
* Jangan lupa like, vote, dan rate. Terimakasih atas dukungannya *
Alrega mengambil pot bunga anggrek dari Sella, dan menyerahkannya pada Zen. Sementara tangan yang lain berada di pinggang Sella. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir mobil yang letaknya cukup jauh dari sana.
Setelah beberapa saat berjalan, Alrega mengalihkan tangannya untuk memegang tangan Sella. Kini mereka bergandengan tangan seperti layaknya seorang kekasih yang saling jatuh cinta.
Alrega menatap pegangan tangannya pada Sella, sambil tersenyum, ia berkata, "ayo kita berkencan?"
"Kencan, dimana? Emm... Sekarang?" tanya Sella tak percaya. Ia menatap Alrega dari samping.
Alrega semakin mengeratkan genggaman tangannya dan menundukkan kepala membalas tatapan Sella, dan mengangguk.
Lalu menjawab, "iya sekarang, kapan lagi? Kau ingin jalan-jalan kan?"
'Jadi kau anggap berjalan di tempat ini, sama saja dengan berkencan? terserah!'
Melihat Sella hanya diam sambil menatap dirinya, Alrega memalingkan muka sambil menyembunyikan senyumnya. Ia mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari dan membasahinya dengan lidah, seolah-olah sedang mengecap rasa manis. Sesampai di dalam mobil, Alrega membukakan pintunya untuk Sella.
Setelah duduk, Sella melepaskan jaket kulitnya, mengikat rambutnya di belakang kepala. Semua yang ia lakukan, di perhatikan oleh Alrega, ia duduk disebelah Sella dan menatapnya dengan tatapan takjub.
Sedangkan Zen, pergi menemui Yorin melakukan tugasnya.
Alrega menyipitkan matanya ketika ia menangkap bercak-bercak merah di leher Sella yang sangat jelas terlihat, ketika rambutnya sudah rapi terikat. Saat itu juga ia mengulurkan tangannya dan melepaskan ikatan rambutnya, sehingga rambutnya kembali tergerai. Ia tidak rela, leher jenjang Sella yang putih dan berbintik merah itu, terlihat oleh orang lain.
"Kenapa kau mengikat rambut mu seperti ini? Apa kau ingin semua orang, melihat tanda dilehermu?" kata Alrega.
Ia merapikan rambut Sella dengan tangannya hingga rapi kebelakang telinga. Sella menoleh sambil cemberut.
'Apa-apaan kau ini, urus saja urusanmu sana! Kau sendiri yang membuat tanda seperti ini, kan?'
Sella tetap diam karena ia memikirkan Yorin.
'Kemana anak itu si?'
Alrega terus menyisir rambut Sella dengan tangannya, lalu pandangannya beralih pada kaos yang dipakai oleh Sella. Ia berpikir, tidak ada pakaian seperti itu di lemarinya, jadi mungkin itu adalah pakaian yang Sella bawa dari rumahnya. ia pun menyentuh pakaian yang dikenakan Sella, seketika alisnya berkerut. Itu baju yang kasar, terkesan murahan. Hanya jaket kulitnya yang tadi ia lepaskan, yang terlihat berkelas.
Alrega menarik kaos itu dibagian lengannya, sambil berkata, "apa kau sengaja memakai baju ini? Biar Hanza tertarik padamu?!"
'Hei. Tidak ada orang yang akan tertarik padaku. Apalagi ini baju murahan milikku'
Alrega kini menempelkan keningnya pada Sella, sambil terus berkata, "apa kau ingin semua orang tau, kau sangat cantik?"
Mendengar ucapan Alrega ini, Sella menjadi kaku, antara ingin tertawa atau menangis, ia tak percaya Alrega mengatakan bahwa dirinya cantik. Namun pada kenyataannya ia hanya tersenyum kecut, menanggapinya.
'Apa menurutmu aku cantik? Aku tidak salah dengar kan?'
Alrega menjauhkan kepalanya, setelah beberapa saat. Lalu memegang dagu Sella dengan ibu jarinya dan mengusap-usapnya lembut.
Ia berkata, "kau tidak salah dengar."
'Aah, apa dia tahu isi hati orang?'
Sella menjawab, "ah, kau pasti bercanda, kan? Aku sudah salah dengar."
Mendengar komentar Sella Alrega melepaskan pegangan dari dagunya, ia terlihat cemberut dan berkata,
"Iya, kau benar, kau sudah salah dengar, jadi jangan bermimpi aku memujimu!"
'Tuh, kan. Tuh, kan. Aku benar. Duniaku saja sudah dunia mimpi tidak mungkin aku akan bermimpi lagi.. Dasar!'
Sella memalingkan mukanya sambil mendorong tubuh Alrega, tapi laki-laki itu justru mengulurkan tangannya kebelakang kepala Sella, menahannya, dan membenamkan bibirnya pada bibir Sella, memagut sedemikian rupa, tidak memberi kesempatan pada Sella untuk berpaling dari ciumannya. Sella akhirnya mengalah dan memberikan apa yang Alrega inginkan, mencium bibirnya sampai puas. Mereka saling membalas saling membelit, hingga terdengar beberapa kali kecapan. Bahkan tidak hanya itu, ia membiarkan tangan Alrega melakukan beberapa aktivitas pada tubuhnya disana sini.
Setelah ciuman mereka cukup lama berlangsung, Alrega melepaskannya sambil mengusap bibir Sella dengan ibu jarinya. Lalu membasahi bibirnya sendiri seperti mengecap rasa manis.
"Kau sudah pandai sekarang," kata Alrega sambil tersenyum.
"Haha. Kau kan yang mengajariku."
"Jadi kapan giliranmu menciumku?"
'Aku tidak akan menciummu kalau kau tidak menuruti kemauan ku, aku ingin naik motor, tau?'
"Nanti kapak-kapan"
"Lama tidak?" kata Alrega sambil mengusap-usap pipi Sheila dengan pipinya.
'Ahk, kau menggemaskan sekali kalau seperti ini, tuan Al...!'
"Ya, mudah-mudahan tidak akan lama." kata Sella sambil tersenyum dan mengelus kepala Alrega.
'Tapi itu tergantung bagaimana kau mengabulkan keinginanku atau tidak'
Alrega menjauhkan kepalanya dari pipi Sella dan duduk tegak sambil merapikan pakaiannya. Di saat yang sama Zen mendekat, ia berdiri di sisi jendela.
Alrega membuka jendela kaca mobil dan berkata, "Apa kau sudah menemukannya?"
'Hei, menemukan siapa? Perasaanku, tuan Al tidak bilang apa-apa padanya. Apa maksud mereka orang itu Yorin?'
Zen mengangguk, seraya menjawab, "sudah, tuan."
"Apa kau memberinya pelajaran?"
"Saya rasa cukup."
"Hmm..." gumam Alrega.
"Apa ada lagi yang tuan ingin saya lakukan?" Mendengar pertanyaan Zen, Alrega menggelengkan kepalanya.
"Masuk lah, ayo kita pergi."
__ADS_1
"Baik," jawab Zen.
Ia memegang handel pintu mobil, sambil membungkuk, melihat kedalam seolah sedang memastikan sesuatu. Ia memastikan Sella berpakaian lengkap atau tidak. Setelah melihat Sella masih utuh dan duduk dengan tenang disana, ia tampak bernafas lega.
'Hei, kau pikir aku melakukan apa? Sialan!'
Sella bersungut-sungut tanpa suara, dia melihat pemandangan keluar jendela dan tidak memperdulikan tatapan Zen yang seperti menuduhnya, melakukan sesuatu di dalam mobil.
Zen pun mengemudikan mobilnya kembali, dengan kecepatan tinggi.
"Sayang, kita akan kemana. Pulang?" tanya Sella, setelah beberapa saat lamanya mobil melaju, memecah kesunyian yang tercipta. Suasana seperti berada di hutan belantara yang tidak ada satupun binatang di dalamnya. Ia duduk menjauhi Alrega, menempel pada pintu di sampingnya.
Mendengar pertanyaan Sella, Alrega menoleh, dengan wajah kesal ia berkata, "kenapa kau selalu ingin pulang saat bersamaku?"
Sella diam tak menjawab, hingga Alrega berkata lagi, "jangan bilang kau rindu ibu lagi."
'Ck! Dia ini, apa yang akan dilakukan kalau aku merindukan ibu?'
"Iya, aku rindu dengan ibu, aku ingin mengobrol dengannya."
'Daripada disini denganmu. Aku jadi korban ciumanmu'
"Apa kau bilang?" kata Alrega sambil mencengkram pipi Sella, pegangan tangannya terasa sangat kuat, hingga pipinya merah.
Saat ini matanya menatap tajam pada wajah Sella, seolah-olah mata itu sedang mengirisnya, dengan suara rendah Alrega pun berkata, "Katakan kau rindu padaku sekarang..."
'Untuk apa? Kita bertemu di sini kenapa harus rindu?'
"Aku merindukanmu, sayang," jawab Sella terbata-bata.
"Bagus! Kita akan pergi berkencan." Alrega berkata sambil melepaskan cengkraman tangannya.
'Terserah'
Tanpa terasa mobil sudah memasuki sebuah kawasan restoran yang sangat mewah, tapi sebelum mobil sempat berhenti, Sella bertanya,
"Apa kita akan makan siang di restoran mewah lagi?"
"Hmm..." gumam Alrega.
"Apa, kencan seperti ini sudah biasa di kalangan orang sepertimu." kata Sella jengah.
"Apa ada tempat yang ingin kau datangi?"
"Aku ingin berkencan seperti orang kebanyakan," sahut Sella.
"Seperti apa misalnya?"
"Ayo, kita jalan-jalan ke Welwel Park."
Welwel Park adalah sebuah taman rakyat yang dibangun oleh pemerintah kota dengan berbagai fasilitas hiburan dan stand-stand makanan khas dari seluruh kota. Banyak hiburan dan juga pertunjukan di sana. Tentu saja perusahaan keluarga Leosan ikut andil di dalamnya, jadi mana mungkin Alrega tidak tahu hal itu.
'Kau tidak akan mengerti, kan?'
"Eum..., di sana cukup bagus, aku akan terus memegang tanganmu seperti ini selama jalan-jalan di sana," kata Sella sambil meraih tangan Alrega dan mengaitkan jari-jarinya dengan erat. Ia mencoba membujuk Alrega.
Alrega hanya melirik tangannya yang digenggam oleh Sella sekilas, lalu memalingkan mukanya kembali, tidak ada reaksi sedikit pun pada wajahnya, datar. Melihat reaksi Alrega yang seperti ini, Sella menghela nafas kesal. Tapi tangan mereka tetap terjalin erat.
Mobil berhenti di halaman restoran yang seperti sudah siap dengan kedatangan mereka. Beberapa orang tampak menyambut kedatangan Sella dan Alrega dengan ramah, mempersilahkan dua orang itu masuk kedalam ruangan yang sepi tanpa seorang pun di antara mereka.
"Kemana semua orang. Mengapa restoran sebagus ini begitu sepi? Bukankah ini waktunya makan siang?" kata Sella sambil duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Alrega.
"Aku sudah menyewanya." kata Alrega sambil mendorong kursi itu kembali.
"Aaah, kenapa aku lupa. Kalau orang sepertimu akan berbuat seperti ini, mengusir orang lain pergi hanya untuk dirinya sendiri."
"Aku tidak mengusir mereka." jawab Alrega sambil menyiapkan serbet di pahanya.
Sementara seorang pelayan menyodorkan buku menu pada mereka berdua, tapi Sella tidak membacanya. Ia membiarkan Alrega memesan makanan yang dia inginkan.
'Lalu apa namanya dengan menyewa itu sama saja melarang orang lain ikut bersama, kan?'
"Setelah itu apa lagi yang akan kau lakukan, menyalakan kembang api, memakaikan sepatu, memberikan mantel pada wanitamu, atau membawakan buket bunga yang besar?" kata Sella sambil tertawa keras, sementara Alrega seolah tidak mendengar, ia sibuk berbicara pada waitress untuk mengatakan pesanannya.
"Apa harus seperti itu kalau kencan?" kata Alrega berlagak tidak tahu.
Ia sering berkencan dengan Delisa, dulu. Tapi hanya seperti ini saja sudah cukup baginya, atau ditambah dengan berdansa. Itu saja.
'Aku tahu kau tidak akan melakukan semuanya, kau kan tidak mencintaiku?'
"Haha. Setidaknya itu yang ada difilm atau drama romantis. Tapi _ _ "
Kata-kata Sella terputus karena pelayanan sudah membawa makanan pesanan dengan meja dorong kecil dan mengangguk sopan. Mereka menata makanan yang cukup banyak diatas meja.
"Tapi apa?"
"Aku cuma ingin jalan-jalan di Welwel Park"
"Aku tidak tertarik tempat itu,"
'Memangnya apa yang bisa aku harap dari orang yang tidak mencintaiku?'
"Lupakan saja. Aku tidak benar-benar menginginkannya." Kata Sella, ada kekecewaan dalam nada bicaranya.
Alrega mendekatkan beberapa makanan pada Sella dan ia mengambil sedikit-sedikit dari beberapa makanan itu kedalam piring Sella. Sella melihat semua yang dilakukan oleh Alrega dengan tatapan tak berdaya.
'Ini berlebihan, kau kira aku ini apa? Aku tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak ini, tau?'
"Cukup!" kata Sella ketika melihat Alrega akan mengambil satu jenis makanan lagi.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ini sudah banyak. Kenapa memesan makanan sebanyak ini? Kita cuma berdua, tuan Al!"
Mendengar Sella bicara seperti itu Alrega menghentikan kegiatannya. Lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Ia pun berkata, "kau akan mengajakku di tempat yang banyak makanan. Apa makanan disini kurang banyak? Kalau masih kurang, kau bisa memesan lagi, sebanyak yang kau mau."
'Gila, ya. Setidaknya makanan di sana tidak mahal, kau tidak perlu menghabiskan uang sampai ribuan dollar untuk membelinya!'
"Tidak. Tidak. Ini sudah cukup. Terimakasih."
Ck!
'Bahkan aku harus berterimakasih untuk hal yang menyebalkan'
Sella menundukkan kepalanya untuk menikmati makanan yang ada dipiringnya, ia tidak akan menyia-nyiakan makanan mahal ini. Atau Sella takut dianggap tidak tahu diri.
'Aah, ibu, Ruru, Rere. Maaf! Aku tidak bisa mengajak kalian makan enak di sini..'
Alrega melihat Sella makan sambil tersenyum, ia lebih banyak melihat Sella, daripada menikmati makanannya sendiri.
Setelah selesai makan, Sella menyandarkan tubuhnya sambil mengusap perutnya yang terasa kenyang.
"Kemarilah," kata Alrega sambil menjentik-jentikkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar Sella mendekat.
'Ada apa...?'
Sella mencondongkan tubuhnya kedepan lalu Alrega mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa makanan yang ada di dekat bibirnya.
Sella tidak menyangka bahwa Alrega akan bersikap romantis seperti itu, membuat ia takjub. Tapi, ucapan Alrega kemudian membuyarkan penilaian romantisnya.
"Kau seperti anak kecil saja." kata Alrega, sambil melempar tissu yang ia gunakan untuk mengusap mulut Sella.
Setelah itui ia pun duduk kembali, melipat tangannya di atas perut. Lalu berkata, "kau sudah kenyang?"
"Iya, terimakasih. Ayo kita pulang"
"Cuma pulang yang ada dalam pikiranmu? Apa kau tidak ingin berdansa denganku?"
"Haha. Ini makan siang. Lagipula aku tidak bisa berdansa, tuan Al."
Menurut Sella hal aneh bila berdansa siang hari. Dan ia merasa lucu kalau Alrega mengajaknya berdansa karena hanya orang yang saling mencintai yang melakukan hal seperti itu.
"Aku akan mengajarimu."
"Tidak. Aku tidak mau menginjak kakimu."
"Tidak masalah."
'Apa, apa benar ia tidak masalah diinjak olehku?'
Sella kembali menggeleng. Tapi Alrega seperti tetap ingin berdansa. Sella menilai dari tatapannya yang seolah membuat Sella menyerah. Tapi Sella benar-benar tidak ingin berdansa!
"Sayang, kumohon... Aku akan berdansa denganmu, tapi tidak sekarang. Atau kalau kita berkencan lagi lain waktu, ya?" Kata Sella sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Sella berjalan kesamping tempat duduk Alrega lalu meraih tangannya dan berlutut seperti biasanya kalau ia memohon. Alrega melihat Sella dengan jengah, merasa ditolak lagi oleh wanita pembangkang ini.
"Ayo." kata Alrega tanpa menyahut ucapan Sella dan meraih tangan Sella untuk ikut pergi begitu saja dari sana.
Alrega berjalan perlahan tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia menyusuri trotoar yang ada di sekitar restoran sedang mobilnya mengikuti dari belakang secara perlahan.
Zen tampak sangat sabar melakukannya. Selama makan siang tadi ia hanya makan sendiri dan mengamati mereka berdua dari ruangan sebelahnya.
"Kau tahu, aku tidak punya banyak waktu," kata Alrega.
Ia menatap lurus kedepan dimana jalanan terlihat panas namun sedikit lengang, orang-orang akan memilih diam di rumah, menikmati makan siang di dalam restoran atau berteduh ditempat-tempat yang sejuk dan tidak melakukan aktivitas apapun. Tapi lihatlah yang dilakukan oleh pasangan itu, sangat aneh. Berjalan-jalan disiang hari.
'Bukan jalan-jalan seperti ini yang aku maksud. Tuan pemaksa?'
"Ya, aku tahu kau sibuk. Jadi lebih baik kembalilah bekerja."
"Apa kau senang?"
'Senang apanya yang senang? Ini panas, jangan bilang kau mengerjaiku lagi, sial!'
"Haha. Iya, iya. Ayo pulang."
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan." kata Alrega tersenyum puas.
'Baiklah anggap saja begitu. Biar urusan di sini cepat selesai'
"Iya. Iya. Terimakasih ya?" Sahut Sella.
Mereka kembali masuk kedalam mobil, untuk pulang. Selama diperjalanan, Sella hanya tertidur, efek dari rasa kenyang di perutnya. Dan selama itu pula Alrega menjadikan bahunya sebagai bantal. Mereka pulang seperti keinginan Sella.
Sementara itu.
Di halaman rumah, Yorin mengeluarkan semua barang hasil belanja miliknya dan milik Sella. Ia memberikan pada pak Sim, beberapa tas belanja dan pot bunga anggrek, Zen yang memberikan padanya untuk dibawa pulang bersamanya. Ia sedikit cemberut. Karena ia harus menerima akibat dari mengajak Sella bersamanya.
Beberapa pelayan membantu membawa kan barang-barangnya. Ia berjalan masuk sambil bersungut-sungut.
"Siapa yang tahu kalau Hanza mengenal kakak Ipar? Kenapa aku yang di salahkan. Akh, ya. Kamu kak Rega, kalau kau mencintai seseorang maka kau akan menuntut orang lain juga mencintainya dan bila kamu membenci seseorang maka orang lain harus ikut membencinya begitu?!"
Sambil menghentakkan kaki ia berteriak lagi.
"Hei! Dunia ini bukan milikmu sendiri!"
Kemarahannya sama sekali tak berguna.
__ADS_1
Bersambung