Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 105. Malaikat Pencabut Nyawa


__ADS_3

Saat Zen maju mendekat, Loni mundur, begitu terus hingga punggung Loni menyentuh dinding. Ia pun tidak bisa bergerak kemana-mana lagi, Zen mengurungnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di sisi kanan dan kiri kepalanya.


Zen menatap lekat gadis dalam penjara tangannya, sambil menggerakkan dagu ke depan. Ia menyeringai lalu berkata dengan suara rendah penuh tekanan.


"Kau anggap aku apa? Aku ini majikanmu, tahu?!"


Tentu saja Sella sadar akan hal itu, sebagai pembantu, ia baru saja selesai membereskan rumah dan melayani tamu istimewanya.


'Ck! Justru karena kau majikanku, makanya aku menjaga sikap, tidak mungkin kan, aku melakukan apa yang dikatakan Sella tadi, kalau aku harus meminta maaf walau aku tidak salah, atau menuruti kata-kata Sella, aku harus bersikap manis, tersenyum dan memeluknya ... Yang benar saja'


"Maafkan saya Tun. Kalau menurut Anda, saya memang salah"


"Nah itu kau tahu, kalau kau salah."


"Jadi apa yang bisa saya lakukan, untuk Tuan sekarang?"


"Hmm, apa yang bisa kamu, lakukan yang bisa kau lakukan ... ayo cium aku sekarang!"


'Aahk, aku tidak seberani itu ... menciummu? Aku tidak mau! Aku bukan wanita seperti itu'


"Maafkan saya Tuan, tapi saya ... saya tidak punya hak sama sekali untuk melakukan itu, saya hanya bawahan dan asisten Anda, seharusnya anda melakukan hal seperti itu dengan orang yang anda sukai." Loni bicara dengan lugas, tanpa menatap Zen, matanya ke sana kemari.


'Seharusnya kau tahu, kalau aku meminta itu padamu, berarti aku menyukaimu, dasar bodoh. Ahk, ya, istri Tuan Rega juga bodoh, apa semua wanita bodoh seperti ini?'


Karena Zen tidak juga menjawab, Loni berkata lagi, sambil menghindar dari kungkungan tangan Zen, namun usahanya sia-sia, Zen tetap membuatnya tidak bergerak.


"Maafkan saya Tuan, saya hanya menghormati Anda. Anda adalah orang yang sangat baik, yang saya kenal selama ini dan saya belum pernah menjumpai orang sebaik Anda seumur hidup saya."


Loni tidak ingin mencederai penghormatan dirinya pada Zen dengan berbuat yang tidak bermoral dengan menggodanya.


Selesai berkata demikian, Lonny diam, Zen juga diam, tapi tatapan mereka seperti berbicara. Banyak huruf-huruf bertemu di atas kepala dan pandangan mereka pun seperti sebuah anak panah, yang melesat dari busurnya tepat mengenai sasaran dan pecah di udara, rasa suka itu ada!


Tanpa sadar Zen mencium bibirnya sekilas, ia tidak bisa mengendalikan diri. Setelah sadar dengan gerakan tubuhnya yang tidak terkendali, ia menatap Loni. Gadis itu mengerutkan alisnya sambil mengusap bibir dengan punggung tangannya.


Zen berdehem dengan keras, mencoba menghilangkan rasa gugup, baru kali ini ia merasakannya. Ia pun mengusap bibirnya dengan jemari tangannya, lalu pergi begitu saja. Membuka pintu, sambil melirik Loni, lalu menutupnya dengan perlahan sama seperti saat ia membukanya tadi, tanpa suara, pelan sekali.


***


Pagi itu di meja makan, saat sarapan. Mereka bertiga Sella, Alrega dan Zen, duduk menikmati makanan yang disediakan Loni. Setelah melayani mereka, Ia duduk di sudut ruang makan, menunggu perintah bila para majikan membutuhkan sesuatu.


Suasana tampak sangat tegang. Zen yang terlihat berulang kali melirik Loni, ketahuan oleh Sella. Loni selalu menundukkan mukanya. Sella menduga, ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua. Loni sangat berbeda, dari saat pertama ia melihatnya.gga


'Ada apa dengan mereka, apa mereka sudah melakukan sesuatu, pasti bada yang terjadi pada mereka semalam, kenapa aku tidak heran?'


"A, ayo Loni, ikut lah bersama kami," kata Sella, sama seperti kemarin, ketika mereka sedang makan malam. Loni hanya mengangguk kemudian ia tersenyum. Seperti biasanya, ia bersikap sebagaimana layaknya seorang asisten rumah tangga, yang baik dan menghormati para majikan.

__ADS_1


Sella tidak bisa berbuat apa-apa karena sang tuan rumah juga bersikap cuek dan angkuh, seolah-olah Loni dan dirinya tidak ada di sana.


Alrega mengusap kelapa Sella, membuat suasana sedikit mencair. Beberapa kali mencoba menyuapi Sella yang terpaksa menerima suapan dari suaminya. Walaupun, ia sangat malu karena Zen dan juga Loni, memperhatikannya. Saat ia menolak, ketika Alrega menyuapinya, maka pria itu akan mendekatkan bibir ke pipinya, sambil berkata, "apa kau menolakku. Padahal aku sudah susah-susah menyuapimu?" suaranya lembut, tapi menuntut. Selalu saja seperti itu.


'Ya, kalau susah ya tidak perlu, aku tidak minta disuapi juga!'


Pemandangan seperti itu berlangsung sampai sarapan penuh drama itu selesai.


"Tun, apa kita pergi ke gudang, sekarang?" Zen berkata setelah mengelap bibirnya dengan tissu.


Mereka sudah merencanakan perjalanan selanjutnya ketika berada di perpustakaan semalam. Mereka tidak mungkin berada di rumah itu sampai batas hari berakhir, masih banyak yang harus mereka lakukan.


Alrega tidak menjawab, bahkan seolah-olah ia tidak mendengar Zen bicara. Pria itu, justru menoleh pada Sela, mengambil selembar tisu dan mengusap bibir Sella masih basah setelah menghabiskan minuman di gelasnya. Setelah selesai, ia masih mengusap bibir itu dengan ibu jarinya.


Kemesraan antara mereka berdua yang seperti sengaja diperlihatkan oleh Alrega, membuat iri Zen serta Loni. Mereka terlihat menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Alrega dengan lembut berkata pada Sella, "apa kau masih ingin ikut denganku, atau ingin pulang saja?"


"Euum, memangnya kamu mau kemana?" Sella tampak berpikir.


"Aku mau bertemu Delisa." Alrega berkata sambil melirik Zen.


"Delisa, memangnya dia ada di mana?" Tanya Sella, sambil melirik Zen juga.


"Kalau kau ingin tahu, ikut aku sekarang."


"Kau yang akan menentukan nasibnya."


"Aku? Mengapa harus aku, terserah kalian saja, atau terserah Delisa, dia mau mati atau hidup, terserah, aku tidak peduli!"


"Kalau kau memang tidak peduli padanya, maka katakan pada Kakek, kalau kau tidak peduli padanya, biarkan kakak yang mengurusnya."


Mendengar ucapan Alrega, Sella berdiri, sambil menggelengkan kepala, ia berkata, penuh rasa kecewa sekaligus tidak percaya. Air mata tiba-tiba saja menggenang di pelupuknya.


"Kakek? Apa hubungannya dengan Kakek, apa Kakak sudah tahu, begitu maksudmu?"


Rasa malu dan takut yang sempat hilang sejak kemarin, kini muncul lagi. Sella malu karena semua orang sudah tahu, bahwa dialah sang penipu, di pesta pernikahan hampir tiga tahun yang lalu.


Alrega tidak menjawab Sela dan tidak perduli dengan Loni yang jadi penasaran dengan masalah mereka, juga Sella karena melihat temannya itu menitikkan air mata.


Tangan Alrega terulur untuk mengamit tangan Sella, lalu berdiri, sambil berkata dengan ucapan yang tegas dan dan singkat.


"Zen, ayo pergi!" Lalu melangkah meninggalkan meja makan dan tidak menoleh lagi.


"Baik, Tuan." Zen mengikuti Alrega setelah melirik Loni dan meninggalkannya.

__ADS_1


Mereka sudah berada di dalam mobil, dengan posisi duduk seperti biasanya. Sella melanjutkan tangisannya, tidak percaya bahwa Kakek Mett berurusan juga dengan semua yang dialaminya.


Saat kejadian dan ia sudah pergi dengan Rejan kala itu, ia berpapasan dengan sebuah mobil, di pintu gerbang utama, tapi ia tidak tahu siapa yang ada di dalamnya. Seandainya ia tahu bahwa yang ada di mobil itu kakek Mett dan tahu kejadian selanjutnya, mungkin dia tidak akan terkejut, ketika Alrega mengatakan bahwa Delisa bersama dengan orangtua itu di gudangnya.


Masih dengan tangisannya, Sella berkata, "apalagi yang kau sembunyikan dariku kali ini, apa kakek juga tahu, apa yang terjadi pada diriku dan siapa aku sebelum kau menikahiku?"


"Hmm ...." Alrega bergumam.


Nada suaranya penuh dengan kekecewaan. Ia merasa begitu tertipu lagi, karena Alrega tidak mau membicarakan semua padanya. Dalam hati ia berkata, dia memang penipu dulu, tapi setelah itu dia tidak pernah menipu, ataupun, berbohong lagi pada siapapun. Namun sekarang, ia seperti ditipu berkali-kali oleh orang yang sudah ia cintai.


'Kenapa, kau tidak mengatakannya dari awal, aahk, aku malu sekali, bagaimana harus berhadapan dengan Kakek. Pasti Kakek kecewa karena akulah orang yang sudah menipu dan memfitnah cucunya'


Alrega pun menceritakan bahwa sebelumnya, kakeknya memang tidak mengetahui siapa Sella karena penyelidikannya ia serahkan sepenuhnya pada Alrega. Kemudian ia meyakinkan bahwa Sella adalah orang yang tidak bersalah, ia hanya terpaksa melakukan penipuan itu dan menjelaskan juga bahwa Delisa pelaku yang sebenarnya. Setelah itu, kakek Mett pun percaya, karena memang dia sudah menyukai gadis seperti Sella.


"Kau tidak perlu khawatir, tidak usah sedih seperti ini," katakan Alrega, sambil memeluk Sella dan mengusap-usap kepalanya, lembut.


"Jadi, Kakek tahu kalau aku tidak bersalah?"


"Iya, tentu saja." Mereka bicara saling menatap dalam pelukan.


Setelah mendengar penjelasan dari Alrega, Sella pun merasa lega karena ia tidak perlu malu dengan kakek Mett. Laki-laki tua itu sudah sangat baik kepadanya, bahkan dialah yang membuat Sella pertama kali Ia berpikir, bahwa, ada laki-laki yang berbeda dari ayahnya, dialah kakek Mett, ia menilainya dari sikap Alrega kepadanya.


Sesampainya di gudang.


Sella melihat keadaan Delisa yang sangat mengenaskan. Dia terlihat sangat kusut dan kotor sejak dua hari yang lalu ia tidak mandi, idak membersihkan diri juga tidak mengganti pakaiannya. Mungkin, bila mendekat padanya, akan tercium sesuatu yang membuat hidung kembang kempis menahan aroma menyengat dari tubuhnya.


Delisa duduk seperti orang linglung, yang menatap Sella penuh kebencian. Kedatangannya, seperti menggantikan tugas malaikat pencabut nyawa. Sella berdiri berhadapan dengannya, sedangkan di samping kanan dan kirinya, Zen, kakek Mett dan Alrega mendampingi seperti ajudannya.


"Sese, apa yang akan kita lakukan pada wanita ini, dia sudah menjebakmu," kata Kakek Mett.


"Siapa yang menjebaknya. Aku tidak pernah menjebak siapapun, Rega! Kau harus percaya padaku. Aku tidak pernah memaksanya, dia sendiri yang mau menipumu!" Sahut Delisa sambil berlutut.


"Apa aku boleh bertanya padanya, Kek?"


"Kau mau bertanya apa padanya, tanyakan saja." Kakek Mett menjawab dengan ekpresi menahan geli melihat Delisa.


Wanita yang lembut dan anggun itu ternyata tega mempermalukan keluarganya.


"Delisa, aku heran mengapa kau mengatakan semuanya di depan semua orang? Padahal aku sudah mengingatkanmu, waktu kita bertemu di taman kota dulu. Kita juga sepakat tidak akan membuka rahasia ini dan menyimpannya rapat-rapat selamanya." Sella menjeda ucapannya, menarik napas baru melanjutkannya kembali.


"Aku heran, mengapa kau justru membukanya di depan semua orang dan menyakiti semua orang yang ada di sana, bahkan sekarang perbuatanmu menyakiti dirimu sendiri, apa kau puas?!"


Delisa tidak menjawab ia hanya berpaling dari orang-orang yang berdiri di depannya. Ia sadar kalau ia tidak akan pernah mendapat keadilan seperti yang diinginkannya.


Tidak ada keadilan di dunia ini yang mengikuti kata hati seseorang, itu omong kosong. Bahkan pengadilan tertinggi sekali pun tidak akan bisa berlaku adil untuk semua orang. Sebab adil bagi satu orang, belum tentu adil bagi yang lainnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2