Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
18. Rumah Baru.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah melalui banyak perdebatan fisik dan mental juga, pada akhirnya Hean benar-benar membawa dua makhluk terkuat di bumi menuju ke Apartemen sama dengan yang Hean tempati juga.


gedung tinggi di kawasan elite Ibukota akan menjadi tempat baru Hema. suasana dan lingkungan yang tentu saja jauh berbeda dari tempat tinggalnya dulu.


Hema tentu saja akan membiasakan diri untuk itu.


Ketika kakinya sekali lagi berpijak pada kawasan Apartemen, ingatannya kembali lagi. ingatan buruk tentang tempat ini dan semua penghianatan yang dilakukan mantan kekasihnya.


Sesak... itulah yang Hema rasakan.


Jerit tangisnya malam itu, kembali menggema memenuhi setiap inci telinganya dan berakhir pada adegan-adegan dimana mentalnya dibantai di salah satu Unit yang ada di sana.


"Kenapa Ma?". tanya Sasa. melihat wajah sahabatnya yang terlihat pucat, Sasa khawatir. apalagi kemarin gadis itu juga baru sakit dan tentu saja tubuhnya masih lemah hari ini.


bahkan peluh di kening Hema menandakan bahwa gadis itu tidak baik-baik saja.


"Tidak...". Hema hanya bisa mengelak. meyakinkan sahabatnya bahwa semuanya baik-baik saja.


pada kenyataannya memang Hema merahasiakan semuanya yang pernah terjadi pada dirinya. rahasia yang mana bisa membuatnya terikat dengan Hean sampai detik ini.


Langkah kaki keduanya mulai perlahan masuk mengikuti Hean dan seorang pria yang entah darimana datangnya tiba-tiba siap membawa dua koper besar milik Hema dan Sasa. masuk menyusuri Apartemen yang akan mereka tinggali.


"Waw...". beda dengan Hema yang hanya diam tanpa mengatakan apapun, Sasa lebih antusias. ia tak menyangka bisa menginjakkan kaki di tempat ini. tempat yang hanya bisa ia lihat ketika di jalanan Kota.


Sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya sebelumnya, disini terlihat damai. tak ada sorak, tawa penghuninya. hening, bak sebuah tempat terbengkalai tapi bedanya disini benar-benar dihuni para pekerja kantoran ataupun keluarga kecil.


Lift terus naik menuju ke lantai yang mereka tuju. hingga suara Lift membuyarkan lamunan Hema. untuk kesekian kalinya, jantung gadis itu serasa berpacu hebat.


ia ingat suasana lantai ini.


ada sebuah lukisan bunga krisan di samping Lift. mengingatkannya pada malam itu.


Keringat dingin kembali membasahi tubuhnya. deru nafas gadis itu semakin naik dan pandangannya semakin kabur. langkah kakinya semakin berat bersamaan dengan sebuah pintu yang akan mereka tuju.


"Ma, Lo kenapa?". Untuk keduanya kalinya Sasa bertanya. menanyakan keadaan Hema hang terlihat khawatir. hingga membuat Hean yang berjalan lebih dulu dari mereka terhenti dan menengok ke arah Hema. memastikan apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Gue takut...".


Bagai tersambar petir di siang hari, baik Hean dan Sasa terkejut bukan main mendengar penuturan Hema. apalagi gadis itu berkata sambil menitikkan air mata. tangannya gemetar dan dingin menandakan bahwa ada sebuah ketakutan yang sedang Hema sembunyikan.


"Takut kenapa?". Di peluknya tubuh sangat sahabat. menenangkan agar Hema merasa tak sendirian.


sedangkan Hean, wajah pria itu pias melihat tatapan mata Hema yang tertuju pada pintu Apartemen miliknya.

__ADS_1


Hatinya serasa tersayat amat dalam, tau apa yang membuat gadis itu merasa ketakutan.


"Jangan khawatir Hema... kita akan tinggal bersama..." bujuk Sasa. ia tak akan meninggalkan Hema sendirian di tempat baru ini. mereka akan selalu bersama-sama. itu janji Sasa.


"Apa lo tidak mau tinggal disini?" tanya Hean. Hean kira membawa Hema dekat dengan pengawasannya akan lebih baik tapi ia lupa bahwa Hema juga takut bahkan trauma pada tempat ini. trauma dengan kejadian yang bahkan belum bisa ia lupakan sampai sekarang.


Kalaupun Hema menolak untuk tinggal di Apartemen ini, tak apa. Hean akan mencarikan tempat yang cocok dan nyaman bagi gadis itu nanti.


Hema melihat jelas rona kekecewaan yang ada di mata Hean. Hema tau betapa pria itu tulus membantunya untuk tinggal di tempat ini. tapi apakah Hema siap? apa jaminannya kalau harus kembali menggantungkan kepercayaan pada pria yang baru ia kenal? bahkan Rendy, yang sudah 3 tahun lebih saja mampu mengkhianatinya bagaimana dengan Hean? pria yang baru 22 hari di kenalnya. bahkan sampai detik ini, Hema tak tau seperti apa Hean itu. bagaimana kepribadian pria itu, Hema sama sekali tidak tau.


apa ia harus percaya? apa tidak akan terluka hatinya?


"Kalau lo tidak mau-,".


"Gue mau..." sela Hema. memotong perkataan Hean. "Gue hanya takut dengan suasana baru..." bohongnya.


Hema menatap Sasa, menggenggam tangan sahabatnya dengan erat "Gue mau asal bersama Sasa... hanya dia orang yang gue percaya...".


Sungguh sesayang itu Hema pada Sasa. orang yang sangat ia percayai.


setelah mengatakan itu, mereka semua kembali melanjutkan langkahnya. menuju ke pintu tak jauh dari Unit Hean berada.


Ya, pintu itu cukup dekat. anggap saja bertetangga sama seperti rumah pada umumnya.


Pintu terbuka, tinggal Hean Hema dan Sasa yang ada di dalam sana.


"Ada dua kamar disini... kalian boleh pilih, kalaupun tinggal sekamar juga gue rasa bisa...". Ukuran ranjang di setiap kamar sama seperti milik Hean. cukup untuk digunakan 2 orang.


"Benarkah? siapa tetangga kita?". Sasa penasaran hanya karena Hean mengatakan tetangga. mungkin saja pria kaya yang masih jomblo bukan? Sasa bisa cari perhatian atau kalau beruntung bisa menjadi kekasihnya. hahah... usaha tidak ada salahnya bukan?


"Dia pria yang keren, tampan kaya jan juga sangat muda..." jelas Hean semakin membuat Sasa berantusias. sedangkan Hema, menatap pria yang berbicara itu dengan mata memicing kesal.


Ck... pede sekali dia...


"Benarkah?".


Hean tersenyum bisa mengerjai gadis itu. jangan heran, jiwa iseng pria itu memang tinggi jadi siapapun bisa Hean isengi. Termasuk Sasa.


"Biasanya ia akan keluar menikmati suasana malam lewat balkon di jam-jam malam..." ucap Hean memprovokasi.


sedangkan Sasa menyambutnya dengan antusias bahkan sampai bertepuk tangan kegirangan.


beda dengan Hema yang semakin menggelengkan kepala heran dengan tingkah kedua makhluk di depannya itu.


apalagi Sasa yang mudah di kerjai Hean.


"Aaa.. gue akan meli hanya nanti malam... Ma, lo juga penasaran dengan tetangga kita kan?".

__ADS_1


Hahaha... Hean tertawa dalam hati.


Seharian Sasa sibuk mengemasi pakaiannya. menaruhnya pada lemari yang berada di kamar masing-masing.


sedangkan Hema di bantu dengan Hean juga melakukan hal sama.


"Yan..." panggil Hema.


"Apa? tadi lo panggil gue apa?" goda Hean dengan wajah jenaka.


"Yan, Hean...".


"Oh, kirain yang... hehehe".


tersenyum dengan ucapannya sendiri. sedangkan Hema hanya menatapnya aneh. selain usil pria itu juga kepedean.


"Ada yang ingin lo katakan?" tanya Hean kembali ke mode serius.


"Tinggal disini sangat mahal kan? gue dan Sasa tidak mampu membayarnya...".


Siapa juga yang mampu tinggal di tempat mewah seperti ini. apalagi Hema dan Sasa hanyalah seorang mahasiswa.


"Gue dan Sada tidak punya cukup uang untuk menyewa Apartemen ini...".


Hean tersenyum, bangga dengan apa yang telah ia lakukan. "Gue sudah menyewanya untuk kalian... 5 tahun bukankah cukup untuk kalian bekerja setelah lulus nanti?".


Ucapan Hean mampu membuat Hema terkejut.


5tahun?


5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Hema tak menyangka kalau Hean akan melakukan jauh dadi bayangannya. pria itu menyewa Apartemen hanya untuk ditinggali Hema bahkan dalam waktu yang lama. tentu saja Hean telah merogoh cukup dalam uang dari tabungannya bukan?


Hema hanya merasa aneh untuk menerima semua itu.


"Gue hanya mau lo tinggal di lingkungan yang aman... dan agar terhindar dari pria br*ngs*k itu...". Pria yang tak lain adalah Rendy.


"Kalau lo merasa tak enak menerima semua ini, lo bisa kon membayarnya dengan cara lain..." goda Hean lagi. walaupun belum tau apa yang ada di kepala pria itu, tapi dari cara Hean tersenyum Hema paham pasti yang ada di kepala pria itu adalah hal aneh atau bisa menjurus ke hal mesum.


"Apa?" dengan polosnya Hema bertanya.


"Cium gue...". Hean memonyongkan bibirnya minta di cium.


Benar kan gue bilang...


Hema menyesal telah bertanya.


"Heannn!". Hema memukul pria itu dengan bantal. membuat suasana kamar itu menjadi riuh dengan tawa lepas Hean.

__ADS_1


Hahaha...


***


__ADS_2