Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
116. Berdamai.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Jika ditanya hal apa yang paling mendewasakan kita, Jawabannya adalah Air Mata...


 ----


Keesokan paginya. Hema masih berdiri mengamati Putri kecilnya Hean yang terbaring di ranjang pasien. bayi kecil itu sudah sadar tapi masih terlalu lemah. sesekali mencari keberadaan sang Papa seperti ingin mengadu rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Bukan hanya Hean saja, Ibu dan Ayah juga tak berkeinginan untuk pergi dari sana. mereka selalu senantiasa menunggu cucu kesayangannya.


Bersyukur sekali Bella mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari keluarga Hean.


"Gue mau pamit pulang..." ucap Hema. bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan pekerjaannya begitu saja. Hema punya tanggung jawab yang sangat besar.


walaupun sebenarnya ia juga ingin lebih lama berada di Ibukota. melihat Bella dan juga semua orang yang ia sayangi.


"Gue antar..." jawab Hean.


"Tidak usah... kemarin gue bawa mobil sendiri..." tolak Hema. menjelaskan bagaimana ia bisa sampai disini kemarin.


mengendarai mobil sendirian ke Ibukota.


"Maaf Ma... gue sudah merepotkan lo...". Tak tau lagi apa yang harus ia lakukan untuk membalas jasa Hema. karena wanita itu telah menyelamatkan nyawa putrinya.


"Apaan sih...".


Hema tak mau Hean bersikap demikian. yang Hema lakukan tidak sebanding dengan segalanya.


karena tanpa memberikan darahnya untuk Bella, Hema juga sering mengikuti acara donor darah yang kadang diadakan di perusahaan tempatnya bekerja.


Setidaknya ada bagian dari tubuhnya yang berguna untuk orang lain.


Tangan Hema terulur untuk menyentuh pipi Bella. mengelusnya lembut dan berharap bayi itu segera pulih dan bisa bermain seperti sediakala.


"Cepat sembuh Bella...".


"Tante, Om... Hema pamit pulang dulu..." pamit Hema pada orang tua Hean yang tengah duduk di sofa yang berada di sudut kamar itu.


"Oh.. iya...".


"Hati-hati nak Hema...".


Ayah dan Ibunya Hema masih bersikap hangat seperti dulu. hingga Hema mencium kedua tangan mereka untuk meminta izin kembali pulang dengan selamat.


"Sudah... lo disini saja menemani Bella..." tolak Hema ketika Hean hendak mengikutinya keluar dari sana.


"Biar Bella bersama Ayah... Hean, antar Nak Hema sampai di depan..." pintar Ayah pada putranya. lagian Bella terlihat kembali tidur, hingga tak akan menyadari jika Hean pergi mengantarkan Hema sejenak.


"Baik Yah..." jawab Hean patuh.


dan pada akhirnya ia benar-benar keluar dari ruangan Bella untuk mengantarkan Hema sampai di parkiran.


"Apa lo akan langsung pulang ke sana?" tanya Hean. maksudnya adalah kota dimana Hema tinggal. kota yang berada di ujung selatan pulau Jawa. dimana banyak sekali destinasi pantai sebagai wisata unggulan.

__ADS_1


Apalagi perusahaan dimana Hema bekerja juga berpusat disana.


"Tidak... gue mau menyelesaikan pekerjaan ku kemarin, baru setelahnya kembali..." jawab Hema.


Ada pekerjaan yang sebelumnya sempat tertunda gara-gara kedatangannya ke Ibukota. Dan seharusnya kemarin Hema menyelesaikannya.


"Oh...".


Tak tau lagi harus mengatakan apa. Hean terlihat canggung.


"Lo ingin mencegah ku untuk pergi? heheh..." goda Hema hingga membuat Hean terlihat pias.


"Hahaha... gue hanya bercanda Hean..." jelas Hema.


Tidak ada salahnya bukan sesekali gantian ia yang menggoda Hean. karena sejak dulu, hanya dia yang menjadi korban dari mulut manisnya Hean. anggap saja kali ini sebagai pembalasan Hema untuk pria itu.


"Tidak, nanti ada yang marah lagi..." jawab Hean.


Sebenarnya tersirat sebuah pesan dalam ucapannya. karena di balik kalimat itu, ada sebuah pertanyaan apakah Hema masih sendiri atau tidak.


hanya saja Hean malu untuk menanyakannya langsung.


"Ya... memang ada yang marah nanti," jawab Hema.


"Diri gue sendiri...".


Selera humor yang payah. tapi tak mengapa setidaknya jawaban Hema mampu membuat Hean paham kalau wanita di depannya itu tidak sedang terikat dengan seseorang.


Sampai lah mereka di parkiran rumah sakit.


Hema merogoh kunci dari dalam tas dan mengeluarkannya.


"Hm, Hati-hati..." jawab Hean.


Semoga kita bisa bertemu lagi Hean... batin Hema. terdiam sambil menatap Hean cukup lama.


Hingga saat sadar kembali, wanita itu langsung berbalik dan masuk ke dalam mobil.


melingkarkan seatbelt di tubuhnya dan menghidupkan mesin mobil.


"Hema..." panggil Hean. membuat wanita itu kembali menengok ke arah samping. dimana Hean masih berdiri di sana.


"Ya?".


"Lo akan sering kesini bukan?".


Pertanyaan bodoh yang Hean lontarkan. kenapa juga ia menanyakan hal itu?


berharap Hema akan sering menemuinya begitu? padahal dia seorang wanita dimana Hema lah yang seharusnya di perjuangkan, bukan malah Hean.


"Maksud gue... em itu... lo tidak lagi membenci Ibukota bukan?" larat Hean.


Bodoh sekali sih! umpat Hean dalam hati.


"Kenapa? apa lo ingin gue memiliki kesempatan kedua untuk kembali menyukai Ibukota?" pancing Hema dengan senyum jail di sudut bibirnya.

__ADS_1


Maksudnya menyukai pria yang sama di Ibukota untuk kedua kalinya?


"Terdengar tidak terlalu buruk juga..." jawab Hean juga dengan senyum sama seperti Hema.


hingga keduanya tersenyum bersama.


"Ibukota memang aneh..." keluh Hema. kota ini mengajarkan banyak hal dalam hidup Hema.


Dari yang Hema ingin meraih cita-citanya, impiannya. Bersikap dewasa, kebahagiaan bahkan Air mata juga ia dapatkan dari kota ini.


Ibukota seperti guru baginya. dari kota ini Hema mengerti akan segala cara agar menjadi dewasa dan siap untuk menghadapi kenyataan.


"Sering lah datang ke kota ini Hema..." pinta Hean terdengar tulus.


"Gue... gue...". Hean ragu untuk meneruskan ucapannya.


Sial! gue gugup... batin Hean.


"Baiklah... gue akan sering datang kesini... jangan lupa traktir gue ketika gue disini..." ucap Hema penuh semangat. bahkan cara ia tersenyum terlihat lucu bagi Hean.


Apalagi? batin Hean ketika Hema dengan spontan mengangkat tangannya ke arah Hean.


Hingga yang dilakukan Hean adalah menerima uluran tangan Hema. berjabat tangan seperti tengah melakukan kesepakatan. bersamaan dengan itu keduanya tersenyum bahagia.


Lambaian tangan Hean melepas kepergian Hema hari itu.


Luka, kekecewaan yang pernah hadir serasa hilang begitu saja. keduanya seperti lupa dan kembali menjalani hidup ke depannya dengan penuh harapan.


-----


"Bukankah dia wanita yang waktu itu?" tanya Ayah tiba-tiba. bahkan saat Hean baru saja kembali.


Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Hean. tapi seutas senyum di sudut bibirnya mampu menjawab segalanya tentang siapa wanita yang telah menyelamatkan nyawa Bella.


"Jangan terlalu berharap Yah... putramu itu tak punya keinginan untuk menikah lagi..." cerca Ibu. bagaimanapun, itulah yang pernah Hean katakan pada Ibunya.


Menikah bukan lagi impian bagi Hean. jadi percuma saja mengenalkannya pada wanita-wanita di luar sana.


Ibu... begitu tatapan Hean kepada Ibunya.


"Kenapa? apa ucapan Ibu salah?". Ibu tak mau kalah, karena berdebat adalah salah satu keahlian yang beliau miliki. jangankan dengan Hean, dengan suaminya saja Ibu tak mau kalah.


"Kau sendiri yang mengatakannya... tak ingin menikah lah, tak ingin mengenal anak teman-teman ibu lah...".


"Tapi Bu... wanita itu beda..." bela Ayah pada putranya.


Beda apanya?


"Apa Ibu tak bisa melihat bagaimana tatapan Hean kepadanya tadi?".


Sesama pria, Ayah lebih paham dibandingkan Ibu. tatapan sangat dalam putranya kepada wanita yang baru saja meninggalkan ruangan itu tadi.


"Apalagi wanita itu telah menyelamatkan nyawa cucu kita..." lanjut Ayah.


"Agghh... Ibu berharap dia segera membuka hati untuk wanita-wanita di luaran sana..." pinta Ibu pada Hean.

__ADS_1


Sedangkan yang dibicarakan hanya tersenyum dan tak merespon sama sekali.


***


__ADS_2