
Alrega menatap Sella lembut, tersenyum lebar sambil melihat benda kecil itu dan menariknya kembali dalam pelukannya. Membenamkan tubuhnya sedemikian kuat hingga seolah-olah ingin menyatukannya. Ia menempelkan hidung di lekukan leher sambil menghembuskan napas membuat Sella merinding.
'Apa dia sudah tahu aku hamil, pastinya sudah, kan? Kejadian yang sebenarnya saja dia tahu. Sepertinya dia tidak akan pernah terkejut'
"Aku senang kau hamil, aku tahu dari rekam medikmu di rumah sakit itu, kenapa tidak memberitahuku, kenapa?"
'Tuh, kan?'
"Apa kau marah? Aku hanya takut kau melarangku melakukan sesuatu."
"Hanya itu, karena kau takut? Dan bukannya kau tidak percaya padaku?"
'Apa maksudnya?'
Selle menggeleng kuat, "Tidak, bukan itu, aku hanya ingi sedikit bebas, itu saja."
"Terima kasih, sayang ... aku mencintaimu." Alrega berka dengan suara rendah, sambil menarik napas dalam, lalu membawanya kembali ke tempat tidur.
"Terima kasih untuk apa?"
"Sudah mau bertahan, tidak meninggalkan aku walaupun aku sering bersikap buruk padamu."
"Itu dulu, apa kau menyesal?"
Alrega mengangguk. Lalu mencium seluruh wajah Sella secara bertubi-tubi. Ia menumpahkan kerinduannya, dengan mengulum bibirnya, menghisapnya dengan lembut seolah bibir itu makanan manis dan lezat.
Semalam ketika datang, dia menghubungi Rejan agar membukakan pintu rumah tanpa sepengetahuan semua orang. Dia ingin memberi kejutan pada Sella. Tidak di sangka justru ia mendapatkan pukulan.
Flina yang terbangun dan mengetahui Alrega datang, langsung menanyainya tentang kepergiannya dan wanita itu tidak terima bila Sella diabaikan seperti yang sekarang ini dialaminya. Ia melihat anak perempuannya itu sering mensngis dan selalu melihat layar ponsel menunggu balasan pesan darinya.
Malam itu, Alrega meminta Flinna memaklumi kesibukannya dan juga keyakinan hatinya. Ia membawakan beberapa karangan serta buket bunga besar untuk Sella, sebagai ungkapan permintaan maafnya. Flina yang melihat ketulusan menantunya, akhirnya ia memberitahu bahwa Sella sudah tidur dan jangan mengganggunya. Jadi, seperti itulah Alrega sepanjang malam hanya menahan diri dan hanya memeluk Sella yang tertidur, dengan nyenyak.
Alrega merubah posisi dengan mengungkung Sella, melepaskan ciumannya lalu tersenyum manis, menatap wajah Sella yang berada tepat di bawahnya.
"Bolehkah aku melakukannya saat kau hamil? Aku merindukanmu." Mendengar ucapan Alrega, Sella mencebik.
'Rindu padaku atau hanya ingin melampiaskan keinginanmu?'
"Benarkah? Apa tidak cukup seperti ini saja?" Tanya Sella, kemudian merangkum wajah pria itu di telapak tangannya.
"Aku juga akan melihat anakku di dalam sana." Alrega berkata sambil tertawa, lalu diam untuk menyambar bibir Sella sekilas.
"Anak ini masih kecil seperti ... uh, seperti kacang, dia belum bisa melihat milikmu." Mendengar ucapan Sella, Alrega kembali tertawa.
"Sejak kapan dia ada di sini?" Tanya Alrega sambil mengusap perut Sella yang masih rata. "Aku sudah sering melihatnya walau dia masih kecil. Dia akan baik-baik saja."
Alrega berkata benar, ia tahu kejadian yang di alami istrinya. Ia menyadari pada beberapa kasus seperti ini, biasanya janin yang masih belum berbentuk itu, tidak akan bertahan. Mengingat Sella mengalami benturan keras dibeberapa bagian. Akan tetapi, janin yang ada dalam rahimmya memilih bertahan. Anaknya memilih untuk tetap hidup, hingga ia berpikir bahwa yang ada dalam kandungan istrinya adalah calon anak yang kuat.
"Al Sayang ...."
__ADS_1
"Hmm ...."
"Aku juga merindukanmu." Sella berkata sambil mencium pipi kiri dan kanannya.
"Ya, aku tahu." Alrega menyibakkan selimut hingga jatuh ke lantai.
Alrega mengerjabkan matanya yang berkabut beberapa kali, sementara tangannya sudah menyusuri bagian atas tubuh Sella, menyingkap selembar pakaiannya dan bermain di atas tempat vaforitnya. Setelah cukup puas memanjakan tangannya, kini ia memanjakan mulutnya, untuk bermain-main di sana.
Jadi, yang dikatakan menuntaskan kerinduan yang membuncah itu, berujung pada penuntasan keinginan dari sesuatu di bawah perutnya.
Setelah selesai, Alrega merebahkan diri di samping Sella, saat wanita itu berkata dengan lembut, sambil menarik selimut yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh mereka.
"Al, sayang ...."
"Hmm ...." Alrega sudah mulai mengantuk karena semalaman ia tidak tidur.
"Jangan lupa, cukur kumis dan rambut di dagumu, ya? Aku geli." Tidak ada jawaban.
Sella melanjutkan, "Kalau kamu tidak mau, aku juga tidak mau menciummu."
"Hmm ... apa lagi yang kau inginkan? Katakan saja, aku akan memberi apapun yang kau mau?" Pria itu memiringkan tubuhnya dan kembali mendekap Sella.
"Apa pun?"
"Iya. Apa pun. Katakan kau mau apa?" Ia berkata dengan semangat, seakan-akan rasa kantuknya hilang.
"Tentu, ada lagi?"
"Berikan santunan yang banyak pada keluarganya. Dia belum menikah, kasihan mereka belum mendapatkan mas kawain tapi anak gadisnya sudah tiada."
"Itu mudah. Apa lagi?"
"Aku ingin menjodohkan Lonisa dan Zen. Apa itu mungkin?"
"Bisa saja."
"Kedua adikku kuliah tahun ini, dan mereka bilang kampus progremer di Universitas Leosan sangat menjanjikan masa depan, apa kau bisa merekomendasikan mereka?"
"Tidak ... tidak ...." Alrega menggeleng.
Sella bangkit dan membiarkan setengah tubuh polosnya begitu saja tanpa ditutupi dengan apa pun, lalu berkata. "Tidak, apa maksudmu tidak mau? Kau bilang mau memberikan apa-pun yang aku inginkan?"
Alrega menarik Sella dan kembali berbaring di sampingnya. Merengkuhnya kembali dalam pelukannya.
"Kenapa kau masih bodoh juga, hah?" Alrega mengejek tapi tersenyuman menggoda. "Kenapa kau selalu memikirkan orang lain, katakan keinginan untuk dirimu sendiri."
"Aku ... tidak ada. Kau ada di sini saja sudah cukup.
"Kalau kau memang menganggap kehadiranku cukup membuatmu senang, kenapa kau
__ADS_1
Alrega kembali tersenyum, pada kenyataannya memang benar bahwa ia hanya akan menjaga dan menuruti kemauan Sella. Sekarang itulah tujuannya mencari keuntungan, buat apa kalau bukan untuk membahagiakan orang yang dicintainya?
Sella mendorong dada Alrega saat laki-laki itu tiba-tiba menggosok-gosokkan dagunya yang mulai berbulu di pipinya. Pria itu biasa merawat dirinya dengan baik, tapi selama beberapa hari ia menyendiri, sampai tak memperhatikan penampilannya.
***
Sella baru keluar dari kamar mandi dan heran mendapati tempat tidur yang kosong. Alrega masih terbaring di ranjang saat ia membersihkan diri.
'Kemana dia?'
Sella melangkah keluar dan ia melihat mobil Alrega yang masih terparkir di halaman rumahnya. Ia berjalan berkeliling dan ketika sampai di samping rumah, ia pun heran melihat dua laki-laki yang tengah melakukan aktivitas bercukur.
'Astaga, apa yang mereka lakukan di sana?'
Baru saja Sella hendak menyapa keduanya ketika Zen berkata, "Sudah selesai, Tuan." Sambil melepaskan kain penutup yang melapisi tubuh tuan mudanya.
Alrega berdiri, mendekati Sella dan berkata, "aku tampan. kan?"
Sella tersenyum dan mengangguk sambil berkata, "Kau laki-laki paling tampan di dunia ini."
'Jadi menurut Nona, aku jelek? Ahk, yang benar saja'
Sella menggamit tangan Alrega, membawanya masuk dan berkata, "Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan airnya." Berjalan ke kamar.
"Baiklah."
Seisi rumah tampak bahagia menikmati suasana yang berbeda, ruangan yang dipenuhi aneka bunga warna-warni dan macam-macam makanan serta buah-buahan. Semua itu dari Alrega, sebagian makanan yang melimpah, di bagikan oleh Flina untuk tetangga sekitar.
Setelah semua berkumpul, mereka makan siang bersama, hal yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh Alrega bersama keluarga Sella.
Pada saat makan bersama itu, Zen tidak ikut menikmatinya, ia menolak ajakan Flinna, walau sudah berulang kali wanita itu mengajaknya. Bagi pria itu, tentu saja tidak sopan bila harus ikut bersama mereka yang bukan bagian dari keluarganya. Ia hanya sibuk dengan ponselnya.
"Halo, tetap di sana, kubilang jangan pergi ya, jangan pergi atau aku akan ...."
Tiba-tiba Sella menyela percakapannya, "Siapa yang akan pergi, Sekertaris, Zen?"
Zen menundukkan kepalanya pada Sella, sedang ditangannya masih memgang ponsel yang menempel di telinga. Perempuan itu ingin meludah saat makan, karena ia tiba-tiba saja mual. karena itulah dia keluar dan curiga melihat Zen yang terus saja sibuk dengan telepon genggamnya dengan wajahnya yang keruh.
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa mengatakan masalah ini pada Nona." Ia menegakkan badannya kembali.
"Apa itu Loni?" Tanya Sella yakin, sebab ia melihat kekhawatiran yang jelas terukir di wajah Zen.
'Bagaiman Nona bisa tahu?"
"Kau ada masalah apa dengan Loni? Baik-baiklah padanya, dia teman sekolahku dulu."
'Awas kau, Tuan penurut. Kalau sampai kau menyakiti Loni, aku akan memecatmu! Ya, aku bisa melakukannya ... memecat Sekertaris Zen! Alrega akan melakukan apa pun yang aku inginkan, pasti dia tidak akan ragu memecatmu bila aku yang minta'
Bersambung
__ADS_1