Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 1. Karena Tatapan Mata


__ADS_3

Gadis itu melangkah ke dalam toilet sambil mendengus kesal. Karena kecerobohannya saat makan, membuat bajunya kotor terkena tumpahan saus. Sella, nama gadis itu, berada di toilet gedung, untuk mengganti pakaiannya.


Sore itu, sinar matahari masih bersinar membayangi sebuah gedung megah bertingkat sebelas, yang terletak di jalan utama kota. Di sanalah Sella menemui sahabatnya.


Beberapa saat setelah itu, Sella pun selesai. Ia berjalan, sambil membenahi pakaiannya. Ia memakai seragam pegawai kebersihan, milik Rere sahabatnya.


Di sisi lain basemen gedung.


Tampak dua pria baru saja keluar dari lift. Kedua pria itu sama-sama berwajah tampan, bertubuh tinggi dan tegap. Mereka berjalan beriringan, sambil membicarakan masalah bisnis.


"Kau berhasil menghubungi orang itu, Zen?" kata Alrega. Seorang pria yang berkulit putih, rambutnya lurus yang selalu disisir rapi kebelakang. Ia mempunyai postur tubuh yang ideal, membuatnya semakin berwibawa dengan stelan jas hitam yang dikenakannya.


"Belum, Tuan. Sudah sepekan, ponselnya tidak aktif," jawab Zen tenang. Ia laki-laki yang setia pada Alrega, memiliki dedikasi yang tinggi dan juga postur tubuh yang ideal. Hari itu mereka sama-sama memakai stelan jas warna hitam.


"Apa dia mati?"


Mendengar pertanyaan Alrega, Zen tidak menjawab. Ia tahu, Tuan mudanya itu hanya mengungkapkan kemarahan karena masalah perusahaan cabang yang dihadapinya.


Sementara itu, Sella masih berdiri dengan bersandar, sambil membaca buku novel kegemarannya. Ia menunggu Rere yang sedang membersihkan pakaiannya di ruangan berbeda.


Gadis itu tidak menyadari, ada dua pria berjalan kearahnya. Tepatnya ke arah mobilnya yang terparkir disana, tepat disamping Sella berada.


Kedua pria itu akan pergi untuk menghadiri pertemuan penting.


"Lihat dia, rupanya ada pengangguran di sini," kata Alrega begitu melihat Sella. Ia mengira, gadis itu adalah pegawai di kantornya.


Zen sudah membukakan pintu mobil untuk Alrega, saat mereka mendengar Sella tiba-tiba tertawa, mungkin karena novel lucu yang dibacanya.


"Hei. Kamu!" Bentak Alrega mengagetkan Sella.


Sontak saja gadis berambut ikal itu menoleh dan melihat ada dua pria asing di dekatnya.


"Eh, maaf ... " Kata Sella lirih, sambil melangkah menjauh dan pindah posisi. Tapi Alrega mendekati dan kembali berkata, dengan suara kerasnya.


"Apa kamu pengangguran?!"


"Saya?" Tanya Sella sambil menunjuk dirinya sendiri dan Alrega mengangguk, dengan tatapan matanya tak beralih dari Sella.


"Bukan, saya bukan pengangguran. Apa saya mengganggu anda, Tuan?" Sella menjawabnya malas.


'Berani sekali perempuan ini'


"Iya. Kamu merusak pemandangan!"


"Ck! Memangnya pemandangan apa di sini?"


'Menyebalkan.'


Bagi Sella, kedua orang itu bukan siapa-siapa. Ia melihat penampilan Alrega dan Zen dengan sebelah mata. Seandainya Sella tahu kedudukan dua laki-laki itu, tentu ia tidak akan berani bersikap demikian.


Alrega melirik pada Zen sekilas, laki-laki itu memahami maksud Tuannya, hingga ia mengusir Sella dari tempatnya saat itu juga. Sementara Alrega tak melepaskan tatapan matanya dari Sella, hingga gadis itu hilang dari pandangannya.


Kedua pria itu kini sudah berada dalam mobil mewah, yang jendelanya dibiarkan terbuka. Mobil itu berjalan dengan perlahan ketika keluar area gedung.


Alrega menoleh kearah Sella, saat mobil melintas di depannya. Gadis itu berdiri di trotoar, dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa sengaja, tatapan mereka saling beradu. Sella membalas tatapan tajam Alrega sambil membenarkan letak topi hitam yang menutupi dikepalanya.


Alrega kembali menatap gadis itu lekat dengan ekspresi wajah yang serius, gurat tajam di alis matanya seolah menebal, sehingga jarak antara mata dan alisnya seolah menempel.


Tatapan mereka tetap bertahan dan mengunci, sampai kendaraan berlalu menjauh dari tempat itu.


"Kau tahu siapa wanita itu, Zen?" Tanya Alrega pada Zen, yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang, membelah jalanan.

__ADS_1


"Wanita yang mana, maksud Tuan?" Tanya Zen sambil melihat Alrega dari balik spion depan.


"Wanita gembel tadi?" Jawab Alrega sambil menutup jendela mobil kembali.


"Oh, wanita itu? Saya kurang memperhatikannya. Maaf, Tuan."


"Apa kau tidak melihat name tag dibajunya?"


'Dia memang memakai seragam pegawai kebersihan, tapi aku belum pernah melihatnya selama ini'


''Tidak, Tuan. Apa ada yang menarik?"


"Dia mirip wanita hamil itu," jawab Alrega sambil menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.


"Wanita hamil yang mana maksud, Tuan. Tidak ada wanita hamil, yang berurusan dengan Anda, kan?"


"Ada, kalau kau masih ingat, kejadian dua tahun yang lalu." Alrega berkata sambil mengusap wajahnnya.


'Apa? Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini. Delisa juga kembali.'


"Apa anda bisa yakin?" Tanya Zen sambil melirik Alrega lagi.


"Dari matanya, itu tatapan mata yang sama,* jawab Alrega lirih.


Tatapan mata seperti sebuah jendela yang jadi jembatan antara orang yang ditatap dengan telaga segala rasa, yang ada di dihatinya. Ia akan menarik siapapun untuk masuk kedalamnya, tapi disaat ia mulai terjebak di sana, maka tak seorang pun mampu menyelaminya.


"Anda selalu teliti seperti biasanya."


"Bawa wanita itu besok keruanganku. Aku ingin bicara dengannya."


"Apa kesalahannya akan Tuan buktikan, kali ini?"


"Ya. Aku tidak akan melepaskan dia lagi."


Ia berkata lagi untuk memastikan agar ia tidak salah langkah.


"Apa yang akan Anda lakukan padanya, dulu Anda menyuruh saya untuk melepasnya, kenapa sekarang Anda ingin menemuinya?"


"Apakah Deli kembali?" Alrega balik bertanya.


'Bagaimana Tuan bisa tahu, padahal aku sudah menyembunyikan berita itu? Aku yakin perempuan brengsek itu tidak akan berani berhadapan dengan Tuan lagi'


"Sudah, tuan."


"Hmm..."


"Saya yakin, Delisa tidak akan berani menemui Tuan lagi."


"Kau seyakin apa? Ingat, kau tetap harus waspada, jangan sampai kau lupa, dia perempuan seperti apa?"


'Ck! Kalau melihat kelakuannya selama ini, dia pasti akan mengganggu Tuan lagi, kelakuannya menjijikkan, seharusnya dia malu kalau masih punya hati'


"Baik, saya akan lebih berhati-hati," jawab Zen sambil mempercepat laju kendaraan.


-


Di trotoar depan gedung Art Design Group. Sella menerima panggilan dari ponselnya. Ia berkata setelah benda pipih itu menempel ditelinga.


"Halo. Rere. Aku di trotoar depan."


"Kenapa kau kesana?" Tanya suara dibalik ponsel.

__ADS_1


"Aku diusir orang tadi. Ayo pulang, sudah sore "


"Baiklah," kata suara diseberang telepon, setelah itu telepon ditutup.


Tak lama Rere, berjalan mendakat. Ia seorang perempuan yang sudah memiliki seorang bayi, ia berambut sebahu dan berwajah bulat.


Ia menghampiri Sella dan tersenyum manis, dan berkata.


"Ini, bajumu. Kembalikan bajuku besok ya?" Ia mengasongkan baju Sella yang sudah ia bersihkan di ruang kebersihan gedung. Baju itu terkena tumpahan saus saat mereka menikmati makanan di pinggir jalan.


"Ck! Mana bisa. Aku kembalikan kapan-kapan saja, besok ada banyak barang yang harus kuantar," sahut Sella, sambil memasukkan bajunya ke dalam tas kain, yang ia selempang kan dipundaknya.


"Kau selalu punya alasan."


"Aku akan mengembalikan bajumu besok, tapi kau bayar hutangmu. Oke?" Kata Sella dengan kedipan mata jahilnya.


Rere biasa berhutang beberapa barang kebutuhannya pada Sella diakhir bulan. Sella bekerja dengan menjalani usaha membuka satu toko yang menjual bahan-bahan pokok. Ia mengikuti perkembangan zaman dan menjual barang dagangan secara online.


Saat Rere berhutang, Sella akan mengantark pesanannya ke tempat Rere bekerja. Sella melakukan semua itu karena Rere adalah sahabat lamanya, ibu mereka juga berteman dengan baik.


"Ah, lupakan. Kembalikan bajuku kapanpun kau mau. Dasar pemeras!"


"Siapa yang memerasmu, Nona? Aku menyayangimu, sampai-sampai aku membiarkanmu selalu berrhutang padaku. Bahkan aku ingin menciummu!"


"Ciumlah, asal aku tidak perlu membayar hutangku." Rere menjawab sambil memajukan wajahnya mendekat pada Sella.


"Sialan! Ayo pulang. Kalau sudah malam aku tak akan mengantarmu pulang."


Sella biasa mengatarkan Rere pulang kalau kebetulan ia memesan barang padanya. Kedua sahabat itu seperti ibu dan anak saja.


"Baiklah." Rere mengikuti langkah Sella ke halaman parkir, tampat motor tua milik Sella berada.


Dua sahabat itu mengendarai motor yang melaju dijalanan, menuju rumah Rere sambil berpelukan. Kalau saja tidak ada kejadian dua tahun yang lalu, mungkin Sella masih bekerja di sana bersama sahabatnya itu.


Sesampainya di rumah Rere, mereka disambut dengan suara tangis anak kecil, yang merengek ingin digendong ibunya. Anak kecil itu berlari kearah Rere dan memeluknya. Rere hidup bersama dengan keluarganya yang bahagia, terdiri dari ibu, suami dan seorang anak perempuan.


"Jadilah ibu yang baik, jangan meninggalkan anakmu terus dengan neneknya. Ibumu bukan pengasuh," kata Sella, ia tidak turun dari motornya.


"Kalau aku tidak bekerja siapa yang akan membeli susunya? Kami juga masih harus membayar uang sewa." Rere cemberut, rumahnya memang masih mengontrak.


"Kau bisa membuka usaha sepertiku. Jadi kau tidak perlu meninggalkan anakmu."


"Ya, aku juga mau seandainya aku punya modal sendiri."


'Ah, seandainya kamu tahu bagaimana aku mendapatkan modal usahaku, mungkin kamu tidak mau berteman dengan orang sepertiku.'


Sella teringat sekilas tentang perbuatannya dua tahun yang lalu. Saat itu ia melakukan sebuah penipuan karena terpaksa, tapi kejahatan tetaplah kejahatan apapun alasannya.


"Re, aku hanya teringat ibuku. Sekarang, setelah aku tidak lagi bekerja diluar rumah. aku lebih bisa mengawasinya dengan baik. Aku hanya tidak mau ibuku sakit terus menerus. Hanya dia orang tuaku"


"Kau masih punya dua adik yang menyayangimu, kan? Jangan lupakan mereka." kata Rere sambil menggendong anaknya masuk. Ia mengemasi beberapa barang pesanannya yang ditaruh dalam kantong plastik.


Mendengar kata-kata Rere, Sella tertawa. Kadang ia suka lupa kalau adik-adiknya, yang ia anggap merepotkan itu juga menyayangimya.


"Terimakasih ya. Salam buat ibumu!' Kata Rere mengakhiri obrolan mereka.


Rere masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sella yang akan memacu sepeda motornya, ia juga akan segera pergi.


Sella seorang gadis berhati lembut, ia selalu memikirkan orang lain lebih dari memikirkan dirinya sendiri. Semua pengalam pahitnya dimasa lalu yang menempa kepribadiannya menjadi gadis yang ramah dan kuat. Tapi ia selalu waapada bila berhubungan dengan lawan jenis, seolah-olah ia memiliki antena dikepala.


__ADS_1


Bersambung


__ADS_2