Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
119. Rumah Hema.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hari demi hari telah dilalui. banyak sekali pelajaran yang bisa didapat oleh seseorang. air mata menjadi cara paling ampuh untuk mendewasakan seseorang.


membuatnya bisa maju dan kuat untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin jauh lebih sulit daripada sebelumnya.


Begitu juga dengan Hema. semakin hari, wanita itu tumbuh dengan cara yang begitu dewasa. tenang ketika menghadapi masalah dan bijak dalam mengambil seautu pilihan dalam hidup.


Semakin usianya dewasa, Hema justru mengesampingkan perasaannya dalam hal percintaan. cinta, sebuah omong kosong belaka. wanita itu selalu sibuk bekerja hingga perasaan untuk memulai hubungan baru dengan pria-pria di luaran sana tak pernah dipikirkannya.


Tapi, 1 bulan belakangan. tepatnya saat hubungannya dengan Hean semakin membaik, wanita itu kian lupa dengan pendirian teguhnya itu.


perasaannya kembali bercampur aduk ketika pria itu kembali masuk dalam hatinya.


memberi sebuah cahaya lagi dan meyakinkan Hema bahwa mmenjalin hubungan dan berkomitmen untuk sebuah status tidaklah salah.


Walaupun begitu, Hema masih juga ragu. apakah ini adalah jalan yang baik untuknya di kemudian hari. apalagi pria yang mencoba untuk mendekatinya itu memiliki seorang anak, bukan lagi perjaka seperti yang lain.


Apakah Hema sanggup?


Entahlah... karena semakin dipikirkan justru semakin menjadi beban untuknya.


biarlah semuanya berjalan bak air yang mengalir seperti anak sungai. mengalir dari suatu tempat dan bermuara pada lautan.


Asap rokok mengepul ke udara.


Hean duduk seorang diri di bangku tepat di samping pintu yang masih tertutup rapat.


jelas pintu itu terkunci dari luar karena pemiliknya mungkin saja masih berada di luar. entah sedang bekerja atau apa.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Hean bergegas datang. mencari alamat yang diberikan Hema kepadanya beberapa hari terakhir. alamat dimana menjadi tempat tinggal Hema selama ini. dan disinilah Hema tinggal. di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota.


Bukan tanpa alasan Hema memilih tempat ini. dulu ketika pikirannya campur aduk tentang banyak masalah yang menerpanya, Hema ingin suasana yang cukup damai. jauh dari keramaian pusat kota. dan tentu saja akan sulit dicari. apalagi tak cukup jauh dari rumah itu, ada hamparan sawah yang selalu menemani Hema saat masa-masa terpuruk nya.


Beberapa puntung rokok berserakan di lantai. Hean sengaja melakukan hal itu. melirik jam di pergelangan tangan, untuk memastikan apakah Hema akan segera pulang atau tidak. karena tak terasa sudah 2 jam lamanya Hean duduk sendirian di depan rumah Hema seperti ini. tubuhnya juga terasa pegal, hingga Hean memutuskan untuk bangkit. melihat pekarangan rumah yang luas dan penasaran bagaimana keadaan di belakang rumah itu.


Langkahnya semakin membawa Hean menyusuri samping rumah dan berakhir di belakang sana.


Ya beginilah yang ia lihat. pemandangan khas pedesaan yang hijau.


Memang sejuk sih, beda dengan Ibukota dimana tak banyak tanaman yang tumbuh secara liar seperti ini. bahkan tembok pembatas tanah dengan tanah orang lain terlihat rusuh dan ditumbuhi lumut.


Hean mengecek pintu belakang rumah itu. menariknya untuk menguji kekokohan pintu itu. Ya, setidaknya aman lah untuk ditinggali seorang wanita yang hidup sendirian.


Bukan hanya itu, jendela-jendela di samping rumah juga tak lepas dari pengamatan Hean. meyakinkan tak akan ada pencuri yang bisa membobol rumah itu.

__ADS_1


Gue heran... kenapa dia memilih rumah ini... batin Hean masih bertanya-tanya.


Tak perlu banyak waktu hingga Hean telah selesai mengitari rumah itu. kembali mendaratkan tubuhnya di bangku yang sama, yang ia duduki selama 2 jam terakhir.


Gue mau tidur sebentar... batin Hean.


menunggu adalah sesuatu paling menyebalkan dalam hidup. hingga Hean memutuskan untuk tidur sambil menunggu kepulangan Hema dari kantor.


Bangku panjang itu tak sepenuhnya mampu menampung tubuh Hean yang tinggi. hingga mau tak mau kakinya sedikit bergelantungan di udara. sedangkan Hean memejamkan mata dengan satu tangan yang menutupi wajahnya dari sinar matahari sore.


Selagi Hean tidur. suara mobil datang dan berhenti tepat di depan gerbang. tak bisa masuk ke dalam. karena ada mobil lain yang mengakusisi garasi rumah itu.


Dia sudah datang?


Hema keluar dari mobil dan bertanya-tanya.


Dengan langkah sedikit berlari, wanita dengan setelan kerja dan mencangklong tas di bahu kanannya itu mendekati Hean yang tengah terlelap tanpa menyadari kedatangannya.


"Hean..." panggil Hema berdiri di dekat Hean. membuat cahaya matahari yang tadi sempat menyinari wajah Hean terhalang oleh tubuhnya.


"Lo sudah lama tiba?". tanya Hema lagi. membuat pria yang tengah terlelap itupun terbangun. menyingkirkan tangannya dan membuka mata. melihat siapa yang tengah berbicara padanya itu.


Seutas senyum mengembang memenuhi bibir Hean. menyambut kedatangan Hema yang lama ia tunggu hingga terlelap beberapa saat.


"Tidak... hanya beberapa saat yang lalu..." elak Hean. padahal ia sudah berada di sini hampir 3 jam lamanya.


apalagi sampai menunggu Hema pulang dari bekerja.


"Sudah... tapi lo tidak membalas pesan ku..." jelas Hean.


Oh benarkah? Wajah Hema berubah. seperti tersirat rona bersalah ketika mende jawaban Hean barusan.


seketika tangannya merogoh tas untuk mengambil ponsel miliknya.


Wajah Hema berubah pias. benar, Hean telah mengirim pesan lebih dulu tapi belum terbaca sama sekali. Hema juga tidak mengecek ponselnya sejak tadi. jadi tak tau ternyata ada pesan yang masuk dari Hean.


"Sorry, gue tidak melihatnya tadi..." sesal Hema.


karena ia telah berprasangka buruk terhadap Hean, padahal ia sendiri yang salah.


Hean mengubah posisinya menjadi duduk. memperhatikan Hema yang tengah membuka kunci pintu rumah itu.


"Ini semua punya lo?". Terkejut karena ada beberapa punyung roko yang berserakan di lantai. padahal Hema sudah menyapunya tadi sebelum berangkat bekerja.


"Iya..." jawab Hean tanpa dosa.


Hah? semuanya? batin Hema terkejut.

__ADS_1


Menghitung jumlah punyung rokok itu karena penasaran. Satu dua tiga empat lima... meyakinkan diri kalau Hean bukan hanya sebentar menunggunya. terlihat sekali dari punyung rokok di bawah sana.


"Maaf, lo pasti menunggu lama ya...". Hema semakin merasa bersalah.


kalau ia jadi Hean, Hema mungkin juga akan merasa jenuh sendirian.


"Agghh... tak apa..." jawab Hean dan ikut masuk ke dalam rumah itu.


Suasana hampa langsung tercium ketika untuk pertama kalinya Hean menginjakkan kakinya masuk. mungkin inilah suasana rumah yang hanya dihuni seorang diri. rumah yang terasa mati.


"Lo tinggal sendiri Ma?" tanya Hean. pertanyaan bodoh karena mau ada siapa lagi selain Hema sendiri?


"Heheh... kenapa?". Hema bik bertanya. tanpa bertanyapun seharusnya Hean sudah tau jawabannya bukan? Hema selalu sendirian. bahkan wanita itu sudah sebatang kara sejak meninggalnya sang nenek.


"Duduklah... mau minum apa?".


"Apa saja..." jawab Hean.


memilih duduk sambil mengamati seluruh penjuru ruang tamu rumah itu.


tak ada foto yang tergantung di dinding. hanya ada kalender dan jam dinding saja.


"Gue memang sengaja tidak membeli barang-barang yang justru akan merepotkan ketika pindah nanti..." jelas Hema. membawa nampan berisi minuman dingin dan sepiring makanan ringan untuk tamunya.


Jika waktu nya Hema pindah, ia tak akan kesulitan untuk mengangkut barang-barangnya.


karena pada dasarnya Hema juga ingin memiliki rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya selama ini.


"Emmm..." jawab Hean sambil menenggak habis minuman di gelasnya.


Sehaus itu dia? batin Hema terkejut.


"Gue haus..." jawab Hean menjelaskan karena tatapan Hema kepadanya barusan.


"Hehehe... gue ambilin lagi..." saran Hema. menarik gelas Hean dan kembali mengambilkan minum untuk pria itu.


Tanpa terduga, Hean justru mengikuti langkah Hema masuk ke ruangan lebih dalam dari rumah itu. berdiri mengamati Hema yang tengah menuangkan minuman dari dalam kulkas.


"Astaga..." ucap Hema terkejut dengan keberadaan Hean yang berdiri mengamatinya dari belakang. bahkan di jarak yang telelau dekat.


"Gue mau ke kamar kecil..." ucap Hean.


"Oh... itu... masuk nanti di ujung kanan ada pintu..." jawab Hema menjelaskan dengan menunjuk ke arah kamar mandi.


Hean pun berjalan ke kamar mandi. sedangkan Hema, meletakkan gelas milik Hean dan menyentuh dadanya.


sial! umpatnya dalam hati. berdekatan dengan Hean saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan.

__ADS_1


***


__ADS_2