
Sella melanjutkan merangkai bunga yang sangat besar, dibantu oleh beberapa pelayan dan orang yang sudah biasa mengerjakannya untuk pesta. Sebenarnya Sella tidak perlu melakukannya, ia hanya ingin bersenang-senang saja.
Ia seperti ibunya, senang dengan berbagai macam tanaman hias. Dulu, ketika ia masih remaja, ia senang menanam banyak bunga di halaman rumah bersama ibunya. Ia memiliki koleksi tanaman hias yang bagus.
Ketika kejadian perceraian kedua orang tuanya, hobinya sedikit terabaikan, bahkan ia menjual koleksi bunga hiasnya. Sekarang, setelah tinggal di Kaki Langit cukup lama, Sella bisa kembali menekuni minatnya.
Alrega mendekati Sella, lalu duduk di sampingnya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja dan hendak pergi ke kamar, ketika ia melihat Sella tengah merangkai bunga.
Ia meraih tangan wanita yang masih sibuk memegang setangkai bunga mawar di tangannya, seraya berkata, "Kau tidak perlu mengerjakannya."
Sella menarik tangannya kembali dan menyahut, "Aku senang mengerjakannya, kenapa tidak boleh?"
"Sudah banyak orang, kau suruh saja mereka."
"Tapi aku senang. Ini pekerjaan yang membuat perempuan menjadi hidup."
"Tapi kau juga tidak akan mati kalau tidak merangkai bunga."
"Iya, iya." Sella menyimpan bunga mawar di meja.
Ia mengerti kalau Alrega tidak suka melihat Sella bekerja, atau melakukan hal yang bisa dilakukan oleh pembantu dan pelayan. Ia hanya ingin Sella melakukan sesuatu untuk dirinya.
Sella memegang tangan Alrega dan menatap matanya dengan tajam, lalu berkata, "Aku senang merangkai bunga. Aku dulu suka melakukannya dengan ibuku. Jadi, biarkan aku menyelesaikannya. Oke?"
Alrega me*rem*mas tangan Sella dan berkata, "Nanti kamu capek."
"Tidak," Sella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak capek, aku senang sekarang."
"Benarkah?"
Sella mengangguk, dan Alrega mengalihkan pandangannya. Melihat reaksi Alrega itu, Sella hanya mengedikkan bahu dan kembali meneruskan pekerjaannya merangkai bunga.
Semua bunga akan diletakkan di area pesta di mana pesta akan di gelar. Tapi bunga yang dirangkai oleh Sella, akan ia simpan di kamarnya sendiri dan juga kamar Zania. Itu bunga yang dirangkai dengan penuh kasih sayang.
Alrega menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melihat Sella menikmati kesukaannya. Sinar mata redup menunjukkan sesuatu ketidaknyamanan yang sangat kentara. Kemudian ia meraih ujung rambut Sella memainkan di ujung jarinya, sambil menggumam sesuatu yang tidak jelas.
Sella menoleh dan berkata, "Ada apa, apa yang mengganggumu?"
"Aku akan pergi malam ini."
'Oh, benarkah, apa kau akan mengajakku? Sepertinya tidak ya, apa karena itu kau bingung? Ah yang benar saja. Aku tidak apa, pergilah!'
"Kemana?"
"Mioshen."
__ADS_1
"Oh, jauh sekali. Kapan pulang?"
"Besok, sebelum pesta di mulai, aku pasti sudah datang."
"Apa bisa secepat itu?"
"Bisa, aku pakai pesawat pribadi kita."
'Apa dia bilang, pesawat pribadi kita? Ah, yang benar saja'
Sella mengangguk, ia sudah tidak heran bila keluarga Leosan, akan memiliki hal-hal seperti pesawat pribadi. Apalagi Alregaa adalah seorang pebisnis ulung, yang memang membutuhkan transportasi cepat dan bisa diandalkan untuk menyelesaikan semua urusan.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan pakaian yang akan kau bawa," kata Sella sambil beranjak dan menggamit tangan Alrega, membawanya ke kamar.
Setelah sampai di kamar, Alrega menutup pintunya dan ia tidak membiarkan Sella menjauh. Ia memeluk Sella, menyimpan dagu di bahunya sambil berkata, "Kau tidak usah repot-repot menyiapkan bajuku, Pak Sim sudah membereskan semuanya, dia tahu apa saja yang biasa kubawa."
"Oh iya. Tentu saja."
Alrega menunduk dan melihat wajah Sella dalam diam, ia ingin menyimpan wajah yang sekarang ada di depannya untuk dibawanya dalam hati sebelum ia pergi.
"Ada apa, lagi?" Sella tidak mengerti mengapa Alrega memandangnya. Ia hanya tersenyum merasa sudah dikagumi, dengan tatapan yang serius seperti ini.
Alrega tidak menjawab, tetapi ia menempelkan bibirnya, dengan lembut dan berhas*sarat, penuh cinta, di bibir Sella, menyatukan lidah dan saling bertukar ludah. Pria itu menghisap bibirnya, dengan kuat seolah itu ciuman pertama atau terakhirnya. Beberapa kali mereka memutar posisi kepala, dalam menikmati ciumannya.
Ingin sekali Alrega membawa Sella bersamanya, tapi itu tidak mungkin karena Zania lebih membutuhkannya.
Sella melepaskan ciuman Alrega setelah mereka sama-sama perlu untuk bernafas. Lalu mereka menyatukan kening sambil memejamkan mata.
"Apa kau akan pergi sekarang juga?" Tanya Sella sambil menghirup nafas pelan.
"Hmm ...."
"Apa kau sendirian?"
"Hmmm ...?"
'Awas, kalau punya wanita lain di belakangku!"
"Tidak mungkin aku punya wanita lain, kalau kau ada di sampingku?" Alrega berkata sambil menyipitkan matanya, seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya, ia seperti cenayang yang meramalkan sesuatu dimasa yang akan datang dengan tepat.
Tiba-tiba Sella merasa enggan di tinggalkan Alrega, seandainya boleh, ia pasti akan ikut bersamanya. Perasaan tidak tenang dan tidak nyaman, semakin kuat. Sementara Alrega tidak mungkin untuk tinggal saat itu juga.
Alrega harus pergi karena memenuhi permintaan seseorang. Orang itu ingin bertemu langsung dengannya. Pertemuan yang sangat penting karena menyangkut urusan surat Daville yang hilang. Ia tidak bisa membatalkan kesepakatan bersama antara mereka, ia ingin menyelesaikan urusan Daville secepatnya.
Sebenarnya pesta itu bisa menjadi potensi Zania tidak tenang. Meskipun demikian, Sella bisa diandalkan untuk menjaga dan merawat Zania bila ia akan mengamuk atau berbuat yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Sella memeluk erat tubuh suaminya, penuh dengan rasa kasih sayang yang hangat. Mengucapkan selamat jalan dengan caranya, dengan mengatakan, "Hati-hatilah di jalan, jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju teras, dimana Zen sudah menunggu di samping mobilnya seperti biasa. Pak Sim membawa koper milik Alrega dan menyimpannya di bagasi mobil. Zen membukakan pintu dan Alrega.
Alrega masuk sambil menarik Sella, ke dalam mobil, hingga wanita itu terhenyak. Ia kembali sadar, ketika Zen menutup pintunya dan Alrega kembali mencium bibirnya selama beberapa saat.
Setelah Alrega melepaskan ciumannya, Sella menepuk bahunya sambil berkata, "Semoga semua urusanmu cepat selesai."
"Hmm ...." Alrega mengangguk.
"Cepatlah pulang."
"Kau mau aku cepat pulang, kenapa?"
'Hais, kenapa kau harus bertanya juga?'
"Aku, aku pasti rindu, sayang."
"Bagus."
'Bagus, bagus apanya?'
Sella keluar mobil dengan menahan gejolak aneh di hatinya, ia semakin menginginkannya disaat ia harus merelakannya. Ia melambaikan tangannya saat mobil mewah itu bergerak pergi meninggalkan rumah.
Sella melangkah kembali ke dalam, setelah mobil Alrega sudah benar-benar hilang dari pandangan. Diiringi Pak Sim yang berjalan di sampingnya.
"Kenapa ya, Pak. Perasaan saya tidak enak."
"Jangan berfikir buruk, Nona. Pasti semua baik-baaik saja."
"Mudah-mudahan. Oh iya, Pak. Tolong bawakan minuman soda dingin ke kamar saya. Bisa, kan?"
"Baik, Nona. Jangan sungkan."
Sella berkata sambil melirik pekerjaan merangkai bunga yang belum selesai. Semangatnya menurun, membuat Sella membiarkan para pelayan yang melanjutkan.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nona."
Sella belum sempat menapaki anak tangga menuju kamarnya, ketika ia mendengar nenek dan Yorin bicara. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah dua wanita yang tengah duduk di sofa besar di ruang Televisi berada.
"Kau jadi mengundang Delisa?" Nenek bertanya sambil menikmati tehnya.
"Nenek, aku tidak tidak mengundangnya, aku tidak ingin dia merusak pesta."??
__ADS_1
Bersambung