
HAPPY READING...
***
Dia ada dan benar-benar nyata, tapi untuk bisa memilikinya aku harus tidur dan memejamkan mata... Agnes.
Malam, Hean berdiri di depan pintu rumah. tangannya tergantung hendak menyentuh gagang pintu itu tapi masih ada keraguan di dalam hatinya.
Apakah Agnes sudah tidur? apa wanita itu masih terjaga dan menunggunya?
Karena itulah kebiasaan Agnes beberapa bulan belakangan. memaksa dirinya untuk terjaga hanya untuk menyambut kedatangan Hean.
padahal Hean memang sengaja pulang saat malam benar-benar sudah larut hanya untuk menghindari wanita itu. wanita yang seperti sengaja menghancurkan hidupnya.
bahkan karena Agnes pula, Hean kehilangan kepercayaan dari keluarga dan juga Hema.
Rasanya masih saja sesak menghantam ulu hatinya. bagaimana untuk pertama kalinya ucapan Hean tak ada yang percaya. bahkan Hema sampai meninggalkan dirinya.
semuanya karena Agnes. dan lebih buruknya, sampai detik ini Hean belum juga mempunyai bukti bahwa yang dikandung Agnes bukanlah darah dagingnya sendiri. betapa pintar dan licik Agnes untuk menyembunyikan semua fakta yang telah terjadi.
"Agghhh...". Pada akhirnya Hean membuka pintu, berusaha sepelan mungkin agar tak menciptakan suara yang dapat mengganggu Agnes.
Tap Tap Tap... langkah kakinya bahkan tak terdengar sama sekali. mengendap-endap seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri.
Dia tidur? batinnya sambil terus menjelajahi seluruh penjuru ruangan yang sudah gelap di bagian tertentu.
Kamar yang ada di lantai dasar, kamar yang tak lain adalah kamar Agnes terlihat tertutup rapat. Hean yakin kalau malam ini Agnes tak menunggunya.
hingga langkah kaki Hean semakin membawanya masuk jauh lebih dalam.
hingga tubuhnya menegang melihat sesuatu di ruang televisi.
Deg...
Jantungnya serasa berhenti berdetak dengan mata yang membulat sempurna. dugaan Hean salah. Agnes tidak berada di kamarnya saat ini. tapi tertidur dengan posisi duduk di sofa.
Hean yakin kalau wanita itu tak sengaja tidur disana. Agnes ketiduran saat menunggunya kembali pulang.
Dengan perut yang semakin melebar dan besar, entah kenapa Hean merasa iba. tak sepatutnya Agnes melakukan hal sampai seperti ini. padahal jelas Hean tak ingin ditunggu kepulangannya.
__ADS_1
Masih berdiri lama, Hean menatap lekat Agnes. dulu, wanita itu adalah pemenang hatinya. dulu, rasa cintanya kepada Agnes begitu besar bahkan membuat Hean lupa segalanya. dulu ia selalu berkorban hanya untuk membuat Agnes senang. tapi sekarang, hanya karena satu kesalahan Hean menghukum Agnes begitu berat.
wanita itu seperti tak ada harga dirinya sama sekali.
bahkan sampai mengemis agar Hean kembali mencintainya.
Di sisi lain, mungkin bukan hanya Hean saja yang melakukan itu. Perselingkuhan tidak dibenarkan sama sekali. selingkuh bukan trend ataupun gaya hidup jaman sekarang.
selingkuh adalah penyimpanan. dimana akan sulit untuk menghentikan itu. andai bisa berhenti, tak ada jaminan untuk kedepannya. akan ada saat dimana mereka kembali mengulanginya lagi dan lagi.
Apalagi Hean. pria yang tidak bisa terlalu mempercayai orang. apalagi orang yang telah menyakitinya.
Tapi melihat Agnes kali ini terasa beda. dengan perut yang besar itu, pasti sangat tidak nyaman baginya tidur dengan posisi duduk seperti itu.
"Bangun Nes...".
Pada akhirnya Hean membangunkan Agnes. menyenggol kaki wanita itu agar terbangun dan segera pindah ke kamarnya.
"Hooammm..." Agnes menggeliat.
berusaha membuka matanya untuk mengamati sekitar.
hal pertama yang Agnes lihat adalah sosok Hean yang berdiri di depannya.
karena sejak hamil, entah kenapa Agnes suka memimpikan Hean dalam berbagai hal. karena hanya dengan tidur, Agnes bisa dekat dengan Hean.
Seperti beberapa saat yang lalu, Agnes baru saja bermimpi. ia pergi bersama Hean ke sebuah tanah lapang yang ditumbuhi banyak sekali bunga. mereka benar-benar senang dan tertawa bersama. Agnes ingin merasakan momen itu lebih lama, tapi seseorang membangunkan tidurnya.
"Tidur lah di kamar..." perintah Hean.
"Ha? oh... iya..." jawab Agnes gagu. Benar, tadi ia memang tertidur saat menunggu kepulangan Hean. bahkan karena posisi tidurnya yang sangat tak nyaman, pinggangnya sedikit sakit.
"Lo baru pulang Yan?" tanya Agnes keheranan. padahal ini sudah lewat tengah malam, tapi Hean baru tiba.
"Hm," jawab Hean singkat.
Hean masih berdiri mengamati Agnes yang perlahan bangkit dari sofa.
"Nes...". memanggil wanita itu ketika sudah hampir melangkah pergi.
__ADS_1
"Ya?". Agnes tentu saja berharap lebih. mungkin saja ada hal yang perlu Hean katakan untuk sedikit menghiburnya.
"Jangan pernah menunggu gue..." ucap Hean telak. berharap Agnes melakukannya hanya malam ini saja. setelahnya tak akan ada seseorang yang harus menunggu kepulangannya hingga tertidur di sofa.
"Tapi-,".
"Jangan menyakiti diri lo hanya untuk merebut hati gue lagi... karena-,". Hean belum sempat meneruskan ucapannya.
"Ya gue tau... karena lo tak lagi memiliki perasaan terhadap gue kan?" tanya Agnes dengan mata berkaca-kaca.
Ia tau kalau Hean sudah berubah. tidak seperti Hean yang dulu.
"Agnes..." panggil Hean. "Pernikahan ini bukan seperti pernikahan pada umumnya... gue sudah memutuskan akan melakukan tes DNA setelah bayi itu lahir... dan jika benar dia bukan lah darah daging gue, kita akan bercerai hari itu juga..." tantang Hean.
keputusannya sudah bulat. jika Hean tak bersikap begini, mungkin saja hatinya akan kembali goyah.
dan mungkin dialah yang akan menyesal nantinya.
"Jangan sakiti diri lo sendiri hanya untuk menunggu gue berubah.. karena semua itu adalah mustahil..." lanjut pria itu.
"Gue akan tetap menunggu lo pulang... gue akan tetap berusaha dekat dengan lo... terserah lo mau menolak atau mungkin menyeret gue sekalipun... gue tidak peduli..." ucap Agnes dengan gigihnya. selagi ia bisa, ia akan terus berusaha merebut hati Hean lagi.
"Terserah kalau itu mau lo! setidaknya gue sudah memperingati..." ucap Hean dan langsung pergi. meninggalkan Agnes sendirian di ruang keluarga.
Setelah kepergian Hean, terduduk. menangis seorang diri. entah kenapa ia terlihat sangat lemah. kenapa nasib gue begini...?
Dikamar, Hean membanting pintu dan duduk di tepi ranjang.
"Aaggghh...". melemparkan jas ke sembarang arah karena kemarahan yang meluap-luap.
Sebenarnya Hean sudah tidak kuat. ia ingin menyerah. tapi untuk menyerah saat ini terasa percuma. ia harus memaksa dirinya untuk sedikit bersabar. menunggu sampai beberapa bulan lagi hingga Agnes melahirkan bayinya.
Sabar Hean... sabar... batinnya pada diri sendiri.
Usia kandungan Agnes sudah 7 bulan. tinggal 2-3 bulan lagi untuk Hean melancarkan rencananya untuk melakukan tes DNA. setelah itu, Hean akan memutuskan masa depannya. menceraikan Agnes dan mencari keberadaan Hema yang entah dimana.
Hema... gue rindu lo... memikirkannya saja mampu membuat mata Hean memanas. tak terasa air mata itu jatuh begitu saja di lantai kamar. menandakan betapa dalam beban yang harus Hean pikul saat ini.
Sedangkan Agnes. setelah cukup menangis, wanita itu pergi menuju ke kamarnya. kembali terdiam dan mengingat-ingat perkataan Hean tadi. hingga kedua matanya kembali menggenang dan menumpahkan air mata kesedihan.
__ADS_1
Mama... Agnes rindu...
***