Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 142. Terima Kasih Sayang


__ADS_3

Sella berdiri di depan meja rias di kamarnya, melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya baru saja selesai di rias oleh penata rias yang sengaja di datangkan ke Kaki Langit, pagi itu. Bukan hanya Sella yang yang mendapat perlakuan khusus, tapi dua wanita lain yang ada di kediaman keluarga Leosan juga.


Penata rias memberikan sentuhan lembut pada wajah Sella, tidak terlalu mencolok, hingga ia tampak murni dan anggun, kecantikan yang sederhana memancarkan ketenangan seperti menyeita perhatian semua mata yang melihatnya.


Gaun yang dipakai Sella, merupakan rancangan terbaru Sellondra yang khusus ia rancang khusus untuknya hari ini. Ketika perancang busana terkenal itu mengunggah rancangannya ke akun media sosialnya, seorang selebritis dunia menginginkannya. Tentu saja wanita itu tidak akan memberikannya, walaupun tokoh dunia itu akan menghargai gaun istimewa Sella, dua kali lipat dari harga yang di bayar Alrega.


Gaun berwarna coklat muda senada dengan stelan jas Alrega itu, terbuat dari bahan pilihan dan ditaburi berlian Swarovski yang dihancurkan. Menyebar ke seluruh bagian membuat gaun itu seolah bertabur bintang. Pas sekali di tubuh Sella, membuatnya tampak memesona. Rambutnya dibiarkan terurai dengan jepit rambut kecil berbentuk bintang, di sisi kanan kepalanya.


“Apa kau senang?” tanya Alrega, sambil memeluk Sella dari belakang, Mereka sudah siap hendak pergi ke acara peresmian AlSalra Infotainment and Studio. Alrega sudah mengenakan jasnya, ia tampak lebih tampan dari biasanya dengan dasi kupu-kupunya.


Sementara para perias pergi meninggalkan ruangan karena tugas mereka sudah selesai. Membiarkan pasangan itu berdua saja di kamar.


“Ya, aku senang. Lalu apa kejutannya?” Sella menjawab sambil memutar badannya, lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Alrega.


“Jangan menggodaku, ya! Aku tidak akan menciummu.” Jawab Alrega sambil mengeratkan pelukannya.


“Kenapa?” Sella berkata sambil mencium pipi sebelah kiri Alrega.


“Nanti riasanmu rusak.” Alrega melepaskan pelukan dan menatap Sella dari ujung rambut sampai ujung kaki istrinya. Satu kesimpulannya bahwa wanita yang ada di hadapannya itu, cantik!


“Biarkan, tidak apa-apa ... cium saja kalau kau mau menciumku.”


Alrega tersenyum mendengar ucapan Sella, ia pun sebenarnya ingin melakukan itu dan tidak perduli akan terlambat atau tidak. Hanya saja ia kasihan melihat Sella harus duduk selama lebih dari satu jam untuk merias wajahnya. Ia tidak tega merusak semuanya. Apalagi misinya kali ini adalah untuk memenangkan hati istrinya, agar wanita itu tidak akan pernah pergi dan berpaling darinya. Seperti dirinya yang hanya akan mencintai satu wnita , untuk selamanya.


Alrega menunduk sedikit untuk mencium lembut pipi dan kening Sella, setelah itu ia mengaitkan jarai-jari tangan mereka.


“Ayo!” karyanya, lalu turun menuju tangga, di mana semua keluarga sudah menunggunya, di ruang keluarga, termasuk Mett Haquel. Mereka berdiri berjajar, seolah sedang menunggu kedatangan seorang ratu di istana raja.


“Kakek? Kalian ....” gumam Sella dengan rasa haru dan takjub. Ia tidak menduga kalau semua anggota keluarga hadir dan suasan rumah dipenuhi bunga dan balon.


‘Kapan mereka melakukannya?’


Sella tidak tahu bahwa selama dirinya dinrias, semua pelayan sibuk melakukan semua perintah Alrega, bahkan menghias tangga dengan balon dan pita pun dilakukan hampir tanpa suara.


“Apa ini kejutan yang kau maksudkan, Sayang?”


“Ini belum seberapa.”


Mendengar jawaban Alrega, Sella hampir tak percaya, ia merasa istimewa dengan semua yang ia alami sekarang, tapi ternyata masih ada kejutan istimewa lainnya.


Zania memulai memberikan ucapan selamat dan memberikan kadonya, disusul Yorin, lalu Flinna, Rejan, Runa, Rwhandy, dan terakhir kakek Mett dan Rika, wanita yang dulu pernah menjadi asistennya, juga Rere, sahabat yang sengaja Zen undang untuk datang ke Kaki langit bersama Lonisa’ sebagai pelengkap.


Saat sampai di hadapan pria tua yang sangat mengesankan baginya, Sella berkata, “Kakek, kau tidak perlu melakukan ini padaku,” Sella memeluk kakek Alrega itu sejenak, karena Alrega sudah menarik tubuhnya agar tidak berada di tangan kakeknya lebih lama lagi.


“Lihat, Rega cemburu dan aku hanya memberikan ini untukmu,” Mett berkata sambil menyerahkan tanda bukti kepemilikan toko herbal dan barang antik miliknya.


“Kakek, ini terlalu berlebihan.”


“Tidak, sungguh ini layak untukmu. Kau sudah banyak berkorban demi kami semua di sini.”


Mereka semua memberikan hadiahnya masing-masing, saat memeluk Rere dan Lonisa serta Rika, adalah orang-orang yang tidak pernah ia duga akan datang hanya untuk mengucapkan selamat padanya. Bahkan Sella hampir menangis.


“Bagaimana kalian semua bisa ada di sini, si?” ketika Sella bertanya seperti itu, jawaban mereka sama, “ceritanya panjang.”


Zen yang melakukan semuanya dengan rapi dan teratur, dari mulai pemberitahuan, penjemputan semua orang, bahkan pakaian pun ia siapkan untuk melaksanakan semua keinginan Alrega.


Sella menerima semua ucapan dan do’a dari mereka satu-persatu. Semua kado dikumpulkan di tangan seorang pelayan, dan menyimpannya di kamar Alrega. Sella membalas pelukan serta ucapan mereka, dengan hati gembira.


Setelah semua selesai, Sella mengikuti langkah kaki Alrega menuju mobil yang sudah Zen siapkan, seperti biasanya. Begitu juga semua orang mengikuti dari belakang dan menaiki kendaraan, yang sudah disiapkan untuk mereka masing-masing.


Sepanjangan perjalanan, pasangan yang baru saja memulai babak baru perjuangan cinta mereka itu, terus bercakap-cakap. Sedangkan Zen yang duduk di kursi pengemudi hanya diam seperti biasanya.

__ADS_1


“Sayang, akan kemana lagi kita, kupikir semua yang aku terima tadi sudah cukup mengejutkan.”


“Kau akan melihatnya nanti.”


“Jangan bilang kau Cuma datang ke restoran dan makan siang di sana, atau belanja di mal.”


“Kenapa?”


“Aku tidak mau, aku masih kenyang.”


“Kau belum mendapatkan apa pun dariku, kenapa kau tidak bertanya?”


“Yaah?” Sella tiba-tiba merasa kata-katanya tercekat di tenggorokan. Dia tidak menginginkan apa pun, kasih sayang Alrega dan ketika pria itu mengingat hari lahirnya saja sudah merupakan sesuatu yang sangat disyukurinya, sehingga ia tidak pernah berniat menagih hadiah apa pun lagi darinya.


“Aku tidak mau apa pun darimu ...”


“Benarkah, itu artinya kau tidak membutuhkan aku? Kau tidak menginginkan aku, begitu?”


“Eh, bukan begitu maksudku. Aku tidak menginginkan hadiah darimu, bukan berarti aku tidak membutuhkanmu.”


‘Tentu saja aku butuh karena sekarang aku hamil, siapa yang akan menjadi ayahnya bila aku tidak membutuhkanmu, Al?’


“Lalu, apa?”


“Ah, sudahlah.”


Sella malas menanggapi Alrega lagi, walaupun awalnya dia sendiri yang memulai percakapan. Kejutan yang tadi saja sudah membuatnya tercengang, lalu apalagi sekarang? Dia tidak bisa menduga lebih jauh karena pikirannya hanya terbatas pada restoran dan pusat perbelanjaan yang biasa digunakan untuk merayakan pesta kejutan bagi sepasang kekasih.


Akhirnya sampailah mereka di sebuah gedung megah dengan konsep bangunan kembar yang mirip dengan bangunan khas setiap gedung Nigiro grup. Di jalan-jalan sekitar dan di halaman gedung itu telah ramai manusia yangberlalu-lalang dengan aktivitas mereka masing-masing.


Gedung itu kini dihiasi dengan berbagai ornamen dengan gaya unik dan menunjukkan sebuah hubungan antara dua orang yang bersahabat atau antara ibu dan anak.


Berbagai bunga, balon dengan berbagai warna dan bentuk, serta ucapan selamat memenuhi setiap sisi gedung.


Sella melihat ke sekeliling ia tak percaya berada di tempat itu, sebuah pemandangan yang luar biasa memanjakan mata dan sanubarinya. Begitu ia dan Alrega berjalan, semua penjaga berbaris menyambutnya dan menhalau beberapa orang yang melintas untuk memberikan jalan bagi rombongan keluarga.


“Ini Daville?” Sella merasa mengenali tempat itu, namun terlihat sangat berbeda.


“Bukan, ini AlSalra.”


“Apa?” Sella sangat terkejut, dengan semua yang dia dengar. Itu adalah nama yang dia lontarkan secara acak dan tidak menduga bila Alrega benar-benar menjadikannya sebagai nama gedung baru ini. Sella begitu tersanjung.


Saat berjalan, secara tidak sengaja, Sella menangkap bayangan Hanza, sosok yang dikenal, bahkan pernah menolongnya ada di sisi jalan, berdiri diantara kerumunan orang. Akan tetapi ia tidak bisa menghampirinya.


Banyak sekali masyarakat sekitar yang mengikuti acara besar ini. Beberapa tokoh dan anggota masyarakat juga turut hadir. Tentu saja mereka sangat antusias mengingat banyaknya makanan, hadiah dan souvernir yang akan di bagikan secara gratis.


“Kau akan meresmikan gedung baru ini sekarang?” Sella bertanya setelah mereka duduk di tempat yang sudah disediakan khusus untuk mereka dan juga beberapa keluarga yang lain.


Tempat duduk mereka dan semua anggota keluarga, mengarah pada halaman gedung, di mana sebuah panggung besar di didirikan di sana untuk memulai acara peresmian.


“Apa kau terkejut?” tanya Alrega sambil menoleh pada Sella.


“Iya, kau berhasil membuatku terkejut. Terima kasih.”


“Nanti saja, terima kasihnya. Ini belum selesai.”


Sella kembali tertegun mendengarnya, tapi ia segera berkata, “Seharusnya aku tidak perlu hadir di sini, aku tidak ada hubungannya dengan semua ini.”


“Siapa, bilang?” tandas Alrega, dia yang tahu bila kehadiran Sella sangat diperlukan untuk acara itu.


Sementara di sisi yang lain, hadir pula dokter Henry yang juga bertanya-tanya, atas dasar apa dirinya diundang di acara peresmian gedung baru yang tidak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. Sejak tadi dia hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti. Selama ini Alrega tidak pernah melibatkan dirinya dalam urusan bisnis apa pun.

__ADS_1


Acara pun di mulai, setelah semua tamu VIP hadir. Suara MC sudah menggema di sekitarnya dari alat pengeras suara. Dia menjelaskan kan tentang konsep dan maksud didirikannya bangunan. Menjabarkan manfaat dan fungsinya sebagai pusat kegiatan entrepreneur dan beberapa studio atas nama Alrega dan Sella.


Begitu MC menyebutkan namanya, Sella kembali terkejut dan bertanya, mengapa dia harus terlibat di dalamnya? Ia merasa tidak mengetahui apa-apa tentang dunia itu. Ia akhirnya berpikir mungkin inilah kejutan Alrega yang sesungguhnya.


Setelah mengatakan semua yang harus disampaikan, akhirnya sampailah pada acara dimana peresmian akan dilaksanakan. MC memanggil nama Alregan dan mempersilahkan pemilik perusahaan itu untuk maju.


Saat itu Alrega berkata dengan berbisik di telinga Sella, “nanti, kalau aku panggil namamu maka naiklah ke atas panggung!”


Setelah berkata demikian ia berdiri dan melangkah dengan tegap dan tenang, menuju panggung peresmian, seolah-olah langkah kakinya menghisap perhatian semua orang. Pada saat itu Alrega terlihat gagah sekaligus anggun secara bersamaan.


Layar panggung di belakang Alrega, ditutupi oleh kain berwarna putih yang dihiasi dengan banyak sekali balon beraneka warna, kain itu menutupi sebuah nama yang akan terbuka secara otomatis dan balon menerbangkan sebuah spanduk bertuliskan nama gedung, AlSalra .


Alrega memberikan sebuah sambutan singkat tentang bagaimana usahanya, hingga gedung itu selesai tepat pada waktunya.


Dia pun mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat, baik keluarga, pihak arsitektur, pegawai dan para pekerja yang setia, termasuk semua masyarakat sekitar. Sebab tanpa bantuan dari semua pihak, pembangunan gedung dan semua hal yang ia rencanakan untuk mendirikan perusahaan itu tidak akan terlaksana sesuai keinginan.


“Terima kasih atas semua pihak yang sudah bekerja keras bersama, hingga akhirnya saya bisa mempersembahkan gedung ini ... untuk pendamping saya, istri saya yang tercinta ... Sellamirani dan juga calon buah hati kami!”


Sambil berkata demikian, Alrega berjalan menuruni tangga, sementara itu Zen menunduk hormat kepada Sella dan berkata, “Nona ... silahkan berdiri dan menghampiri Tuan.”


Mendengar namanya disebut di tempat seperti itu sungguh diluar dugaan, sekali lagi Sella terpana, hingga hampir menitikkan air mata. Dia pun berjalan mendekati panggung dengan langkah yang gemetar karena tidak terbiasa berada di tempat seperti itu.


Melihat istrinya gugup Alrega segera meraih tangan dan bahunya, lalu berjalan bersama ke atas panggung. Saat itu pula seluruh halaman dipenuhi dengan tepuk tangan yang meriah dan siulan dari beberapa penonton termasuk dokter Henry.


Dokter yang berusia setengah abad itu kini tersenyum lebar lalu mengangguk, tanda dia mengerti maksud dirinya di undang di acara peresmian kali ini, adalah karena Alrega ingin menunjukkan padanya bahwa sekarang dia bahagia bahkan bisa memiliki anak.


Setelah mereka berdua berdiri di atas panggung, Alrega pun mengucapkan kembali kata-katanya. “Sebenarnya, hari ini adalah hari ulang tahun istri saya dan ini hadiah untuknya ... saya harap menjadi hadiah yang indah baginya.”


Alrega berhenti sejenak, melihat wajah Sella yang memerah entah karena malu atau karena sinar matahari.


“Selain itu, saya pun ingin kelak gedung ini menjadi manfaat dan kenangan yang manis, sampai kami tutup usia nanti.”


Kembali Alrega melangkah mendekati podium, sambil berkata, “ini juga hadiah dari kehamilanmu, sayang.” mengusap perut Sella yang masih rata.


Seketika itu juga wajah Sella merona lebih merah dari sebelumnya. Ia malu karena suaminya melakukan hal itu di atas panggung dan dilihat semua orang yang jumlahnya mencapai ratusan!


“Maka dengan ini, saya resmikan gedung AlSalra untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya!” kata Alrega sambil menuntun tangan Sellla dan menekan sebuah tombol berwarna merah, yang ada di atas podium, secara bersamaan.


Saat itu pula suara sirine menggema bersamaan dengan lepasnya balon-balon ke udara. Lalu, tirai penutup pun terlepas, sehingga tampaklah papan nama yang bertuliskan AlSalra Infotainment and Studio yang cukup besar, dengan ukiran yang sangat indah, menarik perhatian semua orang.


Sella kembali terpanah menatap papan nama di belakangnya, kemudian ia menatap Alrega dengan perasaan bangga, sekaligus tak percaya. Tanpa sadar hingga ia memeluk Alrega, untuk sementara dia tidak perduli dengan sekitar, merasa hanya ada mereka di atas panggung. Suara tepuk tangan dan siulan yang menggema menyadarkan dan melepas pelukannya.


“Terima kasih sayang, aku senang sekali,”ujar Sella dengan senyum lebarnya, dan tatapan hangat menyelimuti wajahnya.


“Benarkah? Apa kau meminta yang lain lagi?” tanya Alrega sambil menaikkan alisnya.


Sella menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Tidak ada yang lain lagi. Ini cukup.”


“Sepertinya kau lupa, tapi baiklah aku akan mengatakannya sekarang.”


“Apa itu?” Sella bertanya sambil mengerutkan keningnya, sementara mereka masih berdiri berhimpitan di atas panggung, dengan kedua tangan saling bertaut.


“Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Nah, kau dengar? Aku sudah mengulanginya sekarang.”


Sella kini ingat, bahwa dulu Alrega pernah mengatakan cinta padanya, entah disadari atau tidak. Namun saat Sella meminta agar Alrega mengulanginya, laki-laki itu tidak mengabulkannya. Lalu hari ini ia mendengar sendiri Alrega mengatakan dengan setulus hati bahkan di depan semua orang.


Itu adalah keinginan Alrega, misinya sudah selesai, menunjukkan pada semua orang dan juga kolega bisnisnya agar tidak main-main dengan Sella. Mulai saat ini mereka harus tahu bagaimana bersikap bila bertemu dengan perempuan itu di manapun berada.


“Ya, sayang. Terima kasih. Aku juga mencintaimu dengan seluruh hidupku!” kata Sella sambil kembali memeluk Alrega.


TAMAT

__ADS_1


***Terima kasih sudah membaca karyaku. Semoga kalian suka. Mampir di karyaku yang lain "Jerat Tanda Cinta" sebuah kisah cinta yang dibumbui tentang mitos tahayul dimasyarakat***


__ADS_2