
Alrega meletakkan tubuh Sela dengan perlahan di atas tempat tidur dan menyelimutinya, mencium puncak kepalanya.
"Jangan pergi ke mana-mana, kita menginap di sini sampai kau pulih. Tunggu Aku pulang, " katanya, lalu pergi begitu saja. Ia biasanya selalu pergi dengan stelan jas yang lengkap, tapi sekarang ia bahkan hanya memakai kaus biasa. Ia hendak pergi ke rumah kakek Mett.
Sella termenung melihat sekeliling tempat tidurnya, yang memang mirip di alam terbuka. Ia seolah-olah tertidur di antara bunga-bunga segar yang mengelilinginya dan dia adalah ratu bunga.
'Ahk, ternyata kau bisa semanis ini juga, Al, tapi kenapa si, dia selalu setenang itu, seperti tidak pernah ada rasa bersalah sama sekali, seolah semua yang terjadi itu wajar-wajar saja, aneh?'
Sella terus memikirkan dirinya sambil menggerakkan kaki dan tangannya yang terasa kaku dan lemas. Sedikit demi sedikit kekuatan tubuhnya mulai pulih, ia duduk di sisi ranjang, dengan kaki yang terjuntai ke bawah. Lalu secara perlahan menjejakkannya di lantai dan berhasil! Ia mulai kuat sekarang.
Sebenarnya ia heran, dengan apa yang menyebabkan kakinya begitu lemas, padahal Ia hanya tidak makan selama hampir 30 jam, kemudian berdiri berjam-jam di pantai, berlari menghindari suaminya. Itu saja. Ia berpikir mungkin saja Tuhan menghukum karena ia sudah marah pada dunia, marah pada diri dan keadaan yang menyudutkankannya.
Sella menarik nafas dalam, sambil mengusap wajahnya. Ia sadar bahwa semestinya, tidak perlu marah dan menyesal sedalam itu, sebab semua manusia tentu pernah salah apalagi keliru.
Tidak ada manusia yang tidak pernah menyesali sesuatu. Lagi pula kesalahan yang ia lakukan dahulu sangat buruk, wajar bila ia mendapatkan balasan yang menyakitkan seperti itu.
Mengingat karma itu ada, yang menyaksikan semua perbuatan manusia, lalu membalas apa yang telah dilakukannya, dengan balasan yang setimpal.
Beberapa saat lamanya Sella berjalan mondar mandir, hingga ia yakin kuat berjalan dengan baik. Ia memanggil dua pelayan yang ada di ruang yang lain, pelayan yang bertugas menjaganya, agar tidak pergi kemana-mana dan juga melayani semua keperluannya.
"Nona memanggil kami?" Tanya pelayan itu sambil membungkuk hormat.
Sella mengangguk sambil melepas paksa jarum dan selang infus, yang ada di tangannya. Ia meringis menahan rasa panas dan perih pada kulit tempat jarum berada. Ada sedikit darah mengucur dan ia segera menguapnya, dibantu oleh pelayan yang mengambilkan tisu untuknya.
"Apa kalian punya ponsel?" Sella berkata setelah berhasil menghentikan aliran darahnya.
Ketika diusir dari rumah, ia tidak membawa apapun barang-barang miliknya, seperti ponsel, uang, dompet dan kartu debitnya. Semua ada di kamarnya ia berniat untuk meminta Pak Sim, mengambil semua barang-barang miliknya, lalu memberikannya kepada Leana. Meminta Leana membawa semua barang miliknya ke hotel, sekarang juga.
Mendengar permintaan Sella, kedua pelayan itu terlihat ragu untuk memberikan apa yang ia inginkan? Tentu saja mereka takut disalahkan, apabila terjadi sesuatu dari nona muda mereka.
"Kalian tidak perlu takut, aku akan menanggungnya, aku tidak akan menyalahkan kalian sama sekali, jangan kuatir."
Sella mengerti kalau para pelayan itu takut, dengan konsekuensi dari perbuatannya, apabila Alrega tahu, mereka berdua membantunya.
Dalam benak Sella, langkah awal yang harus ia lakukan adalah mengambil barang miliknya yang ada di rumah dan ia harus meyakinkan kedua pelayan ini agar mau menuruti keinginannya
Apabila nanti semua barangnya sudah berada di tangannya, itu akan membuatnya mudah untuk dia pergi dari sana tanpa diketahui oleh Alrega.
Sella merengek dan merayu para pelayan berulang-ulang, hingga akhirnya mereka pun maj menghubungi Pak Sim seperti keinginan Nona mudanya.
Wanita itu berbicara pada pak Sim melalui ponsel salah satu pelayan, dengan semangat ia mengatakan semua yang diinginkannya. Laki-laki paruh baya yang ada di seberang telepon itu sangat menghawatirkan keadaannya, tapi Sella menenangkan dan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Pria itu juga meminta maaf kepada Sella karena tidak bisa membela dan menolongnya saat Delisa berlaku kejam padanya.
__ADS_1
Saat itu pula ia mendengar dari Pak Sim, bahwa semua penjaga mendapatkan hukumannya, atas keteledoran mereka, yang sudah tidak becus menjaga pesta.
Pada saat kejadian itu, semua penjaga dan pelayan, menerima pemberian Delisa, yang kemudian mengakibatkan mereka tidak sadarkan diri. Sebenarnya itu bukan murni kesalahan mereka, tapi tetap saja mereka bmendapatkan hukumannya.
Mereka mendapatkan hukuman saat Zen dan Alrega kembali.
Cerita Pak Sim itu, sempat membuat Sella ingin membatalkan kepeegiannya, tapi ia merasa harus melakukannha saat ini juga, dia ingin membayar harga dirinya.
"Apa semua penjaga mendapatkan hubungan hukuman tanpa terkecuali, termasuk Leana?" tanya Sella di ponsel kepada Pak Sim.
"Benar, Nona."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia baik-baik saja."
"Syukurlah, kalau begitu suruh dia kemari dan bawakan semua barangku yang ada di kamar. Aku tidak bisa ke mana-mana sekarang, aku dikurung!"
"Nona, ada di mana sekarang?"
'Di hotel. Ingat, Pak, jangan katakan apapun pada Tuan. Kalau kau mengatakannya, aku akan benar-benar pergi, tidak pulang dan aku akan menyalahkanmu.'
Sella mengancamnya, ia juga mengancam pelayan. Padahal pak Sim adalah seorang pelayan yang ia dihormati karena dianggap sebagai keluarga sendiri, tapi ia harus melakukannya, agar keinginannya bisa terwujud.
Sella ingin pergi ke rumah Delisa, untuk membayar uang yang sudah ia dapatkan dua tahun yang lalu, ia menganggap sebagai utang. Ia tahu kalau seandainya ia pergi sendiri ke rumahnya, pasti Alrega tidak akan mengijinkannya. Ada rasa sesal di hatinya mengapa ia tidak melakukannya sejak Alrega memberikan kartu itu kepadanya.
Meski ia tahu tidak ada harga diri yang pantas dinilai dengan uang, tapi ia hanya berharap bisa bicara baik-baik dengan Delisa lalu ia tidak akan berbuat hal lain yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri juga.
Setelah ia selesai membicarakan semuanya dengan Pak Sim dan pria itu menyetujuinya, ia pun menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.
Selama menunggu Leana, sopir pribadinya yang ditugaskan oleh suaminya datang, Sella menghabiskan waktu dengan menikmati acara di televisi, duduk di sofa yang dipenuhi bunga-bunga segar, wangi alami tersebar di sekeliling ruang, yang menenangkan.
Sudah lebih dari satu jam ia menunggu Leana, hingga kemudian Gadis itu datang, membawa tas tangan bermerk miliknya.
Begitu Leana menunjukkan diri di hadapannya, Sella terkejut melihat wajahnya, yang bengkak. Ada bekas luka di ujung bibirnya dan juga sedikit luka di pelipisnya.
Sella mengerutkan alisnya dan melambaikan tangan agar Leana duduk di sampingnya, Namun Leana menolak, ia memilih diam di tempatnya berdiri dan menyerahkan tas yang berisi semua barang milik Sella di atas meja.
"Sebenarnya apa yang Zen lakukan padamu, kenapa pipimu bisa seperti itu?" Sella be bertanya sambil memeriksa isi tasnya.
"Sekertaris Zen, tidak melakukan apa-apa Nona, ini semua atas kesalahan saya."
"Kau pikir semua itu bukan kesalahannya?
__ADS_1
Mereka pendendam sekali."
"Hah, memang ya, menghukum orang yang bersalah itu wajar, tetapi kalau menghukum wanita yang dia tidak tahu apa-apa, sampai bengkak begitu, tidak wajar namany!" Sella berkata dengan kesal.
Zen sudah menghukum Leana dan semua penjaga hingga mengakibatkan wajahnya seperti ini. Menurut Sella, sudah di luar batas kewajaran.
Shella menggelengkan kepala, ia tidak bisa membayangkan apa, yang dialami gadis didepannya ini ketika mengalami pukulan dan siksaan atas kesalahannya, yang sebenarnya tidak penting.
Apa susahnya sih memaafkan ... yang salah bukan mereka, tapi Delisa. Konyol sekali kalau ia harus memberinya maaf, setelah kekacauan yang diakibatkannya kali ini.
Sella menahan geram, menggeretakkan giginya, ia kesal bagaimana ia akan memaafkan perempuan itu? Memang, dirinya juga bersalah, tapi Delisa lebih salah, penipu tetaplah akan di cap sebagai penipu.
Waktu itu ia mau melakukan penipuan, bekerja sama dengan Delisa. Ia tidak tahu, bahwa ternyata Delisa melakukan sandiwara penipuan itu, untuk menipu suaminya sendiri. Naif sekali!
"Nona, apa kita akan pergi?"
"Hmm, apa kau bawa mobilku?"
"Iya, Nona."
"Ayo! Aantarkan aku ke suatu tempat," kata Sella sambil berdiri.
Namun saat ia berdiri, ia hampir terjatuh lagi dan Leana memapahnya berdiri.
"Ahk, maaf merepotkan, ayo! Bantu aku," katanya lagi, sambil melangkah mendekati pintu.
Kedua pelayan mendekat, menghadang langkah Sella. Mereka membungkuk hormat, lalu berkata.
"Nona bagaimana kalau nanti Tuan kembali, apa yang harus kami katakan kalau Nona belum pulang?"
"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa, aku pulang, angsung ke rumah tidak akan ke sini lagi, apa kau mengerti?"
Sella meneruskan langkahnya, sambil menoleh ia berkata.
"Jadi kalau kalian mau pulang, ya pulang sajalah tidak usah menungguku!"
"Lalu bagaimana bunga-bunga dan semua yang ada disini, apakah kami harus membuangnya?"
Sella mendesah keras melihat sekelilingnya, melihat bunga-bunga yang begitu cantik. Ahk, ia tidak harus membuangnya, ia bisa membawanya pulang saja ke rumah, itu akan menyenangkan Zenia, ia tersenyum membayangkannya.
Ia tahu kemarin saat kejadian itu, Zania tidak menyalahkan dirinya.
"Ha, tenang saja, aku akan menelpon Pak Sim lagi. Biar dia mengirim pelayan dan kendaraan untuk membawa bunga-bunga ini pulang, kalian tunggu saja di sini."
__ADS_1
"Baik, Nona."
bersambung