
HAPPY READING...
***
"Gue tidak mau bertemu lagi dengannya... gue tak mau...". Isak tangis Agnes benar-benar menjadi satu-satunya suara yang tercipta di rumah lantai dua tersebut.
Suasana ruangan terasa tidak enak. seperti sebuah ruang interogasi. dimana Agnes menjadi orang yang harus mengaku atas segala kesalahan yang ia lakukan.
Sedangkan Hean, sungguh pria itu sangat bersyukur tiada henti.
Di dekat televisi, ada sebuah alat kecil yang keberadaannya hanya diketahui oleh Hean.
setidaknya gue punya bukti...
Alat yang ia taruh beberapa hari terakhir akhirnya bekerja juga.
"Jadi, apa alasan lo memilih gue?" tanya Hean lagi. berharap Agnes berkata lebih dan jujur agar untuk membantu Hean terlepas dari takdir gila ini.
"Karena... karena hanya lo yang bisa membantu gue Yan... hanya lo..." jawab Agnes.
"Itu bukan sebuah alasan Nes...".
"Gue hanya tidak mau bayi ku nanti jatuh kepadanya... bagaimanapun gue tak ingin dia menjualnya... bayi ini milikku Hean... gue adalah ibunya..." lanjut Agnes.
Mungkin ia jahat. ia egois dan kejam. tapi Agnes tetaplah seorang wanita dan akan menjadi seorang ibu. ia tak mau darah dagingnya tersakiti bahkan menjualnya hanya untuk uang. Agnes tidak setega itu.
"Jangan beritahu siapapun Yan..." pintanya dengan penuh permohonan.
"Lo boleh menceraikan gue... tapi gue mohon, biarkan anak ini mengira kalau lo adalah ayahnya... hanya itu keinginan gue..." pinta Agnes.
Agnes sadar. kesalahannya tidak mungkin di maafkan. ia juga siap untuk hidup sendirian nantinya. ia siap untuk membesarkan bayinya nanti. tapi jangan pernah memintanya untuk kembali mendatangi pria yang telah menghamilinya. Agnes tak mau.
"Gue akan membantu lo menemuinya..." ucap Hean. setidaknya ia akan berusaha untuk bicara dengan pria itu nanti.
"Lo tidak mengerti Yan... lo tidak paham bagaimana sifatnya..." Agnes terus meronta. Hean tidak mengerti bagaimana sifat ayah dari bayi yang ia kandung.
pria itu tidak bisa dibilang manusia. pria itu sangat kejam. bahkan pernah menyekap Agnes beberapa hari.
Andai Agnes tidak bisa kabur, entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Tapi Nes-,".
"Gue akan bunuh diri kalau lo sampai membawa gue kesana..." ancam Agnes. kali ini ucapannya tidak main-main.
"Apa gue peduli? tidak Nes... gue tidak peduli... silahkan lalukan itu. gue akan tetap membawa lo menemuinya..." ucap Hean telak. Ia tau kalau ucaucapan Agnes hanya geetakan saja. wanita itu tidak akan berani menyakiti dirinya sendiri.
"Bersiaplah... kita akan melakukan perjalanan ke London sekarang...". setelah mengatakan itu, Hean berjalan menuju ke kamarnya. mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke London bersama Agnes.
"HEAN!". teriak Agnes, tapi percuma saja. Hean tak menghirauian dirinya dan terus melangkah pergi.
Sekarang ini tinggal Agnes yang sendiri. menangis kebingungan dan juga takut.
Tidak... gue tidak mau kesana... gue tidak mau bertemu dengannya... batinnya bicara.
Dengan perut yang terasa kencang, Agnes meringis tapi tetap berjalan menuju ke kamarnya. mengunci pintu rapat-rapat agar Hean tidak bisa masuk ke dalam. di kamar itu juga Agnes menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Aww..." perutnya semakin terasa kencang dan sakit.
Tidak apa-apa sayang... Mama baik-baik saja... batin Agnes sambil mengelus perut itu.
"Agnes! buka pintunya...".
Tiba-tiba terdengar suara Hean. mengetuk pintu kamar berulang-ulang sambil memanggil nama Agnes.
"Tidak... gue tidak mau..." teriak Agnes. apapaun yang terjadi, ia tak mau keluar dari kamar.
"Buka pintunya! ayo kita pergi sekarang...".
Agnes menggelengkan kepala.
"Buka pintunya atau gue dobrak..." ancam Hean lagi.
Agnes semakin panik. ia benar-benar tidak mau pergi kemanapun.
Tidak... gue tidak bisa menyerahkan bayiku padanya ... dia bukan ayah yang baik...
Agnes jelas ingat ucapan ayah dari bayi yang ia kandung saat ini. bahwa Agnes hanya dijadikan mesin untuk mencetak anak yang akan ia jual nantinya.
Agnes tak mau melakukan itu. sedangkan Hean seperti tak memeprcayai ucapannya.
Apa yang harus gue lakukan?
batin Agnes. semakin terserang panik, perutnya juga semakin terasa sakit.
"Aww..." keluh Agnes. meringkuk dengan keringat yang semakin mengucur deras di pelipisnya. Agnes tidak tau apa yang terjadi, tapi rasa mulas seperti menyerang perutnya. lebih dari itu bahkan ketika tatapannya tertuju pada bagian bawah, sesuatu seperti keluar dari sela-sela kakinya.
Tidak... kamu tidak boleh lahir sekarang sayang... batin Agnes. takut jika bayinya lahir karena saat ini belum saatnya bayinya untuk lahir ke dunia.
usia kandungannya masih 7 bulan lebih.
tapi yang Agnes rasakan memang seperti itu.
"Agnes!".
Sementara Hean terus menggedor pintu,
Agnes berjalan tertatih-tatih menuju ke meja samping tempat tidur.
membuka laci dengan tergesa-gesa dan mengeluarkan segala obat-obatan selama hamil.
Hean tidak akan mengerti semuanya... dia tidak akan paham... batin Agnes.
Tak ada yang bisa Agnes andalkan untuk saat ini. pikirannya kalut. ia takut Hean akan membawanya menuju ke London dan bertemu pria yang telah menghamilinya.
Maafkan Mama sayang... maafkan Mama...
Entah di rasuki setan mana, Agnes menggenggam beberapa butir pil di tangannya. bahkan saking paniknya, beberapa abutir juga jatuh ke lantai kamar.
wajah wanita itu benar-benar dipenuhi dengan keringat yang terus mengucur tanpa henti.
Tanpa pikir panjang, Agnes menelan semua pil dalam genggamannya. Andai gue benar-benar mati hari ini... setidaknya biarkan dia hidup Tuhan... biarkan bayiku hidup...
__ADS_1
Setelah itu, mata Agnes semakin kabur. Agnes masih merasakan rembesan darah seperti deras mengalir. perlahan rasa mulas di perutnya itu semakin samar hingga tak butuh waktu lama tubuh itupun jatuh di lantai kamar. Agnes memejamkan mata, tak lagi mendengar teriakan dari luar kamarnya.
sunyi.
Sementara di luar kamar.
Hean terlihat panik. tadinya ia memang ingin membawa Agnes pergi ke luar negeri dan mencari keberadaan pria yang telah menghamilinya. tapi rencananya gagal saat tak lagi terdengar suara dari dalam kamar seperti tadi.
"Agnes! bukan pintunya...".
Hean masih mencoba untuk membujuk Agnes agar membuka pintu kamar itu. tapi tak lagi ada sahutan.
bahkan isak tangis juga tidak terdengar sama sekali.
"Gue akan bunuh diri kalau sampai lo membawa gue kesana..." .
entah kenapa ucapan Agnes beberapa saat yang lalu terngiang kembali di kepala Hean. pria itu berubah panik. mungkin saja bukan hanya gertakan Agnes saja, tapi memang benar terjadi.
"Agnes!".
Tak ada sahutan sama sekali.
Tuhan... apa yang terjadi...?
Hean terus menekan gagang pintu kamar itu. berharap segera terbuka, tapi sia-sia.
Hingga yang dilakukannya adalah mendobt pintu itu. ya... hanya itu satu-satunya cara yang bisa Hean lakukan.
Brakk...
percobaan pertama gagal.
Hean melipat lengan kemejanya sampimai sebatas siku. mempersiapkan diri untuk kembali mendorong pintu itu agar terbuka secara paksa.
Braakkk... pintu itupun terbuka dengan dua kali percobaan. tubuh Hean langsung terhuyung masuk.
Hal pertama yang pria itu lihat adalah darah. Ada darah tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Agnes...". teriak Hean menyadari Agnes telah pingsan di samping tempat tidur.
Dress hamil yang dikenakan wanita itu berlumuran darah segar.
"Mbak Sari!". teriak Hean panik.
Tak butuh waktu lama, asisten rumah tangga yang bernama Sari itupun datang. wanita berusia 35 tahun itupun sama terkejutnya seperti Hean. hanya bisa berteriak tanpa harus melakukan apa. melihat Agnes yang berlumuran darah.
"Telepon ambulance sekarang!". perintah Hean hingga Mbak Sari itupun segera berlari menelepon ambulance untuk majikannya.
"Agnes, bangun Nes...". Hean mencoba untuk menepuk-nepuk pipi wanita itu. tapi Agnes sama sekali tidak merespon.
***
Halo... lama tidak menyapa kalian...
sehat" terus yak biar bisa selesaiin cerita ini sama-sama...
__ADS_1