
HAPPY READING...
***
Waktu bergulir begitu cepat. tak menyangka kalau sudah 5 bulan lamanya Hean tinggal di sebuah rumah yang ada di perumahan elit Ibukota.
bangun di pagi hari, selalu matahari yang menjadi pemandangan pertama. apalagi kamarnya memang berada di lantai 2, jadi sinar matahari pagi selalu lebih dulu masuk dalam ruangan itu.
Di lantai satu, hanya terdapat dapur beserta meja makan, ruang keluarga, ruang tamu dan sebuah kamar yang lumayan besar hampir sama dengan kamar utama. di kamar inilah Agnes tidur berteman dengan hawa dingin dan sunyi.
5 bulan, waktu yang lumayan panjang tapi tak membuat dirinya bisa kembali mencuri hati Hean. selama 5 bulan itu pula Agnes kerap kali menangis seorang diri. merenungi nasib buruknya. dia menikah tapi seperti sendiri. hidup berdua dengan Hean tapi merasa kesepian.
bahkan lebih dari itu, tubuhnya begitu kecil dengan perut yang semakin membuncit.
Agnes tak bahagia dengan pernikahan ini. pernikahan yang ia harapkan justru terlihat seperti sebuah neraka yang siap menghanguskan dirinya.
Entah sudah berapa kali Agnes menangis, hanya karena Hean.
"Jangan terlalu berharap pada pernikahan ini Nes... karena setelah bayi itu lahir, gue akan benar-benar menceraikan lo!".
Sering juga kata itu keluar dari mulut Hean. semakin membuat Agnes seperti mati perlahan-lahan.
mungkin inilah yang dinamakan sebuah penderitaan.
Agnes hidup dalam tekanan. Sudah banyak cara ia lakukan untuk mengambil hati Hean, nyatanya semuanya hanya sia-sia saja.
Hean telah berubah. bahkan tatapan pria itu sangat berbeda dari yang Agnes kenal dulu. tatapan dingin dan tak peduli sama sekali.
Seperti pagi ini. Setelah mandi dan mengganti pakaian, Agnes lebih dulu bercermin. mengamati tubuhnya dengan perut yang semakin terlihat bulat ke depan.
"Selalu sehat sayang...". dielusnya perut itu hingga sebuah denyut tercipta. Agnes tersenyum karena ia bahagia melihat respon anaknya walaupun masih dalam kandungan.
Seperti ia tengah berbicara dan mengobrol asik dengan kehidupan di dalam sana.
Setelah puas, Agnes segera keluar dari kamar. melangkah sedikit cepat menuju ke lantai 2 rumah itu.
Menemui Hean adalah kebiasaan yang Agnes sukai selama kehamilan ini. mencium bau parfum yang Hean kenakan seperti sebuah candu baginya.
Tapi terkadang, sebuah penolakan kerap kali Agnes terima darinya. betapa Hean kerap mengusir Agnes dan memintanya untuk menunggu di luar saja.
Ya... selama 5 bulan menikah, Hean dan Agnes tak pernah sekalipun tidur dalam satu kamar. selama itu pula, Hean tak pernah sekalipun sudi untuk menyentuh Agnes.
Menyedihkan memang, tapi Agnes tidak berputus asa. Ia selalu mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari pria itu.
"Sini gue bantu," ucap Agnes penuh semangat saat melihat Hean tengah melingkarkan dasi di kerah kemejanya.
__ADS_1
"Tidak usah," tolak pria itu. tapi Agnes rak menyerah, terus saja melangkah mendekati Hean walaupun telah dilarang.
"Diam," perintahnya dan mengambil alih pekerjaan Hean.
Karena tinggi mereka yang jauh berbeda, Hean sedikit menekuk lututnya demi terlihat rendah dan tak menyusahkan Agnes. sedangkan Agnes masih saja berjinjit sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah..." ucap Agnes sambil menepuk pelan dasi yang telah terikat rapi di leher Hean.
Tapi tiba-tiba, "Aww...". Agnes meringis dan berpegangan pada kedua lengan Hean agar tubuhnya tetap seimbang.
"Kenapa?".
Reflek Hean terkejut. balik menyentuh tangan Agnes dan menatap lekat wanita itu. mencari tau apa yang telah terjadi pada Agnes.
"Kakiku sedikit kram..." keluhnya.
Setelah merasa seimbang, Agnes bersusah payah untuk duduk di ranjang. Tentu saja Hean yang melihatnya tak tega dan akhirnya membantu Agnes untuk duduk.
Kram adalah hal lumrah pada ibu hamil, apalagi hamil tua seperti Agnes saat ini. apapun akan terasa tidak enak. bahkan tidur pun benar-benar tidak nyenyak sama sekali.
"Gue panggilkan Sari," ucap Hean.
Sari adalah asisten rumah tangga yang Hean pekerjakan sejak tinggal di rumah ini.
"Tidak usah," cegah Agnes sambil memegang tangan Hean. karena kram di kakinya juga perlahan hilang, jadi tak perlu memanggil Sari.
"Nes...". Mata Hean membulat. entah kenapa telapak tangannya bisa ikut merasakan sebuah gerakan dalam perut itu.
Sedangkan Agnes, tersenyum geli karena tak menyangka ekspresi Hean akan sekaget itu.
"Dia bergerak..." ucap Agnes menjelaskan.
Agnes paham, apa yang terjadi pada Hean juga ia alami ketika pertama kali bayi dalam perutnya bergerak. Agnes juga terkejut waktu itu. tak menyangka keajaiban Tuhan akan sehebat itu.
Tangan Agnes masih menahan tangan Hean agar tetap berada di perutnya, hingga di detik selanjutnya Hean kembali terkejut dan segera menyingkirkan tangannya. wajah yang tadinya terlihat kagum itu berubah dingin lagi.
"Ayo keluar..." perintahnya.
Berjalan meninggalkan Agnes dan mengambil tas kerja lalu berjalan perlahan meninggalkan kamar. berharap Agnes juga mengikuti langkahnya.
Tak apa sayang... hanya butuh waktu untuk membuatnya luluh... batin Agnes penuh harap. bangkit dan ikut melangkah pergi.
Dari anak tangga, aroma masakan langsung menguar. menusuk ke indra penciuman Hean.
"Ayo makan..." ucap Agnes.
__ADS_1
"Tidak usah, gue tidak lapar..." tolak Hean. tapi, Kruuukkk....
suara dalam perutnya seperti berkata lain. membuat Agnes tersenyum karena tau apa yang tengah Hean rasakan saat ini. pria itu sedang menahan lapar karena semalam, Hean tidak makan malam.
"Sepertinya gue masuk angin..." elak Hean
mencoba untuk menyembunyikan fakta.
"Oh... begitu ya..." jawab Agnes, walaupun wanita itu pasti tengah tertawa dalam hati saat ini. "Untuk itulah makan dulu... biar tidak sakit..." lanjutnya.
Hean tak lagi bisa menolak. perutnya benar-benar lapar karena semalam Ia pulang hingga larut malam dan langsung tidur karena kelelahan.
Keduanya langsung menuju ke meja mana dan duduk disana.
Sari, pembantu mereka telah memasak beberapa menu untuk sarapan. dan tentu saja membuat selera makan Hean bertambah karena ada menu kesukaannya.
"Makanlah..." ucap Agnes setelah mengisi peringkat Hean dengan nasi dan lauk kesukaannya.
Tanpa banyak bicara, Hean mulai menyantap sarapannya. enak, entah karena makanannya atau karena lapar semalaman melewatkan makan malamnya.
"Yan,".
"Hm,".
"Minggu depan ada kelas hamil," ucap Agens dengan ragu-ragu.
"Em... itu... lo mau tidak... em... menemani gue?". lanjutnya. sebenarnya Agnes takut untuk mengatakan hal itu, tapi sesuai permintaan kelas kali ini harus membawa pasangannya. jadi mau tak mau, Agnes memberanikan diri untuk bicara.
"Minggu depan...-,".
"Kalau tidak bisa tidak apa-apa kok..." sela Agnes lagi dengan nada kecewa. ia tau kalau permintaannya ini akan ditolak Hean. Agnes cukup tau diri dan tak terlalu berharap lebih.
karena Hean tidak berkata-kata kasar saja sudah membuat Agnes senang.
Sedangkan Hean tak menjawab perkataan Agnes. pria itu kembali menikmati sarapannya dan seolah tak pernah mendengar apapun.
"Gue ke kamar mandi dulu..." pamit Agnes. bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar itu, Agnes menangis. terisak karena sedikit kecewa. Hiks...
Agnes berusaha kuat, tapi nyatanya ia begitu rapuh. apalagi berpura-pura terlihat kuat itu begitu susah.
"Hiks... Mama...".
Biasanya Agnes akan bercerita kepada Mamanya ketika dalam masalah. tapi kali ini Agnes tak berani. setelah menikah, ia tak berani berkeluh kesah pada orang tuanya. takut jika ia mengadu justru membuta kesehatan Orang tuanya akan buruk.
__ADS_1
hingga yang Agnes lakukan hanyalah memendamnya sendiri.
***