
Semenjak pertemuan Sella dengan Alrega dan Zen malam itu, ia tak pernah menerima kabar apapun lagi. Hari berlalu tanpa bisa dicegah, karena waktu adalah kuasa Tuhan. Kehendak langit tidak bisa pernah bisa dibantah.
Berbeda dengan hari ini, Sella menerima pesan dari Zen melalui ponsel baru pemberian Alrega. Ia meraih ponsel itu setelah berkedip beberapa kali.
"Bersiaplah malam ini, tuan Rega akan berkunjung. Pakailah pakaian dan perhiasan yang sudah tuan berikan pada anda." kata pesan itu.
Sella menghela nafas. Ia melirik beberapa tumpukan barang yang minta perhatian untuk segera dibereskan. Selama beberapa hari ini ia cukup tenang tanpa gangguan apapun dari masalah Alrega tapi sepertinya semesta belum akan memberinya ketenangan yang diinginkannya.
Sella hampir lupa soal dirinya yang sudah terikat perjanjian dengan Alrega. Ia terlihat begitu tenang karena tidak menemukan kebetulan yang memaksanya bertemu Alrega seperti waktu itu. Sebuah kebetulan memang kadang hanya sebagai perantara takdir seorang manusia.
"Ingat, bersihkan seluruh area rumah dan pastikan semua barang pemberian tuan Rega anda gunakan dengan baik" bunyi pesan masuk lainnya sebelum sempat ia membalasnya.
'Sialan! Apa kamu tidak rela kalau barang itu aku kirimkan kepanti jompo? Kalau mau berbuat baik, maka berbuat lah dengan tulus. Jangan seperti ini. Merepotkan saja.'
"Tuan, Jen. Apakah ini dirimu?" tulis Sella sebagai jawaban dari pesan sebelum sebelumnya.
"Iya." jawab Zen lewat ponsel itu dengan cepat.
'Wah, cepat sekali dia membalas. Apa dia pengangguran saat ini?'
"Apa anda sudah punya kekasih? Bagaimana kalau anda saja yang menikah denganku? Aku akan jadi istri yang baik untuk anda, tuan Jen." tulis Sella pada balasan pesannya.
"Nona, panggil saya sekertaris zen. Lain kali, cukup tuan Rega yang anda panggil tuan." balas pesan dari Zen.
"Baiklah. Lalu, bagaimana dengan permintaan saya tadi, sekertaris Zen?" pesan yang Sella kirim.
Setelah Sella menunggu beberapa lama tidak ada jawaban lagi, ia tertawa sendiri yang menarik perhatian Rejan dan Runa yang kebetulan tengah membantu pekerjaan di toko.
'Dia pasti bingung menjawabnya dan dia pasti takut sekali dengan tuan Rega. Ah, seandainya aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang memerah saat ini. Sepertinya lucu. Laki-laki bertubuh kekar dan tinggi seperti dia, dengan wajah merona merah. Sungguh menggemaskan!'
"Kenapa kakak tersenyum sendiri. Apa kakak baik-baik saja?" tanya Rejan.
"Apa kamu pikir aku gila?"
'Hais. Aku memang bisa gila kalau terus menerus berhadapan dengan laki-laki itu'
"Bukan. Atau kakak sedang bahagia? Katakan kak. Ada pesan apa diponsel canggihmu itu!"
"Ini biasa saja. Bukan pesan istimewa." kata Sella sambil melemparkan ponsel itu di sofa.
Tindakan Sella diperhatikan Rejan dan berkata
"Kalau kakak tidak suka ponsel itu, berikan padaku"
"Jangan, kalau kamu masih sayang nyawamu. Bantu aku membereskan rumah. Biar Rika yang bekerja di toko."
"Apakah akan ada tamu istimewa malam nanti?" kata Rejan.
"Sepertinya begitu. Kamu akan senang nanti. Tapi jangan melakukan hal bodoh. Oke?"
__ADS_1
Rejan menuruti kakaknya untuk membersihkan rumah, menata barang-barang dengan baik agar terlihat rapi dan indah. Membereskan semua barang lama dan memberikannya pada beberapa tetangga yang mau menerimanya.
Flinna juga heran dengan apa yang dilakukan Sella tapi seperti biasa ia hanya diam dan menunggu anak gadisnya mau mengatakannya sendiri tanpa paksaan darinya.
"Ibu, bagaimana menurutmu apa rumah kita sudah rapi sekarang?" tanya Sella setelah selesai membereskan rumah. Rejan terlihat kelelahan sudah menyelesaikan dan menyusun banyak barang, ia duduk bersandar di sofa baru mereka.
Flinna mendekat pada sofa yang diduduki kedua anaknya dan duduk diantara mereka berdua. Dengan lembut ia mengusap rambut Sella yang terikat kencang dibelakang kepalanya.
"Apa ada sesuatu yang akan kau jelaskan pada ibu. Tentang apa ini?" kata Flinna penuh tekanan.
"Ibu, sepertinya kakak akan segera dilamar. Kakak akan menikah, bu. Ibu senang kan? Dan pria itu akan datang malam ini." kata Rejan. menyela.
Flinna menghela nafas, masih menatap Sella dengan penuh pertanyaan. Ia sebenarnya sudah mencurigai sesuatu, tapi Sella sepertinya enggan membicarakannya. Ia juga sempat heran karena ada seseorang yang beberapa hari yang lalu mencari informasi tentang Sella.
Flina hanya mengatakan yang ditanya orang itu padanya. Orang itu mengaku bahwa dia adalah temannya dan akan memberikan kejutan jadi dia perlu tahu tentang kebiasaan dan bahkan masa lalunya agar tidak salah dalam membuat hadiah.
Orang-orang itu utusan Zen yang memastikan kalau tuannya tidak lagi salah pilih wanita yang akan dinikahinya. Zen perlu memastikan kalau Sella adalah wanita yang benar-benar baik, dan menjadi pendamping hidup Alrega.
Para utusan itu mendekati Runa, Rejan dan Rika dengan cara yang berbeda-beda. Tapi informasi yang mereka dapatkan tentang kepribadian Sella sangatlah cocok.
"Ibu, percayalah. Aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari ibu, juga pada yang lain, hanya saja awalnya aku ragu."
"Soal apa?" kata ibunya.
"Sebenarnya ada laki-laki yang menyukaiku, dan dia ingin menikahiku. Aku tidak mempercayainya, bu. Aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri apakah aku akan menjadi istrinya atau tidak?"
"Apa kamu bodoh sudah tidak percaya diri seperti itu?" sahut Flina memutar bola matanya malas. Ia tak menyangka kalau Sella sudah ragu akan kebaikan untuk dirinya sendiri. Tidak sewajarnya kebaikan pada seseorang itu ditolak atau diabaikan, sebab kebaikan datangnya dari Tuhan.
"Tapi aku ragu dengan pernikahan ini. Apakah ia sungguh-sungguh atau hanya mempermainkan aku. Ibu tahu kan aku trauma dengan pertikaian rumah tangga. Aku..."
'Aku membencinya, bu'
"Sese, sudah ibu bilang kan kalau kamu tidak akan mengalami nasib buruk seperti ibumu! Percaya lah. Kamu akan mendapatkan laki-laki terbaik."
'Pria terbaik? Maaf, bu. Aku mengecewakanmu'
"Kamu sudah banyak berkorban dimasa lalumu. Sudah saatnya kamu mendapatkan keberuntunganmu sendiri. Sudah cukup kamu mengurusi ibumu. Waktunya kamu mengurus dirimu sendiri. Sebagai orang tua, aku akan mendo'akan yang terbaik." kata Flinna lembut.
"Dan ingat, kamu anak ibu yang cantik dan baik, tidak ada laki-laki yang akan menyakitimu. Biar ayahmu saja yang sudah membuat kita seperti ini. Tapi tidak dengan suamimu." Flina menimpali.
"Kakak, kalau nanti kakak iparku itu jahat, bilang padaku, kak. Pasti aku akan membalasnya dua kali lipat." kata Rejan sambil mengacungkan tinjunya.
"Ck! Diam kamu. Ini obrolan orang dewasa. Bukan untuk anak dibawah umur."
"Siapa yang dibawah umur, si?"
"Kamu!" kata Sella sambil mencubit punggung Dero.
"Sese, kapan tamunya akan datang. Kita harus menyelesaikannya sekarang."
__ADS_1
"Nanti malam." jawab Sella singkat.
'Semoga hujan besar bahkan hujan peluru turun saat ini, biar dia tidak bisa meneruskan perjalanan karena roda mobilnya bocor, mobilnya rusak atau dia mati.'
Flina tersenyum dan beranjak ke dapur. Ia bersiap memasak sesuatu atau membuat makanan ringan yang kira-kira akan disukai pria itu malam ini.
"Rika. Tutup toko kita dan bantulah ibu di dapur" kata Sella pada Rika yang masih sibuk merekap beberapa barang yang habis.
"Baiklah, apa benar akan ada tamu penting malam ini, kak?" tanya Rika penasaran. Rasa ingin tahunya sangat banyak sama seperti Rejan hanya saja ia bisa mengendalikan dan menjaga dirinya dengan baik. Bekerja dengan Syalu sangat menyenangkan baginya.
"Mungkin saja kalau tidak ada badai malam ini." sahut Sella seraya meraih ponselnya dan berharap ada pesan pembatalan kunjungan dari Zen.Tapi sampai ia menyelesaikan urusan toko, pesan itu tidak kunjung tiba.
-
Sella baru saja membersihkan diri dan memilih-milih baju yang akan ia kenakan. Handuk kimono masih menempel ditubuhnya. Menatap diri dicermin sambil memasang gaun di depan dada. Ini hal konyol menurutnya karena ia belum pernah melakukan yang seperti ini.
Mematut diri dicermin sambil memakai baju yang sama sekali tidak sesuai dengan kebiasaannya. Ia biasa hanya memakai celana panjang dipadu kemeja atau kaus biasa. Tidak pernah terpikir ia harus memakai gaun seperti saat ini.
Sella masih menyisir rambut ikalnya ketika ibunya masuk dan berkata
"Anakku sangat cantik. Saat seperti ini lah perlunya semua ramuan herbal yang sering ibu buat untukmu." kata Flina sambil membantu Sella merapikan rambutnya yang cukup panjang. Seandainya rambut itu lurus maka panjangnya akan melebihi bokongnya.
Flinna selalu membuat beberapa racikan herbal yang ia berikan pada anak gadisnya itu setiap hari walau Sella kadang bosan tapi Flina sebagai ibu yang perduli, memaksanya.
Syalu seorang gadis yang enggan merawat diri, tapi Flina menyayangi gadis itu sepenuh jiwa hingga ia tak ingin kalau anaknya menjadi tak terawat karena sibuk memenuhi kebutuhan keluarga sebagai tulang punggung menggantikan ayahnya. Biar bagaimanapun juga, Sella tetaplah seorang gadis.
Kini hasilnya terlihat saat Sella memakai pakaian yang sedikit memperlihatkan bentuk tubuhnya. Walau pakaian yang dipilih Sella adalah pakaian yang tidak terbuka.
Gaun tanpa lengan warna navi yang panjang sampai selutut. Berenda kecil dibagian lehernya yang rendah, cukup memperlihatkan kehalusan dari kulit Sella yang kuning langsat. Gaun itu memperlihatkan lehernya yang jenjang serta betisnya yang bagus.
"Ibu, tentu saja aku cantik secantik ibuku." kata Sella membuat Flinna tersenyum, anak gadisnya itu selalu tahu yang membuat hati ibunya senang.
"Katakan pada ibu bagaimana kamu bisa bertemu dengan pria ini. Padahal kamu selama ini tidak pernah mau mendekati laki-laki manapun?"
"Apa ibu sungguh ingin tahu?" Flina mengangguk mendengar pertanyaan Sella.
"Aku bertemu sudah dua tahun yang lalu, tak sengaja aku bertemu dia lagi dengannya bulan kemarin, aku juga tidak menyangkanya, kalau tidak salah begitu."
"Dia menyukaimu?"
"Iya. Tapi... Sebenarnya aku meragukannya, dan ternyata dia sungguh-sungguh ingin menemui ibu."
"Apa yang akan kamu katakan tentang ayahmu?"
"Tenanglah, bu. Aku tidak akan mengatakan hal buruk tentang ayah. Dia cukup tahu kalau ibu sudah bercerai darinya. Itu saja cukup."
"Katakan, seperti apa laki-laki itu, apakah dia yang pernah datang ke tokomu waktu itu?" Sella mengangguk mendengar pertanyaan ibunya.
"Sayang, dia laki-laki paling tampan yang pernah ibu lihat. Sepertinya benar, dia laki-laki terbaik untukmu." kata Flina tersenyum puas.
__ADS_1
'Ahk, ibu.'