Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
118. Menggoda Hean.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hean masih menyembunyikan rona malunya. ketika tak sengaja kepergok karena telah menatap Hema begitu lama.


memuji penampilan wanita di depannya itu dalam hati.


Sedangkan di sebelah kirinya, sahabatnya itu masih tertawa penuh ejek. seperti melihat Hean yang malu seperti itu menjadi kemenangan bagi Jio. kapan lagi ia bisa meledek Hean di depan banyak orang seperti sekarang.


"Sudah sayang..." senggol Sasa pada suaminya. berharap Jio berhenti untuk menertawakan Hean.


bercanda ada batasnya bukan? itulah yang Sasa pikirkan saat ini.


Walaupun Hean terlihat biasa saja. tapi tetap saja, Sasa merasa tak enak.


"Jio!". Hingga yang terucap dari bibir Sasa barusan seketika membuat Jio langsung terdiam.


Agghh... apa gue memang harus menggunakan kekerasan untuk membuatnya diam? umpat Sasa dalam hati.


Tak apa jika di rumah mereka sendiri. tapi saat ini mereka ada di tempat umum. Ya kali Sasa harus mengeluarkan jiwa bar-barnya disini. gengsi dong... tapi kalau tidak seperti itu, suaminya itu tidak akan diam seperti sekarang.


"Terimakasih untuk hadiahnya..." ucap Hean pada Hema. karena wanita itu datang dengan membawa hadiah yang cukup besar, tapi tidak sebesar pemberian Jio dan Sasa.


Ya.. cukup mana lah di pandang orang-orang.


"Maaf ya kalau mungkin tidak cocok dengan selera mu... karena gue tidak pintar memilih sesuatu untuk Bella..." sesal Hema.


ini adalah pertama kali bagi Hema, memilih dan membeli sesuatu untuk kado anak kecil di hari ulang tahunnya.


Terbiasa hidup sendiri, bahkan tak memiliki keponakan sama sekali membuat Hema bingung harus memilih hadiah apa yang cocok untuk putrinya Hean itu. hingga yang Hema lakukan adalah membeli beberapa pakaian dan sepatu untuk Bella. itupun dengan bantuan pelayan toko waktu itu.


"Mulai sekarang belajar Ma... karena kalau mau menerima Hean, lo harus menerima Bella juga..." goda Jio.


membuat tatapan Hema teralihkan kepada pria itu.


Ha?


dan pada akhirnya hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Jio.


Ya, walaupun Jio mengatakannya dengan tawa penuh godaan. tapi yang ia katakan tidak ada salahnya.


Hean memang seorang duda beranak satu. jadi untuk wanita yang ingin memiliki Hean, ia juga harus siap menerima Bellavia juga. karena Hean dan Bella adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa di pisahkan.


Menyukai seorang duda memang harus memiliki hati yang besar. mencintai pria itu dan juga anaknya.


"Sudahlah Yo, diam!". Sasa hampir frustasi. karena ulah suaminya itu, suasana kembali berubah canggung. dan lihatlah itu, wajah Hean kembali memerah menahan malu.


Agghhh... gue ingin pergi... batin Sasa.


"Kenapa? apa ucapan gue salah?" tanya Jio dengan wajah polosnya.


Diam tidak! begitu sorot mata Sasa pada suaminya. tak perlu menanyakan dimana kesalahannya. hanya diam tanpa bicara saja sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua dari amukan Hean.


"Gue lapar...". pada akhirnya Sasa memilih untuk mencari opsi lain agar terhindar dari suasana tak enka di sekitar Sasa berada.

__ADS_1


"Lapar?". Jio spontan ingat kalau mereka memang belum memakan apapun, apalagi terlalu lama bicara dengan Hema seperti ini. bahkan tak menyadari kalau Sasa merasa lapar jika bukan istrinya yang bilang sendiri.


"Ayo..." ajak Jio pada akhirnya.


"Lo sih banyak omong, istri lo sampai kelaparan..." protes Hean lagi.


Ck...


"Baiklah, ayo kita ambil makanan..." ajak Jio pada istrinya. menggenggam tangan Sasa dan membawanya pergi menuju ke meja yang penuh hidangan untuk tamu undangan hari ini.


Setelah kepergian Sasa dan Jio, tinggal Hean dan Hema yang ada disana.


bahkan rasa canggung itu semakin bertambah besar daripada tadi saat ada Jio dan Sasa. keduanya terdiam cukup lama, bingung harus mengatakan apa untuk membuka pembicaraan.


Sial! kenapa jantungku seperti ini batin Hean.


Disisi lain, Hema juga bingung.


Agghhh... apa yang harus gue katakan untuk membuka pembicaraan dengannya...


"Lo...".


"Lo...".


Hean dan Hema bersamaan membuka pembicaraan.


Eh...


"Lo dulu..." ralat Hema. meminta Hean untuk meneruskan perkataannya lebih dulu.


"Seperti yang terlihat..." jawab Hema. ia memang datang sendiri.


tadinya Hema ingin janjian dengan Zain juga, tapi pria itu tidak bisa datang dan mengucapkan selamat atas kesembuhan Bella secara langsung. Ya... Zain memiliki kesibukan sendiri di Singapura.


"Tadinya ingin barengan sama Zain juga.. tapi dia sibuk dan tidak bisa datang kesini..." lanjut Hema.


"Iya... Semalam Zain memang meneleponku dan meminta maaf karena tidak bisa datang..." jelas Hean.


"Oh...". Hema menganggukkan kepalanya paham. walaupun tindakan Zain dengan menelepon Hean itu tak pernah Hema pikirkan sama sekali.


"Mika sedikit rewel jika diajak bepergian ke luar negeri...". itulah yang Hema tau tentang putrinya Zain itu.


semakin tumbuh besar, Mika sangat sulit berinteraksi dengan orang-orang baru. apalagi berada di lingkungan baru, selalu membuatnya rewel. sangat bertolak belakang dengan putrinya Hean. Bella justru suka dengan lingkungan baru dan orang-orang baru. Bella terlihat antusias dan selalu tersenyum kepada semua orang.


"Lo tau betul sifatnya Mika..." puji Hean.


"Ha?". Membuat Hema salah tingkah dengan ucapan Hema barusan.


"Tidak... tidak juga..." tolaknya.


kalau dibilang paham dengan putrinya Zain, sepertinya terlalu berlebihan. karena Hema hanya beberapa kaki bertemu dengannya.


hanya saja, memiliki sifat yang hampir sama membuat Mika lebih nyaman berada di dekat Hema daripada orang lain.


"Seharusnya lo jadi ibunya Mika saja..." ucap Hean.

__ADS_1


entah pria itu mengatakannya dengan tulus atau tidak, tapi mungkin akan ada penyesalan jika Hema benar-benar menjadi ibu untuk anak lain. karena sampai sekarang, apa yang Hean rasakan terhadap Hema masih sama seperti dulu.


Andai bukan karena kebohongan Agnes, mungkin saat ini Hean dan Hema benar-benar telah bersama. karena pada saat itu, Hean sudah memutuskan untuk menjadikan Hema satu-satunya wanita dalam hidupnya.


"Keyakinan mereka berbeda dengan ku..." ucap Hema terdengar seperti sebuah penjelasan kenapa sampai saat ini Ia masih sendiri. padahal sudah sangat lama Hema kenal dengan Zain dan Mika.


"Lalu?". Hean penasaran.


"Zain pernah bilang... ia tak berani merebut ku dari Tuhanku..." jawab Hema dengan senyum manis mengukir bibirnya.


di dunia ini mungkin banyak orang yang rela melakukan apapun demi seseorang yang dicintainya. termasuk dengan berpindah keyakinan yang sama dengan orang yang mereka cintai. tapi Zain beda. keyakinannya jauh di atas segalanya. keyakinan dan agama adalah prinsip hidup pria itu.


tak ada yang bisa menggantikan rasa cintanya terhadap Tuhan, bahkan Hema sekalipun.


Tapi bukan berarti Hema sedih atau kecewa terhadap Zain. justru Hema begitu menghormati pendirian teguh pria itu.


walaupun tak bisa menjalin hubungan, setidaknya mereka masih berteman dan mendukung satu sama lain.


Bahkan ketika Hema berdoa, terselip sebuah keinginan agar Zain juga bisa menemukan kebahagiaannya suatu hari nanti.


Ya... Zain benar... kalau dia berani melewati batas keyakinannya, gue tidak akan pernah bisa sedekat ini lagi dengan Hema... batin Hean.


Karena jika Zain benar-benar mengikat Hema, untuk kembali dekat hanya akan menjadi angan-angan saja bagi Hean.


mungkin bersama seperti ini, tak akan pernah terjadi.


"Lo sudah makan Ma?" tanya Hean mengganti topik pembicaraan.


"Belum..." jawab Hema jujur.


"Ayo makan dulu bersama yang lain..." ajak Hean. apalagi di sana, ada Jio Sasa, Intan dan Dimas yang juga tengah menikmati hidangan hari ini.


"Hm,".


Hema berjalan bersama dengan Hean yang tengah menggendong Bella.


"Ibu, tolong gendong Bella... Hean mau mengantarkan Hema untuk mengambil hidangan..." ucap Hean pada Ibunya.


"Iya...".


Bella sudah beralih dalam gendongan Ibu.


dan Hean kembali melangkah menemani Hema berkumpul dengan sahabatnya yang lain.


"Lo akan menginap kan?" tanya Hean.


seperti tak mengijinkan Hema langsung pulang setelah acara selesai.


"Kenapa? lo tidak mau gue pulang?" goda Hema.


"Bu-bukan begitu..." jawab Hean dengan suara terbata-bata.


Sedangkan Hema tersenyum kegirangan bisa menggoda pria itu bahkan membuat wajah Hean memerah menahan malu.


***

__ADS_1


__ADS_2