
HAPPY READING...
***
Malam telah tiba. setelah seharian bersama, menghabiskan waktu berdua saja. pada akhirnya ketika malam telah tiba, mobil yang membawa Hean dan juga Hema kembali di jalanan Ibukota.
lelah, itulah yang mereka rasakan. apalagi mereka sempat mpir untuk makan malam tadi, rasa kantuk mulai bergelayut di mata keduanya. ingin segera menuju ke ranjang dan terlelap.
"Tidur lah nanti setelah sampai...". ucapan yang menjadi perintah bagi Hema. jangan begadang hingga larut malam apalagi sampai sakit sama seperti waktu itu.
"Hm,". memang punya tenaga sekuat apa hingga Hema bisa begadang malam ini. energinya telah terkurang seharian ini. tertawa berlarian di bibir pantai, Agghh... Hema puas sekali. betapa menyenangkannya bisa bermain di pantai.
Apalagi sudah sangat lama Hema tidak kesana. terakhir kali mungkin 2 tahun lalu.
Mobil tiba di Basement dan terparkir bersama kendaraan lain. keduanya turun dan berjalan bersama.
"Lo lelah?". pertanyaan basa-basi terlontar dari mulut Hean.
"Kalau iya, kenapa? jangan bilang kalau lo mau memijit gue...". Hema tau ap ayang ada di pikiran Hean saat ini. tak jauh dari hal-hal berbau dewasa.
Hahaha...
Benarkan apa gue bilang.. gue sudah bisa menebak kemana arah pikirannya...
"Lo paranormal bisa tau apa yang gue pikirin?" cerca Hean. walaupun tadi ia hanya bergurau saja, karena mengasyikkan bisa menggoda Hema.
"Ck... udah ketebak...".
Banyak hari yang Hema lalui bersama Hean. hingga sedikit demi sedikit ia begitu paham tentang pria itu. jangankan ucapannya, dalam pikirannya saja Hema tau.
"Uh, manis sekali sih...". tangan Hean kembali lagi membuat ulah. kali ini mencubit pipi Hema hingga membuat pemiliknya mengaduh.
Aww...
Tak terasa keduanya telah tiba di lantai unit apartemennya berada.
di depan pintu, Hean berdiam diri mengamati Hema.
"Gue masuk dulu ya..." pamit gadis itu.
hari ini kegiatan mereka telah selesai. Sama-sama terpisah dan akan bertemu esok pagi.
Hean mengangguk setuju, membiarkan Hema masuk dan beristirahat. "Cepat tidur... jangan begadang...".
"Hm,". Hema telah menekan beberapa digit angka dan pintu terbuka. masih di ambang pintu terdiam penuh tanda tanya karena Hean masih berdiri disana.
"Kenapa?". tanya Hema penasaran. apa yang membuat Hean tak segera pergi.
malah tatapannya begitu dalam, sulit untuk Hema selami apa mau pria itu.
"Berjanjilah padaku, jangan pernah bersedih Ma..." pinta Hean terdengar tulus. bahkan ada sebuah keinginan dalam dirinya, Hema akan selalu bahagia apapun yang terjadi.
jangan pernah menangis lagi setelah masalah yang pernah gadis itu hadapi.
Terenyuh, itulah yang Hema rasakan. untuk pertama kalinya ada yang berkata seperti itu padanya. walaupun Hema pernah mendengarnya dari mulut Sasa, tapi yang dikatakan Hean saat ini lebih dalam dari segalanya.
__ADS_1
ucapan pria itu mampu masuk ke dalam hatinya, bahkan sampai titik terdalam. ada yang begitu peduli melebihi siapapun.
"Gue janji," jawab Hema. walaupun ia sendiri tak yakin apa bisa bahagia atau tidak, karena tidak ada yang tau bagaimana takdir seseorang.
bisa saja ia bahagia, tertawa seperti seharian ini. tapi bagaimana hari esok? mungkin saja Hema kecewa dan menangis.
Hean berjalan mendekat. membuat Hema otomatis terdiam bak batu. merasakan pria itu mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat kening Hema. hangat..
itulah yang Hema rasakan tanpa bisa melakukan apapun.
Ini yang kedua... batin gadis itu.
Untuk kedua kalinya Hean melakukan hal semanis itu pada Hema. membuat hatinya berdesir aneh.
"Cepat tidur..." ucap Hean lagi dan kali ini benar-benar melangkah pergi. berjalan menuju ke unit di samping Hema berada.
bahkan Hema sempat mendengar pintu tertutup menandakan Hean benar-benar masuk ke dalam diikuti olehnya yang juga masuk ke dalam unitnya sambil senyum indah yang tersungging di bibirnya.
Di dalam Apartemen, suasana terlihat berbeda. lampu sebagian besar menyala membuat Hean bertanya-tanya. padahal ia yakin kalau tadi pagi semuanya mati. bagaimana mungkin bisa menyala seperti ini?
Kelakuan Jio atau Dimas? tentu saja tidak. andai kedua pria itu datang, pasti mengabari Hean lebih dulu bukan?
selain Hean, Jio dan Dimas yang memang tau Password untuk masuk ke dalam Apartemennya.
Hean terus melangkah masuk. terdengar suara televisi menyala, berarti memang ada orang di dalam sana.
dan benar saja, seseorang tengah menonton televisi sambil menikmati snack. terdengar jelas saat keripik kentang itu hancur dalam kunyahan.
"Intan?". Hean terkejut. ternyata yang ada disana adalah adik perempuannya.
"Kakak... kakak darimana saja?". gadis muda itu langsung beranjak dari duduknya. berhambur memeluk tubuh sang kaka yang masih berdiri tak percaya. baru saja ia memikirkan intan, nyatanya gadis itu sudah ada di depan mata.
"Lo datang sendirian?". Hean balik bertanya. di malam seperti ini gadis itu datang sendirian ke tempatnya.
"Tadi sepulang Les langsung kesini...".
Tadi Intan meminta supir untuk mengantarkannya ke Apartemen ini.
ada alasan jelas bukan? karena Intan rindu dengan kakaknya yang tidak pernah pulang sama sekali.
"Lalu darimana lo bisa tau Password untuk masuk?". kedua kalinya Hean kebingungan. karena hanya dia dan kedua sahabatnya yang tau. api tiba-tiba Intan bisa masuk tanpa bertanya kepadanya.
"Kak Dimas..." jawab Intan dengan entengnya.
Dari sahabat sang kakak, Intan memang lebih akrab dengan Dimas daripada Jio.
karena sosok ceria dan friendly yang membuat Intan nyaman jika berbincang dengan pria itu.
"Ck... sudah kuduga...". Hean pun tak kaget lagi akan hal itu. karena Dimas juga sering kali bercerita bahwa ia dan Intan begitu akrab.
"Jangan terlalu dekat dengannya!". ucapan Hean terdengar seperti sebuah petuah untuk Intan. karena tak ada yang namanya teman di hubungan antara pria dan wanita.
Apalagi Hean tau bagaimana sifat Dimas, walaupun sahabatnya tapi setan pun tak mengenal hal itu bukan?
Hean hanya ingin adiknya baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa? kak Dimas baik kok...". Intan kembali mencari posisi duduknya. mengambil keripik kentang yang masih tersisa setengah dan kembali menikmatinya lagi.
Ck...
"Lo sudah makan?". Hean bertanya dan ikut duduk di samping adiknya. ikut mencomot keripik kentang dari tangan Intan.
"Belum...". Intan memang belum makan malam karena tadi ia langsung kesini setelah Les usai.
"Ayo cari makan dan gue antar pulang...".
Hean langsung bangkit dari duduknya. padahal ia cukup lelah tapi masih ada kewajiban yang harus dilakukan. mengantarkan sang adik pulang dengan selamat. walaupun mereka adik kakak, tapi Hean tak mau Intan menginap di tempatnya. Intan boleh mengunjunginya tapi tetap pulang dan tidur di rumah.
Sebelum pulang, Hean membawa Intan makan. Sebuah tempat makan yang menyediakan ayam tepung sebagai menu utamanya.
Menemani Intan yang makan, Hean hanya menikmati seporsi kentang goreng dan minuman soda.
sesekali mengobrol untuk mengobati kerinduan mereka.
"Kak,". panggil Intan tapi masih dengan tatapan ke arah makanan di depannya.
"hm,".
"Kapan kakak wisuda?".
"2 bulan lagi..." jawab Hean. diingatkan tentang wisuda, sudah membuat Hean terserang panik. bahkan ada yang belum ia selesaikan sebelum wisuda.
"Kenapa?".
"Kenapa kaka tidak pulang dan memberitahu Ayah dan Ibu?". walaupun tinggal di satu kota, Hean tidak begitu sering mengunjungi orangtuanya. bahkan hampir 2 bulan ini ia tidak pulang.
"Jadi lo datang di suruh Ibu?" selidik Hean. tau bagaimana sifat perempuan bukan?
ya Intan dan Ibu memang satu frekuensi ketika membahas Hean.
"Tidak, Intan datang karena inisiatif sendiri...". karena seperti itulah yang terjadi. Intan datang bukan karena perintah Ibu ataupun Ayah. karena ia ingin bertemu dengan kakaknya.
"Eh kak,".
"Hm,". selalu saja seperti itu tanggapan Hean. tidak lebih dari sekedar kata Hm.
"Kakak tau kalau dia akan pulang?" pancing Intan.
"Siapa?". sejenak Hean penasaran dengan siapa yang Intan maksudkan.
"Kak Agnes...". sebauh nama terlontar dari mulut Intan. nama yang mampu membuat Hean menghentikan makannya.
"Kak Agnes akan pulang sebentar lagi... dia sudah lulus Kak..." tambah Intan. itulah yang Intan tau. karena beberapa hari yang lalu, Intan memang menjalin komunikasi dengan gadis bernama Agnes.
Tapi rona tidak suka terlihat jelas di wajah Hean. bahkan membuat selera makannya hilang ketika nama Agnes disebut.
"Kak..." panggil Intan lagi. memastikan kalau kakaknya itu mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Habiskan makananmu dan kita pulang sekarang...". Hean bangkit dari kursinya. metaih kunci mobil dan berjalan meninggalkan Intan yang kebingungan.
"Eh, kak tunggu... makananku belum habis...". Intan yang kelimpungan melihat Hean yang meninggalkannya
__ADS_1
***