Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Eps 58. Maafkan Aku


__ADS_3

Sella tidak menjawab, matanya memang terpejam, tapi Alrega masih bisa melihat bulu matanya yang panjang itu masih bergerak-gerak, menandakan ia belum tidur.


Sella tahu maksud Alrega untuk tidak berbuat salah lagi adalah tidak menolaknya, tidak menolak semua keinginanya termasuk menyerahkan dirinya.


Tentang menyerahkan diri sepenuhnnya, hanyalah karena ia belum siap, untuk mengandalkan Alrega demi hidupnya, ia tidak ingin menjadi parasit yang menumpang makan tanpa melakukan sesuatu apapun dan lakukan kesalahan yang sama seperti ibunya, hingga ketika tempat ia bergantung pergi maka ia akan mati begitu saja.


"Jawab dengan jujur. Aku tidak akan bicara kalau kau memang sudah tidur," kata Alrega, sambil melepaskan tangannya dari genggaman Sella, kini tangannya yang menggenggam tangan Sella.


"Aku belum tidur tapi aku sudah mengantuk."


"Oh begitu?" Alrega berkata dengan cemberut terlihat ia sedikit marah.


Sella tidak ingin dihukum kembali hingga kemudian ia menoleh, sambil membuka matanya kembali, dan berkata,


"Bicaralah."


Sella tahu akan percuma membohongi Alrega.


"Kalau kau sudah mengerti, maka gunakan kartu yang kuberikan, jangan menolak lagi," kata Alrega.


"Baik,"


'Memangnya akan aku pakai buat apa kartu itu di sini tidak ada gunanya'


"Jangan pernah tidur di sofa lagi, kecuali kau memang senang aku menggendongmu setiap hari."


"Hmm, baiklah. Maaf merepotkan."


"Kau senang sekali meminta maaf?" kata Alrega sambil tertawa dan mendekap tubuh Sella sangat erat dan menumpangkan satu kakinya diatas paha Sella, ia teringat apa yang dilakukan Sella sebelumnya saat meminta maaf. Lucu.


Sella menjadi sulit bernafas, karena dekapan Alrega, wajahnya berada di dada Alrega sehingga ia bisa mendengar detakan jantungnya yang kuat dan cepat.


Ia mendongak pada Alrega dan berkata, "lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas."


Alrega mengendurkan pelukannya, menurunkan kelopak matanya dan menundukkan kepalanya perlahan, lalu mulai menciumi seluruh wajah Sella yang sedang mendongak padanya. Aroma tubuh Alrega memenuhi rongga hidung Sella. Wanita itu sudah terbiasa dengan wanginya, tapi kali ini membuat debaran jantungnya semakin kuat seolah-olah berpadu dengan debaran jantung Alrega.


Alrega menghentikan ciumannya lalu ia menatap wajah Sella dan bertanya, "Apa yang dikatakan nenek?"


Sella dengan cepat menyahut, "aku kan sudah menjawab mu. Mengapa kau bertanya lagi sekarang?"


Alrega sudah menanyakan tentang apa yang dibicarakannya dengan nenek, saat di meja makan tadi, tapi saat itu Sella hanya menjawab bahwa nenek hanya mengajaknya mengobrol.


"Jawablah dengan jujur ... " kata Alrega dengan suara rendah.


'Apa dia tahu soal itu?'


"Apa kejujuran seperti itu penting, itu hanya sebuah kalung tidak ada artinya. Kau seperti tidak pernah berbohong saja"


"Apa artinya kau berbohong padaku. Dan kalau aku pernah berbohong padamu, memangnya apa yang bisa kau lakukan?"


"Mungkin aku akan meninggalkanmu, karena kau selalu menuntutku untuk jujur, padahal kau sendiri berbohong padaku."


Alrega menarik nafas dalam sejenak, dan memejamkan matanya, ia belum bisa jujur pada Sella tentang hal itu, karena ia akan mengungkapkannya suatu saat nanti dengan caranya sendiri. Tapi ia tidak ingin Sella pergi.


Pria itu tidak menunggu jawaban dari Sella, namun yang ia lakukan justru menumpukan bibirnya pada bibir Sella, menekannya dengan kuat sehingga Sella menyerah dan membuka bibirnya, memberikan akses pada Alrega untuk melakukan apa yang ia inginkan. Ciumannya semakin lama semakin dalam. Sella berusaha mengimbangi ciumannya dengan mencoba bernafas disela-sela gerakan bibir Alrega.


Saat ciuman sudah berlangsung cukup lama, Sella mendorong tubuh Alrega sekuat tenaga, karena ia sudah sangat kehabisan oksigen. Alrega pun menghentikan penciumannya dan menatap Sella dengan mata yang berkabut.


Ia berkata, "apa kau menolakku lagi, apa kau masih belum mau menyerah?"


'Menyerah seperti apa yang kau maksudkan. Bukankah aku sudah menyerah sekarang dalam hukumanmu?'


Ditanya seperti itu Sella tampak seperti orang yang linglung. Ia tidak bisa bicara seolah lidahnya kelu.


"Apa kau tidak menyukaiku? Atau kau membenciku? Kau senang sekali dipaksa ya?"


Alrega memberinya pertanyaan beruntun, tapi ia hanya diam, membuat Alrega semakin gemas dengan sikapnya.


"Apa kau senang aku berbuat kasar dan menyiksamu seperti tadi?"


Sella tetap diam, tubuhnya seperti membeku, sehingga akhirnya Alrega menarik selimut, menutupi tubuh Sella juga dirinya.


Ia pun berkata, " tidurlah ... !" kemudian ia berbalik membelakangi Sella, sambil mencoba meredam minatnya.


Melihat Alrega seperti itu, ketakutan akan kemarahannya kembali muncul dibenak Sella, dengan perlahan ia menggeser tubuhnya, berinisiatip untuk memeluk Alrega dari belakang, dan melingkarkan tangannya dipinggang Alrega, sambil berkata,

__ADS_1


"Bukan begitu ... aku menyukaimu ..."


'Apa kau puas sekarang, sialan?'


Alrega diam sejenak mendengar apa yang Sella ucapkan, lalu secara perlahan membalikkan badannya kembali sambil tersenyum ia berkata,


"Coba katakan lagi."


"Ya, aku menyukaimu."


'Dasar menyebalkan!'


Alrega menatap Sella penuh arti sambil membelai pipinya kembali dan membiarkan tangan Sella tetap berada di pinggangnya, tubuh mereka berdua mulai dijalari hawa panas.


Alrega saat itu hanya diam namun hatinya yang bicara, ia akan menanggung semua beban deritanya, semua masa lalunya dan semua masalahnya, ia ingin Sella hanya mengandalkannya, ia ingin menyelesaikan apapun yang menjadi kekhawatirannya.


"Kau hanya harus percaya padaku." Hanya itu kalimat yang akhirnya keluar dari mulutnya.


"Hmm.." Sella bergumam sambil mengangguk, lalu membenamkan wajahnya di dada Alrega dan lebih mengeratkan pelukannya.


Sella mengecup dada Alrega yang dilapisi oleh piyama sutra yang tipis sehingga terasa kulitnya yang hangat saat disentuh oleh bibirnya. Sikap Sella yang seperti ini membuat Alrega menelan salivanya. itu seperti sebuah isyarat baginya untuk memiliki Sella seutuhnya malam ini. Ia menendang selimut dengan kakinya, lalu menundukkan kepala dan kembali melancarkan ciumannya di bibir Sella.


Setelah cukup lama ia menghisap bibir Sella semuanya, ciuman Alrega pun merambah turun ke leher dan memberikan beberapa cubitan kecil di sana sehingga menimbulkan bekas kemarahan. Tangannya secara aktif membuka kancing piyama Sella dan melepaskannya sehelai demi sehelai, begitu juga dengan pakaiannya sendiri.


Ia melihat dada Sella yang terbuka, ia pernah melihat sebagian dada itu dulu, saat Sella terluka gigitan ibunya, tapi yang ia lihat sekarang seakan jauh lebih indah, karena gundukan dada itu kini tanpa penutup apapun diatasnya. Alrega mengusap pundak Sella dengan lembut dan menciumi bagian itu lebih lama, sambil memejamkan mata seolah ingin menghilangkan rasa sakitnya.


Sella hanya melihat apa yang dilakukan suaminya dengan hati berdebar, mereka berdua sama-sama polos, saling melihat penuh minat, dan karena malu, Sella memejamkan matanya yang membuat Alrega tersenyum sambil menurunkan belaiannya di dada Sella.


'Oh Tuhan, ini indah sekali. Ahk ... aku tidak bisa menahan memainkannya, sepertinya aku tidak akan puas padanya. Hss...ini nikmat ... hanya dengan memegangnya saja. Ini pas sekali ditanganku'


Ia tidak berhenti membelai dada Sella dengan tangannya ia pun memainkannya dengan mulutnya.


Tanpa sengaja Sella mengeluarkan suara aneh dari mulutnya yang membuat Alrega lebih semangat dalam menjalankan aktifitasnya.


Sella menerima semua tindakan Alrega pada tubuhnya, menikmati setiap sentuhan dan belaian, juga ciuman pada kulitnya. Hingga Alrega benar-benar melakukannya


Rasa sakit tetap ia alami walau Alrega melakukannya dengan lembut, beberapa saat lamanya, ia menahan rasa sakit itu sambil merintih. Alrega tidak tega melihat Sella meringis kesakitan, hingga ia menghentikan gerakannya, tapi ia meminta agar Alrega meneruskannya, hingga keinginannya terpuaskan.


Setelah selesai menuntaskan keinginannya, Alrega menyelimuti tubuh mereka berdua sambil berkata, "Tidurlah."


***


Keesokan harinya, Sella membuka matanya perlahan sambil mengumpulkan nyawa, yang pertamakali ia lihat adalah dada putih Alrega. Ia terbangun dan menyadari bahwa dirinya masih berada dalam pelukannya. Ia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit agar terbebas dari tangan dan kaki yang tengah membelitnya.


Alrega tiba-tiba merubah posisi tidurnya hingga Sella bernafas lega dan ia turun dari tempat tidur dengan sambil memakai pakaiannya yang terserak karena sisa pergulatan mereka semalam. Ia dengan cepat membersihkan diri, mengganti pakaian dan mengambil langkah cepat ke kamar Zania sebelum Alrega terbangun.


Sampai di kamar Zania, ia mendapati wanita itu masih tidur dengan nyenyak.


"Apa Ibua terbangun terus tadi malam?" tanya Sella pada perawat.


"Tidak Nona. Malam ini nyonya tidur sangat tenang, ini sudah terjadi beberapa hari terakhir. Nyonya tidak pernah terbangun di malam hari lagi, hanya untuk menangis dan berteriak." kata perawat itu sambil tersenyum.


"Syukurlah," kata Sella. "Lalu, apa obat yang biasa ia munum sudah dikurangi dosisinya oleh dokter?"


"Ada beberapa obat yang tidak lagi diberikan pada Nyonya oleh dokter Nia."


"Apa ibu masih mengigau?"


"Masih, tapi kali ini Nyonya mengigau dengan kalimat yang cukup jelas."


"Begitu? apa yang ia katakan?"


"Nyonya memanggil nama Tuan Rega."


Mendengar semua yang dikatakan perawat, Sella melangkah ke balkon jendela kamar yang tertutup. Bahkan kain tirai penutupnya pun tidak mudah di buka. Ia berfikir akan lebih mudah membiarkan Zania beradaptasi dengan alam, sebelum bertemu lagi dengan anggota keluarganya, karena dengan melihat reaksi Zania ketika melihat keluar jendela, maka ia akan tahu kesiapan Zania bertemu dengan mereka, satu-persatu. Tapi menggumamkan nama Alrega, apa maksudnya.


'Apa ada hubungannya denganku yang mengatakan sebagai menantunya? Apa itu artinya ibu mau menerima kami berdua sebagai pasangan?'


"Bisakah kita membuka jendelanya, sekarang? Hanya tirainya saja. Aku yang tanggung jawab." kata Sella sambil mencoba membuka kain tirai yang seperti dipaku pada kayu jendelanya.


'Ya Tuhan. Yang benar saja ... ?'


Beberapa lama sudah mereka berusaha membuka tirai, hingga akhirnya tiraipun berhasil dibuka. Dan begitu Zania terbangun, Sella memeluknya dengan erat dan mengajaknya berbicara sambil duduk menghadap jendela. Awalnya, Zania terlihat mengerutkan alisnya, tapi kemudian Ia tampak bisa saja. Bahkan seolah menganggap jendela itu memang seperti ini adanya.


Melihat reaksi Zania sesuai harapan, Sella dan semua yang ada di sana bernafas lega. Mereka tidak harus khawatir akan adanya kejadia lain yang membahayakannya. Apalagi jendela itu digembok, sehingga tidak mungkin bagi Zania, bisa membukanya.

__ADS_1


Saat itu Zania menunjuk sebuah gambar bunga anggrek yang tergantung di dinding kamar, membuat Sella menilai bahwa Zania menyukainya.


"Apa ibu menyukai bunga anggrek?" tanya Sella dan Zania mengangguk.


'Tapi yang ada dalam gambar itu adalah anggrek hitam yang langka yang hanya tumbuh di derah tropis Asia tenggara?'


Di Kaki Langit juga ada tanman anggrek yang langka, tapi anggrek hitam, Sella tidak melihatnya.


'Inilah saatnya aku akan tahu apa manfaat dari kartu saktimu, tuan Al'


Sella meninggalkan Zania dan segera memasuki kamarnya. Ia ingin meminta izinnya untuk pergi ke suatu tempat. Dan ketika sampai di kamar, ia melihat Alrega masih menggeliat diatas tempat tidurnya. Sella menghampirinya di sisi tempat tidur.


"Sudah bangun, sayang?"


"Dari mana saja, kau. Apa kau tidak kesakitan semalam? Sepagi ini sudah keluyuran!" tanya Alrega sambil duduk disisi tempat tidur.


Sella terkejut tanpa suara, mendengar apa yang dikatakan Alrega. Perkataan yang cukup fulgar itu membuat Sella sangat malu, karena seolah-olah dirinyalah yang memulainya terlebih dahulu semalam, tanpa ia tahu memang seperti itulah yang diinginkan Alrega.


"Sudah, jangan pikirkan aku." kata Sella sambil mengulurkan sehelai handuk pada Alrega untuk menutupi tubuhnya.


Alrega berdiri, sambil melilitkan handuk dipinggangnya, lalu medekatkan wajahnya pada wajah Sella, lalu berkata,


"Kau bilang apa?"


Sella mundur perlahan, sambil menggelengkan kepalanya. Alrega terus mengikuti langkahnya hingga Sella berhenti karena punggungnya menyentuh dinding. Lalu Alrega mengurungnya dengan kedua tangannya yang menempel di dinding.


"Kau tidak perlu memikirkanku." jawab Sella, ia sedikit takut dan menundukkan kepalanya.


"Jangan memikirkanmu? Kau ingin aku tidak memikirkanmu?!" Alrega mengulangi pernyataan Sella sambil mendekat kan wajahnya, hingga hidungnya menempel.


'Hei, memangnya kenapa kalau tidak memikirkanku?'


"Baiklah, baiklah. Aku sakit. Tapi aku baik-baik saja." kembali ketopik pertama.


"Apakah sangat sakit?" tanya Alrega sambil melingkarkan tangan kepinggang Sella, suaranya melunak dan menciumi seluruh wajah Sella penuh kasih sayang.


'Kau menggemaskan sekali kalau seperti ini'


"Sudah tidak seberapa." kata sella lirih, malu.


"Maafkan aku..." Alrega mengeratkan pelukannya.


"Tidak perlu meminta maaf. Ini akan sembuh setelah beberapa hari lagi ... " jawab Sella, tanpa merespon pelukan Alrega.


"Apa? Beberapa hari, apakah akan lama?" panik, mengendurkan pelukan dan menatap dengan mengernyitkan keningnya.


"Tidak lama."


'Kata ibu sekitar dua atau tuga hari, kenapa kau panik sekali?'


"Aku akan menciummu sebagai tanda kita bisa melakukannya lagi."


Alrega tersenyum puas, ia yakin akan mendapatkan ciumannya secepat mungkin. Ia mencium bibir Sella sekilas lalu pergi membersihkan diri.


Sella melihat ke tempat tidur, kain sprei yang melapisinya terkesan kotor hingga ia berniat untuk menggantinya dengan sprei yang bersih. Ia hampir menyelesaikan pekerjaannya ketika Alrega selesai mandi. Laki-laki itu melihat onggokan sprei kotor dilantai dan Sella yang tengah menggantikan kain pelapis tempat tidur mereka.


"Apa yang kau lakukan, itu bukan tugasmu, banyak pelayan yang bisa mengerjakannya." kata Alrega ketus.


"Tidak masalah, aku sudah biasa mengerjakan tugas seperti ini."


"Kenapa?"


"Aku malu, ada noda di sprei itu." kata Sella sambil menghentikan kegiatannya sejenak menatap Alrega.


"Kenapa harus malu. Itu wajar kan?"


"Iya, itu wajar. Tapi orang akan heran karena melihat tanda ini sekarang."


"Oh," kata Alrega sambil menarik bahu Sella menghadap ke arahnya. "Jadi kau malu, karena aku baru melakukannya sekarang dan bukan saat malam pengantin waktu itu? Begitu maksudmu?"


"Itu...bukan itu maksud _ _ " terputus.


'Jadi benar dia yang mengambil fotoku saat aku tidur di kamar hotel? Siaal...! aku belum sempat mengganti nama diponsel. Kenapa aku bisa lupa'


"Apa? Kau menyesal kita melakukannya baru tadi malam, ha?" Alrega mencengkeram bahu Sella lebih kuat.

__ADS_1


__ADS_2