
Delisa melihat Alrega pulang lebih awal. Ia sangat gembira karena merasa usahanya untuk meminta maaf bisa membujuk Alrega dan membuat Alrega kembali padanya. Karena itu ketika Alrega sampai di rumah, ia langsung memeluknya. Tetapi ia kecewa karena ternyata Alrega tidak mengatakan apapun tentang hubungan mereka, bahkan Alrega meminta Delisa pergi.
Delisa akhirnya pamit pada nenek dan Yorin, karena merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi pada Alrega.
Sedangkan Alrega tersenyum puas, apa yang diinginkannya sudah tercapai, yaitu membuat Delisa benar-benar sakit hati dan kecewa berat. Delisa sudah merasakan seperti yang Alrega rasakan sewaktu Delisa pergi meninggalkannya.
Pada saat itu, Delisa yakin bahwa Alrega akan tetap mencintainya dan tidak akan merubah hatinya. Namun, ia benar-benar kecewa karena ternyata Alrega sudah menikah dengan wanita yang justru pernah bekerja sama dengan dirinya untuk menipu dirinya.
"Aku pergi, nenek. Sampai jumpa lain waktu. Aku sangat bersyukur, Rega sudah mamaafkanku," kata Delisa sambil membawa tas tangannya.
Mereka bertiga berpelukan, sebelum akhirnya Dalisa benar-benar keluar dari rumah itu. Nenek memandang kepergian Delisa dengan tersenyum kecut, dalam hati ia masih yakin kalau sebenarnya Alrega tidak mencintai Sella. Sementara Yorin menilai, bahwa Alrega benar-benar sudah tidak akan kembali kepada Delisa lagi. Bisa jadi, hati kakak sepupunya itu sudah mulai berubah haluan dan mulai menyukai wanita miskin yang ia nikahi.
Sementara Alrega di ruang kerjanya bersama Zen, tengah membahas apa yang dikatakan Sela di dalam mobil. Alrega duduk di kursi kerjanya, bersandar dengan santai sambil memainkan pulpen di tangannya. Sementara Zen membuka laptop sambil menikmati kopinya.
"Zen. Apa kau dengar semuanya, di mobil tadi?" tanya Alrega tanpa melihat pada Zen. Matanya tertuju pada pulpen yang berputar dijarinya.
"Saya mendengar semuanya tuan."
"Hmm.. menurutmu dia bodoh atau terlalu berani?"
"Nona terlalu berani. Karena nona belum pernah melihat anda marah."
"Ya. Aku akan melampiaskan kemarahanku." kata Alrega tegas.
'Lampiaskan dengan kasih sayang kalau anda ingin nona mencintai anda'
"Silahkan, tuan."
"Ck! Kau pikir aku tega melakukannya?"
"Anda orang yang baik."
"Apa kira-kira yang akan dia lakukan kalau dia tahu kebenarannya?" tanya Alrega.
"Bila nona tahu bahwa memang Delisa lah pelakunya, dan anda sudah mengetahuinya sejak awal, lalu anda hanya menggunakannya untuk membalaskan dendam pada Delisa. Begitu, maksud, tuan?" Zen berkata seolah menyalahkan Alrega.
Zen terdiam sejenak sambil berpikir ia memegang ujung pelipisnya dengan kedua jari tangannya
"Menurut saya, mungkin Nona akan meninggalkan dan membenci tuan, untuk selamanya, itu kemungkinan yang terburuk." kata Zen selanjutnya.
Pletakk!! Sebuah pulpen mendarat tepat dikepala Zen. Lemparan ini ternyata tepat mengenainya sekarang. Alrega tersenyum. Ia berdiri lalu berkata,
"Aku tidak akan membiarkannya!" Dan beranjak meninggalkan ruangan kerja.
Zen tidak menjawab, ia hanya diam sambil menundukkan kepalanya pada Alrega dan membukakan pintu untuknya. Ia masih merasakan sedikit rasa sakit di kepalanya, ia tidak menyangka bahwa kali ini Alrega benar-benar kesal dan melemparkan pulpen tepat di kepalanya.
***
Sementara itu Sella di dalam kamar, sedang menangis menumpahkan segala rasa yang ia rasakan, ketika melihat Delisa memeluk tangan suaminya. Ia sangat membencinya tapi ia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu padanya. Sella merasa keadaan dirinya, mirip sekali dengan cerita sedih pada buku yang pernah ia baca.
Lamat-lamat ia mendengar suara ketukan di pintu, ia pun segera mengatasi perasaannya dan menguasai dirinya kembali, ia segera mengambil tisu dan membersihkan wajahnya sampai bersih, lalu melangkah menuju pintu, namun ketika ia membukanya, ia sudah tidak menemukan siapapun disana. Ia berpikir Mungkin ia sudah terlalu lama menangis.
'Oh, Tuhan. Aku melupakan ibu'
Sella merapikan pakaiannya kembali, ia berniat akan menemui Zania, yang dari pagi belum sempat ia ajak bicara. Ia juga merapikan rambut dan merias wajahnya untuk menutupi sembab dimatanya. Sella baru saja hendak melangkah keluar kamar, ketika Alrega membuka pintu, hingga mereka bertemu di sana.
"Mau ke mana?" tanya Alrega sambil melangkah, memaksa Sella masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Sella mundur beberapa langkah, dan hampir terjengkang ke belakang. Namun saat itu juga, happ!! Tangan Alrega dengan cepat meraih pinggangnya, hingga ia tidak terjatuh.
Kini tubuh mereka sering menempel, kedua tangan Sella berada di dada Alrega, satu tangan Alrega berada di belakang punggung Sella dan satu tangan Alrega lainnya, mengusap mata Sela yang terlihat bengkak.
Alrega berkata, "apa kau menangis?"
Sella diam, tidak menjawab. Ia masih kesal pada Alrega. Ingin sekali rasanya memukul laki-laki itu fengan sekuat tenaga. Tapi kali ini, yang bisa ia lakukan hanyalah mendorong dada Alrega agar menjauh dari tubuhnya Namun cengkraman tangan Alrega lebih kuat dari tenaganya, hingga ia bisa membedakan tenaganya dan tenaga Alrega jauh sekali selisihnya.
"Lepaskan, aku! Pergi sana dengan istrimu," kata Sella sambil memalingkan muka.
"Kau cemburu?" Berkata sambil membelai pipi dengan lembut.
"Tidak," sahut Sella sambil menggelengkan kepala menghindari tangan Alrega yang akan mengusap bibirnya.
"Jawab pertanyaanku!" Alrega berkata, sambil mempererat pelukan.
"Aku mau ke kamar ibu. Apa tidak boleh?" Berusaha kembali melepaskan pelukan.
"Kau bilang, aku harus pergi dengan istriku?"
'Iya, pergilah dengan Delisa!'
"Iya, pergi sana!" Menjawab dengan ketus masih melihat kearah lain.
"Lalu kau mau kemana?" Kini tangannya memegang dagu Sella agar menatap wajahnya.
"Ke kamar ibu."
__ADS_1
"Baik aku ikut."
'Kau istriku, jadi aku akan ikut denganmu. Haha' Alrega.
"Jangan!" Terdengar mulai panik.
Sella mencegah pertemuan Zania dengan anggota keluarga untuk sementara. Kalau ibu kembali melihat salah satu anggota keluarga, maka ia akan kambuh dan kembali mengamuk. Itulah yang kini Sella sadari. Ia mulai memikirkannya saat melihat pertemuan Delisa dan Yorin waktu itu, yang membuat Zania memukulinya setengah mati.
Ternyata sebab dari Zania dipindahkan di lantai tiga, adalah karena ia dihindarkan dari bertemu dengan anggota keluarganya. Apabila ia bertemu dengan salah satunya, maka ia akan mengamuk lebih hebat dari biasanya. Sella juga belum memahami apa yang menjadi penyebab mengapa Zania seperti takut dengan keluarganya sendiri. Dan kini ia mulai memikirkan bagaimana caranya agar Zania bisa menerima keluarganya kembali.
"Kenapa jangan?" tanya Alrega sambil mengendurkan pelukannya, tapi tubuh mereka masih menempel.
Sella malas menjawabnya sebab menurutnya selama ini, keinginan Alrega akan selalu terpenuhi.
"Bukankah kau istriku?" kata Alrega kesal.
Ia kesal, karena Sella sudah menyinggungnya berapa kali. Sella menghentikan ciumannya, menolak kartunya, mengatakan dugaan tentang Dslisa tanpa takut menyinggungnya, dan sekarang melarangnya untuk mengikutinya.
"Itu... Tapi.." terputus.
Alrega melepaskan pelukannya pada Sella, kemudian ia melepaskan ikat pinggangnya. Ia menatap wanita itu penuh kemarahan. Ia memegang ikat pinggang itu di sebelah tangan kanannya dan tangan kirinya kembali memegang dagu Sella. Wajahnya menjadi sangat dekat hingga nafas mereka seolah bertabrakan.
"Apa kau ingat, sudah berapa kali kau menyinggung ku hari ini? Dan kau sekarang berani menolakku lagi...?" kata Alrega dengan suara pelan tapi penuh penekanan, membuat Sellla merinding.
Sella menatap Alrega penuh dengan ketakutan, hatinya berdebar keras, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia memegang tangan Alrega yang ada di dagunya, dengan kedua tangannya, sambil berkata,
'Menyinggungmu? Apa karena dugaanku pada Delisa. Dan dia tersinggung karena ia tidak mungkin dilecehkan oleh istrinya sendiri?'
"Maaf..." hanya itu yang keluar dari bibir Sella setelah itu air mata pun meluncur lagi membasahi pipinya.
"Maafkan, aku...!" kata Sella, sambil menangis.
Tubuhnya luruh ke bawah hingga pegangan tangan Alrega dari dagunya, terlepas begitu saja. Ia menangis sambil menundukkan tubuhnya di lantai bersimpuh di sana, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, ia membayangkan bahwa Alrega akan memukulnya sampai mati dengan ikat pinggangnya.
Alrega terhanyut melihat apa yang ada didepannya. Ia tidak menyangka kalau Sella akan berbuat sedemikian rupa. Ia pikir Gadis itu akan melawan dirinya atau menggunakan jurus karatenya, tapi ternyata yang ia lihat, justru gadis ini seolah-olah sudah memeras hatinya, sehingga hatinya mengeluarkan air mata juga.
Alrega memalingkan mukanya menghindari tatapan Sella yang ada dibawahnya sedang menangis. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangannya lalu menguar rambutnya dan terlihat jelas kalau dirinya sangat merasa bersalah. Ia hanya beeniat mengerjainya tapi sepertinya ia sendirilah yang sudah dikerjai Sella.
Alrega duduk berlutut dengan satu kakinya dan sebelah lutut yang lain terangkat untuk menopang tangannya.
Ia menatap Sella sambil berkata, "apa kau benar-benar meminta maaf dariku?"
Sella menatapnya sambil menghapus air mata dipipi dengan telapak tangannya lalu ia mengangguk, dan kembali berkata, "Maafkan aku..." Berkata sambil mengatubkan kedua tangannya kembali.
"Berdiri!" kata Alrega tegas. Sella segera berdiri bahkan lebih dulu dari Alrega.
"Duduk!" kata Alrega lagi. Sella pun kembali berjongkok di lantai.
Alrega membiarkan Sella dalam keadaan berjongkok, sedangkan ia melepas kemeja dan celana panjangnya, dan menggantinya dengan pakaian santai yang ada di ruang pakaian. Setelah itu ia kembali dan melihat Sella masih dalam posisi yang sama, membuat Alrega mengulumkan senyumnya tanpa diketahui oleh Sella.
'Gadis baik...'
Alrega berkata, "Kenapa kau duduk seperti itu? Ayo berdiri...!" mendengar kata-kata Alrega, Sheila pun kembali berdiri, sambil memegang lututnya.
"Duduk!" kata Alrega lagi setelah Sella berdiri beberapa saat.
"Berdiri!"
Setelah Sella berdiri tegak, Alrega membungkukkan badan untuk melihat ke bawah tempat tidur, sambil berkata,
"Apa kau melihat sesuatu?"
Sella pun mengikuti gerakannya untuk membukukan badan dan melihat ke bawah tempat tidur. Kemudian ia berkata,
"Ha, melihat apa?"
"Kau harus melihatnya dengan duduk dan berjongkok seperti tadi." kata Alrega.
Sella pun mengikutinya untuk berjongkok dan melihat ke bawah tempat tidur dengan berjongkok.
"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Alrega lagi, dan Sella menggelengkan kepalanya, sambil berkata, "Tidak."
Sheila mencoba bangkit berdiri kembali, tapi Alrega mencegahnya dengan menekan bahunya, hingga ia tetap berjongkok.
"Diam, siapa yang menyuruhmu berdiri?" katanya dengan tegas.
Sellla memutar matanya malas ia mulai merasa, bahwa Alrega mengerjainya lagi. Kedua alisnya berkerut. Ia berfikir bahwa mungkin Alrega tidak bersungguh-sungguh ingin memukulnya sampai mati dengan ikat pinggang. Ia benar, Alrega tidak akan mungkin mebunuhnya sekarang, karena ibunya belum bisa ia sembuhkan.
Kini Alrega duduk di single sofa, yang ada di dekat jendela balkon kamar mereka. Ia melihat layar ponselnya dan memeriksa beberapa isinya. Tak lama setelah itu, tanpa Sellla sadari, Alrega mengambil foto dirinya, yang sedang berjongkok di dekat tempat tidur. Alrega mengusap hasil foto Sella yang ada dalam ponselnya, dengan ibu jarinya sambil tersenyum.
Sella sebenarnya sudah lelah, lututnya sudah terasa sangat pegal. Ia merubah posisi duduknya dengan memeluk kedua lututnya, dan menyimpan kepalanya diatas lutut dalam keadaan miring. Ia bersenandung sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tingkah Sella membuat Alrega ingin tertawa tapi ia menahannya.
Alrega tertegun, ia melihat Sella dengan tatapan haru, ia geram karena wanita itu tidak juga menyerahkan diri padanya.
__ADS_1
"Apa kau ingin melihat ibu?"
Sella mengangguk dari tempatnya, sambil melirik jengah pada Alrega.
"Apa kau tidak betah menemaniku?"
'Siapa yang betah kalau dikerjai seperti ini?'
"Nanti, saya akan menemani anda, tuan"
Alrega mulai sedikit menyadari, apabila Sellla sedang kesal, maka ia akan memanggil dirinya dengan sebutan tuan dan menggunakan kalimat formil saat berbicara padanya. Alrega mulai memahami seorang Sella...
"Kalau begitu, Ayo berdiri!" kata Alrega, "kau tahu kenapa aku marah?" Sella menggelengkan kepalanya, sambil berdiri.
"Karena kau memanggilku tuan"
'Ck! Terserah!'
"Maaf..." Kata Sella.
"Bukan itu yang ingin kedengar."
'Lalu apa?'
"Kemari!" kata Alrega sambil menjentikkan jari telunjuknya. Sella menghampiri Alrega dengan perlahan. Kakinya masih kesemutan.
"Duduk!" kata Alrega sambil menunjuk kearah kedua pahanya. Lalu menyimpan ponsel di meja kecil.
'Aku bukan anjingmu, tau?'
Sella kembali berjongjok di dekat Alrega.
"Bukan di situ, bodoh!" kata Alrega sambil menarik tangan Sella.
Seketika Sella berdiri, lalu Alrega menarik tubuhnya hingga ia terjatuh di atas pangkuannya.
"Akh!" pekik Sella yang terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba.
Sella berada di pangkuan Alrega, ia menaruh kedua tangan Sella diatas pundaknya. Posisi Sella jadi lebih tinggi dari Alrega, sehingga ia harus menunduk untuk melihatnya. Bibir Sella berkedut, ia hampir tersenyum melupakan kemarahannya. Mereka sudah beberapa kali dalam posisi begitu dekat, tapi hati mereka masih saja berdebar disaat yang sama.
Alrega pernah bercumbu begitu dekat dengan Delisa, bahkan ia pernah melihat Delisa hampir membuka seluruh pakaiannya, tetapi ia tidak merasakan apa yang ia rasakan bersama Sella sekarang.
"Apa kau masih sedih?" Alrega mengusap pipinya lagi
Sella menggeleng. Ia menutup bibirnya rapat.
"Apa kakimu sakit?" Kini mengusap kaki Sella hingga tubuh Alrega miring ke samping.
Sella menggeleng lagi.
"Tadi pagi, kakek menelponku dan menanyakan dirimu, aku mengatakan bahwa kau ikut denganku, dan kakek marah. Aku tidak suka ada orang lain menginginkanmu." kata Alrega sambil tangannya terus mengusap betis Sella.
'Hei. Itu kakekmu, dan yang harus aku lihat adalah ibumu, kenapa kau harus cemburu? kau aneh'
"Aku tidak tahu." jawab Sella sambil mengendikkan bahu.
"Kau harus tahu, aku juga menginginkanmu." kata Alrega sambil mencium bibir Sella, membenamkannya di sana cukup lama. Hingga akhirnya ia menyudahinya sambil berkata,
"Kembalilah ke kamar, sebelum makan malam."
Sella diam, tidak segera beranjak dari pangkuan Alrega, ia menjulurkan tangannya untuk mengusap bibir Alrega yang basah karena ciuman mereka. Lalu berkata,
"Terima kasih..."
Dan saat itu Sella merasa bahwa dirinya cukup berharga.
Alrega menatap mata Sella dengan penuh cinta, Ia tidak menyangka Sela akan bersikap lembut seperti itu padanya, dan ia menganggap Sella sudah menggodanya, tapi pada akhirnya, ia hanya berkata,
"Pergilah, sebelum kau menyiksaku lebih jauh."
'Ck! Siapa yang menyiksamu? Kau yang menyiksaku'
"Baiklah, sayang." kata Sella sambil melangkah keluar pintu, menuju kamar Zania.
Sampai dikamar Zania, Sella memeluk wanita malang itu dari belakang, wanita itu sedang duduk dengan posisi bersila di atas tempat tidurnya. Ia terlihat memejamkan matanya, buku-buku tangan semuanya merah. Melihat hal itu, Ia bertanya pada perawat dan penjaga.
Mereka menjelaskan bahwa itu akibat Zania mengepalkan tangannya terlalu keras, dan meremas tangannya sendiri dengan keras. Mendengar hal itu Sella mendekatinya dan mengusap tangan Zania dengan lembut, sambil berkata.
"Ibu...Mengapa ibu melakukannya? Ini sakit bukan? kalau ibu sakit aku juga akan sakit...ibu Maukah kau aku beritahu sesuatu? Aku harap kau senang..." kata Sella.
Dan ia mengucapkan kata-kata ini berulang-ulang kali, sehingga Zania merespon dengan meliriknya sekilas. Setelah mendapatkan tanggapan seperti itu, Sella kemudian berbisik lembut, ditelinga Zania.
Ia berkata, "ibu... bagaimana bila aku jadi menantu atau anakmu. Apa Ibu menyukainya?"
Sella kembali mengatakan kalimat ini secara berulang-ulang, dan ketika ia telah mengulang kata-kata itu sebanyak puluhan kali, Zania menoleh pada dirinya dan kemudian wanita itu mengusap pipi Sella dengan lembut.
__ADS_1
Wanita itu menggerakkan bibirnya dan suaranya lirih berkata, "anakku..."
Bersambung