Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
121. Kencan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Anak perempuan kecil itu tengah berlari riang dengan membawa permen di tangannya. tersenyum kepada semua orang yang ada di taman yang tengah memperhatikan kelucuannya.


Kaki mungilnya seperti tak merasakan lelah sedikitpun. berlari, melompat kesana kemari.


"Papa..." teriaknya tiba-tiba.


"Iya Sayang...".


"Papa lihatlah...". tunjuk anak kecil itu kesalha satu ranting daun dari tamanan yang ada di Taman tersebut.


"Hm... Kupu-kupu..." jawab sang Papa memberitahu. jawaban dari Papa nya seketika membuat sang anak kembali tersenyum riang. bertepuk tangan seperti telah menemukan mainan baru nanti lucu.


Pertama kalinya Bellavia menemukan makhluk lain di luaran sana. kupu-kupu. binatang yang memiliki sepasang sayap dan sangat indah dipandang. tentu saja bukan hanya Bella yang takjub, orang tua sekalipun sangat menyukai hewan itu. apalagi Kupu-kupu yang Bella temukan saat ini memiliki sayap indah berwarna biru dengan motif hitam. sangat langka.


Waktu semakin cepat berlalu. tak terasa putri Hean itu telah pandai berjalan. berlari dan tumbuh cantik dengan rambut panjang yang selalu diikat dengan pita merah muda oleh neneknya.


"Mau ambil gambar juga?". seorang qnaita bersuara. menanyai Bella apakah anak itu mau berfoto atau tidak.


Anggukan pelan dari Bella membuat Hean tersenyum. putriny aitu sangat pandai dan paham apa yang harus dilakukannya. perlahan dan hati-hati memposisikan diri di dekat bunga dimana ada kupu-kupu yang hinggap di atasnya.


" 1... 2... 3". memberi aba-aba dan jepretan kamera ponsel telah mengabadikan momen itu.


Bellavia kembali berjalan dengan manisnya. sedangkan di belakangnya Hean dan Hema masih setia mengikuti langkah kaki kecil anak itu.


Mungkin pasangan lain akan menikmati waktu kencan berdua mereka. Jalan-jalan atau sekedar nonton film di bioskop. tapi beda dengan Hema dan Hean. kencan mereka tak bisa lepas dari Bella, putri semata wayang Hean.


karena kemanapun Hean pergi, anaknya akan selalu ikut. seperti saat ini, kencan dengan alih-alih menjaga Bella.


Hal itu tak membuat Hema ataupun Hean merasa sedih. justru sangat bahagia bisa pergi bertiga seperti ini. lihatlah tatapan orang-orang kearah mereka. seperti tengah membicarakan keromantisan bak keluarga kecil dengan satu anak perempuan sebagai pelengkapnya.


Apalagi dengan perlakuan manis dari Hean kepada wanitanya. menggenggam erat tangan Hema sepanjang langkah kaki membawa diri mereka.


tangan hangat itu terpaut, seperti tak ingin terlepas oleh apapun.


"Berapa hari lo disini?" ucap Hean bersuara.


menanyakan sampai kapan Hema akan singgah di Ibukota dan menemuinya.


"3 hari..." jawab Hema yakin. mungkin kurang baginya hanya 3 hari di kota ini dengan Hean, tapi seperti inilah pekerjaan Hema.

__ADS_1


"Apa lo ingin gue lebih lama tinggal disini?" goda Hema. membuat yang ditanya tentu saja tak bisa berkata-kata. terdiam dengan wajah menahan malu.


Ya, andai bisa jujur Hean memang ingin wanitanya tetap berada di sini. di dekatnya seperti sekarang. tapi ia juga tak bisa memaksa Hema melakukan apa yang wanita itu sukai.


karena mencintai tak perlu memaksakan segala sesuatunya.


"Ikat gue kalau lo ingin hal itu..." tantang Hema.


"Ck..." Hean berdecak dan tak bisa menyembunyikan senyumnya. "Semakin hari, lo semakin berani menggoda ku ya...". keluh Hean akan keberanian Hema yang selalu menantang Hean.


"Hahaha..." sedangkan Hema hanya menanggapi dengan sebuah tawa.


menyenangkan baginya ketika mampu membuat Hean tersipu seperti sekarang. wajah pria itu semakin lucu ketika digoda.


Keduanya memilih duduk di salah satu bangku yang ada di taman. menikmati suasana sore hari yang begitu sejuk karena pohon-pohon tinggi yang menaungi tempat itu sambil mengamati Bella yang tengah bermain dengan bunga di depan sana.


"Lo mau gue melakukannya?" tanya Hean. mengikat seperti yang dikatakan Hema tadi.


agar tak ada lagi jarak diantara mereka.


"Silahkan saja kalau berani..." tantang Hema. seperti tak takut sama sekali dengan ucapan Hean barusan.


karena ia tau, Hean tak akan berani melakukannya.


Hema masih tersenyum tak memperdulikan tatapan Hean yang begitu dalam kepadanya.


Bagi Hema, ucapan itu justru terdengar seperti sebuah lelucon. mana ada pria yang melamar kekasihnya seperti Hean saat ini. mengajak menikah tapi seperti mengajak tawuran.


"Hahaha... tidak!" celoteh Hema.


menolak ajakan Hean tanpa ragu.


"Kenapa?" protes Hean. padahal ia bersungguh-sungguh untuk itu.


"Lo ngajak nikah kayak ngajak gelud..." keluh Hema. setidaknya Hean harus sedikit romantis jika ingin mengajaknya menikah. bukan seperti tadi. tidak ada manis-manisnya sama sekali.


"Ck...". Hean kembali berdecak.


"Setidaknya kita harus meminta restu dari Bella... dan juga Mamanya..." ucap Hema dengan yakin. pernikahan bukan tentang mereka berdua. tapi harus memikirkan Bella juga. karena bagaimanapun Bella punya hak lebih dari segalanya. siapa yang cocok untuk Papanya. dan juga Agnes... walaupun Hean dan Agnes telah bercerai, tapi Agnes pernah menjadi istri dari pria itu.


"Lo mau kesana dulu?" tanya Hean.


"Ya tidak sekarang juga... ini sudah terlalu sore..." tolak Hema. Ya kali mereka langsung meminta restu sekarang juga. kayak mau menikah esok hari saja.

__ADS_1


"Toh bagaimana dengan Bella?".


Sejenak Hema bingung. apakah tak apa jika mereka menikah? bagaimana dengan perasaan putrinya Hean itu nanti.


"Dia sudah semakin dekat dengan lo..." jawab Hean. bahkan hampir tiap hari Hean selalu menyempatkan diri bersama Bella untuk sekedar Video call dengan Hema. bahkan sampai 2 sampai 3 kali sehari.


membuat Bella semakin dekat dengan Hema.


"Iya..." jawab Hema lemah. tapi walaupun begitu, masih ada kerisauan dalam diri Hema. pertanyaan apakah ia mampu, seringkali hadir menggoyahkan hati.


karena badai dalam hubungan mereka dulu bisa dikatakan buruk dan terlalu menyeramkan. Hema ingat waktu lalu.


membayangkan saja seperti sebuah ketakutan yang ingin Hema lupakan.


"Mau minum?" tanya Hean lagi. sejak tadi mereka hanya mengikuti langkah Bella di taman ini. bahkan tak sempat membeli apapun.


"Hm..." Hema menganggukkan kepalanya. karena bagaimanapun tenggorokannya memang kering dan butuh pengairan.


"Baiklah... jaga Bella sebentar..." pamit Hean pada Hema. pria itu akan membeli sesuatu di toko yang ada di seberang jalan di depan sana.


"Oke...".


Beberapa menit telah berlalu. dengan membawa tas berisi minum dan beberapa camilan, Hean telah menyebrang jalan. mencari keberadaan Hema dan putrinya.


masih sama seperti terlahir kali, Hema duduk di bangku yang sama. pandangannya tak lepas mengamati Bella yang tengah berlarian di depan sana. seperti seorang Ibu.


Sedangkan Hean, senyum di bibir pria itu seketika lenyap begitu saja. ketika ada 2 orang pria yang entah darimana datangnya tiba-tiba duduk di bangku tak jauh dari Hema. tersenyum seperti tengah membicarakan Hema. tau kan bagaimana seorang pria yang tengah tertarik pada wanita yang mereka temui?


seperti itulah tatapan mereka.


Hal itu membuat Hean merasa sedikit risau. apalagi yang tengah menjadi pusat perhatiannya adalah wanitanya. ingin sekali Hean menghajar pria itu karena telah menatap wanitanya. hingga dengan langkah yang sedikit dipercepat, Hean segera mendekati Hema. duduk di samping wanita itu tapi tatapan tertuju pada dua pria di depan sana.


Gue tandai Lo! batin Hean.


"Kenapa Yan?" tanya Hema bingung dengan perubahan wajah Hean yang tiba-tiba berubah.


"Tidak," elak Hean. menyembunyikan apa yang membuatnya kesal saat ini.


"Aneh sekali...".


Tapi Hean justru semakin bertingkah. merapatkan duduknya dengan tangan merangkul pinggal Hema seperti memperlihatkan kepada semua orang bahwa dialah pemilik wanita itu.


"Apaan sih Yan..." protes Hema.

__ADS_1


"Diam saja..." perintah Hean tak bisa di bantah sama sekali.


***


__ADS_2