Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
82. Zain.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Singapura.


Hari ketiga Hema berada di negara ini. setelah 2 hari sibuk dengan pekerjaan yang benar-benar tidak ada habisnya, inilah waktu baginya untuk memanjakan diri. berbelanja sambil menikmati keindahan negara ini.


Hema telah siap dengan segala sesuatu yang akan menyita pandangannya nanti. aplagai ia telah menyiapkan satu koper kecil yang memang sengaja sebagai wadah oleh-oleh dari sini. bukan untuk dirinya, tapi untuk teman dan rekan-rekannya.


Hema masih terus berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan disini. mencari sesuatu yang pas dan menarik.


"Oh gue hampir lupa...". Padahal Hema telah berjanji padanya. membawakan parfum untuk Sasa nanti.


untung saja Hema mengingatnya. kalau tidak, sampai di Indonesia Sasa akan memarahinya. heheh...


Berdiri di etalase dengan banyak brand parfum terkal, Hema ragu. ini pertama kalinya ia bingung akan memilih parfum yang mana. parfum pria, jelas Hema tidak jago untuk itu.


ia tak pernah membeli apalagi paham parfum dengan harum yang bagaimana yang paling di sukai kaum pria.


Mana ya?


Seorang pelayanan toko merekomendasikan parfum yang mungkin saja mendekati keinginan Hema. tapi berulang kali gadis itu menolak. karena bau yang tidak terlalu pas baginya.


aneh bukan? padahal bukan Hema yang akan mencium wangi parfum itu nanti.


Hema menghela nafas. bingung harus memilih yang mana. apalagi banyak mencium wangi yang berbeda-beda membuat indra penciumannya sedikit terganggu. lebih dari itu, Hema pusing.


Tapi pelayan di sebelahnya tetap sabar melayani pengunjung toko itu.


"Yang ini atau ini ya?". Hema kembali menimang 2 botol parfum dengan wangi berbeda di tangannya. Sama-sama dari brand terkenal tapi dengan wangi yang berbeda.


"Ini...".


eh? Hema terkejut. ia bertanya pada dirinya sendiri, tapi ada seseorang yang ikut nimbrung bahkan memberikan pilihannya pada salah satu parfum yang ada di tangan Hema.


"Yang kanan sangat wangi jika sudah nempel di pakaian..." lanjutnya.


Pria bermata sipit ketika tersenyum itu benar-benar membantu Hema untuk menentukan pilihan.


entah darimana datangnya pria itu hingga tiba-tiba berdiri di samping Hema tanpa ragu.


bahkan dengan entengnya tangannya bergerak membuat pelayan yang tadi bersama Hema tiba-tiba pergi.


Wih, siapa dia? batin Hema bicara.


"Dari Indonesia kan?". tanya pria itu membuka pembicaraan.


"Hm,". membuat Hema otomatis mengangguk mengiyakan pertanyaan tadi.


darimana dia tau? begitu sorot matanya bicara.


"Hahah... karena tadi saya mendengar anda bicara bahasa Indonesia..." lanjut pria itu paham dengan sorot mata Hema.


Senyum manis pria itu benar-benar membuta Hema terpaku. dari perawakannya, pria itu bukan muda lagi. mungkin sekitar 30-35 tahun. berwajah campuran dengan mata sedikit sipit dan berkulit cerah.

__ADS_1


begitulah Hema mendiskripsikan sosok pria di sebelahnya.


"Cari parfum untuk kekasih?" tabyanya lagi.


"Ha?".


Entah kenapa tiba-tiba Hema merasa kaku. gugup dan pasti terlihat bodoh di hadapannya.


Dia gugup... batin pria itu.


"Cari parfum untuk kekasih atau teman?". ulang pria itu.


Sial! kenapa senyumnya sangat hangat... batin Hema.


"Em... itu, buat teman..." jawab Hema. lagi dan lagi membuang muka untuk menekan rasa gugupnya.


"Ini sangat cocok untuk pria yang bekerja di ruangan ber-AC...". tunjuk pria itu pada botol parfum di tangan kanan Hema.


"Wanginya lembut tapi tak mudah hilang...".


Hema kembali mencium parfum itu. Mungkin Sasa akan suka juga...


Selera Hema dengan Sasa tak jauh berbeda. jadi cukup mudah baginya apabila memberikan sebuah barang. Sasa tak pernah kecewa.


"Kalau ini biasa digunakan untuk pria muda..." jelas pria itu lagi.


dan Hema otomatis mulai meletakkan botol parfum di tangan kirinya.


"Serius hanya untuk teman? heheh". godanya.


Sedangkan Hema sedikit terkejut karena untuk pertamakalinya ia bertemu dengan pria yang bahkan tak canggung sedikit pun tertawa di depan orang asing sepertinya. padahal mereka tidak saling mengenal.


"Aku juga bingung untuk memilih karena ini pertama kalinya membeli parfum pria... karena aku jomblo, heheh...".


Eh... kenapa gue harus menjelaskannya juga?


Karena tak perlu menjelaskan semuanya kepada pria asing itu bukan?


Dan Ha langsung bertambah canggung.


Pria itu mengangguk sambil tersenyum mendengar penjelasan Hema. "Jomblo ya..." gumamnya tapi masih mampu di dengar Hema.


Dia tersenyum lagi... sungguh senyum itu membuat Hema salah tingkah.


apalagi tatapan mata pria itu yang terlihat teduh.


"Zain..." ucap pria itu mengangkat tangan memperkenalkan diri tiba-tiba.


Apa? apa ini?


Hema tentu saja bingung dengan tindakan tiba-tiba pria bernama Zain itu.


"Hema..." jawab Hema tanpa berjabat tangan sama sekali. setidaknya ia sudah memperkenalkan diri bukan?


tak perlu berjabat tangan dengan seseorang yang baru saja Hema temui.

__ADS_1


bukan apa, hanya untuk berjaga-jaga saja.


walaupun pria di sampingnya itu terlihat sopan.


"Jadi Hema disini bekerja atau sekedar liburan?" tanya pria itu.


seperti sangat penasaran dengan Hema. karena tidak ada pria yang tak tertarik jika terus mencari topik pembicaraan lebih dulu. itu yang Hema tau.


"Pekerjaan... jadi Saya bekerja di bidang akomodasi, dan ada beberapa hotel dan rumah makan yang berdiri di sini..." lanjut Hema.


"Oh...".


Tidak... gue harus segera pergi dari sini... gue tidak mau terlibat dalam hubungan apapun dengan orang-orang baru... batin Hema.


"Terimakasih ya telah membantu memilihkan kado untuk teman ku..." ucap Hema.


"Sama-sama...".


Keduanya berjalan menuju kerja kasir. Hema merogoh dompet untuk membayar harga parfum tadi. dan menerima totebag, tapi ada sesuatu yang mengganggu Hema. sebuah parfum tidak akan akan seberat yang terlihat. Hingga yang Hema lakukan adalah mengeceknya ulang.


"Ini?" ucapnya bingung melihat parfum lain yang ada di dalam tas belanjaannya.


"Itu untuk mu Hema..." jawab pria itu.


"Ta-tapi?".


"Tak apa... ini toko milikku..." ucap Zain dengan senyum ramah seperti tadi. sungguh Hema benar-benar bingung harus melakukan apa.


"Ambil saja, parfum itu sangat cocok untukmu...".


"Terimakasih..." ucap Hema berulang kali. ia benar-benar merasa tak enak mendapatkan hadiah dari seseorang yang baru dikenalnya.


Hingga Hema mulai melangkah meninggalkan meja kasir. masih dengan sesekali membungkukkan badan memberi hormat si pemilik toko yang baik hati karena telah memberinya parfum gratis.


"Hema!". panggil Zain ketika Hema telah sampai di ambang pintu toko. membuat yang dipanggil seketika berhenti melangkah dan sedikit kebingungan.


dengan berlari, Zain berusaha mendekati Hema. "Hema... boleh minta nomor mu?".


Zain bukan pria yang berbasa-basi untuk sesuatu yang membuatnya tertarik. seperti saat ini. saat ia tertarik pada Hema, Zain tidak berpikir dua kali untuk meminta nomor gadis itu. karena keraguan hanya akan membuat dirinya sulit untuk menentukan pilihan.


"Oh...".


Pada akhirnya keduanya benar-benar bertukar nomor telepon.


"Terimakasih Hema...".


Zain terus menatap ke arah Hema pergi. hingga gadis itu benar-benar tak terlibat dari pandangannya.


senyum Zain masih terus mengembang sempurna walaupun sudah tidak ada Hema disana.


Gadis yang manis... itulah yang Zain pikirkan melihat Hema. gadis muda yang manis.


Dan setelah sampai di hotel, Zain benar-benar mengirim pesan singkat kepada Hema. awalnya Hema ragu untuk membalas pesan pria, tapi setelah di pikir-pikir ia tak bisa mengabaikan orang yang telah berbuat baik padanya.


malam itu Hema benar-benar berbalas pesan dengan Zain hingga malam.

__ADS_1


Hari terakhir di Singapura, Hema menemukan teman baru yang bisa membuatnya tersenyum kembali.


***


__ADS_2