
Alrega mengendikkan bahu menanggapi pertanyaan Sella. Ia memang tidak tahu, semua urusan ia serahkan pada Zen. Tentang tanggal lahir yang dijadikan pin kartu debit adalah usulnya, tapi soal berapa tanggal lahir Delisa, sama sekali ia tidak mengingatnya.
"Uh, uh, aku tidak menyangka ternyata kau masih memperhatikan mantan istrimu, ya Tuan Al?" Sella menunjukkan rasa tidak sukanya.
Entah dari mana munculnya keberanian Sella, hingga ia berkata demikian. Sella tidak sadar bila dirinya cemburu, atau ia kini takut kehilangannya cintanya. Ia khawatir kalau yang dikatakan Zola, bahwa Alrega masih mencintai Delisa dan akan kembali padanya.
Setiap manusia pasti pernah kehilangan sesuatu, dalam hidupnya. Begitu juga Sella, ia sudah banyak kehilangan, dari sejak masa remajanya. Ia tidak ingin kehilangan lagi saat ini, apalagi kehilangan cintanya.
'Kalau aku harus kehilangannya juga, memangnya aku bisa apa?'
Alrega membuang pandangannya kearah lain sambil tersenyum masam, lalu menjawab pertanyaan Sella, sambil mengibaskan tangannya.
"Aku tidak tau, Zen yang mengurusnya."
Sella masih tidak percaya, ia berdiri, melemparkan kartu di tangannya ke atas tempat tidur dan menatap Alrega kesal sambal melipat tangannya di depan dada.
"Anda pandai berbohong juga rupanya." Ia menggunakan bahasa formal menunjukkan bahwa ia sedang marah pada Alrega.
Laki-laki itu diam saja, ia justru merasa geli dengan tingkahnya. Sikapnya itu sedikit kurang ajar dan tidak sopan, tapi Alrega maklum karena ia tahu Sella sedang kesal.
Alrega pun berdiri mengikuti gaya Sella dengan melipat kedua tangannya di depan dada, ia menggerakkan dagu dan mengangkat alisnya, seraya berkata, "Bukannya kamu yang lebih sering menipu dan berbohong?"
"Kau ya, Tuan Al ...." Menunjuk dada Alrega dengan jari telunjuk dan menekannya kuat.
'Hais. Kenapa jari tanganku yang sakit, si'
"Kau bilang aku istrimu, kan. Seharusnya kau menyayangiku, kenapa kau selalu mengungkit masa lalu?"
"Hei," kata Alrega sambil menangkap tangan Sella yang berada di dadanya lalu menariknya hingga tubuh mereka saling menempel, dan memeluk pinggangnya.
Ia berkata, "jangan menuduh, aku tidak mengungkit masa lalu."
"Lepas!" Sella berkata sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Alrega.
"Tidak."
"Lepaskan, kubilang ...."
"Apa?" Alrega masih menahan tangannya di pinggang, Sella masih terus bergerak mendorong dadanya agar bisa lepas.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?" Alrega berkata sambil melancarkan ciumannya pada wajah dan leher juga telinga, membuat Sella merinding.
"Cukup, aku ... " Sella berhenti bicara karena Alrega kini mel*lum*mat bibirnya.
__ADS_1
Ciuman pun kembali menuntut satu sama lain hingga Sella merasa kehabisan nafas dan ia menahan bibir Alrega dengan jarinya. Laki-laki itu mengalah dan melepaskan diri dari pelukannya.
Tak Rela rasanya membuat tangannya kembali kososng. Perasaan apa ini Tuhan, yang membuatnya selalu ingin bersama dan tidak ingin melepaskannya.
"Ini hadiah kecil, aku membelinya tadi sebelum Zola menggangguku," kata Sella, seraya melangkah mengambil tas kecil dan mengambil sesuatu di dalamnya.
Setelah itu Sella mendorong Alrega untuk duduk di sofa panjang dekat tempat tidur, begitu pula dengan dirinya. Tangannya terulur untuk meraih dasi yang masih menggantung rapi di kerah baju Alrega. Ia menyematkan penjepit dasi perak yang ia beli di mall.
Penjepit dasi itu di ujungnya terdapat sebuah bintang kecil, berbeda dari penjepit dasi pada umumnya yang ujungnya berbentuk lancip. Ia sengaja membelinya karena menurutnya lucu dan menarik, kebetulan ia memang sudah memiliki jepit rambut dengan bentuk yang sama, yang membuatnya memiliki ide seolah-olah itu barang yang sengaja dibuat sama.
Sella melepaskan penjepit dasi yang dipakai oleh Alrega dan menggantinya dengan menyematkan benda yang dibawanya
Ia berkata, "Ini ... Jadikan aku bintang di hatimu." Sambil menepuk-nepuk dasi itu lembut.
Setelah selesai, Sella menyematkan jepit rambut dengan warna dan bentuk yang sama ke rambutnya, sambil tersenyum dan mata mereka yang saling menatap.
Ia berkata, "ini ... jadi tanda, kau adalah bintang dalam pikiranku."
Alrega memandang dasi dan jepit rambut di kepala Sella secara bergantian, ia tersenyum lebar. Itu senyum manis yang tulus. Selama bersamanya, Sella belum pernah melihat Alrega tersenyum semanis ini.
'Tuan Al, senyummu manis sekali, apakah karena itu kau menyembunyikannya selama ini. Mulai sekarang, tersenyum lah untukku ya, jangan kau sembunyikan lagi, oke?'
***
Keesokan harinya di kantor Art Design Group.
Alrega tidak menanggapi ucapan Zen. Ia asyik melihat dan memegangi dasinya, dengan tersenyum. Saat semua itu terjadi, dua orang pria tampan itu tengah duduk berdua di sofa, yang tersusun rapi di tengah ruangan kantornya.
Zen mengernyit melihat sikap tuan mudanya, pandangan matanya mengikuti arah tatapan Alrega.
"Kau lihat ini, Zen?" Alrega berkata sambil menunjukkan dasinya.
Menurut Zen, tidak ada yang aneh pada dasi yang dipakai tuan mudanya itu. Ia selama ini sering ikut memilih beberapa pakaian juga perlengkapan Alrega termasuk pakaian Sella yang memenuhi lemari, itu juga atas campur tangan Zen yang mengontak beberapa desainer, lalu memesan pakaian pada mereka.
"Ini hadiah dari istriku."
'Apa, dia bilang istriku? Benda seimut itu, apa istimewanya?'
Zen hanya mengangguk.
"Ya, saya melihatnya, Tuan."
"Dia bilang, ini adalah bintangnya dihatiku."
'Oh, jadi itu yang membuat Anda merasa istimewa, karena benda itu disimpan di dasi atau dekat dengan hati, ah, yang benar saja'
__ADS_1
Saat itu Zen berpikir, seandainya semua orang yang mengenal Alrega dan mengetahui sifat dinginnya, pasti akan syok melihatnya sekarang senyum-senyum sendiri, hanya karena penjepit dasi.
"Nona sangat baik ya, Tuan?"
"Kau tidak perlu memujinya. Itu tidak perlu."
'Ck! Itu cuma pujian saja tidak boleh, apa ruginya?'
"Tuanlah yang terbaik untuk nona muda."
"Dia juga bilang begitu pada ibuku. Oh ya, apa kabar Daville sekarang?"
'Oh, aku kira Anda mengabaikannya'
"Sebenarnya surat pindah tangan gedung itu masih di pegang anak dari pemilik kedua setelah Delisa, Tuan."
"Apa Hanza tau soal in"
"Ada kemungkinan dia tau, Tuan."
"Kurang ajar!" Alrega berkata sambil mengepalkan tangannya. Ia merasa Hanza sudah mempermainkan dirinya.
Daville, gedung yang akan dipersembahkan Alrega untuk Sella, masih dalam tahap renovasi. Gedung itu dulu diberikan Alrega untuk Delisa, tapi Delisa menjualnya kepada Hanza, salah satu temannya. Urusan surat-surat kepemilikan gedung yang tidak lengkap dari Hanza, orang yang sudah membelinya, membuat penyelesaian tertunda.
"Dan orang yang memegang surat itu ada di Kota Miyondes."
"Baik, selesaikan urusan surat ini secepatnya, Hanza terlalu meremehkanku."
"Maaf, Tuan. Dia hanya menantang saya, untuk menyelesaikan urusan Daville."
Menurut Hanza waktu itu, bila Zen mau repot-repot mengurus Daville, yang jelas-jelas bukan urusannya, maka Zen benar-benar bidoh. Daville adalah hadiah yang akan diberikan Alrega untuk kekasihnya, bukan kekasih Zen.
"Apa kau mau menurutinya dan meninggalkan aku?"
Zen diam termenung memikirkan ucapan Alrega. Tantangan untuk mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri, memang sangat menggiurkan.
Kepandaian dan pengalaman yang ia dapatkan, sudah cukup pantas untuk menjadikannya seorang pemilik firma besar, yang mungkin bisa menjadi saingan Alrega, tapi tidak.
Ia hanya memiliki beberapa kedai kopi sederhana saja. Seluruh waktunya ia gunakan untuk mengurus ADG dan keperluan keluarga Leosan. Kedai kopi yang dimiliki Zen, lebih sering disebut tempat beramal oleh para langganannya, karena Zen sering membagikan makanan gratis di sana.
"Kalu kau memang ingin mendirikan firma-mu sendiri, maka pergilah. Aku sudah memberikan semua fasilitas yang kau butuhkan, bukan?"
"Tidak Tuan, memiliki lima kedai kopi sudah cukup. Keuntungan perusahaan juga sudah sangat banyak untuk membiayai hidup saya, jadi untuk apa saya membuat perusahaan saya sendiri?"
"Untuk istrimu, nanti. Apa kau tidak akan menikah?"
__ADS_1
Bersambung