
Sella memalingkan pandangan dan mengabaikan Alrega. Ia beranjak pergi ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai kepala. Ia menghindari kontak mata langsung, dengan bola mata Alrega yang hitam dan dalam. Ia tahu pasti, tatapan mata tajam itulah yang selama ini selalu membuatnya menyerah.
Ia masih marah dan ia ingin menang dengan kemarahannya, sebab ia memang tidak salah kali ini.
Apa salahnya menyukai binatang, apa salahnya menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu? Tidak ada salahnya juga membantu Yorin, ia tidak salah!
Sella benar-benar kesal, ia tidak mau mencari tahu alasan yang membuat Alrega marah lagi padanya.
Sebenarnya laki-laki itu tidak marah, sifatnya memang susah mengontrol emosi. Hanya orang yang terdekat saja yang bisa memahaminya.
"Apanya yang bukan urusanku?!" kata Alrega ketus.
Ia mengikuti Sella ke tempat tidur, duduk disebelahnya dengan menopang tubuh menggunakan kedua lututnya. Ia membungkuk mencoba menyibakkan selimut yang menutupi dikepalanya.
"Semua urusanmu itu jadi urusanku," kata Alrega lagi setelah berhasil mebuka selimutnya.
'Terserah!'
Sella diam tidak bergerak, menyembunyikan wajahnya lebih dalam, menggunakan bantal.
"Apa kau tidak mau menjawab, ha?"
'Tidak Sudi!'
Alrega menunggu beberapa saat. Sementara Sella masih bertahan dengan posisinya.
"Kamu mau seperti ini terus?!"
'Suka-suka akulah. Kamu saja berbuat sesukamu, ck!'
"Kamu marah?! Seharusnya aku yang marah, tahu?!"
Alrega berkata sambil beringsut dari tempat tidur dan membanting bantal serta guling ke arah Sella.
Ia mendengus kesal saat menyadari wanita itu tidak bergerak seolah tidak ada yang terjadi. Ia berdiri di pintu, diam di sana, bertahan dengan keegoisannya yang tinggi.
Ia tidak mungkin mengatakan secara terus terang, bahwa ia menginginkan Sella hanya untuk dirinya, ia gengsi mengatakan bahwa Sella seperti malaikat dan bidadari surga. Ia tidak pernah memuji orang lain seperti ini. Tidak.
Apalagi kalau ia harus mengatakan, ia cemburu pada semuanya, ibu, kakek, Yorin dan anak singa. Gengsi, seolah bumi akan menelannya bila mengatakannya. Tanpa sadar ia sudah berkonspirasi pada dirinya sendiri, sebuah konspirasi besar, dengan mengingkari kata hati.
Ceklek! Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, lalu ...
Bukk! Suara pintu ditutup dengan cara dibanting keras.
Suara pinltu dibuka dan ditutup, yang hampir bersamaan itu, membuat Sella terkejut. Spontan ia mengangkat separuh badannya dan melihat ke arah pintu.
Ada sedikit rasa kecewa ketika ia merasa Alrega mengabaikannya. Sebenarnya ia ingin melihat sejauh mana usaha pria itu membujuknya.
Melihat kenyataan bahwa Alrega pergi begitu saja, Sella memilih untuk mengabaikannya juga dan menyenangkan dirinya sendiri saja.
'Ah, dia marah lagi. Baik, pergilah sana, aku mau santai sekarang'
__ADS_1
Menyadari tidak ada orang lain di kamarnya saat ini, Sella beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Ia mengabaikan kemarahan Alrega dan ingin menyegarkan diri, menikmati waktu sendirian.
Sella baru saja membuka ikatan rambutnya yang panjang, lalu mengambil bathrobe di ruang ganti, bersiap untuk mandi. Namun ia dikejutkan oleh tangan Alrega yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
'Haiss, kenapa dia masih di sini?'
"Lepas, lepas tidak?!" Sella berkata sambil mencoba melepaskan tangan Alrega dari pinggangnya.
"Diaam ...." Alrega berkata dengan suara rendah seperti menahan geram.
Lelaki itu bergeming, ia menaruh dagunya di pundak Sella. Lebih mengeratkan pelukannya hingga Sella mengalah, membiarkan Alrega memeluknya. Nafas laki-laki itu sedikit memburu dan terasa hangat di lehernya.
"Jangan bergerak, sebentar saja tetap begini."
Alrega tadi hanya pura-pura pergi, ia ingin melihat seperti apa reaksi Sella, bila ia meninggalkannya saat sedang marah. Ia melihat ekspresi Sella yang biasa saja dan hanya menampakkan sedikit kekecewaannya.
"Jangan marah lagi, ya?" Kata Alrega masih dalam posisi yang sama.
Sella diam.
"Ayo, bicara."
'Bicara apa? Aku tidak mau'
Sella masih diam.
Rupanya diamnya Sella menjadi ujian tersendiri bagi Alrega. Ia tidak suka Sella mengabaikan dan cuek padanya. Ia rindu suara sengau dan lembutnya. Ia rindu Sella yang merengek meminta ampun dan meminta maaf, hanya karena hal-hal sepele, yang sebenarnya tidak jadi masalah baginya. Ia hanya senang mengerjainya.
"Kalau kau marah, aku akan lebih marah, kau diam aku juga tidak perduli, kalau kau mau pergi maka aku ...."
"Apa. Kau akan apa?" Sella berkata sambil mengangkat dagunya, dengan tatapan lurus kemata hitam Alrega.
"Aku, akan ...." Alrega kembali tidak melanjutkan ucapannya, tapi mencengkram dagu Sella dengan kuat.
'Kau akan menciumku, kan, Tuan Al?'
'Aku ingin menciummu, menyerahlah'
Kedua orang itu saling tatap, tanpa bicara. bertahan dengan keegoisan masing-masing. Sella benar-benar kesal kali ini, hatinya agak sensitif dan mudah tersulut emosi.
Alrega sendiri bingung dengan perasaannya. Ia ingin Sella menyerah seperti biasanya dan meminta maaf. Ia tidak akan mudah menghukumnya begitu saja agar bisa meluapkan minat dan seleranya. Namun ia semakin kesal karena Sella tidak menunjukkan rasa bersalahnya.
"Apa kau pikir aku salah?" Akhirnya Sella membuka suara.
Tidak, ia tidak salah sama sekali. Alrega mengakui bahwa dirinya yang sebenarnya ingin Sella bersalah.
"Tuan, Al. Kau tahu aku tidak salah, kan?" Sella berkata sambil memegang tangan Alrega yang ada di dagunya.
Alrega melepaskan cengkraman tangannya setelah Sella mengerjabkan matanya. Ia tidak ingin Sella menangis.
Sella mendorong tubuh Alrega dan berkata dengan lembut, sambil menepuk-nepuk bahunya. "Aku tinggal di sini tidak sendirian, aku bukan cuma mengurusmu. Aku menyayangi singa itu, bukan berarti aku tidak menyayangimu."
__ADS_1
Lalu ia membawa Alrega duduk di sofa dan menggenggam tangannya.
Sella berusaha menenangkannya dan kembali berkata, "aku menyayangi ibu karena menebus kesalahanku di masa lalu. Aku menyayangi Yorin karena ia adalah saudaramu. Aku menyayangi semua orang yang sayang padamu, karena aku menyayangimu."
Alrega diam sambil mendengarkan Sella bicara. Suara yang mengalir sangat indah di telinganya, seperti suara angin musim semi, yang mengiringi nyanyian burung Murai di pagi hari.
Gerakan Alrega selanjutnya bisa ditebak dengan tepat oleh Sella. Laki-laki itu memeluk erat, menciumi seluruh wajahnya dan berakhir di bibirnya. Ia menghisap bibir itu dengan penuh semangat, seolah ingin menghisap semua kemarahannya, menukar Saliva seolah menukar kekesalan dengan kesenangannya.
Alrega membopong Sella ke tempat tidur dan membaringkannya dengan lembut, tanpa melepaskan ciumannya. Lalu membiarkan udara dan sisa sinar matahari sore, membawa kehangatan untuk tubuh kedua manusia, yang menikmati percintaannya dalam diam. Memendam amarah dan dendam.
Saat itu Alrega merasa kasih sayang di dunia sudah bertambah setetes demi setetes, sejengkal demi sejengkal, lebih berat dan lebih jauh. Kasih sayang itu membawanya hanyut hingga tanpa sadar, ia sudah memiliki kelemahan dan Sella-lah satu-satunya kelemahan itu.
***
Hari itu, di halaman rumah besar Kaki Langit. Ada beberapa mobil box datang membawa bahan-bahan kebutuhan pesta. Yorin, Pak Sim dan beberapa pelayan melakukan tugas masing-masing.
Pak Sim memberikan beberapa perintah kepada asisten dengan semua tugas mereka. Yorin mengatakan semua keinginannya dengan antusias, pesta yang sepertinya akan sangat meriah dan mewah.
Ada juga seorang penyelenggara dan penata pesta, yang disebut sebagai pihak Event organizer. Namun karena Yorin, tugasnya sedikit terabaikan, Yorin tetap saja memerintah sesuai keinginannya.
"Yorin merasa sedikit lelah setelah ia terus berjalan mondar mandir mempersiapkan diri pestanya. Gadis itu menyeka keringat dengan punggung tangannya, saat duduk di hadapan Sella. wanita itu sibuk membantu merangkai bunga.
"Kau sudah makan?" Tanya Sella dan Yorin menggeleng.
"Jangan lupa makan, kamu kan ratunya? Gimana kalau nanti kamu sakit?" Kata Sella lagi sambil meneruskan merangkai bunga.
"Aku tidak lapar kalau senang, kak."
"Tapi kamu tetap harus makan. Oh, iya. Siapa yang kau undang, teman kuliahmu?"
"Haha. Aku tidak kuliah, kakak. Jadi aku tidak punya teman kuliah."
"Tapi bagaimana kau bisa punya gelar di belakang namamu?"
"Aku dan kak Rega sama, kami belajar di rumah, lalu mengerjakan tugas ujian kalau sudah waktunya, begitu, kak."
"Benarkah? Kalian benar-benar tidak punya teman sekolah atau kampus?"
"Tidak."
"Lalu teman-teman dari pertemanan seperti apa yang kalian punya?"
"Mereka teman dari anak-anak rekan bisnis papi, kakek, nenek, kakak juga ayah, dan ibu."
"Oh."
'Pertemanan yang membuatku ngeri, seperti apa mereka'
Sella tiba-tiba merasa minder, acara pesta esok hari akan sangat mengerikan baginya. Ia tidak tahu seperti apa orang-orang, yang akan menghadiri pestanya. Perasaan tidak enak menggantung, menyiratkan sesuatu yang etahlah pertanda apa. Kekhawatiran yang muncul itu, seolah ia sudah menjadwalkan kamatiannya.
Bersambung
__ADS_1