
HAPPY READING...
***
Hema tergesa-gesa keluar dari ruangan CEO setelah mengantarkan berkas yang selalu ia lakukan setiap harinya.
dan dari semua itu, Hema tak pernah tau isi dari berkas itu dan juga tidak berkeinginan untuk melihatnya juga.
Agghh... selamat... menyentuh dadanya dan segera duduk di kursi kerja.
Sepanjang hari Hema benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya hingga tak terasa jam istirahat telah tiba.
"Hema, mau makan di kantin?". Rekan kerja mengajak Hema.
Hema hendak mengiyakan ajakan itu, tapi tak jauh dari mereka Sandy juga datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Hema menduganya bekla makan siang.
"Tidak mbak... lain kali saja,". pada akhirnya Hema menolak ajakan dari rekan kerjanya itu. semuanya juga tau alasan Hema menolak karena ada Sandy yang hampir sstipa hari membawa bekal makan siang untuk Hema.
"Baiklah...". Semuanya tersenyum dan pergi dari sana.
Tinggal Hema dan Sandy di ruang staf tersebut. "Hampir saja terlambat..." keluh Sandy. telat sedikit saja, mungkin Hema sudah makan di kantin perusahaan. padahal Sandy telah membawakan bekal untuk makan siang mereka kali ini.
"Jadi, bawa apa kali ini?" tanya Hema penasaran.
sering memakan bekal pemberian Sandy, entah kenapa Hema justru semakin tertarik dengan makanan yang dibawa. karena menu makanannya selalu saja berbeda dan membuatnya penasaran.
Sandy membuka wadah satu persatu, memperlihatkan menu masakan Ibunya yang tentu saja enak.
Waw...
Hema terlihat antusias melihat makanan di depannya. bahkan beberapa kali menelan ludahnya sendiri karena begitu lezat. aplagai harum masakan itu yang langsung menusuk hidung, membuat cacing di perutnya meronta-ronta ingin segera makan.
"Cobalah..." ucap Sandy. menyerahkan sendok untuk Hema sedangkan dirinya makan di wadah lain yang juga sama.
"Emmm... enak,".
baru satu suap saja sudah membuat Hema puas. cita rasa masakan rumahan yang tidak pernah gagal. Hema suka dengan makanan dari Ibunya Sandy.
"Suka? makanlah banyak-banyak...". Sandy juga merasa bahagia melihat Hema begitu semangat dan menyukai masakan ibunya. Ia juga bertekad untuk selalu membawakan makna siang untuk gadis yang disukainya itu.
karena makanan dari luar tidak se higienis dari masakan rumahan.
Keduanya amakan sambil sesekali berbincang-bincang. dan Sandy begitu menyadari bahwa Hema tak sekaku dulu. gadis itu mulai terbiasa dengannya bahkan tak jarang tersenyum indah yang mampu membuat Sandy semakin menaruh perasaanya jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Hingga di sela-sela makan siang, Hema menyadari sepasang mata sedang mengintainya tak jauh dari pintu CEO.
Ngapain dia?
walaupun begitu, Hema berpura-pura untuk terlihat acuh. tak memperdulikan tatapan Hema yang terlihat aneh dan menakutkan.
"San," panggil Hema sambil sedikit melirik ke arah Hean berdiri.
"Ya... kenapa?".
__ADS_1
"Em... itu, besok gue ada waktu senggang... bagaimana kalau kita nonton?" tanya Hema. terus melirik ke arah Hean mencari tau bagaimana reaksi pria itu.
Lihatlah... apa lo terpengaruh?
"Benarkah?". Sandy terlihat antusias. wajahnya penuh bingar mendengar ucapan Hema. entah mimpi apa dia semalam hingga Hema punya niat mengajaknya nonton film bersama. bodoh jika Sandy menolak kesempatan itu. karena nonton film bersama juga impian yang ingin ia lakukan bersama Hema.
"Baiklah, besok kita nonton setelah pulang bekerja..." ucap Sandy penuh semangat.
"Oke..." jawab Hema dengan senyum indah yang kembali mengukir bibirnya.
Hingga senyum itu kembali sirna bersamaan dengan hilangnya Hean dari pandangan Hema. Apa dia marah?
Persetan apakah Hean marah atau tidak, Hema tak peduli karena ia punya hak mutlak untuk hidupnya sendiri. toh siapa pria itu sampai ikut campur dengan hidupnya? Hean bukan apa-apa baginya.
Sore hari.
Langit Ibukota terlihat sangat gelap oleh awan hitam pembawa hujan.
sebagian karyawan telah bersiap pulang, terburu-buru takut hujan segera turun membasahi bumi.
Para staf sekertaris juga telah membereskan sisa pekerjaan mereka, hanya tinggal Hema yang belum selesai.
"Hema, gue duluan ya..." pamit rekan kerja tepat di sebelahnya.
"Iya mbak...".
"Sorry tidak bisa membantu..." sesalnya. rekan kerja yang satu itu memang dekat dekat Hema. kadang juga saling membantu, tapi kali ini tidak. karena hujan menjadi alasan baginya untuk segera pulang. takut jalanan akan macet dan banyak genangan air yang membuat motornya mogok.
"Ah, tidak apa-apa..." jawab Hema sungkan. karena kalau dibantu, justru ia yang merasakan tidak enak nantinya.
"Baiklah, gue duluan ya... bye".
Kini tinggalkan Hema yang masih duduk di ruangan itu. mengamati komputer di depannya dan tak berhenti mengetik.
tapi tiba-tiba Hema memikirkan sesuatu. Sasa... lebih baik gue hubungi dia...
Karena menyelesaikan pekerjaannya, Hema tak ingin melibatkan Sasa juga. sahabatnya itu pasti juga lelah karena seharian bekerja. "Halo Sa..." ucap Hema ketika Sasa telah mengangkat telepon dari nya.
"Ya? lo sudah turun?".
"Lo pulang sendiri gapapa kan? gue mampir ke toko elektronik dulu...". bohongnya. Karena jika Hema bilang yang sesungguhnya, Sasa pasti akan menunggu Hema sampai selesai dengan pekerjaanya. Hema hanya tak ingin merepotkan Sasa.
"Jadi lo sudah turun?", terdengar terkejut karena Sasa tak melihat Hema turun tadi.
"Apa gue kesana juga?".
Benar kan dugaan Hema, Sasa akan sebaik itu kepadanya. bahkan sampai ingin menjemput Hema di toko elektronik. padahal Hema tidak disana.
"Agh, tidak usah... gue akan naik taxi nanti..." tolak Hema.
"Baiklah kalau begitu, Hati-hati nanti..." ucap Sasa dan panggilan itupun berakhir.
Kini Hema merasa sedikit tenang. dan ia akan menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang juga.
__ADS_1
Di lain sisi, Hean masih beekutat dengan berkas di atas meja kerja. hingga tak menyadari bahwa Asisten pribadinya juga masih duduk di sana.
Lah, dia masih disini?
"Pulanglah dulu, aku akan selesaikan ini sendiri..." ucap Hean.
Pekerjaan tinggal sedikit lagi dan ia bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan sangat Asisten.
"Tapi Pak,".
"Tak apa... pulanglah... terimakasih telah bekerja keras hari ini..." perintah Hean telak. membuat sang Asisten segera bangkit dari duduknya dan pamit undur diri.
Tapi baru keluar dari ruangan CEO, Asisten pria itu terkejut melihat salah satu komputer di ruang Staf Sekertaris yang ia lewati masih menyala dan ada orang disana.
"Hema,".
Hafal karena nama itu seringkali berurusan dengan ruangan CEO akhir-akhir ini.
"Pak,". Hema bangkit dan membungkukkan tubuhnya sejenak memberi hormat.
"Lembur?".
"Hehe... iya, ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini..." jawab Hema.
mungkin tinggal 10-15 menit lagi. setelah itu Hema juga akan pulang.
"Oh... baiklah... semangat...".
Hema tersenyum mengiringi kepulangan Asisten itu.
Tapi beda dengan pria yang berjalan meninggalkan lantai dimana Hema dan sang CEO itu berada. ia tersenyum penuh arti sambil mengamati ponselnya.
Di dalam Lift yang bergerak turun, Asisten itu terlihat tengah mengetik sebuah pesan untuk seseorang. dan terkirim, sudah... Pak Hean pasti akan suka dengan berita ini... batinnya bicara seiring dengan Lift yang kian membawa dirinya turun menuju ke lantai dasargedung Asian Star.
Tingg...
Sebuah pesan masuk dalam ponsel Hean.
membuat pria itu melirik untuk melihat siapa pengirim pesan yang sedikit mengganggunya itu.
Hah? kenapa?
karena Hean kira Agnes yang mengirim pesan, tapi ternyata Asisten yang baru saja keluar dari ruangannya.
[Pak, Hema masih bekerja di ruangannya...]
Pesan singkat yang mampu membuat mood Hean seketika berubah. senyum ameh seketika mengukir bibir Hean, seperti memiliki sebuah rencana dalam kepalanya.
Baiklah... ayo sedikit bermain-main... batin Hean.
Bersamaan dengan itu, petir ikut menggelegar menciptakan sebuah kilatan cahaya di langit Ibukota. membuat Hema sejenak menutup kedua telinganya karena spontan terkejut dengan suara yang cukup mampu membuat detak jantungnya berpacu hebat.
Cuaca cukup mendukung Hean untuk melancarkan aksinya.
__ADS_1
***
Halo semoga suka dengan 2 Part pagi ini... heheh...