
Zen melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Masih banyak waktu sebelum malam tiba, ia tidak ingin menunda pertemuan dengan Lonisa.
Ia sengaja dengan segera menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Alrega untuknya, sehingga bisa bebas melakukan keinginannya sekarang. Ia berpikir bila tuan mudanya tidak akan mengganggunya lagi. Melayani Alrega sudah cukup, untuk hari ini.
Alrega memutuskan untuk tidak bekerja hari ini karena prihatin, dengan kondisi Sella yang semakin lemah. Dokter tidak menyarankan agar wanita itu dirawat, tapi Alrega yang memutuskan untuk merawatnya sendiri di rumah. Zen sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pria posesif itu selama merawat istrinya.
“Bisa jadi tuan muda akan memeluk nona seharian di kamar dan tidak melakukan apapun selain ke kamar mandi,” gumam Zen pada dirinya sendiri.
Ia melihat saat ini Alrega tanpa malu-malu lagi menunjukkan perasaan cintanya pada Sella. Padahal sebelumnya, tuan mudanya itu tidak malu mengakuinya. Pria itu menganggap bahwa sebuah pengakuan cinta tidak penting karena semua perbuatannya sudah membuktikan segalanya. Akan tetapi melihat kenyataan sekarang, sikapnya lebih menggelikan lagi.
CK! Dulu saja begitu, aku tidak akan seperti tuan muda’
Sudah banyak keadaan terang dan gelap, terjal dan lurus yang ia lalui bersama Alrega membuat Zen berpikir bahwa cinta harus dimulai dengan kelembutan, bukan pemaksaan. Ia tahu bagaimana Alrega tidak memperdulikan perasaan Sella dan terus mengerjainya.
Mungkin saat itu Alrega tidak memikirkan dan menyangka, akan mencintai Sella begitu dalam. Akibatnya akan sangat memalukan bila mengingatnya. Bukankah jauh lebih baik memulai sebuah hubungan dengan baik dari awal? Biarlah, itu yang dialami Alrega, tapi dirinya tidak akan berbuat hal yang sama. Oleh karena itu ia dari awal tidak memaksakan kehendaknya pada Lonisa.
Seseorang memang bisa mengendalikan dan memaksa orang lainnya dengan mudah. Ada orang yang lemah dan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, hingga orang yang kuat di belakangnya bisa dengan leluasa melakukan kehendakknya. Akan tetapi bukan seperti itu bila cinta.
Ia ingin Lonisa datang sendiri padanya dengan seluruh hatinya tanpa paksaan sedikit pun. Zen cukup mengatakan perasaannya, menunjukkan cinta dan kasih sayangnya. Setelah itu terserah wanitanya, apakah akan menerimanya atau tidak.
Ditengah perjalanan menuju rumah Lonisa yang memang jauh jaraknya dari kaki langit, Zen menelponnya.
“Halo,” sapa Zen begitu telepon tersmbung. “Apa kau ada di rumah?”
Sejenak udara yang berputar dalam mobil itu seperti menipis karena Zen terlihat menarik nafas dalam berulang kali.
“Untuk apa kau kemari?” sahut sebuah suara di telepon. Zen tidak menanggapi ucapan Lonisa itu, ia hanya menyimpulkan bahwa perempuan itu ada di rumah.
“Aku akan ke sana. Tunggulah.” Zen melemparkan ponsel ke kursi kosong di sebelahnya. Mendesah dan kembali fokus ke jalanan.
Ia ingat bagaimana sikap Alrega yang gelisah karena istrinya hamil untuk pertama kali, ia begitu ketakutan seolah Sella akan pergi. Ia melihat sendiri saat di rumah sakit dan ia tidak bisa mendekati Sella untuk sementara.
Pria itu terlihat sangat tersiksa sekali, seolah-olah tanpa Sella dan bila tidak menyentuhnya, maka ia akan menjadi orang yang tidak memiliki arti. Sella adalah detakan jantungnya dan ia akan meninggal bila Sella pergi darinya.
Ck! Zen mendesah keras.
Dia tidak akan seperti itu, walau ia mencintai Lonisa tapi ia akan tetap berfikir waras tanpa melibatkan emosinya terlalu dalam.
Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya ia berhenti di depan rumah Lonisa yang berpagar putih tidak terlalu tinggi. Ia membuka dan menutup gerbang itu sendiri, setelah memasukkan mobil di pekarangan rumahnya.
Lonisa sedang duduk di teras rumahnya saat ia melihat pintu gerbang terbuka. Ia melihat Zen turun dari mobil dengan perasaan yang campur aduk. Ia merindukan laki-laki itu, ia merasa bersyukur dicintai oleh laki-laki seperti Zen.
Sementara hari sudah mulai menggelap karena matahari sudah membenamkan dirinya, melesak ke peraduan begitu dalam.
“Zen ....” gumamnya perlahan. “Apa dia merindukanku?”
__ADS_1
Ia masih ingat saat dulu masih remaja dan ia jatuh cinta pada salah satu teman sekolahnya, namun ternyata laki-laki itu menyukai Sella. Lalu kebetulan lain terjadi yang membuat temannya itu pergi meninggalkan Sella, bahkan pindah ke luar kota. Sejak saat itu Lonisa tidak menyukainya.
Sekarang, siapa yang menyangka ia akan bertemu lagi dengan Sella, orang yang pernah ia benci. Namun keadaannya berbeda, dia jauh lebih baik bahkan kehidupannya begitu berharga?
Ia dulu selalu berganti-ganti teman lelaki dan ia anggap semua pria itu sama, plin-plan dan tidak tahu diri. Ia pun mempermainkan cinta mereka. Ia tidak pernah serius dalam menjalin sebuah hubungan, sehingga suatu saat ibunya mengatakan kebaikan padanya. Semoga Lonisa menemukan seorang laki-laki yang menjadikan dirinya sebagai satu-satunya cinta dalam hidupnya.
‘Apakah laki-laki itu dia?’
Awalnya Lonisa masih ragu, ia merasa tidak cukup baik untuk Zen. Dia pria yang terlalu tinggi kebaikannya, menurutnya. Akan tetapi ketika melihat bagaimana Zen memperlakukan dirinya, ia pun yakin mungkin dialah orangnya. Laki-laki yang akan ia andalkan seumur hidupnya, ia akan menjatuhkan pilihan dan menyerahkan seluruh hatinya.
“Kau menungguku?” Zen bertanya kepada Lonisa begitu ia berdiri di hadapannya. Lonisa mengangguk dan karena dorongan kuat dari hati yang paling dalam, ia melangkah maju, melingkarkan lengan ke leher Zen dan berinisiatif mencium pipinya.
Zen merasa senang dengan perlakuan Lonisa padanya, hingga ia tersenyum dan balas mencium pipi Lonisa.
“Apa kau sengaja menungguku?” mendengar pertanyaan Zen, Lonisa kembali mengangguk dan membenamkan kepalanya di dada Zen, tangannya sudah pindah ke pinggang Zen dan mengusap punggungnya lembut.
“Aku juga merindukanmu.”
“Merindukanku?” Zen merasa seolah ia baru saja menang lotere dan menemukan oase di gunung pasir yang tandus. Suara Lonisa yang mengatakan rindu cintanya bagai nyanyian para peri di musim semi. Zsn tidak pernah menduga sebelumnya. Sebab beberapa hari yang lalu bahkan ia tidak mau menamai hubungan cintanya.
“Iya, apa tidak boleh?”
“Tentu saja boleh, aku senang kau merindukanku. Jadi apakah sekarang—“ ucapan Zen terhenti, ia menunduk untuk melihat raut wajah Lonisa lebih jelas lagi dan ia meraih dagunya dengan tangannya.
“Apa?” tanya Lonisa.
Gadis itu mengangguk dan berkata, “maaf, aku baru menyadari sekarang bahwa aku tidak akan mendapatkan orang seperti dirimu untuk yang kedua kali.”
Zen meraih bahu Lonisa dan membenamkan dalam pelukannya, seolah-olah ingin dimasukkan ke dalam dirinya.
“Jangan cintai orang lain, jangan berpikir tentang laki-laki manapun, jangan mencoba untuk berpaling dan tetaplah cintai aku, oke?” Zen terus memeluk Lonisa seperti enggan melepaskan.
Setelah cukup lama, ia melepas pelukannya dan merangkum wajahnya di telapak tangan. Lalu menciumi seluruh wajahnya penuh kelembutan.
Zen tidak pernah jatuh cinta, sedalam ini sebelumnya, banyak wanita yang ia anggap cantik dan sering ia temui di mana saja, termasuk Sella. Akan tetapi bagi dirinya Lonisa yang paling cantik di antara mereka.
Wanita mana pun, siapa pun dia tidak penting baginya. Sella memang penting karena ia adalah istri tuan muda yang harus ia lindungi. Akan tetapi Lonisa lebih penting, bahkan Zen siap mempertaruhkan nyawanya demi dia.
“Masuklah,” kata Lonisa setelah pelukannya terlepas. Tanpa disadari, mereka masih berada di luar rumah sejak tadi.
Kedua manusia yang saling mencintai itu pun, memasuki rumah secara bersamaan, dengan tangannya saling bertaut.
***
Alrega menemani Sella makan di tempat tidur, sebenarnya ia hendak berangkat bekerja, tapi ia memilih untuk menemani istrinya yang baru saja bangun tidur, sesiang itu. Banyak pekerjaan yang tertunda karena sudah beberapa hari ia hanya bekerja dari rumah.
__ADS_1
Laki-laki itu duduk di sisi Sella sambil memainkan rambutnya yang masih acak-acakan, “kau lucu sekali. Seperti apa ya, anak kita nanti?” Tanya Alrega.
“Aku belum mandi,” kata Sella menghindar saat Alrega mencoba mencium pipinya.
“Tidak apa, kau tetap manis walau belum mandi.”
‘Dih, mana ada seperti itu’
“Kau sudah sehat hari ini? Aku sudah merawatmu, masa aku tidak bisa melihat anakku?”
‘Bahkan dokter bilang harus menunggu tiga bulan’
Sella menyudahi sarapan, pelayan pun membereskan sisanya dan keluar setelah menutup pintu kamar. Ia memeluk Alrega, dengan eeat. ia melakukan hal itu karena Alrega sudah tidak lagi memakai parfum agar Sella tidak menjauhinya lagi.
Laki-laki itu menjaga Sella, dengan baik dan sungguh-sungguh, hingga mual dan muntahnya semakin berkurang. Selain itu juga karena obat dan vitamin dari dokter serta susu khusus yang dibeli untuk Sella.
“Aku mencintaimu, terima kasih sudah mengurusku. Kaulah pria terbaik yang pernah aku temui selama ini.”
“Aku tahu.”
“Baiklah, pergilah bekerja. Kau sudah terlambat,” kata Sella sambil menepuk-nepuk bahu Alrega.
Alrega memegang tangannya, menciumnya lalu berkata, “aku ingin mengganti nama Daville. Apa nama yang bagus menurutmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Dulu kau pernah minta agar menggabungkan nama kita berdua.”
“Itu tidak perlu, aku tidak pantas menjadi nama gedungmu. Tidak ada hubungannya denganku.”
“Siapa bilang. Ayo! Katakan, apa nama yang kau anggap bagus?”
“Entahlah namai saja dengan namamu.”
“CK!” Alrega menunjukkan rasa tidak sukanya, karena wajahnya menjadi muram.
“Bagaiman kalau Al Salra?”
“Itu nama yang bagus!” Alrega berkata sambil berdiri dan merapikan jasnya.
“Tunggulah, aku akan memberi kejutan di hari ulang tahunmu.”
“Itu, tidak perlu.”
Bersambung
__ADS_1
***Cerita ini sudah mau tamat, tinggalkan jejak dan beri komen dong, apa pendapatmu tentang Novel yang aku buat dengan gaya liris seperti ini?***