Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
61. Senja.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Kedekatan berlanjut ketika pulang kerja.


Hean pulang lebih dulu meninggalkan Asian Star. sesuai rencana, ia akan malam malam bersama Hema nanti. jadi daripada menjadi bahan perbincangan para karyawan, Hean memilih untuk bertemu Hema di jalan saja nanti.


Taman adalah tempat janjian mereka. Hean tak turun dari mobil. menselonjorkan tubuhnya sambil memainkan permainan di ponsel seraya menunggu kedatangan Hema.


Tok tok tok...


Benar saja, tak butuh waktu lama gadis yang ia tunggu sampai juga.


mengetuk jendela mobil Hean sambil berdiri.


"Oh, sayangku tiba juga..." ucap Hean menyambutnya.


Ck... sedangkan Hema berdecak geli dan langsung memutar tubuhnya menuju ke pintu samping dan duduk di sana. bangku samping kemudi.


"Jadi mau kemana kita?". wajah cuek tak peduli itu yang Hean sukai dari Hema.


semakin dewasa, Hema terlihat semakin sulit ditebak. beda dengan yang dulu, gadis manis yang pernah ia tiduri.


Agghh... Membayangkan saja, membuat kepala Hean travelling kemana-mana.


"Masih terlalu awal untuk makan malam..." ucap Hean seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan dulu?".


Ide sederhana yang Hean lontarkan bukan buruk. Setidaknya mampu menghilangkan segala kepenatan dari aktifitas mereka.


"Oke..." jawab Hema.


diiringi dengan suara mesin mobil berbunyi dan perlahan meninggalkan taman kecil di dekat Perusahaan.


"Hean,".


"Hm,".


Salah tidak sih kalau gue bertanya? Hema ragu walaupun di sisi lain ia juga penasaran. ragu karena yang ia tau Hean memiliki kekasih di luar negeri. penasaran karena kenapa dengan mudahnya pria itu mengajak Hema seperti ini. apa tidak akan ada yang curiga?


walaupun tak ada hubungan apapun diantara mereka, tapi tetap saja. pandangan orang-orang pasti mengira kalau Hean dan Hema tengah menjalin hubungan.


Hema hanya tak mau menjadi orang ketiga dari hubungan orang lain.


"Tak jadi,". Pada akhirnya Hema tak jadi bertanya.


nanti saja saat waktunya lebih tepat.


Mobil hitam itu semakin melaju jauh meninggalkan ibukota.


"Mau kemana?".


"Ada deh, nanti juga tau sendiri...".

__ADS_1


"Ck..".


entah kemana Hean membawa Hema, tapi yang jelas sebuah tempat yang Hean sukai karena dari sorot mata pria itu jelas menandakan ada sebuah kebahagiaan disana.


1 jam berlalu.


Mobil yang Hean kendarai mulai masuk dalam sebuah parkiran.


Ha?


Hema terkejut dengan tempat yang mereka datangi saat ini.


"Karena waktunya tidak cukup, kita kesini saja..." jelas Hean. tadinya ia ingin membawa Hema ke pantai yang pernah mereka datangi 4 tahun silam. pantai yang berada di ujung pulau. tapi karena waktunya tidak cukup, Hean takut kemalaman pada akhirnya di sinilah mereka berada. pantai di luar Ibukota tapi tetap bisa dijamah dalam waktu yang relatif singkat.


"Ayo..." ajak Hean. membuka pintu untuk Hema dan menggandeng tangan gadis itu tanpa ragu.


Matahari tengah ditutupi awan ketika Hean dan Hema tiba. warna senja menggores indah cakrawala. kedatangan mereka disambut suara burung yang bersaut-sautan dan terbang di atas sana.


Sangat indah, bahkan sampai membuat Hema tersenyum bahagia.


Sudah sangat lama ia tak lagi pergi ke pantai. terakhir kali adalah saat bersama Hean dulu.


Ya... itulah terakhir kali Hema bisa menikmati pantai.


"Indah kan?" ucap Hean. duduk di batu yang ada di pinggir pantai sambil menatap lautan lepas.


"Hm,".


"Kayak Lo..." tambahnya.


Membuat Hema yang hendak ikut duduk sejenak terdiam mencerna ucapan Hean barusan. ucapan Hean yang selalu bisa membuat perasaannya campur aduk.


Hema menuruti keinginan Hean. duduk di sebelahnya sambil memangku tasnya.


Angin sore mampu menerpa wajahnya. menggoyangkan rambut pendeknya hingga sesekali menutupi wajah dan mata Hema.


berulangkali juga gadis itu menyingkirkan anak rambutnya membuat Hean ikut berkomentar.


"Susah kan? kenapa juga lo memotong rambut sampai sependek itu...". karena dulu ketika mereka ke pantai, rambut Hema masih panjang dan bisa di ikat tanpa mengganggu pandangannya. tapi sekarang, gadis itu telah memangkas rambutnya hingga sepanjang bahu.


"Kenapa? bukan urusan lo kan..." cerca Hema. kesal karena bukan pertama kalinya Hean tidak menyukai rambutnya yang sekarang.


"Tapi gue suka saat panjang..." ulang Hean.


Aisshh... menjengkelkan... batin Hema.


"Itulah alasan gue memotongnya... karena gue tidak suka sama Lo!".


Duarr... ucapan Hema seketika membuat Hean hampir tersedak nafasnya sendiri. "Apa?". tak percaya dengan apa yang Hema katakan barusan.


"Lo memotongnya karena gue? memang gue bilang apa sampai lo tidak suka?" protes Hean.


karena menurutnya Hean tidak pernah mengatakan apapun kepada Hema.


"Karena lo suka dengan gadis berambut panjang... karena kriteria gadis yang lo inginkan adalah seperti Agnes... berambut panjang, senyum manis dan berperilaku bak putri Disney..." ucap Hema.

__ADS_1


Sekarang beralih menatap Hean dan kembali melanjutkan ucapannya, "Karena gue tidak mau terlihat seperti dia... karena gue benci mengetahui bahwa lo mendekati gue hanya karena terlihat mirip dengan Agnes...".


Jujur itulah alasan Hema memotong rambutnya. ia tak mau disamakan dengan Agnes. karena mereka jelas berbeda.


Nafas Hean seperti tercekat di tenggorokan. padahal ia tak memberitahu siapapun tentang itu. tapi pada kenyataannya Hema mengetahuinya. Ya... dulu alasan Hean memang banyak tingkah Hema yang terlihat mirip dengan Agnes.


hingga tanpa sadar, Hean mendekati Hema dan membayangkan tengah dekat dengan Agnes.


"Sorry..." ucap Hean spontan.


Si*l


"Ck... seharusnya lo tidak mengakuinya Yan..." ucap Hema. meminta maaf sama dengan membenarkan ucapan Hema tadi tentang menyamakannya dengan Agnes.


pembenaran Hean justru membuat Hema sedih bukan?


tak menyangka Hean akan sejahat itu padanya di masa lalu.


"Jadi, ini juga alasan lo kembali mendekati gue?" tuduh Hema. tersenyum getir mengingat bagaimana Hean kembali mendekatinya. "Karena jauh dari kekasih lo...".


Dulu Hean juga seperti ini bukan? menjadikan Hema sebagai pelarian saja saat Agnes kuliah di luar negeri.


"Bukan!" jawab Hean tanpa ragu.


karena tuduhan Hema tidak mendasar. ia tak mendekati Hema karena jauh dari Agnes. tidak sama sekali.


"Gue tidak mendekati lo karena itu...".


"Jadi? ada alasan yang lain lagi?" tanya Hema.


lo tidak akan tau betapa sedihnya gue Hean...


"Hema...".


Keduanya saling menatap, hingga pandangan matanya tertuju pada satu garis lurus.


"Kalau gue bilang gue menyukai lo, apa lo akan percaya?".


Hema ternganga. tak tau harus menjawab apa.


"Sejujurnya, saat itu..." Hean mengalihkan pandangannya. kini menatap ke arah lautan tanpa ujung. menatap matahari yang kian tenggelam serta burung camar yang terlihat berterbangan di atas sana. "Memang gue mendekati lo karena, lo begitu mirip dengan Agnes... sangat mirip, rambut lo... cara lo tersenyum, tingkah laku lo... semuanya mirip...".


"Pelarian, itulah yang lo ucapkan... tapi Hema, ternyata gue salah... lo bukan pelarian gue. saat kembali kesini, saat bertemu lo lagi, entah kenapa gue ingin kembali... kembali ke masa yang pernah kita lalui bersama... 40 hari yang begitu bermakna saat itu... gue ingin kembali ke sana..." ucap Hean jujur.


Apalagi saat melihat Hema dekat dengan pria lain, Hean cemburu. entah kenapa seperti itu, ia juga bingung.


Hema memejamkan mata. bingung harus menjawab bagaimana. ia hanya bingung dengan ucapan Hean dan perilakunya yang selalu berubah-ubah.


seperti tak memiliki pendirian sedikit pun.


Apa gue hanya dimainkan saja?


"Hehehe... jangan bercanda Yan..." pada akhirnya Hema tertawa. menganggap ucapan Hean hanya sebuah gurauan saja.


***

__ADS_1


Halo semuanya, kali ini 1 Part dulu ya...


karena berhubung besok Authornya ulang tahun, akan ada Part tambahan... mohon dukungannya... Like dan komentar banyak"... see U...


__ADS_2