
HAPPY READING...
***
Hema menutup kedua telinganya saat suara guntur seolah memecah langit sore hari. jantungnya serasa berdetak sangat cepat diiringi nafas yang naik turun. Hema terkejut, karena biasanya suara petir yang sekuat saat ini. atau mungkin karena Hema sendirian jadi suaranya terdengar sangat jelas.
Gue harus cepat menyelesaikannya... batinnya bicara. dengan tangan yang mengetik semakin licah saja.
Suasana Perusahaan apalagi lantai dimana ia bekerja saat ini benar-benar terlihat menakutkan. sepi tak ada satu orangpun yang lewat.
Hema yakin, Asisten pribadi CEO adalah orang terakhir yang meninggalkan lantai ini barusan.
dan Hema meyakini bahwa tinggal dirinya sendiri di sini.
Tangan gadis itu semain bergetar sambil sesekali melihat ke arah sudut ruangan dimana Lift berada.
cuaca yang seharusnya dingin justru mampu membuat Hema mengeluarkan keringat. bukan karena panas, tapi karena rasa khawatir nya yang berlebihan. Hema takut ada hantu di tempat ini.
Sial! kenapa gue meminta Sasa pulang duluan tadi...
Menyesal, tapi nasi telah menjadi bubur. Hema tak bisa memutar waktu lagi. hingga tiba-tiba lampu yang ada di ruangan ini terlihat aneh. hidup... mati... hidup... dan terkahir mati.
Hema semakin panik. menyimpan file sebelum listrik benar-benar padam.
dan di detik selanjutnya mimpi buruk terjadi. sedetik setelah Hema berhasil menyimpan File dalam komputer, semuanya benar-benar padam.
"Aaa..." gadis itu sedikit berteriak dan muali meraba-raba. mencari ponsel untuk menerangi tempat duduk nya.
"Ah... ah...". nafasnya bahkan ikut berkejaran dengan tangan cekatan Hema yang merapikan semuanya. mencangklong tas dan bersiap lari meninggalkan ruangan itu.
Karena ruangan benar-benar gelap, otomatis Lift juga tidak berfungsi membuat Hema berpikir menggunakan tangga saja untuk keluar dari perusahaan dan turun kw lantai dasar gedung Asian Star.
Tapi baru berniat pergi, seseorang membekap mulutnya dari belakang.
"Mmm... mmh...". Hema hanya bisa meronta dengan pikiran campur aduk.
Hantu? mana ada hantu yang menyentuhnya seperti ini...
di situasi genting, Hema bahkan sempat berpikir demikian.
"Mmhh... mmhh...". Terus saja meronta, memukul tangan yang terasa sangat kuat walaupun usahanya tak membuahkan hasil sama sekali.
Hema semakin ketakutan karena entah siapa orangnya, membuat Hema sedikit terseret kebelakang menuju ruangan.
Hema tak ingat ruangan apa yang ia masuki karena semuanya gelap.
"Tolong...". sempat berteriak saat seseorang yang membawanya itu sedikit lengah. tapi usahanya sia-sia karena tak ada siapapun yang bisa menolongnya saat ini.
Hingga Hema merasakan seseorang itu mendorongnya hingga teejerabah di sesuatu yang sangat empuk.
Apa ini? kasur? Hema meraba-raba dalam kegelapan.
Mana ada kasur di Perusahaan? begitu hatinya kembali bicara.
tapi tangan Hema tak berhenti menepuk-nepuk sekitar.
__ADS_1
benar kok...
Kalaupun sofa mana ada sofa sebesar ini.
Pikiran Hema semakin melayang jauh. gadis itu semakin ketakutan kalaupun berlari, bagaimana caranya? Hema benar-benar tidak bisa lihat dalam kegelapan. tasnya saja entah jatuh dimana tadi.
"Tolong... siapapun itu, jangan sakiti gue..." pinta Hema penuh iba.
Tapi anehnya tak ada suara yang menyahut sama sekali. membuat Hema semakin menangis karena ketakutan.
"Tolong...".
Di dalam kegelapan, Hema menangis sambil memeluk kedua lututnya. menenggelamkan wajah sangat dalam dan pasrah jika ini adalah akhir hidupnya.
Tuhan... selamatkan aku..
Perasaan ini sama seperti waktu itu. waktu dimana Hema ketakutan berada di dalam Apartemen asing milik Hean.
Cukup lama Hema menangis hingga tiba-tiba cahaya lampu berubah terang. perlahan Hema mengangkat pandangannya dengan mata yang masih menggenang.
"Apa lo sangat takut?".
Sebuah pertanyaan dari seseorang yang tengah berdiri bersandar tembok sambil melipat kedua tangannya di dada. entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, Hema yakin kalau setiap gerak-geriknya tadi pasti tak luput dari pengawasannya.
dan satu hal lagi,
Dimana ini?
Hema mengedarkan pandangannya. mirip seperti sebuah kamar dimana ada Bed, lemari pakaian lengkap dengan kamar mandi.
tapi di bagian mana ini?
Hema tak tau ada ruangan seperti ini di dalam perusahaan.
"Jangan takut Hema...".
CEO yang tak lain bernama Hean itu pun mendekat. duduk di tepi ranjang dengan pandangan tak lepas mengamati Hema.
Ini adalah salah satu bagian dari rencana Hean. membuat suasana gelap sesaat agar bisa membawa gadis itu dan disinilah mereka. berada di dalam ruangan tersembunyi yang ada di ruang kerja CEO.
Hean tak ingin melakukan apapun. ia hanya ingin berbicara berdua dengan gadis itu. hanya itu...
"Apa maksud semua ini?". Hema jelas bingung. takut apa yang akan terjadi padanya. apalagi di tempat aneh ini, hanya ada dia dan Hean saja.
"Gue hanya ingin berbicara dengan lo..." jawab Hean.
"Kalau mau bicara kenapa harus di tempat seperti ini?". Hema hendak bangkit dari sana, setidaknya keluar mencari ruang yang cukup besar.
"Hema..." cegah Hean. meminta Hema untuk tetap duduk disana beberapa saat.
"Gue hanya ingin bicara dengan lo... itu saja," meyakinkan.
Sejenak Hema terdiam. mengamati bola mata Hean dan mencari sebuah kejujuran disana.
"Maafin gue...".
__ADS_1
Tiba-tiba terlontar sebuah kata maaf dari mulut pria itu. membuat Hema hanya bisa diam dan mengerjabkan matanya berulang kali. maaf untuk kesalahan yang mana? begitu hatinya bicara.
"Gue tau 4 tahun belakangan lo benar-benar menjalani hari yang begitu sulit..." ucap Hean membuka pembicaraan.
Hean tadi sempat mendapat pesan dari Jio, sahabatnya. entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Jio memperingatkannya untuk tidak bermain-main dengan Hema. Betapa gadis itu sangat menderita setelah kepergiannya.
Sungguh Hean baru mengetahui hal itu.
Dan dari Jio juga Hean menyadari kesalahannya terhadap gadis itu sangat besar. menabur harapan yang terlalu tinggi lalu mengecewakannya.
"Maaf Hema...".
Oh hati... jangan sampai terpengaruh... batin Hema. siapa yang tidak luluh melihat wajah dan perkataan Hean barusan. apalagi sosok pria itu sudah terlalu dalam masuk ke dalam hatinya. Hema benar-benar menaruh hati pada pria itu, bahkan sampai sekarang.
hanya saja, ego Hema membuatnya tak mudah untuk melupakan bagaimana pengkhianatan Hean terhadapnya.
Hema hanya tak mau dengan mudah memaafkan pria itu.
"Sudahlah, semuanya sudah selesai Yan..." ucap Hema dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain asal tak menatap ke arah Hean.
Hean tersentak. untuk pertama kalinya setelah pertemuannya dengan Hema, gadis itu kembali menyebut namanya. bukan Pak, seperti yang sering Hema ucapkan dihadapannya.
"Gue sudah melupakan semuanya..." jawab Hema.
Semuanya hanya menjadi bagian buruk di masa lalunya saja. dan Hema harap, di masa sekarang semuanya akan berjalan mulus. Hema yang menemukan kebahagiaanhya walaupun tanpa Hean.
"Apa lo benar-benar melepaskan ku, Hema?".
Pertanyaan yang tak Hema harapkan lolos begitu saja dari mulut pria di depannya. pernyataan yang seperti menusuk jantungnya semakin dalam.
Maksudnya?
Hean semakin duduk mendekat, sedangkan Hema tentu saja membuat jarak dengan menggeser tubuhnya beberapa kali.
hingga Hema tak bisa bergerak karena berada di paling ujung ranjang.
Jantung Hema berdetak tak karuan di tambah dengan perlakuan Hean padanya. tiba-tiba menyenderkan kepala di pundaknya tanpa meminta ijin lebih dulu.
"Gue benci di abaikan..." keluhan pria itu.
Sedangkan Hema masih tak berkutik sedikitpun. hanya disenderi kepala Hean saja, sudah membuat tubuhnya berat tak bisa bergerak. hingga yang dilakukan Hema ialah pasrah. waluapin ia juga harus memikirkan detak jantungnya. jangan sampai Hean menyadari hal itu.
"Jangan bergerak Hema... biarkan sedikit lagi..." pinta Hean. sedikit menenangkan pikiran karena lelah dengan begitu banyak pekerjaan yang serasa tidak ada habisnya.
dan seperti ini, Hean merasa damai. rasanya beban yang ia tanggung seperti hilang begitu saja.
Keduanya benar-benar terdiam cukup lama. Hean yang memejamkan mata sedangkan Hema, gadis itu hanya beberapa kalo berkedip menatap ke arah depan dengan pikiran yang hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya.
Terdengar hembusan nafas teratur menandakan Hean benar-benar terlelap.
Eh, dia tidur beneran?
Walaupun begitu Hema tak berontak, takut mengganggu tidur Hean.
***
__ADS_1