Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
23. Yang Ku Takutkan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Malam semakin merangkak naik. udara berubah menjadi sangat dingin bahkan seperti mampu menusuk sampai ke tulang. langit Ibu kota bertambah gelap, bahkan cahaya bulan sampai tak mampu menembua awan di atas sana.


Hean duduk di balkon cukup lama. setelah mengantarkan Intan kembali ke rumah, entah kenapa matanya ingin tetap terjaga. padahal tadi, Hean sempat merasakan kantuk. tapi sekarang hilang ditelan bumi.


Sudah banyak sekali batang rokok bertebaran di bawah sana. tapi tak membuat Hean puas. pria itu justru kembali membakar lagi dan lagi hingga tak terasa hanya tersisa beberapa batang saja di dalam bungkusnya.


"Dia merindukan negara ini kak... merindukan semua orang, termasuk kakak...".


Ucapan Intan benar-benar mengganggunya. tak bisa di pungkiri, kalimat yang terlontar dari mulut adiknya seperti sebuah film yang berputar tanpa henti dalam kepala Hean.


Rindu?


omong kosong. ia kembali datang hanya untuk melukai lagi. dan akan terus seperti itu.


Rencana kepulangan gadis bernama Agnes itu benar-benar mengacaukan segalanya. nama itu seperti sebuah luka dan kembali membuat Hean terusik ketenangannya. padahal ia cukup tenang akhir-akhir ini.


"Tau darimana lo kalau dia akan pulang?".


Hean tak penasaran, hanya ingin tau kebenaran kabar itu. mungkin saja Intan hanya bergurau tentang seseorang yang telah lama pergi.


"Dia sendiri yang bilang... bahkan kita sempat bertukar nomor telepon... terkahir kali, kemarin dia menanyakan keadaan ku dan juga kakak...".


Jika Intan sudah berkata seperti itu, tentu saja bukan bualan saja. apalagi gadis itu tak mungkin membohongi kakaknya.


Hean mengusap wajahnya kasar. bahkan memikirkannya saja membuat kepalanya sedikit nyeri. kesal. kenapa gadis itu kembali lagi? seharusnya ia tetap tinggal jauh dari sini. itu akan lebih baik bagi Hean. karena ia mulai terbiasa akan hal itu.


 


Tengah malam, entah kenapa Hema merasa sedikit aneh. pendingin kamar telah menyala, tapi Hema masih saja merasakan gerah. apalagi matanya langsung terjaga tak mau kembali terpejam. karena terlalu jengah, gadis itu beranjak turun dari ranjang. berjalan keluar kamar untuk mengambil air dingin di dapur.


Suasana terasa damai karena jam telah menunjuk ke angka 2 dini hari. dengan segelas air yang masih tersisa setengah, Hema berjalan menuju ke balkon karena tergoda dengan tirai tipis yang digoyangkan angin.


Sasa lupa menguncinya... begitu hatinya bicara.


ia berniat untuk melihat ke luar sana sebelum kembali menutup pintu. rapi baru saja melangkah, Hema kembali mundur. ia melihat seseorang tengah duduk sendirian di balkon samping tempatnya. lebih tepatnya balkon Apartemen Hean.


Hean belum tidur?


Hema bertanya-tanya dalam hati tapi tak berani untuk menanyakannya langsung. gadis itu tidak jadi menikmati suasana malam. takut Hean akan melihatnya dan membuat suasana menjadi canggung.


Tapi walaupun hanya melihatnya sekilas, Hema yakin bahwa pria itu sedang tidak baik saja. lebih tepatnya ada sesuatu yang mengganggu.


Apa dia dalam masalah? Hema masih menduga-duga sambil menutup pintu pembatas balkon.

__ADS_1


***


Pagi hari.


Hema bersama dengan Sasa keluar dari Apartemen. mereka sudah bersiap untuk pergi kuliah.


Tapi baru menutup pintu itu, pandangan Hema justru tertuju pada pintu di sebelahnya. tak ada pergerakan sama sekali dari sana.


Apa dia tidak kuliah hari ini?


biasanya Hema akan bertemu Hean di depan sini. tapi pagi ini tidak ada.


"Mungkin dia sudah berangkat..." sela Sasa paham apa yang ada di kepala sahabatnya.


Apalagi mereka sangat sibuk menyambut wisuda bukan?


"Ayo berangkat..." ajak Hema apda akhirnya.


Bahkan tiba di Basement, Ha kembali mengamati sekitar. tidak ada mobil Hean disana. yang berarti pria itu telah meninggalkan Apartemen lebih dulu dari Hema dan Sasa. pagi ini kedua gadis itu berboncengan menuju ke kampus.


Di lain tempat, Hean tengah berbicara dengan Dimas. kedua pria itu berada di parkiran kampus. juah lebih pagi dari yang lain.


"Lo sering berkomunikasi dengan Intan bukan?". awal interogasi Hean dimulai.


"Ck... lo ngajak gue datang lebih awal hanya karena ini?". Dimas heran. bukan rahasia lagi jika ia sangat akrab dengan Intan, adik perempuan Hean.


Kalaupun Dimas ingin bermain-main dengan wanita, tapi ia masih pikir-pikir kalau harus mempermainkan Intan. bisa dibunuh Hean nanti.


"Bukan itu...".


Lalu?


Dimas sedikit terkejut karena arah pembicaraan mereka bukan tentang Intan.


"Agnes... Intan cerita sama lo kalau Agnes akan kembali?".


Ya, kali ini yang Hean tanyakan bukan tentang adiknya. tapi tentang Agnes. mungkin saja Intan bukan hanya cerita pada Hean saja atapi kepada Dimas juga.


"Sungguh? Agnes mau kembali?".


"Bohong lo kelihatan nyet..." sarkas Hean. ia tau kalau Dimas hanya berpura-pura saja kali ini.


Ck, sial! padahal gue udah berusaha untuk terlihat tidak tau apa-apa... Dimas mati kutu karena Hean menyadari kebohongannya.


jadi tak perlu berpura-pura lagi di depan sahabatnya itu.


"Iya... 2 minggu lagi,".

__ADS_1


Hean yang dibuat syok dengan ucapan Dimas. 2 minggu lagi?


"Kenapa? apa Intan tidak bilang begitu?". kembali lagi Dimas yang dibuat syok. ia mengutuki kebodohannya sendiri. karena telah membocorkan rahasia diantara dia dan Intan.


"Lo yakin 2 minggu lagi?" tanya Hean memastikan. Kenapa cepat sekali?


Ia mengira kepulangan Agnes masih sekitar 1 sampai 2 bulan.


"Iya, itu yang Intan katakan... tapi Yan, jangan bilang kalau gue yang membocorkannya ya... please...". bahkan Dimas sampai mengatupkan kedua tangannya memohon. ia tka mau citranya buruk di depan Intan. karena Intan begitu percaya pada pria itu melebihi kakaknya sendiri.


Hean hanya diam tak mau menjawab apapun.


pikirannya tenggelam lagi pada hari kepulangan Agnes yang tinggal sebentar.


"Kenapa lo khawatir? bukankah kalian sudah selesai?".


Dimas heran. Agnes pulang atau tidak seharusnya tak masalah bagi Hean. walaupun dulu mereka pernah menjalin hubungan, tapi itu kan dulu?


Bukankah Hean dan Agnes sudah sepakat untuk memutuskan hubungannya?


Itulah yang Dimas tau.


"Gue tidak bilang apapun saat dia pergi..." aku Hean.


tidak ada kata putus ataupun selesai saat kepergian Agnes kalau itu. semuanya benar-benar terjadi begitu saja. Agnes yang berlalu pergi ke luar negeri dan Hean yang memendam kekecewaannya sendiri.


Hema memutus komunikasi dengn gadis itu. walaupun tak pernah terucap kata putus dari mulutnya.


"Lo senang dia kembali?" selidik Dimas. sedikit kecewa memang karena Hean begitu pecundang hanya untuk melepaskan seorang wanita.


karena Dimas kira, semuanya sudah beres saat itu. Dimas kira Hean dan Agnes sudah benar-benar putus.


"Apa gue tampak senang?".


Jelas terlihat hany kekecewaan dari wajha Hean. tak ada perasaan sennag ataupun bahagia dengan kabar kepulangan Agnes.


"Gue hanya takut...".


Wajah Hean begitu pias saat mengucapkan kata itu.


Gue hanya takut jatuh cinta lagi kepadanya... gue juga takut akan kecewa lagi dan terluka jauh lebih dalam dadi sebelumnya...


***


Jeng jeng jeng...


Agnes ( masa lalu Hean) akan kembali gais...

__ADS_1


2 minggu, berarti tepat pada janji 40 hari Hean pada Hema...


__ADS_2