
Sella menutup pintu kamar hotel setelah semua anggota keluarganya pulang. Ada dua pelayan yang sudah menunggu dan akan membantunya, mereka sudah menyiapkan gaun panjang warna abu muda dengan renda kecil diujungnya, cukup bagus untuk ia pakai saat makan malam nanti.
"Kalian pergilah, aku mau sendiri," kata Sella sambil berjalan menuju kamar tidurnya semalam.
"Tapi, nona. Anda harus mengganti pakaian dan makan malam dengan tuan muda," jawab Nani.
'Kenapa aku yakin kalau dia tidak akan datang menjemput untuk makan malam'
"Iya. Aku tau, tapi aku bisa sendiri. Aku tidak ingin telanjang di depan kalian," kata Sella sambil menoleh pada dua pelayan yang masih setia berdiri di belakangnya.
"Tapi, nona..." Suara Nani terdengar gemetar seperti ketakutan.
'Memangnya apa yang akan terjadi kalau kalian pergi? Aku malu, tau?'
"Aku ingin istirahat sebentar, jadi jangan gangguku, ya ...," Kata Sella. Itu alasan yang paling mudah.
Karena merasa tidak ada yang bisa dilakukan, kedua pelayan itu pergi, dan menutup pintu kamar secara perlahan. Ada aroma ketegangan yang terlukis dengan jelas pada raut wajah mereka.
Sella akhirnya bisa menarik nafas panjang setelah ia tinggal sendirian. Ia duduk di depan cermin menatap dirinya yang nampak lelah, riasan wajahnya sudah luntur, bahkan ia sudah tidak berselera makan malam yang akan segera tiba waktunya sebentar lagi.
Sella memijit kakinya yang terasa pegal, ia tidak biasa berdiri dengan sepatu hak tinggi cukup lama. Bahkan terasa sakit di sekitar ibu jari dan sekitar tumitnya. Memijit juga butuh usaha hingga beberapa waktu berlalu, Sella menyudahi pijitannya dan melepas hiasan yang berupa slayer dikepalanya.
"Ahk..." desah Sella sambil menghempaskan tubuhnya dikasur yang empuk.
Ia merasa jadi pengantin yang paling sedih, yang tidak diharapkan oleh pihak keluarga pria. Memikirkan bagaimana Marla, orang yang diperkenalkan sebagai nenek, dari keluarga ayah Alrega menyambutnya dengan acuh bahkan terkesan dingin.
Begitu pula ayah Alrega yang bahkan menatap Sella dengan ekspresi jijik dan penuh selidik. Rasa tidak percaya terlihat jelas dari sorot matanya. Belum juga Yorin yang memandang Sella dengan sebelah mata sejak pertama kali mereka bertemu.
Alrega memang memperlakukan Sella dengan baik, saat di pelaminan dan saat masih banyak tamu serta kerabat. Tapi setelah semua pergi, Alrega juga pergi entah kemana tanpa pamit pada dirinya. Membuat Sella tersenyum kecut.
'Memangnya apa yang aku harapkan dari dia. Bahkan mungkin aku akan ditinggalkan dimalam pertama'
Sella menggelengkan kepala, mencoba melepaskan semua pikirannya yang menempel dikepalanya. Ia tak ingin mengecewakan ibu dan keluarganya jadi apapun itu akan ia hadapi.
'Sekarang tidur saja dulu. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sese...ayo tenangkan diri mu'
Selang beberapa lama Sella tertidur dengan posisi miring, masih dengan memakai gaun pengantin dan rambutnya yang terurai panjang itu menutupi bantal yang ia gunakan.
***
Saat tengah malam, pintu kamar hotel terbuka, Alrega dan Zen masuk dan melihat kamar tidur yang masih terbuka dengan lampu yang masih menyala. Alrega mengerutkan keningnya saat melihat Sella yang tertidur dengan gaun pengantinnya.
'Apa ini kebiasaan buruknya, tidur tanpa mematikan lampunya?'
Ia berdiri di samping tempat tidur dan mendekatkan wajah pada Sella yang nampak tertidur pulas. Tangannya terulur untuk menghapus sisa air mata, yang masih tersisa diujung mata pada ceruk hidung wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Ia lega, semua rencana selesai tanpa ada hambatan apapun.
"Zen, mana hp-ku," kata Alrega sambil mengulurkan tangan pada Zen yang berdiri di belakangnya.
Setelah Alrega menerima ponselnya, ia mengambil sebuah foto Sella dari atas, yang ia pikir akan tampak lebih menarik. Zen kembali menyimpan ponsel Alrega, setelah tuannya itu puas dengan hasil bidikan fotonya.
"Ayo kita pergi," kata Alrega sambil melangkah keluar pintu kamar.
"Kenapa anda tidak tidur di sini saja, tuan?"
"Kau bilang aku harus menahan diri," kata Alrega seraya berbalik menatap Zen, lalu berkata lagi.
"Aku akan menurutimu, menunggu sampai ia jatuh cinta."
"Baiklah," jawab Zen tenang, sambil mengendikkan bahunya.
'Aku pikir tuan akan memindahkan nona di sofa dan tidak membiarkannya merasa ditinggalkan di malam pertamanya'
"Biarkan dia merasa tersiksa, menjadi pengantin yang ditinggalkan dimalam pertama, menyedihkan, bukan?" Alrega menyeringai.
__ADS_1
'Kalau anda begitu, bagaimana nona bisa jatuh cinta dengan anda?'
"Iya, tuan."
"Besok, antar dia pulang ke Kaki Langit," kata Alrega setelah berada di luar kamar tidur.
Ia melihat kearah meja makan, melihat banyak hidangan yang telah disiapkan untuk mereka, tidak tersentuh sedikit pun.
"Kaki Langit, bukan di apartemen anda?"
"Biar dia tahu dan kenal keluarga barunya," jawab Alrega.
"Baik, tuan."
Mereka keluar setelah Zen mematikan lampunya dan menutup pintu secara perlahan agar tidak membangunkan sang putri tidur yang kelelahan.
***
"Aku dimana?" tanya Sella pada dirinya sendiri.
Ia membuka mata saat hampir pagi, ia mendapati dirinya berada dalam sebuah kamar yang asing dengan suasana temaram, hanya cahaya lampu yang menerobos masuk dari tirai kain yang tenang. Udara terasa dingin karena pendingin ruangan.
'Ahk, iya. Aku...aku sudah jadi seorang istri tuan Rega. Apakah dia ke sini tadi malam, kenapa lampunya mati? Jelas-jelas masih hidup waktu aku ke kamar dan pintunya tertutup'
Sella menyadari bahwa memang ada orang yang sudah masuk ke kamarnya tadi malam. Sebab ia menemukan hal berbeda dari yang ia temui saat ia mulai tertidur. Ia juga memeriksa keadaan dirinya yang tidak berubah, pakaian yang ia pakai juga tidak koyak sedikitpun. Ia bernafas lega.
Sella berusaha membuka pakaiannya sendiri dengan susah payah, karena memang pakaian seperti itu butuh bantuan orang lain untuk melepaskannya. Setelah berhasil melepaskan baju pengantin nya, ia membersihkan diri dan berlama-lama berada di kamar mandi, merendam tubuhnya dengan air hangat dalam bak mandi. Ini hal yang sedikit tidak lumrah tapi tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia tak bisa tidur lagi.
Tanpa terasa sinar kemerahan mulai muncul di ufuk cakrawala sebelah timur bumi, menunjukkan tanda bahwa sang fajar akan segera bertahta dilangit.
Sementara itu, Sella sudah selesai mengeringkan rambut panjangnya, berpakaian, dan merias wajah dengan beberapa alat kecantikan yang ada, ia hanya menghabiskan waktu saja, hingga waktu berlalu tak terasa. Padahal tidak ada perubahan yang berarti dengan wajahnya.
Sebenarnya bisa saja ia pergi dan kabur dari kamarnya saat itu juga, tapi melihat cincin berlian dijari manis kanan dan kirnya, ia jadi merinding.
"Ingat, jangan pernah lepaskan," Alrega mengulang kata-kata yang sama waktu itu
Sella sedang menonton tekevisi ketika terdengar suara-suara dari luar ruang tidurnya. Itu suara beberapa pelayan sedang menyiapkan sarapan untuk Alrega dan dirinya. Tak menunggu lama, Sella membuka pintu kamar dan melihat kesibukan para pelayan.
"Nona..." sapa tiga orang pelayan yang melihat kemunculan Sella sambil membungkuk hormat. "Selamat pagi."
'Mana pak Sim? Dia tidak ada'
"Selamat pagi," jawab Sella singkat.
"Ini gaun anda nona muda," kata seorang pelayan sambil menyodorkan sebuah dress yang masih terbungkus plastik dihadapannya. Sella menatap dirinya sendiri yang memakai gaun malam, yang seharusnya ia kenakanlah tadi malam.
'Apa salahnya memakai gaun ini, si?'
Karena tak ingin mengecewakan para pelayan itu, Sella mengganti pakaian yang belum sampai tiga jam ia pakai. Ia melihat gaun malam di atas ranjang yang rasanya sayang kalau harus dicuci.
Sella ke luar dari kamar tidur dan menghampiri meja makan, ia lapar. Kemarin ia hanya makan saat sarapan saja dan sedikit makanan ringan saat pesta.
"Nona, anda mau sarapan?" tanya salah satu pelayan. Ia terlihat ragu. sebab tuan muda belum datang. Mereka takut melakukan kesalahan.
"Iya, bukankah makanan ini untukku?" tanya Sella sambil duduk disalah satu kursi.
"Silahkan sarapan nona," kata Nani, pelayan yang sejak kemarin melayaninya. Ia tidak mungkin melarang nona mudanya bukan?
Sella mengambil nasi dan mulai menikmati makanannya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan mucullah dua orang pria berpakaian rapi dengan stelan jas yang mendekati Sella dengan tatapan serius. Ambiens yang ada seketika berubah dingin.
Deg. 'Kenapa dia ada di sini. Aku kira dia tidak akan muncul selamanya, haha'
Sella melihat Alrega berjalan mendekatinya dan Zen yang mengikuti di belakangnya. Lalu Alrega duduk di hadapan Sella. Sontak saja ia menghentikan kegiatannya mengunyah. Makanan dimulutnya berubah liat seolah ia mengunyah sebuah karet. Dengan susah payah ia terpaksa menelannya.
__ADS_1
"Cih! Berani sekali kau! Makan sebelum aku datang?!" Kata Alrega dengan suara penuh penekanan. Menatap Sella sinis.
'Mendahului apa, sarapan?'
"Maaf, aku sudah lapar..."
"Kau tidak menawari suamimu makan? Tidak sopan," kata Alrega lagi sambil memalingkan pandangan.
'Apa dia bilang, suami?'
"Silahkan sarapan, tuan," kata Sella sambil mengambil makanan ke dalam piring yang ada dihadapan Alrega.
"Tidak perlu. Aku tidak lapar," jawab Alrega datar.
'Lalu, apa maksud bicaramu, tadi? Sialan!'
Sella duduk kembali tapi tidak melanjutkan makan, melihat pada semua pelayan yang semuanya menunduk.
"Habiskan makananmu."
"Baik."
"Kalau kau sudah selesai makan, pulang lah ke rumah. Zen akan menjemputmu nanti."
"Lalu, bagaimana dengan tuan?" Sella bertanya.
"Bukan urusanmu," tandas Alrega.
'Hei, itu namanya perduli, istri yang memikirkan bagaimana suaminya'
"Pikirkan saja dirimu sendiri," kata Alrega seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Sella.
Setelah berkata demikian, laki-laki itu pergi meninggalkan Sella yang segera menikmati makanannya kembali, ia butuh energi untuk menghadapi hari ini.
Sella harus menunggu sekertaris Zen selama beberapa menit atau hampir satu jam. Ia sedang menikmati acara TV ditemani para pelayan, ketika Zen masuk dan para pelayan yang semula duduk santai, seketika berdiri dan menunduk hormat. Selalu saja seperti itu, bila salah satu manusia pengelola Grup Art Design itu datang. Ia tadi harus mengantar Alrega pergi ke kantor terlebih dahulu.
"Silahkan, nona," kata Zen menunduk kan kepalanya.
"Sekertaris Zen. Kurasa kau tidak perlu terlalu hormat padaku."
Sella mengikuti langkahnya, memasuki lift, turun, dan keluar hotel. Lalu pergi menuju ke kediaman keluarga Leosan dengan Zen yang kembali menjadi sopirnya.
"Apa aku tidak boleh tahu urusan tuan Rega?" Tanya Sella dalam perjalanan.
"Tidak perlu, nona. Itu untuk kebaikan anda sendiri. Sebaiknya anda jangan terlalu banyak bertanya dan jawab pertanyaan tuan seperlunya saja, dan jawab dengan jawaban yang benar," kata Zen tanpa menoleh, ia fokus mengendarai mobilnya.
"Menurutku, aku akan menjawabnya kalau aku tahu jawabannya. Bukan seperlunya," sahut Sella, merasa lucu.
'Aku bukan guru matematika yang harus menjawabnya dengan benar'
Mendengar jawaban Sella, Zen tersenyum tipis lalu kembali berkata,
"Turuti semua keinginan dan perintah tuan tanpa banyak bertanya, itu akan lebih mudah untuk nona."
'Aku bukan anak kecil, tau?'
"Ahk, yang benar saja," kata Sella lirih, hampir tak terdengar.
"Apa anda mengtakan sesuatu, nona?"
"Tidak, lupakan saja."
Zen membunyikan klakson mobilnya, ketika mereka sudah sampai di depan pintu gerbang yang tinggi. Seorang penjaga membuka gerbang itu untuk mereka.
__ADS_1
Bersambung