
HAPPY READING...
***
Jangankan Manusia...
Langit pun akan berubah warna jika sudah tiba waktunya...
-----
Hema, dengan segala kesibukannya dalam hal pekerjaan juga sesekali menyempatkan diri untuk sekedar bertemu dan mengobrol dengan orang-orang yang ia sayangi.
seperti kali ini, setelah menyelesaikan pekerjaannya wanita berparas cantik itu mengunjungi seseorang yang sangat ia rindukan karena tak pernah bertemu lagi setelah acara pernikahan waktu itu.
Sasa, sahabat dan sudah dianggap saudara oleh Hema itu menjadi salah satu orang paling Hema sayangi.
untuk itu Hema menyempatkan diri untuk sekedar singgah di rumah sahabatnya.
"Mau minum apa?". Sasa baru saja pulang bekerja ketika mendapat kabar bahwa Hema akan mengunjunginya. betapa bahagianya mereka ketika mempunyai waktu bersama seperti sekarang.
"Apa saja..." jawab Hema.
Selama Sasa masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu untuk sahabatnya, Hema justru terlihat sibuk dengan ruang tamu rumah itu. mengamati seluruh penjuru ruangan dan tatapannya terfokus pada foto yang menggantung di depan sana. foto pernikahan Jio dan Sasa. membuat Hema tersenyum bahagia karena rumah tangga sahabatnya itu berjalan dengan sangat baik.
Sasa terlihat sangat cantik... puji Hema dalam hati.
Dulu, ia pernah bermimpi seperti itu. mengenakan gaun pengantin pilihannya dan bersanding dengan seseorang. Ya... Hema pernah bermimpi untuk menjadi pengantin. tapi semua itu hanyalah mimpi. bunga tidur yang akan sirna ketika Hema membuka mata di pagi hari.
Impian untuk menjadi pengantin hanya akan menjadi angan-angan saja dan pada akhirnya hal itu tidak lagi menjadi hal yang ingin Hema wujudkan di masa depan.
"Cantik kan?".
Lamunan Hema buyar ketika Sasa telah kembali. membawa nampan berisi minuman dingin dengan beberapa cemilan dan meletakkannya di meja. membuat Hema kembali duduk dan menganggukkan kepala membenarkan ucapan Sasa barusan. Ya... Sasa memang cantik.
"Minum lah... gue belum sempat pergi ke Supermarket karena sibuk..." keluh Sasa. tak puas karena hanya menyuguhkan minuman sederhana untuk sahabatnya itu.
"Jio belum pulang?". Hema bertanya dan meminum suguhan si pemilik rumah.
"Sebentar lagi juga sampai..." jawab Sasa yakin. karena sebelum ini ia telah memberitahu Jio kalau Hema akan datang ke rumah mereka. lebih tepatnya rumah yang Jio dan Sasa tinggali setelah pernikahan 6 bulan yang lalu.
"Oh...".
"Jadi lo sudah berubah pikiran?". goda Sasa pada sahabatnya. tersenyum penuh ejek hingga membuat Hema mengerutkan keningnya kebingungan mencari tau apa maksud Sasa barusan.
"Tentang?".
"Ibukota...".
Ya, semua orang juga ingat tentang perkataan Hema waktu itu. sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Ibukota dan memasukkan Ibukota pada daftar hitam hidupnya.
Hema pernah berkata tidak akan lagi menginjakkan kakinya di Ibukota karena sesuatu hal.
nyatanya wanita itu kembali walaupun hanya sekedar tempat singgah saja, bukan tempat untuk menetap.
__ADS_1
"Sial! sebenarnya hue juga tidak mau datang kesini..." umpat Hema. sungguh ia sudah berusaha untuk tidak datang ke Ibukota. tapi karena rekan kerja Hema tidak masuk, jadi Hema lah yang harus menggantikannya.
mendatangi Ibukota untuk menyelesaikan pekerjaan disana.
"Kenapa? malah bagus dong... lo bisa bertemu dengan gue..." jawab Sasa dengan entengnya.
kalau tidak seperti itu ia tak akan pernah bertemu Hema sesering mungkin.
"Ck...".
Hema kembali menikmati minuman pemberian Sasa. memantapkan diri untuk mengatakan satu hal kepada sahabatnya itu.
"Gue bertemu dengannya..." pancing Hema membuka pembicaraan.
"Siapa?". tentu saja Sasa penasaran siapa yang Hema temui itu.
"Hean," jawab Hema singkat. sambil mengamati bagaimana reaksi Sasa ketika Hema mengucapkan sebuah nama seorang pria.
Tak bergeming, itulah yang Hema tangkap dari wajah Sasa. seperti tak peduli apapun.
"Gue bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di kota sebelah..." lanjut Hema bercerita.
"Oh...". Malahan Sasa seperti tidak berantusias untuk mendengar cerita Hema sama sekali.
"Anehnya Sa... dia hanya berjalan-jalan dengan putrinya saja... apa Agnes tak ikut juga?" tanya Hema penasaran. karena waktu Sasa dan Jio menikah dulu, juga tak ada Agnes disana. padahal saat itu putrinya masih terlalu kecil. hanya ada orang tua Hean saja yang menggendongnya.
"Bellavia Dirga..." ucap Sasa.
"Ha?". membuat Hema bingung. siapa bellavia dirga?
Oh... jadi namanya Bellavia Dirga... batin Hema.
"Ohh...". Hema menganggukkan kepalanya paham.
"Kalian mengobrol bersama?" selidik Sasa. hanya penasaran apakah Hema berbicara dengan Hean atau hanya sekedar melihat saja.
"Hanya sebentar..." jawab Hema. memang tidak banyak yang mereka bicarakan saat itu. apalagi Hema juga sedikit canggung ketika berbicara dengan Hean karena sudah sangat lama tak pernah bertemu dan mengobrol bersama.
"Lalu? apa lo senang?".
Seharusnya Sasa tak menanyakan hal itu. apalagi pertanyaannya langsung membuat Hema salah tingkah. seperti malu atau bahagia.
"Lo senang kan Ma?" ulang Sasa lagi.
walaupun Hema seringkali berkata akan melupakan Hean, tapi nyatanya nama pria itu seperti terukir dalam hatinya. sulit untuk Hema singkirkan.
"Bu-kan be-gitu..." ucap Hema gugup.
Kalau dibilang senang, tidak juga. karena melihat Hean kembali, seperti membuka luka yang Hema rasakan di masa lalu.
tapi di sisi lain, ia juga ingin menangis. entah itu bagian dari kerinduan atau hanya sekedar emosinya saja.
"Ya gue hanya bicara tentang sesuatu saja... dan...".
__ADS_1
Dan? Sasa langsung penasaran akan lanjutan cerita Hema barusan.
"Dia meminta maaf..." lanjut Hema.
Ya... Pada akhirnya Hean memang meminta maaf atas apa yang telah pria itu lakukan padanya.
"Anehnya Sa... kenapa Hean mengatakan hal membingungkan saat itu...".
"Membingungkan bagaimana?". Sasa ikut bingung dengan cerita Hema.
Apa yang Hean katakan?
"Dia mengatakan kalau dia tidak berbohong untuk masalah yang lalu..." lanjut Hema.
dalam pemikirannya, masalah Hean yang lalu adalah ketika Hean terlibat masalah dengan Agnes hingga membuat pria itu harus bertanggungjawab dan menikahi Agnes.
Apakah itu benar? atau Hean yang hanya berpura-pura saja?
"Dia mengatakan seperti itu?" tanya Sasa. membuat Hema mengangguk pelan.
Ya... itulah yang ia dengar dari mulut Hean langsung.
"Ya... memang bukan dia pelakunya..." ucap Sasa.
Hema membulatkan matanya. terkejut sekaligus bingung dengan ucapan Sasa barusan.
Maksudnya bagaimana?
"Mak-sudnya bukan Hean yang mela-kukan-nya?" tanya Hema terbata-bata.
"Hm,".
"Jadi?". Hema semakin penasaran tentang apa yang tidak ia ketahui selama ini.
"Bella memang anak Agnes tapi bukan bersama Hean... tapi dengan pria asing saat masih di London...". Sasa membocorkan sebuah rahasia tentang semuanya. membuat Hema langsung menutup mulutnya saking tak percayanya dengan apa yang batu saja ia dengar dari mulut sahabatnya itu.
"Lo yakin Sa?" tanya Hema.
"Tentu saja... Hean yang mengatakannya pada Jio... jadi tidak mungkin Jio berbohong tentang sahabatnya itu..." jawab Sasa.
Sudah lama Sasa tua, hanya saja ia memang menyembunyikan hal sebesar itu pada Hema. hanya karena Sasa tak mau Hema kecewa lagi pada pria itu.
tapi semakin di pendam, justru Sasa merasa jahat karena telah menyembunyikan semua itu dari Hema. apalagi sampai saat ini, raut kebahagiaan masih terpancar ketika Hema membicarakan Hean.
seperti hanya pria itu satu-satunya pemenang dalam hati Hema.
"Gue juga kadang bingung dengannya... sudah tau Bella bukan anaknya tapi tetap mau menyayangi dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang... Hean memang pria hebat..." lanjut Sasa.
Hema pun demikian. ia juga tau bagaimana Hean memperlakukan putrinya itu. seperti kasih sayang seorang ayah kepada putrinya.
Masih asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. membuat tatapan Sasa dan Hema sama-sama tertuju pada pintu itu.
"Sayang".
__ADS_1
***