
HAPPY READING...
***
Dulu saat Hema diminta seniornya untuk membawa berkas menuju ruangan CEO, Hema begitu kesal. pekerjaan yang paling tidak mengenakkan baginya. tapi hari ini, dunia seperti jungkir balik.
"Pak, apa ada berkas yang perlu saya bawa ke ruangan CEO?".
Entah makanan apa yang Hema makan tadi pagi. anehnya, justru gadis itu yang menawarkan diri dengan suka rela. bahkan sampai membuat seniornya itu melongo tak percaya.
"Ha?".
"Ada berkas yang perlu saya antar ke Pak Hean?" ulang Hema. mengira seniornya tadi tak mendengar apa yang Hema katakan.
"Tunggu, kamu salah makan Ma?".
Bagaimana bisa gadis itu berubah pikiran dalam waktu satu malam saja.
Seperti dongeng di negeri ini.
"Salah makan? tidak..." jawab Hema. ia bahkan hanya sarapan dengan sepotong roti karena bangun kesiangan.
"Kenapa kamu berubah?". Seniornya itu masih bingung. "Biasanya selalu alasan agar tidak mengantarkan berkas, tapi sekarang?".
"Hehehe... mumpung saya tidak banyak kerjaan Pak..." elak Hema. padahal ia hanya ingin melihat Hean saja. apakah pria itu masih terlihat sedih atau tidak.
Apalagi Hema tak bertemu Hean tadi pagi. jadi ia sangat penasaran dan memastikannya dengan alasan membawa berkas ke ruangan CEO.
"Jadi, apa ada berkas yang perlu saya antarkan?" desak Hema lagi.
Ayolah Pak... please...
"Yakin?".
Hema mengangguk penuh semangat. hingga pada akhirnya Senior itu benar-benar menyerahkan berkas ke tangan Hema. senyum secerah mentari langsung tampak di wajah Hema. menerima berkas di pelukannya dan berjalan semangat menuju ke ruangan CEO.
Apa Hema salah minum obat?
Batin senior masih menatap punggung Hema dengan keheranan. tapi di sisi lain beliau sangat senang karena tak perlu membujuk gadis itu terus menerus.
Tok Tok Tok...
Hema mengetuk pintu ruangan CEO, menunggu di depan pintu sampai di persilahkan masuk ke dalam.
"Masuk...". Suara yang Hema harapkan ternyata berasal dari Asisten Hean. pria berkaca mata yang tengah duduk mengerjakan sesuatu di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
Eh,
Terlihat Hean tak menyadari kedatangannya. pria itu terlihat fokus menatap komputer dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Sial! kenapa dia tampan sekali... batin Hema kegirangan.
Kali pertama Hema melihat Hean dalam mode seriusnya. sangat berbeda dengan Hean yang selalu Hema lihat dimana hanya menunjukkan sisi konyolnya saja.
sekarang, ia tau bagaimana sosok CEO itu dalam masalah pekerjaan.
Keren... pujinya berulang kali.
Hingga Hema terjingkat saat Asisten itu kembali bersuara.
"Hema? ada apa?".
oh iya... gue sampai lupa...
"Oh ini Pak... berkas untuk hari ini..." ucapnya dengan nada bergetar.
"Taruh saja disini..." ucap Asisten itu. sambil berjalan Hema terus melirik ke arah Hean.
heran karena tak melirik sedikitpun ke arahnya.
Apa dia marah?
Hema menjadi semakin bersalah.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap sang Asisten. tersirat sebuah pesan bahwa Hema segera pergi setelah pekerjaannya selesai.
Agghh...
Sambil menghela nafas, Hema berjalan meninggalkan ruangan itu. kecewa karena tak bisa berbicara sedikitpun dengan Hean.
sedangkan di dalam ruangan,
Hean meletakkan kacamatanya dengan sedikit kesar.
"Agghh, sial!".
Nyatanya pria itu mati-matian bersikap acuh pada Hema.
sungguh sesuatu yang sangat sulit bagi Hean untuk mengabaikan gadis itu.
"Ck, lihatlah... sepertinya dia kecewa..." keluhan Hean pada sangat Asisten.
Sebenarnya Hean tak mau melakukan itu, hanya saja ia harus melakukannya sedikit lebih lama karena ada yang harus Hean selesaikan nanti.
bertemu keluarga Agnes dan membicarakan masalahnya.
"Anda tidak seharusnya seperti itu Pak..." sela Asistennya.
bagaimanapun wajah kecewa Hema barusan benar-benar membuatnya kasihan.
"Apa perlu membawanya kesini lagi?" saran Hean. "Eh tidak... nanti saja bicaranya..." rapatnya lagi.
setidaknya saat jam makan siang akan ada waktu yang lebih lama untuknya berbicara dengan Hema.
Bersamaan dengan anggukkan kepala Asisten itu Hean kembali fokus pada pekerjaannya.
Tibalah jam istirahat.
Saat semua karyawan keluar untuk mencari makan, Hean masih duduk sejenak di kursi kerjanya. menelepon seseorang dan janjian untuk bertemu.
"Dimana? ke ruangan ku sekarang..." ucapnya terdengar seperti sebuah perintah.
Ternyata yang di telepon Hean adalah Hema. membuat gadis itu yang tadinya tengah berbicara dengan Sandy kalang kabut. berlari menuju ke tempat yang Hean minta.
Masih dengan nafas terengah-engah, Hema masuk ke dalam ruangan Hean.
"Ah... ah...". berjalan mendekat sambil mengatur nafasnya.
"Darimana saja lo?" cerca Hean. menyipitkan mata penasaran apa yang dilakukan Hema hingga nafasnya berantakan seperti itu.
"Dari kantin..." jawab Hema.
untung saja ia sudah memakan makan siangnya, jadi ada tenaga untuk berlari seperti tadi.
"Jadi lo sudah makan?" tanya Hean lagi. karena saat ini pria itu juga akan menikmati makan siangnya. meminta Hema datang untuk menemaninya.
"Belum selesai, tapi lo sudah menelepon tadi..." rajuk Hema. padahal makan siang kali ini terasa enak. entah menunya yang cocok atau karena lapar.
padahal Hema berniat untuk menikmati makan siangnya tadi tapi diganggu oleh Hean.
"Sini..." panggil Hean. meminta Hema mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Apa ini yang lo makan tadi?". tunjuk Hean pada menu makan siangnya kali ini. nasi beserta lauk sapi lada hitam serat kondimen lainnya.
Gleekk... hingga tak sengaja Hema menelan ludah melihat penampakan yang menggugah selera makannya lagi.
dan tentu saja Hean menyadarinya hingga terukir senyum kecil di sudut bibir pria itu.
Tanpa basa-basi, Hean menyodorkan sesendok nasi beserta lauk ke mendekati bibir Hema.
"Aaa... buka mulutmu..." perintahnya.
Ha?
Walaupun sebenarnya Hema mau, tapi ia harus terlihat jual mahal bukan?
"Jangan banyak berpikir... buka mulutmu..." perintah Hean lagi.
__ADS_1
Agh, kesempatan tidak datang dua kali kan? pada akhirnya Hema membuka mulut, menerima suapan dari Hean.
Hap...
Kunyah kunyah... nyam...
Hema menikmati makan siangnya kali ini.
"Enak?".
"Hm,".
Hean tersenyumlah senang melihat Hema lahap dengan makan siangnya.
melihat gadis itu benar-benar membuat moodnya selalu baik.
apalagi sekarang, duduk berdua seperti ini semakin membuat Hean bahagia.
"Maaf untuk tadi..." ucap Hean.
Sejenak Hema kebingungan, Maaf? tadi? apa?
Otaknya tiba-tiba berhenti berpikir keran terlalu asyik makan.
"Ohh tadi...". ia ingat bagaimana Hean terlihat acuh saat Hema mengantarkan berkas tadi pagi.
"Kenapa mengabaikan ku? apa ada masalah?" tanya Hema.
berharap Hean bicara dan membagi masalahnya dengan gadis itu.
"Hema..." panggil Hean.
"Ya?".
Bagaimana kalau gue cerita saja dengan Hema? apa dia akan mempercayainya?
Sedikit ragu memang. karena ia seringkali membohongi Hema, dan tidak dapat dipungkiri kalau Hema akan sulit mempercayainya lagi.
"Katakan..." desak Hema. tak sabar karena Hean hanya diam tak segera mengatakan apa yang membuatnya bingung.
"Hema," ucap Hean. menatap lekat manik mata gadis itu dan berucap "kalau gue bilang bahwa gue telah putus dengan Agnes, apa lo akan percaya?".
Apa lo akan mempercayainya?
"Gue dan Agnes telah putus..." ulang Hean. berharap Hema mendengarkan apa yang ia utarakan tadi.
Benar... kata Sasa, Jio juga mengatakan kalau mereka telah putus.. Batin Hema membenarkan ucapan sahabatnya kemarin.
"Hema! Apa lo percaya?" tanya Hean sedikit meninggikan suaranya karena tak ada jawaban dari gadis di depannya itu.
"Oh... Iya..." jawab Hema gelagapan.
"Jadi lo mempercayainya?" pancing Hean lagi.
Hema mengedipkan mata berulang kali. bingung harus menjawab apa.
"Em... itu, em... tapi Yan," menatap Hean lebih dalam.
"Apa Agnes menyetujuinya? karena... hubungan dikatakan berakhir jika keduanya sudah sepakat..." lanjutnya.
Berkaca dari kejadian sebelumnya.
Saat diaman Hean mengatakan telah putus dengan kekasihnya, padahal hanya Hean saja yang mengatakannya sedangkan Agnes tidak pernah memutuskan hubungan mereka.
Dan hal ini juga demikian.
Apakah keduanya sudah sepakat untuk putus atau hanya Hean saja?
"Apa Agnes menyetujuinya?" tanya Hema penasaran.
"Belum..." jawab Hean lemah. entah apa yang dipikirkan Agnes. tapi bagi Hean tak ada kesempatan kedua untuk sebuah perselingkuhan. berselingkuh berarti sudah siap menerima konsekuensinya.
"Tapi dia selingkuh Ma..." adu Hean.
__ADS_1
"Agnes menjalin hubungan dengan pria lain di belakang gue...".
***