
Sella berhenti sejenak, ketika sudah berada di luar pintu kediaman Mett Haquel, menoleh ke arah jalan menuju gudang bawah tanah, tempat di mana Delisa berada. Ia secara samar masih mendengar teriakan yang terdengar memilukan dari dalamnya.
Dalam hatinya berkecamuk antara dua pilihan, membuatnya tertegun dan berpikir.
'Haruskah aku membiarkan Delisa tetap berada di sana seperti keputusanku semula, atau aku minta saja Kakek Mett untuk membebaskannya sekarang juga?'
Sebenarnya ada rasa kasihan yang tulus untuk Delisa tapi ia juga merasa sangat kecewa karena wanita itulah ia mengalami semuanya. Ia terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, mengurus ibunya yang gila, lalu dipermalukan di depan semua orang, bahkan di siram dengan kuah makanan.
Penderitaan hidupnya, di awali karena laki-laki yang ia sebut sebagai ayah, sudah mengecewakannya dan meninggalkan keluarga. Ia menjalani hidup yang penuh perjuangan selama bertahun-tahun.
Suatu saat, ia terdesak dan membutuhkan uang, lalu terpaksa mengikuti keinginan Delisa, untuk melaksanakan rencananya. Ia tidak tahu bahwa Delisa saat itu menipu semua orang termasuk dirinya. Wanita itu mengatakan bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah untuk kebaikan pasangan pengantin. Ia mengingatnya sekarang, tiba-tiba saja ia menjadi muak.
Sella mendengus, menghela nafas dalam-dalam, mencoba menepis ingatannya kembali tentang apa yang dikatakan Delisa, padanya.
"Lakukan saja, kau akan kubayar, laki-laki itu jahat, dia harus dipisahkan dari wanita yang dinikahinya!" Saat itu ia pun berpikir bahwa Alrega adalah laki-laki peselingkuh tak bermoral.
"Benarkah?" Tanya Sella waktu itu.
"Benar, lebih baik mereka di pisahkan." Delisa menjawab dengan tenang.
Ah, Sella menyesali kebodohannya, mempercayainya begitu saja, ia benar-benar tidak tahu bahwa orang yang ada dalam pernikahan yang ia rusak itu adalah Delisa sendiri. Ia heran, mengapa saat di pesta dan menjadi pengantin wanita, Delisa terlihat sangat berbeda?
Ya, dia di dandani sedemikian rupa hingga tampak sangat berbeda ketika bertemu dengan dirinya untuk melakukan perjanjian kotor itu dengan Zola.
Saat itu, yang Sella lakukan adalah menatap Alrega, meyakinkan dirinya dengan sungguh-sungguh bahwa ia melakukannya dengan terpaksa dan untuk kebaikan pasangan itu juga. Dari pada wanita yang dinikahinya itu, hidup sengsara dengan suaminya.
"Jangan bilang kau berubah pikiran, ingin membebaskannya." tanya Alrega ketika melihat Sella hanya diam saja di sana dan hanya menatap ke sebelah kirinya.
"Ooh tidak ... terserah kalian saja," Sella tahu maksud pembicaraan Alrega padanya.
"Lalu, kenapa kau diam saja di situ, kau khawatir padanya?"
"Tidak, sudah kubilang, tidak!" Sella melangkah pergi.
"Dia pantas mendapatkannya, percayalah dia baik-baik saja, Kakek tidak akan membunuhnya."
"Tentu saja, kalian sudah mengakui bahwa kalian bukan pembunuh, kan?" Sella jadi ingat waktu ia waktu itu pernah meminta Alrega membunuhnya saja dari pada harus menikah dengannya. Kalimat itulah yang dikatakan padanya.
"Kami pebisnis, bukan pembunuh!"
__ADS_1
Sella tersenyum, ia tidak menyangka, bisa menyukai laki-laki itu seperti sekarang ini.
Seketika senyum manis itu hilang saat bayangan Delisa yang meminta maaf padanya melintas begitu saja.
Ekspresi dan nata Delisa tidak bisa menipu Sella. Wanita itu, meminta maaf tidak dengan kesungguhan dan ketulusan dari hatinya. Ia meminta maaf hanya karena Alrega. Selain itu karena ia sayang dengan nyawanya, tidak ingin dilenyapkan saat itu juga.
Seandainya saat itu Sella tidak bersama dengan Alrega dan Mett Haquel yang berdiri di sampingnya, mungkin dia tidak akan meminta maaf padanya. Bahkan bisa jadi, ia tidak pernah merasa bersalah atas perbuatannya.
Banyak luka yang sudah ditimbulkan Delisa, sejek ia bekerja sama dengannya. Ia terus bersembunyi dan terus dikejar rasa takut, rasa bersalah dan rasa sudah menjadi manusia keji. Lalu yang terakhir ia terpaksa menjalani hukuman menjadi istri Alrega.
'Dia sudah membuat kekacauan sebanyak ini, seharusnya aku tidak memaafkannya dengan mudah. Ahk ... sudahlah'
Setelah ia menikah, ia harus merawat ibunya yang gila karena rasa, padahal sebenarnya, ia tidak harus bertanggung jawab atas semua hal itu. Ia rela berpisah dari ibu dan saudaranya, pindah dari tempat yang hangat ke tempat yang sangat dingin dan tidak ramah. Selama berbulan-bulan ia selalu ditatap dengan tatapan mata penuh curiga, seolah-olah Ia adalah pencuri ataupun orang, yang akan berbuat jahat kepada keluarga Alrega.
Namun setelah semua perjuangan itu, ia kini bisa bernapas lega, setidak-tidaknya ia bisa bersyukur. Saat ia tahu bahwa laki-laki yang sudah menghukum dengan cara seperti itu,, ternyata sangat baik, di luar dugaannya, tidak seperti yang dikatakan Delisa bahwa laki-laki itu adalah pemain wanita.
Mereka sudah berada di dalam mobil, ketika Zen dan berkata.
"Tuan, apa kita pulang atau langsung ke rumah sakit?"
Alrega mengabaikan pertanyaan Zen, walau ia mendengarnya. Dia sangat kesal dengan orang yang ada di rumah, terutama ayahnya. Membawa neneknya ke rumah sakit, tempat yang dibencinya. Ketika kakeknya dulu dirawat di rumah sakit tapi harus meregang nyawa di sana juga.
Dia tidak mempercayai para dokter, mereka tidak bisa mempertahankan kakeknya dan tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Tempat yang seharusnya bisa di andalkan, untuk menyembuhkan, itu sebuah rumah sakit ternama, bahkan dokternya sengaja didatangkan dari luar negeri, tetap saja tidak bisa mempertahankan kakeknya.
Saat tadi mereka berada di rumah Mett Haquel, Yorin memberi tahu mereka, melalui telepon, bahwa nenek tiba-tiba tidak sadarkan diri di kamar. Ayahnya memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit terbesar di Jinse, tentu saja keluarga Haquelf termasuk salah satu pemegang saham terbesar di sana.
Sesampainya di rumah sakit, ketika turun dari mobil, Alrega memegang kuat tangan Sela. Pegangan tangan itu membuat Sella mengerutkan keningnya dan ia meringis karena cengkraman tangan yang begitu kuatnya, tidak biasanya.
Sambil berjalan menyusuri koridor, Sella bertanya, "sebenarnya kenapa kau terlihat gugup dan tanganku sakit kalau kau terus memegangnya seperti ini."
Alrega menunduk, melihat tangannya yang mencengkram keras pergelangan tangan Sella. Ia mengangkat tangan Sella, hingga ke bibirnya, lalu mengusap-ngusap tempat dimana ia memegangnya, sambil meniup-niup pergelangan tangan Sella, dan berkata dengan pelan.
"Maaf ... maafkan aku ... bagaimana sekarang. Apa masih sakit?"
Sella terperangah dengan perlakuan yang ditunjukkan oleh Alrega padanya. Wajah laki-laki itu terlihat gusar, namun Ia tetap memperlihatkan ketenangannya, bahkan bersikap begitu lembut dan manis pada Sela.
Sela menjawab dengan cepat, "Tidak, sekarang sudah tidak sakit lagi." Sambil menarik tangannya kembali dan tangan itupun jatuh ke samping.
Mereka berjalan sampai Lift khusus, menuju ke tempat ruangan VIP berada.
__ADS_1
Tempat Marla dirawat, adalah kamar yang sangat istimewa dan cukup besar, terdapat sofa di dalamnya, sehingga mereka bisa berbincang-bincang dengan nyaman di sana. Sela masuk ke kamar, ia melihat Marla yang tertidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dua pelayan yang biasa menjadi asistennya di rumah, berdiri di sisi tempat tidur, menjaga wanita tua itu dengan setia.
Sella mendekat, begitu juga dengan Alrega, berdiri di samping tetap tempat tidur dan melihat Marla, yang masih memejamkan mata.
Selka bertanya dengan suara pelan, namun terdengar jelas kepada asisten marla, yang ada di hadapannya.
"Apa Nenek sudah meminum obat?"
Asisten itu mengangguk, namun tak lama setelah itu mata Marla tiba-tiba saja terbuka dan bibirnya mengulas senyum tipis. Tangannya terulur untuk meraih tangan Sella, yang ada di sampingnya.
"Apa kah itu, kau, Sella?" Tanya wanita tua itu dengan suara terbata-bata dan sangat perlahan.
Sella pun terlihat begitu sumringah karena melihat Marla baik-baik saja. Ia tidak menyangka nenek Alrega ini ingin memegang tangannya. Ia pun menyambut uluran tangan Marla dengan hangat, lalu menciumnya. Ia pun berkata, sambil tersenyum.
"Nenek kau harus sehat. Aku akan menunggumu disini, menemanimu, biar Nenek tidak kesepian."
"Aku tidak kesepian, untunglah kau datang kesini." Marla berkata sambil menepuk punggung tangan Sella.
'Ah, dia tidak marah? Apa Nenek bersyukur aku datang menjenguknya? Ini, luar biasa ... aku kira dia akan memarahiku atau menyuruh seseorang untuk memukulku'
"Nek, apa kau tidak marah padaku? Nenek ... maafkan aku, kemarin di pesta Yorin, semua karena aku, maaf aku sudah membuat keluarga kita malu." Sella berkata sudah dengan beruarai airmata air mata.
Marla menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau tidak perlu minta maaf."
Marla memberikan isyarat dengan tangan kepada asistennya, untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Pelayan memberikan sesuatu ke tangan Marla, lalu, wanita yang sedang sakit itu menik tangan Sella, lebih dekat. Ia memberikan kalung yang dulu pernah Ia berikan kepada Sella.
"Sela ... aku yang harus minta maaf padamu, ini milikmu, ambilah kembali dan pakai sekarang juga, aku ingin melihatmu memakainya." Marla berkata dengan suaranya yang parau bahkan hampir tenggelam, mengerjabkan mata penuh harap pada gadis di hadapannya.
Kalung berlian langka yang Marla berikan pada Sella, adalah kalung yang sudah ia janjikan, untuk di pakai oleh siapapun wanita yang menjadi istri cucunya. Wanita yang selalu bisa diandalkan.
"Nenek, tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tidak, aku tidak repot, pakailah sekarang."
Saat Sella memakainya, itu artinya ia menantu yang akan setia pada keluarganya dan menjaga cuciannya. Saat peristiwa itu terjadi, Marla menarij kalung itu dari leher Sella, hingga putus.
Alrega yang berdiri di samping Sela saat itu, melihat dengan mata berkilau, ada sedikit senyum di ujung bibirnya. Iya tahu arti kalung itu adalah sebuah kepercayaan yang dulu pernah dijanjikan neneknya. Ada banyak menantu dari sepupu Alregaga yang menjadi cucu Marla, tetapi hanya Sella yang mendapatkannya. Itu sebuah kebanggaan tersendiri bagi Alrega.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, membicarakan arti dari ukiran dan detail kalung itu, Sella tak henti-hentinya mengukir senyum. Dalam hati ia berdoa agar Marla selalu sehat dan bahagia. Sella memakai kalung itu di lehernya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu kamar rumah sakit itu terbuka.
bersambung