. karena hanya ini cara yang bisa Agnes lalukan untuk hidupnya. karena hanya dengan campur tangan anak dalam perutnya, Agnes bisa mendapatkan apa yang ia mau.


"Jangan terlalu sering makan cemilan yang menggunakan perasa makanan Nes..." ucap Mama. entah sejak kapan beliau datang, "Nih... ini jauh lebih sehat untuk cucu Mama...". sambil menyodorkan sepiring buah yang telah dipotong ke arah Agnes.


Mama, segera duduk di samping putrinya dan mengambil paksa cemilan tidak sehat dari pangkuan Agnes.


"Mama...". walaupun sebenarnya Agnes ingin berontak, tapi tak masalah karena ia masih bisa menikmati buah pemberian Mamanya.


"Kapan jadwal ke dokter?". Tanya Mama sambil mengelus perut putri kesayangannya. Tak menyangka kalau sebentar lagi beliau akan menjadi nenek. karena Bima, anak pertamanya saja belum menikah. tapi siapa sangka kalau cucu pertamanya di dapat dari Agnes.


"2 minggu lagi Ma..." jawab Agnes senang. tersenyum dengan mulut penuh dengan potongan buah.


Sudah sepatutnya Hean ikut menemani Agnes kontrol kehamilannya. karena, bagaimanapun Hean harus tau perkembangan anak mereka.


"Tidak tau, Agnes belum membicarakan ini dengan Hean Ma...".


sejenak Agnes bingung, entah apa yang akan Hean katakan nanti. apakah pria itu mau atau tidak pergi bersamanya.


"Bicaralah secepatnya... karena ini adalah anak kalian berdua..." ucap Mama.


"Hm,".


Masih dengan Agnes dan Mama yang terlihat asyik, Papa juga ikut nimbrung. duduk di sofa lain dan menikmati waktu sebelum jam makan malam tiba.


"Jaga kesehatanmu Agnes..." ucap Papa. karena Papa tau apa yang dirasakan wanita ketika hamil. bahkan saat istrinya hamil, Papa juga yang kerepotan. apalagi saat hamil Bima dan Agnes, Mama benar-benar susah makan nasi. beliau akan muntah hanya karena mencium bau nasi yang baru matang.


Mood Ibu hamil juga seringkali berubah-ubah. dan di saat seperti ini, peran suami sangat lah penting.


"Tak apa kan Pa kalau Agnes tinggal disini?" ucap Agnes. ia lebih nyaman tinggal bersama orang tuanya.


"Tentu saja... Papa ingin kalian tetap tinggal di rumah ini..." jawab Papa.


karena Agnes akan lebih bahagia jika bersama Mama.

__ADS_1


"Tidak, kami akan tinggal terpisah..." selamat Hean. entah sejak kapan pria itu datang. bahkan tak ada yang mendengar langkah kaki Hean masuk tapi tiba-tiba telah berdiri tak jauh dari sofa tempat duduk Agnes, Mama dan Papa.


"Yan,...". Agnes terkejut.


"Kami akan tinggal di rumah sendiri... lagian dari sini ke Perusahaan membutuhkan waktu yang cukup lama..." lanjut Hean.


"Tapi Yan-,". Agnes justru keberatan dengan permintaan Hean untuk tinggal terpisah.


"Yan, tapi Agnes sedang hamil..." Papa pun bersuara.


"Walaupun tinggal terpisah, Saya memastikan kalau Agnes tidak akan melakukan apapun nanti... karena pekerjaan rumah sudah ada yang mengatur..." jelas Hean.


Memang mau berharap apa gue dengannya?


4 tahun tinggal bersama saja, Agnes tak pernah membantu melakukan apapun di London... batin Hean.


"Bukan itu nak Hean... tapi..." Mama pun sedikit keberatan dengan saran Hean. Agnes masih hamil muda dan sangat rentan. Mama tidak mau terjadi apapun yang akan membahayakan putri dan cucunya nanti.


"Kamu keberatan Nes?" Jelas Hean tak memperdulikan kedua orang tua Agnes. karena ia yakin keduanya tidak akan membiarkan putrinya tinggal terpisah.


Sedangkan Agnes yang ditanya tak bisa mengatakan apapun. lebih tepatnya terkejut karena Hean merencanakan semua itu tanpa Agnes ketahuilah sebelumnya.


"Papa menolak rencana itu... kalian harus tetap tinggal disini..." ucap Papa menentang Hean.


"Ya terserah Anda... tapi Hean akan tetap tinggal di rumah sendiri karena lebih dekat dengan perusahaan," bantah Hean dengan keras kepala nya.


Sekarang beralih menatap Agnes yang duduk tak jauh dari tempat Hean berdiri.


"Kalau kamu ingin tinggal disini, tinggallah Nes..." ucap Hean terdengar seperti sebuah bom untuk Agnes.


"Yan,".


"Saya permisi dulu..." pamit Hean. dan segera meninggalkan ruang keluarga menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Papa, Mama dan Agnes masih tak percaya dengan ucapan Hean. ketiganya saling tatap dengan pemikiran masing-masing.


"Agnes tidak bisa tinggal terpisah dengan Hean..." adu Agnes. bagaimanapun mereka telah menikah. dan tentu saja Agnes akan menuruti dan patuh pada perintah suaminya.


jadi mau tak mau, suka tak suka Agnes akan tetap mengikuti kemana Hean akan membawanya. termasuk meninggalkan rumah orang tuanya dan tinggal di rumah lain.


"Baiklah kalau itu keputusanmu Nes... Mama hanya bisa mendukung... Iya kan Pa?." jawab Mama sambil meminta pertimbangan dari suaminya juga.


Papa hanya menganggukkan kepala walaupun sebenarnya menolak keinginan anak dan menantunya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2