
HAPPY READING...
***
Pagi telah tiba. menjemput hari awal yang mungkin lebih baik daripada hari sebelumnya. Hean yang baru saja selesai mandi, berpakaian sambil kembali menimang keputusan yang akan ia buat.
semalaman bahkan pria itu hanya terjaga untuk memikirkan suatu hal. dan untuk pertama kalinya, Hean peduli terhadap orang lain. karena kali ini, ia mengambil keputusan bukan untuk dirinya tapi untuk hidup seseorang yang tanpa Hean sadari, kehadirannya mampu sedikit mengobati rasa kesendirian Hean selama ini.
"Tidak sering, tapi dia pernah melakukannya... menampar pipiku ketika emosinya memang tengah naik...".
Sebuah ucapan mampu membuat hati Hean teriris. sebuah ucapan dari seroang gadis yang begitu menyedihkan.
Ya, pada akhirnya Hema benar-benar berkata jujur kemarin. pernah mendapatkan perlakuan kasar dari Rendy.
Hean sudah menduga hal itu. dari tingkah spontan Hema yang selalu memejamkan mata ketika tangan Hean mendekat. gadis itu pernah mendapatkan perlakuan kejam hingga membuatnya trauma.
Dada Hean sesak mendengar penuturan gadis itu. bayangannya jatuh pada sosok adik perempuan yang Hean sayangi.
ia tak bisa membayangkan kalau apa yang terjadi pada Hema juga terjadi pada adik perempuan Hean.
mendapat perlakuan kasar dari kekasihnya.
Walaupun masih terlalu awal untuk memikirkan itu, tapi tetap saja Hean tak bisa mengelaknya. karena adik perempuannya juga telah berusia remaja dan tentu penasaran dengan yang namanya urusan cinta.
karena Hean juga memiliki kekasih saat SMA dulu, dan itu berlaku pada adik perempuannya.
Hari ini Hean telah memutuskan, dengan sedikit mengambil uang tabungannya pria itu dibantu Jio dan Dimas menyewa sebuah unit Apartemen sama dengan yang Hean tinggali selama ini.
bedanya, yang Hean tinggali beberapa tahun belakangan adalah murni pemberian sang Ayah. sedangkan sekarang, Hean menggunakan tabungan pribadinya untuk menyewa tempat itu.
Suara Bell berbunyi. membuat Hean segera berjalan mendekat untuk membukanya. walaupun pria itu sudah tau siapa yang datang sepagi ini.
"Sudah siap?". pertanyaan pertama ketika pintu terbuka. menampakkan dua sosok pria yang sangat Hean percayai.
bahkan persahabatan 3 pria itu begitu tulus, bahkan Jio dan Dimas saja tak keberatan untuk melakukan hal-hal yang Hean minta.
Seperti saat ini, Jio dan Dimas bertugas untuk mengatur segala sesuatu yang ada di unit Apartemen baru agar langsung bisa di tempati.
"Sudah dong... semuanya beres..." jawab Dimas. walaupun sebenarnya bukan hanya dirinya dan Jio saja yang melakukan pekerjaan itu. mereka juga meminta 3 pekerja untuk menyelesaikan proyek 1 malam itu.
Ya, asal kalian tau. Hean meminta untuk merapikan tempat itu tadi malam dan mengharuskan Jio dan Dimas kerja lembur semalam hingga pagi ini.
"Gue mengantuk... hoooammm...". Jio langsung masuk ke dalam. matanya benar-benar berat dan pria itu ingin segera tidur.
__ADS_1
Hean saja yang melihatnya ikut tersenyum tau bagaimana kerja keras sahabatnya itu.
"Tidurlah... makasih atas bantuannya..." ucap Hean. sedangkan Jio hanya menjawab singkat ucapan Hean barusan.
"Lo juga tidur..." ucap Hean lagi pada Dimas.
Hean akan segera menemui Hema. Benar... semua yang ia lakukan saat ini hanyalah untuk Hema. membuat gadis itu nyaman dengan keputusan Hean. membawanya tinggal di tempat yang lebih nyaman seperti Apartemen ini.
Tiba di Kost Hema. terlihat sekali suasana kost yang lumayan ramai karena hari ini adalah hari minggu. hari dimana banyak orang gunakan untuk istirahat dan berada di rumah.
pertama kali turun dari mobil, Hean langsung menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. jangan heran, karena karisma pria itu memanglah kuat. yang mana mampu menarik bak medan magnet untuk terus menatapnya.
bahkan sampai Hean berjalan masuk dan mengetuk pintu Hema sekalipun. tapi pria itu sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang kepadanya, karena yang ia tujuan hanyalah Hema.
"Ngapain datang pagi-pagi begini?".
Hema yang terkejut hanya bisa membulatkan mata. bahkan dirinya saja baru bangun tidur dan belum membersihkan diri, sedangkan Hean. sudah rapi dengan penampilan yang selalu seperti itu. keren.
Masih dengan kebingungannya bahkan Hema tak menyadari bahwa pria itu telah masuk ke dalam kamarnya. meraih koper besar di atas lemari pakaian dan membukanya. tanpa meminta pertimbangan dari Hema, Hean langsung mengisinya dengan pakaian gadis itu.
"Hean, apa yang lo lakuin?" tanya Hema bertambah bingung. ia tak punya rencana apapun hari ini tapi tiba-tiba pria di depannya mengemasi pakaian seperti hendak keluar dari tempat ini. apalagi yang ditanya tak menjawab sekalipun, membuat Hema bertambah bingung.
"Hean!" teriaknya. karena Hema juga butuh penjelasan tentang apa yang dilakukan Hean di kamarnya ini. apa tujuan pria itu mengepak seluruh barang-barangnya tanpa permisi.
"Tapi?".
"Oh iya, suruh Sasa juga berkemas..." pinta Hean tanpa mengalihkan perhatiannya dadi pekerjaan di depannya itu.
Sasa? apa maksudnya?
Belum juga bereaksi, Tiba-tiba orang yang dibicarakan juga datang.
"Eh, ada dia ternyata..." ucap Sasa sambil membawa bungkusan yang berisi sarapan untuknya dan juga Hema. Sasa tau kalau Hema masih sakit jadi ia berinisiatif untuk membawakan sarapan untuk sahabatnya.
"Cepat kemasi pakaian dan barang-barang lo Sa..." perintah Hean kepada Sasa. berharap semakin cepat berkemas, semakin cepat selesai pula tanggung jawabnya.
"Kenapa?". yang diperintah tentu saja kebingungan.
Lo juga bingung kan? gue bahkan lebih bingung lagi... begitu sorot mata Hema bicara pada sahabatnya. bahkan Hema sama sekali tak bisa mencerna apa yang dilakukan Hean saat ini.
"Kalian akan liburan dan mengajakku begitu?" tanya Sasa. Ya mungkin saja memang seperti itu adanya. liburan adalah salah satu alasan yang membuat Hean mengemasi pakaian Hema dalam koper besar.
Tapi liburan apa yang sampai membawa seluruh pakaian? bahkan semua barang-barang dan buku Hema?
__ADS_1
Hati Sasa kembali ragu. tidak ada liburan yang seperti itu konsepnya. ini namanya angkat kaki dari tempat ini bukan?
Apa gue di usir dari kost? kenapa? gue tidak telat bayar...
"Kalian akan pindah tempat tinggal...".
Ha?
kedua wanita itu terkejut.
Pindah? maksudnya gue dan Hema akan angkat kaki dari kost ini, begitu? lalu tinggal dimana?
"Ya! jangan asal bicara... lo mau kita tinggal di kolong jembatan setelah angkat kaki dari sini? yang benar saja...". Sasa yang tak terima dengan ucapan Hean barusan. apalagi tempat ini sudah tempat paling nyaman baginya. selain harga bulanannya yang relatif murah, Sada juga tak perlu mengeluarkan uang lebih untuk fasilitas internet.
kurang beruntung apa coba?
tapi dengan seenaknya pria itu ingin Hema dan Sasa pergi. sama saja seperti bunuh diri bukan?
Apalagi kuliah tinggal beberapa bulan saja, setelah itu Sasa harus memikirkan mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya.
Hean berdecih kesal. menjelaskan kepada makhluk bernama perempuan benar-benar merepotkan.
Wahai makhluk bernama perempuan... Vida tidak sih kalian hanya patuh tanpa mendebat sama sekali?
"Kemasi saja barang-barang kalian, gue punya tempat yang lebih baik dari ini..." ucap Hean menjelaskan.
"Tempat apa?". gantian Hema yang khawatir. entah kenapa trauma masa lalunya kembali muncul ketika mendengar tempat baru. sama seperti beberapa hari yang lalu, saat dimana Hema ditinggal Rendy di sebuah Apartemen.
Hema takut hal itu kembali muncul dalam hidupnya. ia takut akan kehidupan mengerikan yang tak pernah ia tau sebelumnya.
"Lo dan Sasa akan tinggal di Apartemen yang aman..." jelas Hean. paham ketakutan yang tersirat dalam manik mata Hema tadi.
"Tapi-,".
"Tidak usah tapi-tapian... ayo bantu gue kemasi barang-barang lo dan juga lo Sa, kemasi barang lo juga..." ucap Hean telak. tak mau ada yang membantah lagi.
karena keputusannya sudah bulat, membawa Hema dan Sasa pergi dari sini.
Gue hanya tidak mau si Br*ngs*k Rendy datang dan mengganggu lo... Hema...
***
Sorry kemarin tidak ada Update... jangan lupa mampir di cerita baruku ya... judulnya Pelangi Kedua... tengkyu...
__ADS_1