
HAPPY READING...
***
Pagi telah tiba. Hean masih berada di dalam kamar. di tangannya menggenggam sebuah berkas terbungkus rapi dalam map berwarna kuning. sedikit gugup karena ini adalah langkah awal yang akan Hean lakukan untuk hidupnya. melayangkan gugatan perceraian untuk Agnes dan memberikan bukti pada keluarga besar Agnes dan juga orang tua Hean sendiri.
Pagi ini, Hean telah meminta orang tuanya untuk datang ke rumah orang tua Agnes. disana nanti, Hean akan mengutarakan niatnya walaupun tak tau hasil apa yang akan ia dapatkan. tapi sebuah keyakinan membuat Hean berani dan siap untuk konsekuensi apa yang akan didapatkannya nanti.
"Siap?".
Dimas, Hean meminta pria itu untuk menemaninya. apalagi bukti yang Hean persiapkan juga masih Dimas bawa. sebuah disc yang akan mereka putar di depan semua anggota keluarga.
"Hm... ayo...". setelah sejenak memejamkan marah berdoa, Hean bangkit dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar.
Langkah kaki Hean diikuti Dimas benar-benar membawa mereka keluar dari rumah. dengan mobil Dimas, keduanya benar-benar pergi ke rumah Agnes.
Perjalanan terasa begitu menegangkan. setiap tarikan nafas Hean terasa begitu berat. bahkan detak jantungnya serasa berpacu begitu cepat membuat tangan Hean berkeringat dan terserang gugup.
untaian kata dan ucapan sudah Hean pikirkan nanti di depan Papanya Agnes, terlebih Bima. karena hanya pria itu yang mungkin akan naik darah dengan tindakan Hean yang tiba-tiba. menceraikan adiknya saat Ganes tidak berdaya sama sekali, siapa yang tidak akan marah akan hal itu.
Mobil berwarna putih itu perlahan memasuki sebuah halaman rumah yang begitu luas. bersamaan itu, ada mobil lain juga yang baru saja berhenti di depan sana. Hean sudah sangat hafal siapa pemilik mobil itu, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
tak mengira kalau kedatangan mereka hanya selisih beberapa detik saja.
"Ayah...".
Hean turun menghampiri ayah dan Ibunya. diikuti dengan Dimas di belakang mereka.
"Ibu masih bingung kenapa meminta datang sepagi ini...". Karena Hean tidak memberitahu alasan kepada kedua orang tuanya semalam.
"Nanti Ibu juga tau..." jawab Hean dengan jumawanya. sedangkan Ayah, tak lepas mengamati wajah putranya itu.
"Kamu sakit Yan?" tanya pria paruh baya itu. melihat wajah Hean yang terlihat pucat dengan kantung mata yang sedikit hitam seperti mata panda.
"Sakit? tidak Yah... Hean baik-baik saja..." tolak Hean. walaupun banyak sekali masalah yang harus ia selesaikan, tapi Hean merasa mampu untuk melaluinya.
"Wajahmu terlihat pucat...".
"Hean baik-baik saja kok Yah... mungkin karena tidur tidak nyenyak..." jawab Hean mencari alasan yang pasti.
"Ayo kita masuk...". Hean mempersilahkan kedua orang tuanya berjalan lebih dulu dan diikuti Dimas dan Hean di belakangnya.
__ADS_1
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh orang tua Agnes. juga ada Bima disana yang berdiri dengan angkuhnya seperti pertama kali mereka bertemu.
pria angkuh itu seperti menatap Hean dengan tatapan penuh kecurigaan. sedangkan Hean, tak mempersalahkan hal itu. tak menghiraukan Bima sama sekali dan terus masuk ke dalam rumah.
Suasana masih sama seperti pertama kali Hean datang ke rumah ini waktu itu. waktu dirinya menjadi sasaran empuk dan satu-satunya orang yang tidak bisa berkutik di depan keluarga Agnes.
Masih teringat jelas kejadian saat itu. betapa Hean benar-benar dipermalukan di depan orang tuanya sendiri. betapa Ayah yang begitu Hean hormati, hanya bisa terdiam sambil melihat putranya tanpa bisa membela.
bahkan di depan orang tua Agnes, Ayah merendahkan diri meminta maaf atas kesalahan Hean.
Sesak, sedih, dan kesal... itulah yang Hean rasakan saat itu. tapi itu dulu ketika ia tidak mempunyai bukti akurat untuk membela diri.
"Jadi ada kepentingan apa ini sampai kamu mengumpulkan semua orang Yan?". Papa Agnes selaku pemilik rumah bersuara. menatap ke semua orang yang ada di disana.
juga sang istri yang tak tau apa-apa.
Hean duduk sambil meremas jemari tangannya. menghela nafas mempersiapkan kata demi kata yang akan ia katakan di depan orang tua Agnes. sedangkan Dimas, pria itu sibuk dengan laptop yang ia bawa sesuai perintah Hean kemarin.
"Saya telah memikirkannya sebelum ini. mungkin inilah jalan yang harus Hean ambil untuk hidup Hean juga dengan Agnes..." ucap Hean membuka perbincangan.
"Saya akan menceraikan Agnes..." lanjutnya.
Bima, Papa langsung bereaksi. membulatkna mata serat memperlihatkan guratan kemarahan di wajahnya.
"Biarkan saya bicara dulu..." sela Hean. membuat Papa langsung terdiam dan menahan kemarahannya.
"Saya sudah bilang sejak awal kalau anak perempuan yang Agnes lahirkan bukanlah anak saya... tapi tidak ada yang percaya karena saya tidak memiliki bukti apapun...".
"Omong kosong macam apa ini?". Bima lagi dan lagi tak terima dengan ucapan Hean.
"Diam dulu Bim!" Papa bersuara. meminta Bima untuk diam dan mendengarkan ucapan Hean tadi.
Melihat situasi yang kembali tenang, Hean melanjutkan ucapannya.
"Ini hasil Test DNA dari Rumah Sakit...". Hean menyerahkan lembar kertas dari dalam Map yang ia bawa. menyerahkan kepada Papa atau siapapun yang bersedia untuk membaca tulisan di kertas tersebut.
Papa, menerima kertas itu dengan tangan yang bergetar. membaca kata demi kata hingga ujung bawah. Walaupun tak percaya tapi jelas terlihat kalimat dimana anak perempuan yang Agnes lahirkna benar-benar bukan darah daging Hean.
"Bukan anak Hean?". Mama seperti terpukul dengan fakta yang ada. sedangkan orang tua Hean sendiri juga saling pandang dan bergantian menatap ke arah Hean duduk.
tak menyangka kalau Hean akan menyembt hal sebesar ini dari mereka.
__ADS_1
"Mungkin kalian masih tidak percaya dengan isi sebuah surat itu saja... tapi ini akan meyakinkan kalian semua..." lanjut Hean. beralih pada Laptop yang berisi rekaman yang Hean ambil sendiri.
Video pun berputar.
Semua orang mampu melihat dan mendengar isi percakapan Hean dengan Mark saat itu.
Hanya ini yang bisa gue lakukan... batin Hean.
Ibu dan Ayah sesekali berbisik pelan. membicarakan hal yang tentu saja sangat mengejutkan bagi mereka. tapi lebih dari itu, Ayah terlihat senang. di mata pria itu terlihat sekali penyesalan karena sempat tidak mempercayai putranya sendiri. Sedikit lagi, Hean akan mendapatkan kepercayaan orang tuanya yang sempat hilang.
"Si-a-pa di-a?". Mama bertanya tentang pria di dalam rekaman itu.
"Mark, dialah yang seharusnya bertanggung jawab untuk semuanya..." jawab Hean.
"Jadi, jadi kamu pergi ke London bukan karena pekerjaan Yan?" tanya Ibu.
"Iya... maaf Hean telah membohongi Ibu..." sesal Hean. tapi hanya itu yang bisa Hean lakukan. jika tidak berbohong, mungkin Hean tak akan pernah punya kesempatan untuk bertemu Mark.
"Kalian hanya cukup tau saja seperti apa pria itu... kalau Anda ingin memenjarakannya terserah, tapi untuk memintanya bertanggung jawab atas Agnes dan putrinya sepertinya hal yang salah... karena Mark bukanlah pria yang baik..." ucap Hean.
"Hiks... bagaimana Agnes bisa mengenal pria seperti itu..." Mama menangis. menyesal karena tidak tau apa yang telah terjadi pada putrinya. terlebih lagi, ia mempercayai segala ucapan Agnes tanpa melihat dari sudut pandang yang lain.
"Saya telah memutuskan segalanya... saya memang akan menceraikan Agnes, tapi...".
Tapi apa? begitu tatapan semua orang ke arah Hean.
"Saya akan tetap mengakui putri Agnes sebagai anak saya di mata hukum negara ini... tapi saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini... saya akan menceraikan Agnes..." ucap Hean.
Beda dari yang tadi ketika semua orang menatap Hean, sekarang tatapan Papa, Mama apalagi Bima terlihat begitu sayu. rona kepasrahan terlihat jelas disana.
"Kalau anda berkenan, saya ada nama untuk bayi itu...". Lebih tak terduga lagi, Hean ternyata telah menyiapkan sebuah nama untuk putri kecil yang Agnes lahirkan beberapa hari yang lalu.
menyerahkan selembar kertas kepada Mama yang bertuliskan nama.
Bellavia Dirga...
Bahkan tak ragu sedikit pun, Hean membri nama belakangnya pada nama putrinya itu.
setulus itu Hean terhadap bayi Agnes walaupun ia tau kalau bayi itu bukanlah anak kandungnya.
"Nama yang cantik...".
__ADS_1
***