
'Memangnya kau ingin dianggap sebagai apa? Apakah kau ingin dianggap sebagai suamiku yang sebenarnya?'
"Jangan seperti ini, kumohon..." kata Sella. Ia masih mendongak pada wajah Alrega.
Tubuh mereka saling menempel dalam posisi miring di tempat tidur. Sella idak bisa bergerak karena tubuhnya berada dalam dekapan Alrega. Kaki dan tangannya pun seperti terikat. Alrega menikmati pelukan itu, ia terlihat memejamkan mata dan menarik nafas dalam berulang kali.
Sella hanya diam saja dalam beberapa waktu, hingga sudah merasa pegal. Saat itu ia mencoba untuk melepaskan diri dan memberontak dari dekapan tangan Alrega. Dengan suara yang rendah Alrega berkata,
"Diam... atau aku akan..." kata Alrega sambil membuka mata dan menundukkan kepala melihat Sella yang menatap dengan raut wajah ketakutan.
'Atau aku akan apa?'
" Apa yang akan anda lakukan?" tanya Sella lirih.
'Apa kau begitu takut padaku?'
"Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan padamu?" kata Alrega
"Anda bisa melepaskan aku," kata Sela ketus.
Maka saat itu juga Alrega mengendurkan pelukan pada Sella, tubuh mungil itu terasa begitu nyaman untuk dipeluknya setiap saat. Alrega terlihat enggan mengendurkan tindihan kakinya diatas kaki Sella. Ia membalikkan posisi tubuhnya terlentang sambil memejamkan mata.
Sella turun dari tempat tidur, ia mengambilkan segelas anggur untuk Alrega, dan berkata,
" Ini anggur mu, tuan. Aku sudah menuangkannya, minum lah."
Alrega turun dari tempat tidur, ia langsung pergi ke kamar mandi tanpa menyentuh anggur Itu sedikitpun. Saat itu Sella belum sempat menyiapkan air hangat di bak mandinya. Sella kebingungan karena dari dalam kamar mandi sudah terdengar suara gemericik air.
'Apa dia mandi dengan air dingin? Apa dia marah karena aku menolaknya lagi? Ahk, terserah. Dia tidak akan mati hanya karena mandi air dingin'
Di kamar mandi Alregaa menenangkan dirinya, ia mengepalkan kedua tangan dengan sekuat tenaga terlihat sangat menahan diri demi Sella.
Sementara Alrega ada di kamar mandi, Sella menyiapkan pakaiannya seperti biasanya. Tapi sudah cukup lama Alrega tidak juga keluar dari kamar mandi. Ini sudah lebih dari satu jam.
Sella mulai gelisah. Ia memanggil Alrega di kamar mandi dan mengetuk pintunya,
"Tuan, tuan, apa anda masih di dalam?" tak terdengar sahutan. Bahkan suara gemericik air sudah tak terdengar lagi.
"Tuan...Apa kau baik-baik saja? Ini sudah cukup lama, nanti anda kedinginan...sekarang sudah siang, anda tidak ingin terlambat kan?!" tanya Sella sambil mengetuk pintunya kembali.
Lama ia menunggu. Tetap tak ada jawaban, bahkan suara gemericik air itu sudah lama berlalu. Sella kembali mengetuk pintu kamar mandi.
" Tuan! Tuan! keluarlah kalau sudah selesai, oke?!"
'Tolong jangan membuatku khawatir'
Tidak juga terdengar suara dari dalam kamar mandi untuk kesekian kalinya saat Sella mengetuk pintu dan memanggil, ia kemudian mencoba membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci. Ia melihat Alrega seperti tertidur di dalam bak mandi.
Sella mendekatinya, berlutut di sisi bak mandi dan memegang airnya, ternyata air itu dingin. Ada rasa takut dan cemas menjadi satu, ia memanggilnya,
"Tuan, tuan Al.. anda mendengarku, kan? Tuan Al, sadarlah.. Kumohon!"
Tapi Alrega diam saja hingga dia menepuk-nepuk pipinya dan hampir menangis lalu memanggil dengan suara serak dan ketakutan.
'Tuan, Al..bangunlah. Maafkan aku, aku sangat merasa bersalah padamu"
Sella terus menyalahkan dirinya bahwa semua ini adalah karena dirinya lalu ia berkata dengan suara yang menunjukkan kekhawatiran,
"Sayang bangunlah. Apa kau baik-baik saja? sayang kau tidak matikan?" sementara tangannya menepuk-nepuk pipinya.
Alrega merasakan pipinya panas karena ditepuk dengan keras oleh Sella. Tanpa diduga, saat itu Sella dengan cepat menarik pundak Alrega dan membawa kedalam dekapannya, seolah-olah kepala Alrega tenggelam dalam pelukan hangat di dada Sella.
Saat itu juga, Alrega membuka matanya dan membuat Sela terkejut, reflek melepaskan pelukannya dengan cepat Alrega menjulurkan tangannya bergerak kebelakang kepala Sella mendekatkan wajah dan bibirnya, lalu menciumnya. Alrega menyatukan bibir mereka menjadi sebuah ciuman hangat lembut dan dalam.
__ADS_1
'Kenapa selalu seperti ini? Siaal...! Dia mengerjaiku lagi'
Awalnya Sella terkejut tapi kemudian ia membiarkan Alrega melakukannya. Walaupun dia sangat kesal ia menahan semua kemarahannya di dalam dada. Sampai Alrega melepaskan ciumannya karena ia sudah kehabisan udara.
Alrega berkata sambil menjilat bibirnya sendiri, "Apa kau sungguh mengkhawatirkanku?" diam sebentar dan tersenyum tipis. Satu tangannya merapikan helaian rambut Sella kebelakang telinga.
"Apa kau tidak ingin aku mati, padahal kau yang harus tetap bernapas?" kata Alrega lagi.
Sella menarik nafas kasar sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Lalu ia melambaikan tangan sambil berkata,
"Bukan, bukan seperti yang anda pikirkan..."
"Memangnya apa yang aku pikirkan?"
"Saya tidak menghawatirkan anda,"
"Jadi kau akan membiarkan aku mati, begitu?" Kata Alrega berdiri begitu saja tanpa malu ia berjalan kearah shower dan membilas tubuh telanjangnya dengan air hangat disana. Sella malu sendiri dibuatnya.
'Ya Tuhan. Apa laki-laki ini tidak punya malu?'
"Bukan seperti itu juga..." Sella berdiri dan keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai, Alrega menyambar handuk kimononya lalu mendekati Sella, satu tangannya memegang dagu Sella sambil berkata,
"Sudah aku bilang buka mulutmu kalau aku melakukannya. Apa kau tidak pandai juga?"
'Ya Tuhan. Aku kira orang ini memang benar gila aku pikir dia mati. Dan sekarang membahas ciumannya. Hei, bagaimana aku bernafas, kau melakukannya tanpa aba-aba sebelumnya'
"Baiklah, saya akan belajar lebih baik nanti."
Mendengar ucapan Sella, Alrega menambah kuat cengkraman di dagunya, dan berkata dengan semakin mendekatkan wajahnya. Hingga nafasnya terasa hangat dikulit wajah Sella.
"Dengan siapa kau belajar?" sambil mengatakan itu, sebenarnya Alrega ingin sekali tertawa, bukankah ia hanya akan belajar berciuman dengan dirinya. Sama saja ini memberinya isyarat agar lebih sering menciumnya.
"Aku tidak tahu," jawab Sella.
Hatinya berdebar, pria ini begitu mendominasi, apa yang bisa dilakukannya mungkin akan lebih menyakitkan dari apa yang ayahnya lakukan pada ibunya. Ia tak ingin menjadi gila atau depresi atau menjadi miskin seperti saat ayahnya meninggalkan mereka. Apakah ia akan mengalami hal yang sama karena Alrega. Bukankah ia hanya dianggap sebagai pesakitan dimeja hukuman?
Sella memejamkan matanya, haruskah ia mengandalkan pria ini dan menyerahkan seluruh hidupnya padanya?
"Apa kau memikirkan orang lain yang mengajarimu?"
"Ahk, tidak."
"Takutlah padaku. Cuma aku yang bisa menciummu."
Sella mengangguk, bibirnya sedikit terbuka ketika Alrega mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Mata Alrega penuh minat memandang bibir Sella, tapi ia hanya membasahi bibirnya sendiri dan menjauhi Sella setelah melepaskan tangannya dari wajah Sella.
Alrega masih menautkan kancing kemejanya satu persatu, ketika Sella mendekat dan membantunya,
"Tuan..." kata Sella tanpa melihat wajah suaminya tapi Alrega menatap lekat padanya.
"Hmm.."
"Apakah saya boleh pulang?" mendengar Sella mengatakan bahwa dirinya ingin pulang.
'Tuan. Sebenarnya dulu aku ingin tetap bekerja untuk menopang biaya sekolah adik-adikku. Tapi karena ibu, aku membatalkan keinginan itu dan aku akan fokus menjaga ibu, sampai ia sembuh'
"Kenapa?"
"Haha, saya cuma rindu ibu. Itu saja,"
"Kau bilang ibuku juga adalah ibumu, bukan?" wajah Alrega menjadi gelap karena kesal.
__ADS_1
"Sebenarnya mereka orang yang berbeda. Walau mereka sama-sama seorang ibu. Kumohon, tuan?" mengatupkan kedua tangan kedepan dada.
Alrega menyentuh tangan itu dan menggenggamnya erat.
"Apa itu alasan untuk pergi dariku?" mendengar pertanyaan Alrega, Sella tertawa.
'Apa kau takut aku meninggalkanmu? hai, yang benar saja'
"Tentu saja tidak, tuan Al. Aku sudah berjanji. Kau harus percaya padaku, janjiku seperti janji seorang laki-laki," kata Sella membuat Alrega menipiskan bibirnya.
Janji seorang laki-laki akan lebih berharga dari pada janji seorang wanita, bukan? Biasanya seorang lelaki dinilai jantan atau tidak Itu berdasarkan janji, ia bisa menepati janjinya atau tidak. Seorang laki-laki itu harus dipegang pada janjinya.
"Kau pikir kehebatan laki-laki hanya dilihat dari janjinya, begitu?"
"Iya. Seperti itu"
"Tidak, bukan hanya itu. Kesetiaan adalah harga diri laki-laki yang sesungguhnya," kata Alrega kini ia tengah lekat menatap Sella.
'Jadi kau mau aku menilaimu hebat karena kesetiaanmu? Kau lucu. Kau menikah denganku padahal sudah tau istrimu yang dulu kau cintai itu kembali Apakah ini yang namanya kesetiaan yang berharga?'
Alrega menatap Sella yang tiba-tiba berubah rraut wajahnya. Ia menunduk mendekati kepala Sella dan berbisik ditelinganya,
"Apa kau ragu dengan kesetiaanku, lalu apa artinya kebohonganmu dua tahun yang lalu?"
'Ahk, iya. Aku pernah melakukan itu, seandainya dia memang laki-laki seperti yang aku tuduhkan, kemungkinan ibu tidak depressi, dan aku sudah benar-benar hamil karenanya!'
"Maaf.."
"Jangan pulang kalau hanya ingin bekerja. Tanganmu, kau harus mengistiratkannya." tangan Sella terasa kasar. Sella menyadari hal itu, ia segera menarik tangannya dari genggaman Alrega.
"Tuan, anda memang memiliki banyak uang, tapi uang tidak akan membuat tanganku kembali."
Sella sudah bekerja keras sejak ia sekolah ditingkat pertama, bahkan beberapa kali terpaksa bekerja kasar. Hingga ia mempunyai kapalan dibeberapa ruas jarinya. Jika anak remaja seusianya memiliki banyak perlengkapan kecantikan, maka Sella memiliki banyak barang bekas yang ia manfaatkan atau dijual kembali.
Sella pernah memiliki seorang kekasih, teman laki-laki yang baik dan tampan menurutnya. Waktu itu ketika dia tahu tentang keadaan keluarga, perceraian orang tua Sella dan tahu bahwa Sella sering bekerja kasar dan menjadi pekerja paruh waktu, laki-laki itu memutuskan hubungan mereka. Sejak saat itu Sella takut menjalani sebuah hubungan yang sama dan membatasi diri dalam pergaulan dengan laki-laki.
"Aku tau. Aku hanya ingin kau mengistirahatkan tanganmu," Alrega meraih tangan itu kembali, ia menciumnya sekilas, hingga Sella tertegun dibuatnya tak percaya, ia memperlakukan Sella dengan lembut.
"Baik, tuan. Aku tidak akan kembali bekerja,"
'Tapi bagaimana kelanjutan sekolah adik-adikku?'
Alrega melepaskan tangan Sella, menuju etalase tempat penyimpanan ikat pinggang dan jam tangannya, ia memilih dan memakainya. Sambil mengenakannya, ia berkata
"Pergilah besok, Zen akan menyiapkan sopir perempuan untukmu."
"Ahk, tidak perlu. Aku bisa memakai motor anda," Mendengar kata motor, Alrega melotot kearah Sella, ia mendekat lalu berkata,
"Kau mau bertemu laki-laki itu lagi?"
'Laki-laki siapa maksudmu, Hanza? Apa kau cemburu?'
"Saya tidak akan menemui siapapun kecuali keluarga saya, tuan"
"Awas kalau kau berbohong. Tidak ada ampun bagimu” berkata sambil melangkah keluar ruang ganti.
'Bagaimana kalau secara tak sengaja bertemu, apa kau akan membunuhku, atau membunuhnya?'
"Kalau kau menemuinya lagi, maka akan kulenyapkan kalian berdua...! Ayo makan," kata pria yang sudah berpakaian rapi itu sambil membuka pintu kamarnya.
Sampai di meja makan, semua orang sudah berkumpul, dan Rehandi menatap Alrega dengan tatapan gelap segelap mendung.
" Apa kau sudah mengabaikan kewajibanmu, karena perempuan ini?" kata Rehandi.
__ADS_1