Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 132. Antara Cinta Dan Harga Diri


__ADS_3

Zen menghindari tatapan mata dengan Sella, ia tidak ingin terlihat lemah hanya karena perasaannya. Pikiranya yang biasa tenang bahkan dalam keadaan genting sekalipun itu, kini gusar karena wanita yang tidak pernah ia duga akan menghangatkan jiwa bekunya.


Beberapa hari ini Lonisa meminta izin untuk pergi, gadis itu sudah sering mengganggu dengan menghubunginya berulang kali. Seperti saat ini, Zen masih bertugas seperti biasa, ketika Lonisa menelponnya. Semalam dia tidak pulang yang mungkin membuat gadis itu menanyakan keberadaan dirinya. Zen tidur di sofa ruang tamu rumah Sella, demi Alrega.


"Tuan, jemputlah, Nona." Seperti itu kata-kata yang ia ungkapkan pada Alrega setiap kali menengok tuan mudanya di apartemen pribadinya.


"Tuan, Anda tidak akan membiarkan Nona terluka lagi, kan? Tidak ada lagi wanita yang seperti Nona." Zen berkata dengan lembut, membujuk Alrega agar kembali pada Sella. Ia tidak ingin kejadian yang telah lalu, ketika Delisa pergi, terulang kembali.


Saat hati Alrega sudah terbuka, Zen sangat bersyukur, hingga ia buru-buru mendatangi apartemennya walau sudah malam hari. Saat itu ia sedang ada di rumahnya ketika Alrega menghubungi dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah Sella.


Zen pergi tanpa berpamitan pada Lonisa karena memang dia adalah laki-laki bebas, yang selama ini hanya tinggal sendiri di rumahnya, sehingga membuat Lonisa mencari keesokan harinya.


Malam itu, selama di perjalanan Zen hanya mengatakan pada Alrega, bagaimana Sella setiap hari begitu merindukannya. Akan tetapi, Alrega tidak berkomentar apa pun tentang apa yang diceritakannya.


Sudah lewat tengah malam, ketika mereka tiba di rumah Sella, membuat Zen berpikir bahwa ia tidak mungkin kembali ke rumahnya. Kemudian Ia memutuskan untuk menginap dan terpaksa untuk tidur di sofa, karena tidak ada kamar lainnya.


Sejak pagi sampai siang harinya, sudah beberapa kali Lonisa menghubunginya. Gadis itu sengaja membuatnya kesal, dan tujuannya membuat hati Zen gerah, berhasil. Laki-laki itu ingin sekali mengusir Lonisa saat itu juga.


Beberapa hari yang lalu, setelah tanpa kenal lelah berusaha, Zen berhasil meluluhkan hati Alrega.


"Tuan, izinkan saya pergi. Saya ingin memulai usaha dan ingin mandiri. Saya tidak ingin selamanya bergantung pada Tuan seperti ini." Selalu kata-kata itu yang diucapkan Lonisa setiap ada kesempatan bertatap muka dengan Zen. Itulah sebabnya mengapa laki-laki itu jarang pulang, walau hatinya rindukannya setengah mati.


"Aku mengembalikan rumahmu bukan bermaksud, agar kau pergi ke sana seorang diri," jawab Zen ketika pertama kali Lonisa meminta izin untuk pergi. "Jadi, tetaplah tinggal di sini sampai adabpelayan lain, yang menggantikanmu."


Lonisa sangat berterima kasih pada Zen, atas apa yang sudah diusahakannya. Pria itu berhasil mendapatkan kembali harta orang tuanya dari rentenir yang mengambilnya secara paksa. Gadis itu merasa akan berhutang budi lebih banyak, bila ia tetap berada di rumahnya. Lalu ia memutuskan untuk pergi dan berniat membalas kebaikan majikannya melalui usahanya sendiri.


Zen sebenarnya sudah berusaha sabar, menghadapi kekerasan kepala Lonisa. Hanya kadang-kadang saja, dia ingin memutuskan hubungan baik antara mereka karena akhir-akhir ini, wanita itu cerewet sekali.


Zen hampir saja mengusir Lonisa ketika Sella muncul. perempuan itu mual hingga ingin meludah keluar rumahnya. Secara tidak sengaja ia mendengar Zen bicara, hingga Sella mengatakan sesuatu dan tidak ingin melihat Lonisa terluka karena dirinya. Kata-kata Sella itu yang akhirnya, membuat Zen menahan Lonisa di rumahnya dengan ancaman.


Setelah Sella masuk rumah kembali, ia pun melanjutkan obrolannya dengan Lonisa.


"Kalau kau memang ingin pergi, maka akan aku ambil rumahmu dan jadilah gelandangan lagi. Selangkah saja kau keluar dari apartemenku, maka saat itu juga aku tidak akan peduli padamu, anggap saja aku tidak pernah mengenalmu!" kata Zen dari ponselnya.


"Kalau anda menganggap kita tidak saling kenal, bagaimana saya bisa membalas budi kebaikan Tuan?"


"Balas budi? Cih! Kata apa itu? Jangan sok mencoba membalas budi, padahal berdiri sendiri saja kau tidak mampu!"


"Jadi, Anda pikir saya tidak mampu?"


"Iya, lalu kau tetap berusaha membalasku? Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan itu. Karena aku juga tidak pernah minta balasan apa pun dari semua makanan, yang selalu aku bagikan secara gratis di kedaiku!"

__ADS_1


"Tapi, Tuan ..."


"Satu lagi, jangan panggil aku, Tuan. Mengerti?!"


Setelah berkata demikian, ia pun menutup teleponnya dan Lonisa tidak lagi menghubunginya.


'Seharusnya, kalau dia memang mau membalasku, dia bisa membayarnya dengan tubuhnya, tapi lihat ... tinggi sekali harga dirinya, padahal dia tidak perlu repot-repot bekerja dan cukup hanya dengan mencintaiku saja. Ck!'


Zen menggelengkan kepalanya saat ia ingat pembicaraan Lonisa dengan Sella saat menginap beberapa pekan lalu. Gadis itu berkata bahwa ia tidak seperti cerita dalam novel-novel yang pernah ia baca. Seperti kisah tentang cinta antara pengasuh dan majikannya, cinta bawahan dan atasannya, atau pembantu dan majikannya. Ia ingin menuliskan kisah dan hidupnya sendiri, tidak sama dengan kisah orang lain.


'Memangnya apa salahnya seorang pimpinan yang mencintai karyawan, atau majikan yang jatuh cinta dengan pelayannya?'


Cinta adalah sebuah keputusan besar, tidak akan ada istilah cinta, tanpa adanya dua insan berlawanan jenis yang saling ingin memiliki, terlepas apapun profesinya. Jadi apanya yang salah kalau mereka saling mencintai?


Setelah makan malam, Alrega dan Sella memutuskan untuk pulang ke Kaki Langit. Sudah seharian mereka menghabiskan waktu bersama keluarga, kesempatan yang jarang sekali terjadi. Sekarang mereka sudah cukup bahagia bercanda seperti waktu dulu sebelum Sella menikahi Alrega.


Kepulangan Sella dianggap tidak masalah dan dia akan baik-baik saja. Beberapa luka di tubuh Sella sudah mengering, hanya masih ada perban yang menempel di kening dan di sebelah tangan kirinya, itu luka terkena pecahan kaca yang cukup dalam. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengatasinya.


***


Zen pulang ke apartemen dan ketika ia membuka pintu, Lonisa sudah berdiri di depannya, lalu membungkuk hormat.


"Ini sudah malam. Kenapa kau belum tidur? Kau tidak perlu menunggu sampai selarut ini."


"Saya sengaja menunggu, Tuan."


"Menungguku, apalagi yang ingin kau katakan? semua sudah jelas kita bicarakan di telepon, bukan?"


Saat berkata Zen sudah duduk di sofa ruang tamu, sedang Lonisa tetap berdiri disampingnya.


Zen menjentikkan jari telunjuk dan berkata, "duduklah." Lonisa pun menurut dan duduk dengan sopan di hadapannya, sambil menunduk.


Sebenarnya Lonisa bukan tipe perempuan yang pemalu seperti itu, ia dulu dibesarkan dalam kemewahan serta sangat dimanja. Menjalani hidup semau-maunya. Keadaan yang memaksanya harus bersikap sopan pada Zen. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat cuek, dan keras kepala, ia benar-benar ingin pergi dari sana, dia ingin bebas menentukan nasibnya sendiri.


Ia merasa tidak bebas selama menjadi pelayan bagi Zen. Hal itu wajar karena ada seseorang yang berhak atas dirinya dan seakan-akan mengendalikan hidupnya.


Walaupun pada kenyataannya tidak ada orang yang benar-benar secara mutlak bisa mengatur hidup orang lain, atau tidak akan ada manusia yang benar-benar bebas secara mutlak, tanpa aturan orang lain. Sepertinya sebuah kebebasan itu berharga sangat mahal bagi kehidupan manusia.


"Bagaimana kalau saya menolak?"


"Lalu, kau memilih membiarkan rumahmu diambil kembali?"

__ADS_1


"Ya, sepertinya saya tidak mempunyai hak, rumah itu sudah diambil dari saya dan Tuan menebusnya dengan uang Tuan sendiri, kan? Jadi kalau memang ingin mengambilnya, itu hak Anda."


"Hmm... jadi begitu, lalu kau akan tinggal di mana?" Zen memikirkan gadis itu.


"Saya akan tinggal di tempat kos, tinggal sendiri di sana, terima kasih Tuan sudah memberi saya cukup banyak gaji setiap bulannya, jadi saya bisa memulai usaha saya sendiri."


'Kau sombong sekali. Kau pikir itu mudah?'


Zen sudah menjalankan bisnis selama bertahun-tahun dan ia tahu betul, betapa beratnya melalui ujian usaha dari bawah seperti yang diinginkan Lonisa.


"Apa kau pikir bekerja seperti itu, lebih bermartabat daripada tinggal di rumahku?"


"Saya hanya tidak ingin berhutang budi lebih banyak pada, Tuan."


"Apa berhutang budi padaku membuat harga dirimu hancur? Jangan kuatir ... aku tidak akan menganggapnya seperti itu."


'Apa semua wanita sama, Sella juga begitu, merasa harga diriinya tergadai hanya karna mendapatkan imbalan dari tugas yang sudah ia lakukan. Ck!'


Mendengar ucapan Zen, Lonisa menghadapkan wajahnya pada Zen dan menatapnya lurus, tatapan mereka pun beradu. Lonisa mencari sesuatu dari sorot mata gelap di depannya, tentang sebuah keyakinan dari maksud ucapannya.


'Apa maksudnya, apa dia berniat membuatku tetap bersama selamanya? Hei, bukankah arti selamanya itu adalah hubungan yang serius? Ahk, ayolah! Kau tidak mungkin menyukaiku, kan?'


Pelajaran berharga sudah Lonisa dapatkan, ketika menghadapi kenyataan tentang orang tuanya, sementara ia bergantung sepenuhnya pada mereka untuk memenuhi semua keinginannya. Dari musibah itu akhirnya ia tersadar bahwa tidak pantas untuk bersikap manja, apalagi harus tergantung pada orang lain. Oleh sebab itu pada akhirnya semua manusia hanya akan bergantung pada dirinya sendiri.


Lalu ia berpikir, jika sekarang tergantung pada Zen, walaupun dia pria yang baik tetapi Zen bukanlah siapa-siapa. Lagi pula dia sudah mendapatkan cukup banyak uang untuk dirinya, yang bisa dijadikan modal untuk menjalankan usaha, yang dia pikir akan berhasil. Dia hanya perlu kerja keras.


Harga dirinya memang bukan segalanya, sejak kedua orang tuanya meninggal dan keadaan memaksanya menjadi gelandangan, saat itu juga harga dirinya sudah hilang.


Lonisa mengerjabkan matanya saat tiba-tiba ia melihat laki-laki itu tersenyum, hatinya bergemuruh tak menentu. Senyum yang sangat manis seolah-olah hanya ditujukan padanya seorang. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mencoba meredam gemuruh di dadanya.



'Apa ini? Sama seperti saat aku pernah mencintai seseorang dulu ... lama sekali'


Gadis itu menggelengkan kepalanya mencoba mengusir rasa aneh yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Dulu ia sering bergonta-ganti pacar, membuatnya merasa tidak pernah benar-benar mencintai seseorang.


Ketika Lonisa merasakan sesuatu yang mulai tumbuh di benaknya pada laki-laki ini, ia memutuskan untuk tidak meneruskannya. Dia tidaklah sederajat, jauh sekali rasanya untuk mencintai Zen, bahkan bermimpi pun tidak.


'Apalah artinya diriku dihadapannya? Tuhan ... sungguh aku berdosa bila jatuh cinta padanya, dia malaikat yang dicintai semua orang dengan segala kebaikannya. Sedangkan aku hanyalah ... ahk...'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2