
HAPPY READING...
***
Jika mengira kembali ke suatu tempat dimana banyak sekali kenangan yang tertinggal disana akan baik-baik saja, tidak memperngaruhi di mada depan adalah salah. karena mungkin saja kau lupa siapa namanya, bagaimana rupanya, tapi kenangan itu akan selalu punya tempat tersendiri dalam hati. itulah yang terjadi apda Hean saat ini.
Dulu ketika Hean merencanakan untuk kembali ke negara asalnya, kembali tinggal di negara yang telah lama ia tinggalkan, semuanya akan seperti baru. hidup yang terus berjalan sesuai dengan masa. nyatanya setelah menginjakkan kakinya lagi, Hema justru terpaku pada kenangan masa lalunya bersama seorang gadis yang pernah menjadi bagian singkat dari alur ceritanya.
Gadis yang tidak sengaja ia kenal, hanya sebentar bersama tapi kenangannya justru menjadi kenangan terdalam dari yang lainnya.
Hean kira kembali menjalin hubungan bersama Agnes akan menjadi labuhan terakhir cintanya. nyatanya, hati Hean kembali tergoncang oleh gadis lain yang dulu juga pernah ada di hatinya.
entah kenapa sejak melihat Hema lagi, Hean kembali penasaran dan perasaan itu semakin menyiksa kala Hema terlihat akrab dengan orang lain.
Egois memang, tapi inilah yang Hean rasakan saat ini. ingin kembali merajut impian bersama Hema.
bahkan lebih dari itu, Hean kembali ke Apartemen yang sudah ia tinggalkan selama 4 tahun hanya untuk bisa bertemu Hema.
Dan disinilah dia berada. menatap kamar yang dulu menjadi saksi kisah remajanya dan kenangan-kenangan bersama teman seperjuangannya.
"Kalau ada yang kurang hubungi saya Pak...".
Sang Asisten menjadi orang yang juga disibukkan oleh keputusan Hean untuk pindah rumah. membantu semua keperluan Hean di tempat tinggal barunya.
"Pulang lah... dan Terimakasih telah membantu...".
Asisten itu menundukkan kepala dan segera pergi. meninggalkan Hean sendiri di Apartemen.
Setelah kepergian Asisten itu, yang Hean lakukan adalah melepas jas dan dasi yang melingkar di lehernya. langkah kaki membawa tubuh pria itu menuju ke makar mandi. menghidupkan air panas dan mengisinya pada Bath up juga menambahkan sedikit aroma terapi yang tercium begitu menenangkan.
Sambil menunggu bath upnya penuh, Hean terlihat sibuk dengan ponselnya. mengetik sesuatu hingga terdengar sebuah panggilan telepon masuk.
Ck.. tidak sabaran banget...
"Halo...". Hean mengangkat panggilan itu dengan ogah-ogahan.
"Kenapa baru menghubungi ku? lihatlah jam berapa sekarang?".
Hean menjauhkan ponselnya. teriakan dari dalam ponsel miliknya benar-benar mengganggu.
"Hean!".
Sial! gue benci perdebatan seperti ini...
Hean sudah merasa lelah karena pekerjaan di tambah dengan pindah tempat tinggal tiba-tiba, dan sekarang harus mendengar ocehan Agens yang marah tidak jelas.
Hean lelah mendengar gadis itu yang terlihat sangat posesif kepadanya.
"Gue tidak mau berdebat Nes... jadi kalau lo marah, gua akan matiin telepon lo!".
walaupun begitu Hean masih berbicara dengan nada lembut kepada kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa lo jadi berubah sejak pulang? bahkan terlihat mengabaikan ku Hean...".
Agnes tentu saja memperlihatkan tangisnya.
"Lo macem-macem disana?".
"CUKUP NES!" bentak Hean. kesabarannya telah habis karena satu hal yang selalu membuat Agnes curiga adalah dirmya ynag tengah selingkuh. Hean kesal di tuduh seperti itu.
"Heannn..." ucap Agnes dengan suara parau. bingung sekaligus terkejut mendengar bentakan dari pria yang amat ia cintai itu.
Hean bersandar di pintu kamar mandi. memejamkan mata untuk mengendalikan emosinya. karena ia juga tau, tak sebaiknya berteriak kepada Agnes seperti tadi.
"Hiks...".
Hean menghela nafasnya kasar. tangis dari kekasihnya benar-benar menyakitkan baginya.
"Sorry...". hingga meminta maaf lebih dulu adalah solusi terbaik untuk mereka.
Hean benci berdebat karena ia tau sekalinya ia membuka mulut, ia akan hilang kendali dan kehilangan segalanya.
untuk itulah ia meminta maaf kepada Agnes.
"Gue hanya bertanya bukan? kenapa lo marah-marah...".
"Maaf, gue benar-benar lelah Nes..." aku Hean.
pekerjaan akhir-akhir ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.
"Gue rindu...".
Walaupun Hean baru meninggalkan nya beberapa hari saja, Agnes sudah merindukan pria itu.
"Gue juga..." jawab Hean. pandangannya melirik ke arah Bath up melihat air yang sudah penuh disana. "Sudah ya... gue mau mandi..." pamit Hean pada kekasihnya.
"Jam segini?".
"Iya... gue baru pulang bekerja...".
"Baiklah... selamat malam sayang...".
"Selamat malam...".
Setelah telepon itu berakhir, Hean segera menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam Bath up. berendam adalah solusi paling tepat untuk menghilangkan lelahnya.
Di Apartemen sebelah.
Hema tengah makan malam bersama Sasa. duduk menikmati makanan sambil sesekali bercerita.
"Apa yang gue lakukan benar Sa?" tanya Hema. memastikan bagaimana tanggapan sahabatnya tentang apa yang Hema lakukan beberapa hari terakhir.
"Tentu saja... pria seperti itu patut untuk mendapat hukumannya...".
__ADS_1
Hema menghentikan makannya. berpikir sejenak dan kembali melontatkan sebuah pertanyaan. "Bagaimana kalau dia bertingkah lebih dari saat ini?".
maksud Hema adalah tingkah Hean yang kadang terlihat begitu menakutkan baginya. karena sifat arogan sesekali muncul ketika pria itu tengah marah walaupun pada akhirnya Hean mampu memadamkan kemarahan nya sendiri. Hema hanya takut jika pria itu sampai melukainya.
"Tidak mungkin Hema... Bahkan Jio sangat tau bagaimana sifatnya bukan?".
Sasa yakin kalau apa yang dikatakan Jio tidak akan meleset. karena sikap Hema yang terlihat abai ini juga rekomendasi dari Jio.
Jio hanya tak mau Hema kembali menderita dengan kembalinya Hean di negara ini.
"Tapi-,".
"Apa dia berani kasar kepada lo?" selidik Sasa. maksudnya apakah Hean berani melukai Hema secara fisik seperti pria-pria pecundang lainnya?
"Tidak..." jawab Hema. walaupun sempat mendengar bagaimana pria itu membentak nya, tapi Hema berpikir kalau hal itu adalah wajar jika seseorang tengah marah. asal tidak menggunakan tangannya untuk menyakiti Hema.
"Hei, mau kemana?". Sasa kembali bersuara melihat Hema bangkit dari kursi dan tak melanjutkan makan malamnya.
"Gue udah kenyang..." jawabnya dan langsung berjalan ke arah balkon.
Udara malam seketika menerpa wajah Hema diringi dengan suara kendaraan yang lalau lalang di bawah sana.
malam tak begitu cerah dengan taburan bintang benar-benar membuat semuanya mampu terpukau.
tapi tiba-tiba pandangan Hema teralihkan oleh balkon di sampingnya.
Eh, kenapa lampunya hidup?
Heran karena sudah 4 tahun Apartemen sebelahnya selalu gelap tak berpenghuni. tapi malam ini terlihat berbeda. dari balkon sebelahnya terlihat bahwa unit di sebelah nya banyak lampu yang menyala seperti ada yang tinggal di sana.
juga dengan bayangan yang tiba-tiba berjalan ke arah balkon.
Degg, jantung Hema seperti berhenti berdetak melihat siapa itu. Gila... dia benaran disini...
Hema sembunyi di balik dinding Balkon, tak menyangka kalau yang ia lihat tadi adalah Hean.
"Sa..." panggil Hema dan menghamoiri sahabat yang yang tengah mencuci piring.
"Dia-dia...".
"Apa?".
"Dia disini..." lapor Hema.
Siapa?
"Dia disini Sa... Hean disini...".
Keduanya sama-sama terkejut melihat kenyataan baru bahwa tetangga lamanyabiyu telah kembali tinggal.
***
__ADS_1