Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
20. Buku Harian Hema.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Langit Ibukota mulai terlihat indah. dengan cahaya matahari yang baru saja mengintip dari timur, menciptakan suasana keemasan pada ujung dedaunan. cahaya itu bahkan sedikit menerobos kamar Hem lewat celah-celah tirai jendela yang tidak terlalu rapat tertutup.


Gadis itu sudah bangun sejak beberapa saat lalu. tapi yang dilakukannya hanya diam, sesekali bermain dengan ponselnya dan masuk pada akun sosial media yang entah sudah berapa minggu tidak pernah Hema buka sama sekali.


Yang membuat Hema sedikit tersentak kaget adalah ternyata Hean memiliki Akun sosial medianya. dan pada akhirnya mereka juga berteman disana.


mungkin notifikasi itu akan muncul di ponsel Hean pagi ini.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama bell di depan sama berbunyi. semakin tak berhenti kalau Hema tak segera membukanya. melihat wajah konyol di depan sana dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa?".


Terlihat Hean tengah mencari penjelasan di ponsel miliknya.


"Kenapa baru sekarang?". pertanyaan aneh dari pria itu bahkan di pagi buta seperti sekarang.


"Ya karena gue baru membukanya..." jawab Hema. seperti itulah yang terjadi.


"Dan hanya karena itu saja lo sampai datang?".


Jelas tak masuk akal. Hean bisa mengirim pesan buka kalau hanya ingin tanya alasan pertemanan mereka di media sosial..


tapi pria itu justru langsung datang dan bertanya langsung pada Hema.


"Gue tak mau memperpanjang masalah...".


Beda dari yang terlihat, nyatanya pria itu bukan pria yang selalu menghindari masalah. ia berusaha menyelesaikannya tanpa menunda-nunda.


tapi lebih baik bukan?


Karena biasanya seorang pria akan memilih untuk diam ketika di terpa masalah.


"Baguslah kalau begitu..." jawab Hema.


dan yang dilakukannya masih berada di ambang pintu. tanpa mempersilahkan Hean untuk masuk. toh ngapain? mereka seringkali bertemu bukan?


Tak perlu berbasa-basi untuk itu.


"Eh, lo tidak meminta gue untuk masuk?" cegah Hean ketika Hema hendak menutup kembali pintu Apartemen itu.


"Kenapa?". Hema terheran-heran. kenapa Hean harus masuk ke dalam sini padahal Hema akan mandi dan bersiap pergi ke kampus. toh tidak ada yang perlu di bicarakan bukan?


mereka juga akan bertemu di kampus nanti.


"Biarkan gue masuk...". Hean mengatakannya dengan mimik wajah memohon. memperlihatkan wajah seimut mungkin agar Hema mengijinkannya masuk.

__ADS_1


"Ngapain? gue juga mau bersiap mandi..." protes Hema. kalau Hean ada di sana, Hema tak akan bisa cepat nantinya. yang ada mereka hanya berbincang tanpa henti.


"Ikut!" ucap Hean penuh semangat. dan yang mendengar jawaban pria itu seketika tambah terkejut. terlihat sekali dengan tatapan Hema kepadanya. tatapan sulit di jelaskan tapi Hean tau ada kemarahan disana. tapi ia tak peduli, kerena menggoda Hema adalah salah satu kegemarannya.


"Jangan aneh-aneh!".


Sebuah ancaman terlontar dari mulut Hema tapi tak membuat Hean ketakutan. pria itu justru tersenyum aneh dan semakin menjengkelkan.


"Hahaha... lo malu? bahkan gue pernah melihat semuanya bukan?".


Hema merinding dengan ucapan Hean. pikirannya benar-benar tertuju pada kejadian malam itu. saat dimana neraka menunjukkan kengeriannya di depan Hema.


Agghhh... Hema kesal mengingatnya.


Dan masih dengan Hema yang tak bisa berkata-kata, Hean menggunakan kesempatan itu untuk menyelonong masuk ke dalam sana. berjalan cepat menuju ke kamar Hema tanpa permisi.


"Hei," tapi terlambat. pria itu telah masuk ke dalam kamar Hema.


Agghh...


Si pemilik kamar itu kesal tapi tak bisa berbuat apapun. membiarkan Hean melakukan apapun sesuka hati. sedangkan Hema tanpa meminta persetujuan dari Hean langsung meraih handuk dari lemari dan berjalan menuju ke kamar mandi. untk melakukan kegiatan paginya.


"Lo tidak berniat untuk membawaku ke dalam sana?". rengekan bak anak kecil yang minta permen dari Ibunya.


"Heannn...". Hema memperingatkan kalau dia tidak sedang bercanda saat ini.


Nyatanya Hema tanpa bicara langsung masuk ke dalam kamar mandi. membnating pintu itu sedikit keras hingga membuat Hean sedikit terkejut tapi langsung tersenyum pada akhirnya.


Hean masih sibuk dengan dunianya sendiri ketika Hema di dalam kamar mandi. bahkan sesekali pria itu menjelajahi seluruh penjuru kamar Hema tanpa tau apa yang dicarinya. hingga rasa penasaran Hean membawanya ke arah meja belajar Hema. mengamati seluruh tumpukan buku hingga tatapannya tertuju pada buku dengan pita berwarna merah muda sebagai pembatas halaman.


Hean mengamati pintu kamar mandi, memastikan kalau Hema akan lama disana. setelahnya tangannya terampil menarik buku itu dari tumpukannya.


dari penampilannya, Hean sudah yakin kalau buku itu adalah buku harian Hema.


Hean begitu penasaran. dibukanya buku itu pada halaman pertama. tulisannya jelas menandakan bahwa sudah sangat lama ditulis.


Alis Hean terangkat mencermati kalimat demi kalimat hasil tulisan Hema.


Jadi Hema hanya tinggal dengan neneknya sejak kecil? dimana orangtuanya?


Hean tak tau akan hal itu. karena Hema tak pernah menceritakan bagaimana keluarganya.


Hean masih terus tenggelam dalam curahan hati Hema. dan dari sana juga diceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Rendy, kisah mereka dan satu hal yang amat membuat Hean panasaran.


Untuk pertama kalinya. Aku menyesal telah melakukannya sebelum pernikahan... tapi mendengar ucapannya yang meyakinkan, aku menjadi tenang. saat dimana Rendy berkata akan menjadikanku permaisurinya setelah lulus kuliah...


Hatiku begitu tenang walaupun aku telah kehilangan mahkota ku...


Sebuah paragraf yang membuat Hean terkejut walaupun itulah yang membuatnya penasaran. alasan apa yang membuat Hema kehilangan mahkotanya.

__ADS_1


"Jadi alasannya suka sama suka...".


walaupun begitu, entah kenapa Hean kesal melihat kenyataan yang ada. bahwa Rendy adalah orang pertama bagi Hema.


Sial!


Hean tak mau membaca tulisan-tulisan yang menyangkut nama Rendy. pria itu membalik halaman-halaman yang tidak ia suka. hingga sebuah halaman dengan tulisan tangan yang begitu buruk.


bahkan ada tulisan yang tidak jelas seperti sebuah air menetes disana. membuat tulisannya luntur tapi masih bisa dibaca.


Aku benci malam itu! malam yang begitu menyeramkan yang pernah ku lalui. aku benci Apartemen nomor 200. Aku benci Rendy, aku benci semuanya!


Bahkan orang yang telah lama ku kenal, pria yang begitu peduli dan mencintaiku. kini mengkhianati dan bahkan mengecewakan ku!


Aku benci kau Rendy sialan! aku benci kau br*ngs*k!


Hean yang membacanya saja mampu merasakan bagaimana suasana hati Hema ketika menulisnya. pasti gadis itu menulis sambil menangis ketakutan. gadis itu pasti meraung mengingat kejadian menakutkan yang terjadi padanya.


bahkan di saat terpuruknya, Hema masih saja sendirian. tak ada satupun tangan yang merangkulnya dan menenangkannya.


Aku pernah begitu percaya. aku pernah menyandarkan kepercayaan ku pada sesoeang yang pada akhirnya justru mengkhianati ku. lantas laki-laki mana yang akan aku percayai? laki-laki mana yang tidak akan merusak mentalku?


Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terdengar terbuka. Hean dengan segera menutup kembali buku yang ia baca dan mengembalikannya ketempat semula. segera bangkit agar Hema tak curiga tentang apa yang Hean lakukan.


"Waw... harum sekali...". pujinya segera mendekati Hema. membuat gadis itu itu berancang-ancang akan memukul jika Hean kurang ajar.


"Hahaha... lo mau memukulku?". ejek Hean. walaupun lucu melihat kelakuan Hema.


"Jangan mendekat atau gue pukul beneran..." ancam Hema, bahkan langkah kakinya sampai miring-miring menghindar dari Hean.


Hingga dirasa aman, Hema menuju ke depan kaca, duduk di bangku sambil memperhatikan pergerakan Hean.


Mulutnya ngedumel entah bicara apa, Hean tak bisa mendengarnya. tapi yang jelas gadis itu tengah mengatai Hean. terlihat sekali dari sorot mata yang seperti mengibarkan bendera perang.


Lo bisa mempercayai gue Ma... batin Hean.


Hingga pria itu mendekat, "Mau gue bantu?". tangan Hean langsung merampas handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut Hema.


"Tidak usah," tolak Hema.


"Jangan banyak bicara..." hingga ucapan Hema mampu membuat Hema terdiam, pasrah dengan perlakuan Hean ke rambutnya. mengamati pria di belakangnya yang telaten mengeringkan rambut.


untuk pertama kalinya, Hema mengamati Hean cukup lama. hatinya berdesir aneh.


Lo tidak boleh menyukainya Hema! dalam hati Hema bicara.


***


Sorry agak telat...

__ADS_1


__ADS_2