Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 114. Keputusan Selanjutnya


__ADS_3

Suasana seketika berubah dingin, seolah angin musim gugur bertiup disekitarnya dan salju mulai mencair. Rejan menetap Sella dengan tatapan serius kedua alisnya berkerut, begitu juga dengan Alrega. Sedangkan Runa yang sejak tadi hanya berdiri di pintu, melangkah mendekat lalu menepuk bahu Sella


Gadis remaja itu berkata, dengan raut wajah yang menunjukkan rasa curiga.


"Kak, ada apa. Apa ada yang Kakak sembunyikan dari kami?"


"Ah, tidak ada," jawab Sella tenang, dia mengerjapkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam.


Wanita itu mendekati Alrega, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Sorot mtanya seolah-olah mengirimkan kata-kata dan membentuk sebuah kalimat, 'tolong! Selamatkan aku, apa yang harus aku katakan, aku khawatir ibu akan syok, kalau mengetahui kejadian yang sudah lewat hampir tiga tahun yang lalu'


Alrega meraih tangan Zania lalu berkata, "Ibu bicara apa, tentu saja Sella berhasil melewati ujiannya, bukankah begitu, sayang?" Lalu menoleh pada istrinya sambal mengerling.


'Eh, apa tadi, dia bilang sayang, kan?'


Sella membalas kerlingan mata Alrega dengan senyum, yang menutupi kegugupannya dan menggenggam tangan suaminya, semakin erat. Ia seolah memberi isyarat dengan berkata, 'jangan kau katakan apapun pada ibuku, kumohon ....'


Sella menunggu apa yang akan dikatakan Alrega, sebagai jalan yang menentukan keputusan selanjutnya, apakah ia akan berterus terang saat ini atau tidak?


Satu tangan Alrega yang dipegang oleh Sella bergerak, membawanya ke bibir dan mengecup punggung tangan Sella lembut. Sedangkan satu lagi yang memegang tangan Zania, lebih ia eratkan lagi.


Zania menatap Alrega, ia ingat bila saat kejadian, anak laki-lakinya itu tidak tahu, sehingga ia berpikir bahwa Alrega tidak mengerti maksud dirinya, yang akan mengatakan kejadian yang dialami Sella.


"Hmm ... jadi maksud ibu, Sese sudah menolong membuat pesta yang bagus untuk Yorin?" Alrega berkata sambil duduk di samping Zania.


Ia menoleh lagi ke arah Flinna dan berkata, "ibu kenal Yorin? Dia adikku yang berulang tahun kemarin lusa, memang ada sedikit kekacauan di sana, tapi Sella berhasil menyelesaikannya dengan baik," kata Alrega membuat semuanya tercengang, termasuk Zania.


Zania hanya mengerutkan alisnya, ia tidak menyela juga tidak mengatakan apa pun, untuk menyanggah ucapan Alrega. Wanita itu seolah mengerti bahwa Alrega menutupi kejadian yang sebenarnya, dari ibu mertuanya.


Akhirnya Zania pun tersenyum dan dia melepaskan tangan yang digenggam Alrega, lalu kembali meraih tangan Flina dan berkata dengan suara yang lembut.


"Ujian yang kumaksud, hampir saja membuat Yorin malu karena ada yang menumpahkan makanan, tapi semuanya sudah selesai tidak tidak ada yang terjadi setelah itu."


"Siapa yang sudah melakukannya, bukan kamu kan, Sese? Memalukan, menumpahkan makanan dipesta, yang ramai orang seperti itu!"


"Maaf ... aku memang ceroboh."


"Ya Tuhan, kau memalukan sekali Kakak, untung aku tidak melihat, kalau aku ikut waktu itu, aku pasti malu juga." Runa ikut menimpali ucapan ibunya.


Sedangkan Sella dan Rezan sedikit bernafas lega, mereka saling melempar senyum penuh arti dan mengerling, seolah memberi tahu bahwa semua baik-baik saja dan tidak perlu khawatir dengan ibu mereka.


Untuk menenangkan diri, Sella keluar kamar Flinna menuju ruang makan, ia duduk dannmenangkupkan wajahnya di atas meja makan, bertumpu pada lengannya. Menutup semua panca indera di wajahnya agar tidak menangis.


'Kenapa sekarang aku jadi selemah ini hanya karena semua aib yang kututupi selama ini mulai diketahui oleh orang sedikit demi sedikit?'


Sebelumnya, Zania menanyakan tentang bagaimana pertemuan dan pernikahannya dengan Alrega. Sella belum sempat menjawab, ketika ia secara tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari adiknya. Ia belum memikirkan apa yang harus ia ungkapkan pada Zania, bahwa pernikahan anaknya hanya bermula dari balas dendam saja.


Sekarang ibunya hampir saja tahu, masalah yang ia sembunyikan, yaitu tentang bagaimana ia bisa mendapatkan uang yang cukup besar, untuk membiayai perawatan di rumah sakitnya, hampir tiga tahun yang lalu.


Tak lama kemudian, Alrega menghampiri dan duduk di sebelahnya, merangkul bahu dan berkata dengan suara lembut.


"Hei ... apa yang kau pikirkan."


'Hei, hei, apa? Kau tadi memanggilku sayang, apa benar-benar sayang?'


Shella mengangkat kepalanya dan menoleh pada pria yang duduk di sebelah kanannya, ia tersenyum dan berkata dengan lembut.


"Bukan apa-apa, terima kasih, sudah menolongku." Sella mendesah sesudah itu, menegakkan badannya dan bersandar.


"Memangnya Apa yang kulakukan?" Tanya Alrega sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Sella.


"Sudah menjawab pertanyaan ibu dengan tepat."


Alrega menyeringai lucu, mengeratkan pelukannya, lalu menyahut sambil menundukkan wajahnya pada Sella yang bersandar di dadanya.


"Memang seperti itu yang terjadi, aku tidak mengada-ada, memang ada kekacauan kecil di sana."

__ADS_1


'Aah dia ini'


"Kau tadi memanggilku apa, coba katakan lagi."


"Aku memanggil apa? Kau ingin aku memanggilmu apa?"


'Ayo! panggil Aku Sayang!'


Sella diam. Hanya hatinya yang bicara.


"Kau tidak mau memanggilku seperti itu, kan? Jadi untuk apa Aku memanggilmu dengan sebutan semacam itu, lucu sekali."


'Oh iya, kau memang hanya manis di depan Ibu saja, dasar munafik!'


Alrega mengendurkan pelukannya lalu menangkap wajah Sella dengan kedua tangannya.


Alrega mengerti, seolah-olah tahu apa yang ada dalam isi kepala Sella, ia berkata di dekat telinganya, dengan suara rendah.


"Apa yang kau pikirkan tentang aku?"


"Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Ck, apa aku harus membongkar isi kepalamu, aku tahu kau bilang aku munafik, kan?" ia berkata dengan bibir yang cemberut.


Sella merasakan seolah-olah perutnya menjadi panas dan penuh sesak seolah mendorong ke ulu hatinya, menahan tawa. Ingin sekali dia menertawakan Alrega. Menurutnya, laki-laki yang tengah mendekapnya ini, terlihat lucu. Entahlah, hilang semua kesan sangar dan tegas yang ada pada dirinya, saat ia merajuk seperti ini.


Sela mengeluarkan tangan menyimpan kedua telapaknya di pipi Alrega, sama persis dengan yang dilakukannya, lalu berkata, sambil mendekatkan wajahnya.


"Apa yang kau lakukan, kalau aku mengatakan bahwa kau munafik?"


"Aku akan menggauli dan mencumbuimu di kamar sekarang juga, ayo!" Alrega berkata sambil melepaskan tangan Sella dari wajahnya, lalu menciumnya sekilas.


"Memangnya cuma itu yang ada dalam pikiranmu, ya?"


'Terus apa yang akan kau lakukan di kamar nanti, ahk ... yang benar saja, aku capek, tahu. Dari sejak pingsan, kau bawa aku ke hotel, lalu ke pantai, ke apartemen Zen, kau sudah melakukan itu padaku, lalu di rumah sakit. Dasar!'


'Memangnya kau pikir aku menginginkan apa?'


Belum sempat Sella menjawab pertanyaan Alrega tersebut, tiba-tiba Zen masuk ke dalam rumah, menghampiri mereka berdua di ruang makan. Wajahnya terlihat pias dan bulir-bulir keringat kecil yang bening, memenuhi keningnya. Pria itu menundukkan kepalanya di depan Sella dan Alrega.


Alrega menoleh, mengerutkan alis dengan wajah yang kembali datar dan dingin, lalu berkata, "ada apa? Kenapa kau seperti itu?"


Selama ini belum ada yang bisa membuat Zen terlihat panik atau resah, kecuali masalah yang benar-benar berat.


"Ma--maaf, tuan ada sesuatu yang terjadi pada Nene, Aku baru saja menerima telepon dari dokter yang menangani Nenek, beliau sekarang kritis dan masuk ke ICU."


"Oh, ayo!" Hanya itu yang keluar dari mulut Alrega.


Laki-laki itu langsung berdiri, menggamit tangan Sella. Wajahnya tenang setenang karang, hanya Sella yang merasakan reaksi sebenarnya dari suaminya, dari telapak tangannya yang basah berkeringat.


Alrega memang tampak setenang itu, seolah tidak tergoyahkan, walaupun hatinya sedang gusar. hianya dirinya sendiri yang tahu, laki-laki ini berusaha sekuat tenaga menutupi apa yang dirasakannya, atau ia terlihat tidak merasakan apa-apa, padahal sebenarnya dialah yang paling merasa tersiksa di antara semuanya.


Sama halnya saat kematian Nigiro Leosan, ia sangat terpukul, tapi ia tetap menunjukkan ketenangan jiwa yang luar biasa, ia dididik dan diajarkan banyak hal oleh kakeknya itu, sementara Rehandy sibuk mendirikan Art Design Grup, perusahaannya sendiri, ayahnya itu ingin mandiri dan lepas dari keluarga Leosan.


Alrega, Sella dan Zen, masuk ke dalam kamar Flina, setelah meminta izin terlebih dahulu. Setelah itu mereka berpamitan untuk kembali ke rumah sakit karena harus melihat keadaan Marla.


"Apa kau tidak menginap?" Kata Flina


"Maaf, Bu, tidak bisa ... nenek sekarang kritis aku harus ke sana."


Flinna memaklumi keperluan mereka tidak bisa ditunda lagi, untuk menengok Marla. Ia pernah melihatnya, waktu pernikahan Sella, kedua wanita yang mewakili keluarga besan itu saling mengenal dan menyapa.


Flina tahu, bahwa memang Marla sudah tua, walaupun riasan yang tebal menutupi keriputnya. Jadi, wajar bila wanita itu sakit seperti sekarang ini. Manusia yang muda saja pasti pernah dihinggapi penyakit, apalagi orang yang sudah tua, seperti Marla.


Ia beraksi sedih tapi kemudian ia berkata, dengan semangat, seolah lupa ia baru saja pingsan.

__ADS_1


"Se, bolehkah aku ikut bersama kalian ke rumah sakit?"


Shella menggelengkan kepalanya dengan keras. "Ibu tidak perlu ke sana, berdoalah, Bu, semoga Nenek baik-baik saja. Itu sudah cukup, Ibu masih harus istirahat, kan?"


Tanpa menunggu waktu lama, rombongan kecil itu segera memasuki mobil dan iring-iringan mobil itu pun segera pergi, meninggalkan rumah sederhana milik Flin.


Flina terlihat gusar dan dan gelisah memikirkan basib anaknya. Biar bagaimanapun Sella adalah kesayangannya, yang sudah banyak berkorban untuk keluarga. Waktu Sella menikah, ia sempat berpikir buruk tentang keluarga suaminya, ia khawatir apabila gadis itu berada di lingkungan keluarga, yang menolak dirinya.


Ia punya keyakinan bahwa Sella akan mendapatkan balasan dari kebaikan dan pengorbanannya. Namun keyakinan itu goyah ketika mengingat mereka bukan berasal dari kalangan, dan kedudukan yang sesuai dengan strata sosial mereka, sehingga menjadi bahan ejekan saja.


Akan tetapi, Sella pulang pada waktu itu dan mengirimkan banyak sekali hadiah dan juga makanan, pikiran buruknya pun berubah. Apalagi saat ini, ketika Zania datang mengunjunginya bersama anaknya yang menunjukkan kasih sayang tulus, tidak di buat-buat, membuat Flinna sangat bersyukur, bahwa anaknya baik-baik saja dan diterima dengan wajar di sana.


***


Sesampainya di rumah sakit, Sella, Zania dan Alrega serta Zen, segera menyusul Rehandi yang ada di pintu depan ruang ICU. Terlihat Rehandy sedang duduk di kursi ruang tunggu sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Sella mendekati Rehandy dan berkata dengan wajah cemas.


"A--apa yang terjadi Ayah, mengapa Nenek bisa sampai masuk ke ICU?"


Rehandy menoleh menatap Sella dan semuanya, menghampiri Zania, menggamit tangannya, sambil berkata, "Ibu, dari kemarin baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Kalian lihat sendiri kan, waktu kalian pergi? Tapi tadi bangun tidur, tiba-tiba saja jantungnya lemah dan sekarang Dokter sudah menanganinya."


"Lalu, kenapa masih ada di ruangan ini?" Tanya Alrega. Ia benci ruangan itu, dulu Kakeknya pun meninggalkan dirinya di sana. Di kamar yang mengerikan, di mana banyak sekali selang serta alat penopang hidup yang menempel pada tubuh tua kakeknya, tapi tidak ada satupun dari alat itu yang bisa mempertahankan nyawanya.


"Nenekmu tidak bisa dipindahkan ke ruangan lain, dia butuh alat bantu, kau bisa bicara dengannya kalau kau mau." Rehandi menyahut sambil menggerakkan dagunya.


Alrega diam.


"Syukurlah, Ayah. Jadi Nenek sekarang baik-baik saja?"


Rehandy mengangguk. Lalu menoleh pada Zania dan merengkuh bahunya lembut.


"Sayang, kau pasti lelah?" Kata Zania, ketika Rehandy memeluknya. Rehan mengerutkan alisnya dan tersenyum, membawa Zania duduk lebih merapat.


"Tidak, aku tidak lelah. Maaf aku tidak bisa meninggalkan ibu, untuk menemuimu, tapi aku yakin kau baik-baik saja, ada Rega yang menjagamu."


"Iya, mereka berdua menjagaku. Aku juga minta maaf, tidak bisa menjaga Ibu."


"Tidak perlu."


'Aku bersyukur semua baik-baik saja, mudah-mudahan begitu juga dengan Nenek'


Sella tersenyum melihat Ibu dan Ayah mertuanya begitu mesra. Namun, reaksi itu Alrega mendengus pelan, menarik tangan Sella ke arahnya dan berjalan ke sisi koridor, menjebak tubuhnya dalam penjara tangannya. Ia menatap tajam wanita di depannya.


"Apa kau bahagia, dengan keadaan Nenek? Kenapa kau tersenyum seperti itu, hah?"


'Dia ini kenapa, si?


"Aku tersenyum bukan karena bahagia dengan keadaan Nenek, aku melihat Ayah dan Ibu begitu mesra! Jangan salah faham."


"Memangnya, apa yang salah kufahami?"


"Kau salah karena kau pikir aku bahagia. Mana ada orang yang bahagia karena sakit? Kau ini."


"Kau, kau. Sekali lagi kudengar kau memanggilku, kau, kau ...." Alrega terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya. Hanya mata yang bicara menembus retina Sella lewat sorotnya.


'Tolong beri aku kekuatan, aku khawatir sesuatu yang dulu sangat kutakuti terjadi lagi'


"Apa?" Sella bertanya sambil menggerakkan wajahnya ke samping.


'Kau tidak akan menciumku di depan semua orang yang ada di sini, kan?'


Lalu ....


Cup. Gerakan tiba-tiba dari Alrega yang mencium sekilas bibir Sella, membuat gadis itu mendelik.

__ADS_1


'Sialan, kau yang membuat orang salah faham, Al. Kau tidak suka orang lain tersenyum di saat Nenek berada di ICU, lalu kelakuanmu ini apa? Tidak tahu malu'


Bersambung


__ADS_2