Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
62. Putus Cinta.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Makan malam. suasana kali ini terlihat berbeda. Hean dan Hema makan malam di sebuah restoran yang berada di pinggir pantai.


menikmati hidangan laut beraneka ragam dengan berbagai jenis bumbu masakan.


Sendok garpu berdenting seirama dengan ritme makan mereka.


"Makanlah yang banyak..." pintar Hean.


Melihat Hema di masa kini, tubuh gadis itu entah memiliki berat badan berapa. sangat terlihat kurus tidak seperti dulu yang berisi dan terkesan padat.


Entah bagaimana kehidupan Hema 4 tahun silam, pasti sangat sulit dan tertekan. dan sayangnya, Hean tak menemaninya.


ia sadar bahwa kedatangannya selalu saja membuat Hema bersedih.


Hean seperti datang di saat-saat gadis itu selalu terpuruk dan butuh sandaran. tapi yang tidak Hean pahami, gadis itu terpuruk kali ini hanya karenanya. hanya Hean alasan Hema terlihat menyedihkan.


"Bukankah lo alergi jamur?".


Di sela-sela makannya, Hema sempat mengamati Hean. entah lupa atau bagaimana pria itu terlihat menyendok jamur dan menaruhnya di piring bersama lauk lainnya.


"Ha?".


"Ck... jangan makan ini Yan, lo akan gatal nanti..." ulang Hema. menyingkirkan tumis jamur dari piring Hean.


Perlakuan Hema otomatis membuat Hean tersenyum senang.


"Kenapa tersenyum?" tanya Hema keheranan. ia hanya menyingkirkan jamur dari piring Hean, tidak ada lucunya sama sekali yang mampu membuat seseorang tersenyum seperti pria itu.


"Tidak... gue hanya senang..." jawab Hean.


tadinya ia tidak lupa. Hanya saja Hean sedikit mengetes gadis itu, apakah Hema tau apa yang tidak atau boleh ia makan. nyatanya gadis itu masih ingat. hal sesederhana itu sudah membuat Hean senang. nyatanya Hema tak benar-benar melupakannya seperti yang sering terucap dari bibir gadis itu.


Ya... inilah definisi ucapan tak selalu sejalan dengan hati.


nyatanya Hema masih ingat tentang nya.


"Setelah ini langsung pulang kan?". Hema kembali mencari topik pembicaraan. sudah malam dan akan sangat malam jika mereka tak langsung pulang.


Sebenarnya tak apa, hanya saja Hema sungkan terhadap Sasa. pasti sahabat yang itu akan khawatir.


"Kenapa? lo ingin pergi ke suatu tempat?" ganti Hean yang bertanya. kalau maunya sih, ia ingin menghabiskan malam ini hanya dengan Hema. berbicara sampai pagi pun siap, tapi Hean tak bisa seegois itu.


"Tidak..." tolak Hema. "Gue hanya tidak ingin membuat kekasih lo cemburu...".


Sebuah ucapan yang tentu sangat menyinggung perasaan Hean.


Wajah Hean terlihat aneh. diamnya seperti tengah menahan kemarahan. hingga Hema sadar akan hal itu.

__ADS_1


Apa dia marah? dia marah kan? jelas marah... lihatlah wajahnya itu...


"Heheh... lupakan saja..." ralat Hema dan melanjutkan makan malamnya.


sedangkan Hean, pria itu telah kehilangan selera makannya. meletakkan sendok garpu nya dan beranjak.


"Mau kemana?" tanya Hema spontan. panik karena reaksi Hean jauh di luar perkiraannya.


"Lanjutkan saja makanmu... gue mau ke toilet sebentar..." bohong Hean. membuat Hema kembali duduk dan menganggukkan kepala mempercayai ucapan Hean tadi.


Hingga langkah kaki Hean pergi, Hema masih mengamati sosoknya dari belakang. punggung tegap itu perlahan hilang dan tinggal Hema sendirian duduk di kursi makan.


Apa gue terlalu kurang ajar?


Batinnya menyesali apa yang telah terucap dari bibirnya tadi.


"Kenapa dia terlihat marah?" gumam Hema. selera makannya pun ikut hilang. meletakkan sendok dan terdiam menunggu Hean kembali yang katanya ingin ke toilet.


Hean, setelah pamit kepada Hema.


yang dilakukan pria itu hanyalah mencuci tangannya. cukup lama, jelas ada yang mengganggu pikirannya saat ini.


Ucapan Hema tadi, mampu membuat nya risau.


Bagaimana gue bilang kepadanya?


Hean hanya tak mau Hema salah paham atau membingungkan bagi siapapun. Hean hanya ingin menjelaskan kalau dirinya dan Agnes benar-benar telah berakhir.


tapi ketika mengatakan itu, apakah Hema akan semudah itu percaya?


Dan lebih dari itu, Hean bingung untuk mengatakan kepada keluarga dan keluarga Agnes. bingung mencari alasan kenapa ia bisa mengakhiri hubungan mereka.


Agghhh...


Masalah ini benar-benar beban baginya. Hean bersandar pada dinding. memejamkan mata sambil memijit pangkal hidungnya. menghilangkan nyeri di kepala.


Beralih pada Hema.


Gadis itu celingukan. menyadari bahwa Hean tak juga kembali ke meja mereka. khawatir, itulah yang Hema rasakan. apalagi semakin menyesal karena mungkin saja ini berhubungan dengan ucapan nya tadi.


yang mungkin menyinggung Hean.


"Gue telpon saja..." Hema memutuskan untuk menghubungi Hean. tapi bersamaan dengan itu, pria yang Hema cari berjalan mendekat.


"Sudah kenyang?". sisi lain Hean kembali terlihat. rona kebahagiaan itu terpancar jelas beda dari tadi saat dirinya ijin untuk ke toilet.


Dia baik-baik saja?


"Ayo..." ajak Hean membuat Hema ikut bangkit dan meninggalkan meja makan.


selama keluar dari Restoran, tak hentinya Hean menggenggam erat tangan Hema sampai menuju ke mobil. bahkan membukakan pintu untuknya. sungguh perlakuan sederhana namun manis.

__ADS_1


Tapi anehnya selama perjalanan berlangsung, wajah yang selalu dipenuhi oleh senyum itu kembali pudar, dingin dan Hean jauh lebih pendiam daripada waktu lain.


"Ehmm.." Hema berdehem untuk menyingkirkan kecanggungan diantara mereka.


"Yan,".


"Hm,".


"Lo marah?" tanya Hema penuh hati-hati.


"Tentang?".


Hema bingung. tentang apa ya?


"Tidak... heheh...". pada akhirnya Hema ikut bingung.


selama perjalanan pulang, mereka sama-sama terdiam. bahkan sampai di Apartemen pun tak ada percakapan yang berarti Hean hanya mengatakan selamat malam dan masuk ke dalam Unit tempat tinggalnya.


"Dia kenapa ya?". gumam Hema sambil duduk melepas sepatu kerja dan selonjoran sesaat.


"Putus..." ucap Sasa tiba-tiba nimbrung dan ikut duduk di sebelah Hema.


"Ha?". terkejut. karena Hema hanya bicara sendiri tadi. tapi Sasa tiba-tiba datang dan ikut berbicara.


"Lo membicarakan Hean bukan? dia putus dengan kekasihnya..." lanjut Sasa.


"Ha? putus? Lo serius?". Saking terkejutnya Hema sambil beralih posisi. melipat kedua kakinya dan menghadap ke arah Sasa. berharap gadis itu mau melanjutkan informasi yang bahkan tidak diketahui olehnya.


"Itu yang dikatakan Jio kemarin malam...". Sasa ingat apa yang Jio katakan kemarin malam saat pria itu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"Katanya Agnes berselingkuh di London... dan Hean marah hingga mabuk kemarin..." lanjutnya.


Dia putus dari Agnes? batin Hema. menerka-nerka asal kejadian dan menarik benang merah atas perubahan sikap pria itu saat Hema menyinggung masalah kekasihnya tadi.


benar, perubahan Hean memang tampak saat itu. dan sampai membuat Hema merasa bersalah.


"Tapi Ma, walaupun dia sudah putus dengan kekasihnya... gue tetap tidak suka jika kalian dekat..." cerca Sasa.


entah kenapa sulit sekali membangun kepercayaan terhadap pria itu lagi. Sada terlalu kesalahan dengan apa yang pernah Hean lakukan terhadap sahabatnya.


"Jangan terlalu percaya padanya...".


"Gue tidak sedekat itu kok..." elak Hema. bagaimanapun Sasa adalah orang paling ia percayai di muka bumi ini.


"Tapi Sa, apa lo yakin dia sedang putus cinta?". masih penasaran, karena mungkin saja Jio membawa informasi yang salah. mereka tidak putus hanya bertengkar dan menjaga jarak untuk sesaat. sama seperti masa lalunya. Hean yang menghindari karena kecewa terhadap Agnes yang memilih kuliah di luar negeri.


"Apa Jio tega berbohong kepadaku?". Sasa yang ikut ragu. mungkin saja kekasihnya itu tidak bisa dipercaya.


"Sepertinya tidak mungkin... heheh...". Hema tertawa. karena Jio yang notabene nya adlaah Playboy bisa bertekuk lutut di hadapan sahabatnya. mana mungkin berbohong?


"Hahaha... gue juga berpikir seperi itu..." Sasa pun tertawa dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


***


"


__ADS_2