Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
79. Kehidupan Baru Hema.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Aku bertemu dengan manusia-manusia baru tapi tak ada yang bisa mengambil hatiku secepat dirimu... Hema.


Gadis berambut pendek sebahu itu tersenyum dengan mata berbinar bahagia. setelah bangkit dari keterpurukan, pada akhirnya Tuhan menjawab semua doa-doa Hema. betapa ia sangat beruntung dalam hal karir. mendapat promosi jabatan beberapa pekan lali, adalah pencapaian membanggakan dalam hidupnya.


Hema bak burung. bisa terbang bebas kemanapun yang ia mau. hidupnya benar-benar jauh lebih baik dari yang dulu.


Pekerjaan yang mengharuskannya tinggal di tempat dan kota berbeda amatlah menyenangkan. bagaimana tidak? karena pekerjaannya, Hema bisa mengunjungi banyak kota di negaranya. anggap saja liburan berkedok pekerjaan.


dan bisa jadi bukan hanya di negaranya, mungkin ke mancanegara.


"Selamat Hema...".


"Terimakasih...".


senyum merekah itu tak henti-hentinya mengukir wajah cantik nan anggun.


tadi adalah ucapan selamat yang Hema dapatkan untuk kesekian kalinya hari ini. bahkan hingga jam pulang bekerja tiba, masih banyak lagi rekan yang memberinya ucapan selamat atas jabatan barunya itu.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" saran Hema. "Gue yang traktir...".


"Yee...".


"Siapp...".


Semuanya bersorak dengan rencana Hema. makan gratis adalah yang paling mereka nantikan.


Pada akhirnya Hema dan lainnya pergi ke sebuah tempat makan yang menyajikan destinasi pantai sebagai pemikat pengunjung. deru ombak terdengar dengan sesekali riak air terlihat berkilauan menciptakan suasana yang begitu nyaman. semuanya duduk sedangkan Hema memilih ikan, kerang dan aneka seafood yang akan di olah sebagai menu makanan malam ini.


"Ini saja..." ucap Hema kepada pelayan dan berjalan menuju kembali ke meja rekan-rekannya berada.


Sambil menunggu makanan matang, mereka terlihat asyik berbincang. bahkan tertawa begitu lepas. tapi walaupun terlihat senang, nyatanya dalam hati Hema masih menyimpan kesedihan. ingatlah bahwa ada pepatah bahwa orang yang tertawa paling keras adalah orang yang menyimpan luka paling dalam.


begitulah Hema. walaupun sudah 5 bulan lamanya sejak kejadian itu, nyatanya masih teringat jelas semua kejadian yang membuat Hema pergi dari Ibukota.


Hema sudah mencoba untuk melupakannya, tapi kenangan itu memaksa Hema untuk mengingat sosoknya.


bahkan saat tidur sekalipun. kenangan masa lalunya ikut masuk dalam mimpinya. Mengganggu setiap saat.


"Ayo, bagaimana kalau kita foto dulu?". salah satu rekan kerja Hema bersuara. sesaat setelah makanan mulai tertata rapi di meja mereka.


Semuanya langsung ambil posisi ternyaman untuk berfoto.


"1.. 2..3.. senyum...". salah satunya memberi aba-aba dan seketika lampu flash ponsel berkedip. berulang kali dengan pose yang berbeda-beda.


Hingga tak terasa banyak sekali jepretan gambar yang mereka ambil.

__ADS_1


dan tertawa karena ekpresi mereka yang kadang terlihat konyol serta lucu.


betapa senangnya Hema. di manapun ia berada, selalu bertemu dengan orang-orang yang baik.


seperti saat ini, berada di kota yang ada di salah satu pulau terbesar di Negaranya tapi Hema tak pernah merasa kesepian.


"Gue posting ya...".


"Gue juga mau pamer di sosial media...".


Hingga yang Hema lakukan hanya mengangguk. kalaupun ia menolak terasa percuma saja, karena kesenangan orang itu beda-beda. ada yang hanya menyimpannya di ponsel sebagai kenangan ada juga yang membagikan momen bahagia mereka di akun sosial media. memperlihatkan pada dunia maya bahwa dunia nyata ya juga seasyik itu.


"Ayo makan selagi masih hangat..." ajak Hema. di sambut dengan senyum yang lainnya. meletakkan ponsel merek adanya segera menikmati makan malam yang jarang mereka rasakan. karena tak akan sesering ini mereka bisa makan bersama-sama.


Makan malam telah usai. semuanya pulang dengan rasa kenyang.


setelah membayar tagihan makanan dan berpisah dengan lainnya, Hema masuk ke dalam mobil pemberian perusahaan karena dedikasinya selama bekerja.


senyum manis itu masih melengkung sempurna hingga mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi.


Hendak melingkarkan seatbelt, Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Hema!".


Hema meringis ketika menempelkan ponselnya di telinga. suara dari dalam sana benar-benar mampu memekakan telinganya. walaupun begitu, Hema bertambah senang. karena yang meneleponnya kali ini adalah sahabatnya saat kuliah dulu. Sasa.


Menambah senyum di bibirnya semakin lebar.


"Lo mentraktir yang lain dan melupakan gue?".


Sasa sudah tau tentang promosi jabatan yang Hema terima. tadi memang Hema sempat mengirim salah satu fotonya bersama teman-teman kepada Sasa. jadi jelas Sasa langsung menelepon Hema.


"Hahaha... gue hanya ingin pamer pada lo..." ucap Hema.


"Ck...".


5 bulan terpisah, Hema maupun Sasa tak pernah lupa bertukar kabar satu sama lain. hubungan mereka bahkan sudah seperti saudara yang sangat menyayangi.


"Walaupun gue kesal, tapi selamat atas segalanya...".


Entah sudah berapa kali Sasa mengucapkan selamat kepada Hema. seperti tak bosan sama sekali.


"Kemari lah, nanti gue traktir..." goda Hema. ia tau kalau Sasa akan pikir dua kali untuk menemui Hema. selain mereka tinggal di berbeda pulau, Sasa juga memiliki kesibukan sendiri.


"Ck, gue kesal sama lo!".


Hema kembali tersenyum. Sasa selalu mengatakan bahwa ia sangat kesal tapi tak bisa jauh dari Hema. sudah seringkali bilang membenci Hema, tapi merindukan kabar dari sahabat dekatnya itu.


"Berapa kali lo selalu bilang kesal sama gue? tidak bosan kah?" omel Hema seperti ibu yang memarahi anaknya. "Padahal gue rindu...".

__ADS_1


Benar, walaupun mereka seringkali berbincang lewat telepon seperti ini nyatanya tak mengurangi kerinduan Hema pada Sasa. ingin sekali rasanya Hema mengunjungi Sasa, bertemu dan melepas rindu. tapi apa daya?


Hema tak lagi ingin kembali ke kota menyeramkan itu.


Karena Ibukota, adalah kota yang ingin Hema hindari sampai kapanpun.


"Gue juga rindu Lo Hemaaa...".


Rengek Sasa jelas terdengar.


"Oh iya, bulan depan gue mau pergi ke Singapura..." lapor Hema.


Bagaimanapun ia tau kebiasaan Sasa. gadis itu pecinta parfum. dan seringkali meminta Hema untuk membelikan Parfum yang menurutnya harum dari berbagai negara yang Hema kunjungi.


"Lagi?". Heran karena Hema selalu saja pergi.


tapi mau bagaimana lagi, perusahaan dimana Hema bekerja adalah perusahaan raksasa di bidang akomodasi. jadi banyak sekali hotel, Resto, penginapan yang bernaung di bawah perusahaan tempatnya bekerja.


"Hm... mau nitip parfum?".


"Parfum gue sudah banyak... dan lo selalu membawakan gue parfum, Bisa-bisa gue buka toko parfum dalam waktu dekat...". Sasa hanya bergurau saja.


"Hahaha...".


"Tapi kalau buat Jio boleh sih... heheh... sebentar lagi dia ulang tahun...".


Ucapan Sasa mampu membuat Hema mengerutkan kening. Jio?


"Mana gue tau seleranya...".


Hema tak pernah membeli parfum untuk laki-laki. ia juga tak tau bagaimana selera laki-laki.


"Bisa... gue percaya sama lo...".


Sebuah pemaksaan bukan? tapi begitulah sifat Sasa.


Ck... Hema berdecak walaupun akan mengusahakan apa kemauan Sasa. termasuk membawa parfum yang wangi untuk hadiah ulangtahun Jio.


Apalagi Hema juga mengenal Jio dengan baik, tak mungkin ia kecewakan.


"Baiklah... udah dulu ya Ma... gue mau pergi makan dengan Jio...". pamit Sasa seperti tengah pamer karena makan malamnya bersama sang pujaan hati. beda dengan Hema yang masih betah menjomblo.


"Ya Ya Ya... semangatnya...".


Hema tak iri sedikit pun. karena melihat Sasa bahagia dan langgeng bersama Jio, ia juga ikut bahagia.


"Oke... Hati-hati Sa...".


Panggilan telepon pun terputus.

__ADS_1


Hema mulai menghidupkan mobilnya dan perlahan meninggalkan parkiran tempat makan malam tadi.


***


__ADS_2