
Sejak berada di pantai dan juga di hotel, saat Alrega membawa tubuh Sella yang pingsan. Ia selalu menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak biasa.
Alrega menyelimuti tubuh Sella dengan jas miliknya, begitu ia keluar dari mobil tadi.
Kini, mereka berada dalam satu lift menuju kamar hotel pribadi Alrega. Dokter Henry dan seorang perawat perempuan, tiba di hotel itu secara bersamaan dengan kedatangan Alrega dan Zen, hingga tidak aneh kalau sekarang berada dalam lift itu bersama.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya dokter Henry, begitu lift mulai bergerak naik.
"Anda tanya saja dengan, Tuan," tukas Zen sambil mengedikkan bahunya.
"Aku dengar apa yang kalian bicarakan," kata Alrega, melirik Zen dan dokter Henry bergantian.
Zen dan Henry akhirnya tidak mengobrol lagi, memilih diam dari pada memancing kemarahan. Rasa penasaran Henry dengan sesuatu yang terjadi, ia tahan sekuat hatinya.
Dokter Henry, sudah cukup lama menjadi dokter keluarga. Laki-laki itu sudah berumur, tetapi begitu akrab dan dekat dengan Zen juga Alrega. Ia memang seorang dokter berpengalaman, tapi di keluarga Leosan, ia tetaplah seorang pegawai yang dibayar. Oleh karena itu, dokter Hendri tetap menghormati Alrega sebagai majikannya walaupun, usianya lebih muda.
Alrega kuat bertahan membopong Sella seorang diri, sejak keluar mobil sampai berada di kamar pribadi, yang terletak di lantai paling atas gedung miliknya.
Sesampainya di sana, Alrega menidurkan Sella, dengan hati-hati, ia tak ingin wanita yang pingsan itu terluka.
"Lakukan tugasmu." Alrega berkata sambil melepaskan jas yang menutupi tubuh Sella.
Henry melakukan tugasnya, memeriksa dan menganalisa keadaan Sella, yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Sementara Alrega duduk di sisi tubuh Sella, dengan setia memperhatikan tindakan Henry padanya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Henry menoleh pada Alrega yang sibuk mengusap-usap kepala Sella.
Sementara perawat sibuk memasang selang infus untuk Sella.
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa dia tidak makan, lambungnya kosong tidak terisi apapun dari pagi, atau mungkin dari kemarin dia tidak makan?"
Mendengar penjelasan Henry, Alrega mendongak sambil terpejam dengan kedua jemari tangan yang terkepal.
"Kenapa dia pinsan, apa dia baik-baik saja?" Ia berkata, setelah mencoba untuk tenang.
"Dia baik-baik saja kalau dia makan, tapi dia butuh istirahat sekarang."
Alrega mendengar ucapan dokter Hendri, sambil memperhatikan perawat, yang hendak menusukkan jarum infus ke tangan Sella, spontan saja ia menahannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" katanya, membuat perawat yang sedang memegang jarum infus, menghentikan gerakannya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, Rega. Apa yang kau lakukan?" Dokter Henry mendengus, sambil berdiri di sisi ranjang dan menepis tangan Alrega, yang berusaha menahan tangan asistennya.
Ketika menghubunginya tadi, Zen berpesan, agar Dokter Henry membawa seorang perawat perempuan untuk membantunya. Alrega tidak ingin istrinya banyak disentuh oleh dokter Henry yang berjenis kelamin laki-laki.
Bagi sebagian orang hal yang tidak wajar dipanggil di tengah malam buta untuk bertugas memenuhi keinginan orang lain, tapi siapa yang bisa menolaknya kalau orang itu adalah Alrega.
Sebenarnya, Henri baru saja pulang dari menjalani tugasnya di rumah sakit, saat Zen memintanya datang. Ia baru saja hendak tidur dan sangat malas meladeni, ketika teleponnya berdering berulang kali.
Namun, setelah mengetahui kalau panggilan itu dari Zen, ia tidak bisa menolak karena itu adalah panggilan darurat. Benar saja, saat ini ia harus menangani nona muda yang sangat berharga.
"Kau ini masih sayang atau tidak, apa kau mau membiarkan dia mati?" Kata Henry lagi. "Istrimu ini harus mendapatkan infus, pergi sana, kalau kau memang tidak bisa melihatnya."
"Dasar cerewet!" Umpat Alrega sambil beranjak dari tempat tidur, sementara asisten perawat sudah selesai memasang jarum infusnya.
Ia tidak bisa melihat Sella menahan sakit atau terluka.
"Dia dehidrasi, lambungnya kosong, dia juga kurang tidur, denyut nadinya lemah, tekanan darah juga rendah. Kau harus menjaganya kalau memang sayang, jaga dia baik-baik ... aku kira dia hamil tadi." Henry berkata sambil berjalan keluar kamar, menuju ruang di mana Zen duduk sambil nonton televisi.
"Aku belum tahu pasti, itu hasil analisa sementara. Kalau kau mau kepastian istrimu hamil atau tidak, kau bisa beli alat tes kehamilan saja."
'Kupikir dia seperti ini karena hamil dan laki-laki mengerikan ini terus memaksanya. Untung saja tidak, aku harus memberikan peringatan sebelum dia hamil dan berakibat lebih buruk lagi'
Henry mengenal Sella pertama kali, saat ia datang untuk memeriksa keadaan Zania, yang kambuh serta syok berat karena kedatangan Delisa. Kesan pertama yang muncul ketika bertemu dengan nona muda itu adalah bahwa dia gadis baik dan lemah lembut, sederhana dan tegas.
Henry tidak tahu apa, yang melatarbelakangi pernikahan Sella dan Alrega karena, ia melihat sedikit jarak dan bahasa tubuh yang canggung antara keduanya.
Ia bahkan merasa aneh melihat wajah Sella, yang sangat jelas menunjukkan rasa tertekan berada di dekat Alrega.
Akan tetapi berbeda dengan saat ini, Alrega terlihat sangat menyayangi dan begitu mengkhawatirkan istrinya.
Ia tahu, Alrega akan melakukan apa pun untuk Sella sebagai bukti cintanya. Henry melihat semuanya, bagaimana Sella, sudah berjuang sedemikian rupa untuk kesembuhan Zania.
"Ingat, jaga dia baik-baik, jangan memaksanya terus dan jangan membuatnya terlalu lelah, apalagi kalau kau mau dia cepat hamil."
"Aku tidak membutuhkan nasehatmu, aku tahu apa yang aku lakukan."
__ADS_1
Saat mereka berbincang bincang, mereka sudah berada di sekitar Zen dan duduk saling berhadapan.
"Kalau kau tahu, kenapa dia sampai seperti ini? dia dehidrasi, kekurangan makanan dan cairan, kalau dia tidak cepat ditolong, mungkin bisa mati."
"Hmm ..." Alrega menjawab dengan gumaman, sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Zen," kata dokter Hendri lagi sambil menepuk bahu Zen. "Kau tahu, ada rumah sakit kecil yang sudah kamu lewati sebelum sampai ke hotel. Kau bisa singgah, biarkan dokter lain memeriksa Nona muda, lebih cepat lebih baik, tidak harus jauh-jauh memanggilku ke sini."
"Maaf Dokter, Tuan Rega kan trauma, tidak mau ke rumah sakit, sejak kematian Kakek waktu itu apa anda lupa?"
Kakek Nigiro Leosan meninggal di rumah sakit, di usianya yang sudah sangat tua. Sebenarnya hal itu adalah wajar, hanya saja Alrega menanggapinya berlebihan. Ia menganggap pihak rumah sakit tidak becus dalam menangani kakeknya. Padahal, seberapa banyak uang yang dimiliki manusia tidak akan pernah bisa membeli sebuah nyawa.
Memang waktu itu Alrega hanya berpikir, seandainya uang dan kekayaan yang ia miliki, bisa membeli nyawa kakek Leosan kembali, maka ia akan melakukannya.
Selalu seperti itulah uang dan harta, ia hanya bersifat sementara. Bahkan manusia terlahir dan kembali mati pun, tidak membawa apa yang sudah ia usahakan, dengan susah payah di dunia.
Kakek adalah kelengkapan keluarga, tanpanya seolah keluarga tidak bernyawa. Alrega sangat menyayanginya. Dia adalah pria luar biasa baginya.
Ia tidak memiliki banyak saudara kandung, ia adalah anak tunggal. Sedangkan selebihnya hanya saudara sepupu dari pihak ayah dan saudara sepupu dari pihak ibu, hanya Yorin seorang.
"Tuan!" Tiba-tiba asisten Henry memanggil Alrega, ia berteiak dengan menjulurkan kepalanya.
Alrega menoleh dan beranjak dari tempat duduknya. Begitu juga dengan dokter Henry. Dua orang laki-laki itu mendekati perawat dan bertanya, secara bersamaan.
"Ya, ada apa?"
"Pakaian Nona, kotor, apa boleh, Tuan, saya mengganti bajunya?" Perawat itu berkata sambil menunjuk pakaian dan kaki Sella yang penuh dengan pasir. Ia tadi sempat marah, berlutut beberapa kali dan duduk di pasir pantai tanpa alas kaki.
"Baiklah, ganti saja." Henry berkata sambil melangkah mendekati Sella dan membuka peralatannya yang masih disimpan di atas tempat tidur belum dirapikan kembali.
"Apa maksudmu? Keluar sana!" Alrega berkata sambil menarik pangkal lengan Henry sekuat tenaga.
"Ahk ...!" Pekik Henry.
"Dokter!" Jerit perawat itu sambil menatap nanar ke arah Henry.
bersambung
__ADS_1