Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 104. Entah Harus Benci Atau Cinta


__ADS_3

Alrega menggeser kepalnya hingga bisa melihat Sella yang sudah memejamkan mata. Ia menggerakkan tangan, untuk menyibakkan baju tidur istrinya. Lalu memegang benda favorit di dadanya, serta memainkan dua buah bulat dan montok itu dengan banyak cara.


Hanya wanita yang memiliki benda itu di tubuhnya, sedangkan laki-laki, tidak. Itulah sebabnya laki-laki menyukainya, selain karena memang benda itu indah dan menarik, tapi juga karena laki-laki iri, tidak memiliki benda seindah itu di tubuh mereka. Bahkan bukan hanya buah dada, pinggul, pipi, bibir, perut, semua bagian tubuh wanita menarik bagi semua kaum pria!


Tiba-tiba Alrega mencium pipi Sella dengan sangat kuat, menekan dan mengerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri, hingga menimbulkan rasa sakit. Ia yakin istrinya itu belum tidur.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Sella membuka mata dan mendongak dengan menggeser kepalnya, sambil mengusap-usap pipinya.


"Apa, sakit?" Tanya Alrega tanpa rasa bersalah, ada sedikit senyum di ujung bibirnya.


Sella tidak menjawab, ia hanya melotot dan cemberut.


"Bagaimana kalau begini?" Tanya Alrega lagi sambil mengecup lembut pipi Sella yang kemerahan.


Sella tetap diam.


"Jangan membuatku marah kalau tidak ingin aku pergi."


Mendengar ucapan Sella, Alrega merubah posisi, mengangkat separuh badan dan menopangnya dengan sebelah sikunya.


"Apa saja yang membuatmu marah? Kalau tidak tahu, jangan salahkan aku!"


"Ya misalnya kau bohong, atau seperti tadi, kau menyakiti pipiku!"


"Bagaimana kalau aku memang bohong padamu?"


"Bohong soal apa?"


"Ya, misalnya soal ...." Alrega tidak meneruskan kata-katanya, karena ia memang tidak ingin Sella meninggalkannya.


"Apa?"


"Bukan apa-apa, tidak penting." Alrega berkata sambil memeluk Sella kembali.


Sella penasaran, tapi tidak tahu apakah ia harus benci atau marah, tapi ia juga tidak ingin membahasnya, apalagi saat Alrega memulai lagi aktifitas memainkan ujung dadanya.


'Akh, ini geli!'


Tak lama sebelum Alrega melakukan hal lainnya, Sella sudah mendorongnya menjauh, sambil berkata dengan keras karena kesal.


"Sudah. Sakit, tahu. Mandi sana!" Ia memang belum melihat laki-laki itu membersihkan diri.

__ADS_1


"Aku tidak mandi juga, wangi." Alrega berkata sambil berdiri.


'Dih, jorok! Sebenarnya gak apa sih, tapi kalau bukan karena pipiku sakit, aku tidak akan mengusirmu!'


Alrega membuka pakaiannya satu persatu, di samping tempat tidur, memperlihatkan tubuh atletis dibalut kulitnya yang putih, dadanya bidang menunjukkan kekuatan hati di dalamnya, perutnya rata, namun dihiasi bentuk mirip petak-petak yang rapi. Pinggangnya sempit melengkapi bentuk bokongnya yang seksi, menopang punggung lebarnya, dengan otot yang tidak terlalu menonjol.



Semua itu tidak lepas dari penglihatan Sella, yang justru membuatnya tergoda. Ia merasakan hangat di pipinya yang mengalir entah dari mana. Bila ia bisa berkaca saat itu, akan melihat wajahnya yang memerah. Ia berharap Alrega tidak menebak, bahwa dirinya sedang menginginkan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka berdua di tempat tidur.


Sella menutupi mukanya dengan selimut, saat ia tidak lagi bisa menguasai tatapan mata pada Alrega yang sengaja memperlihatkan semuanya pada Sella. Mereka sudah sering melakukannya, tapi tetap saja malu.


Beberapa saat kemudian, Sella merasa sesuatu yang besar tengah menindih tubuhnya dari atas selimut. Ia pun menyingkapkannya dan melihat Alrega yang tengah menyeringai dalam keadaan tanpa busana. Seketika aroma sabun mandi yang wangi dari tubuhnya memenuhi rongga hidungnya.


Sella tak bisa lagi menolak pesona laki-laki ini, bukan hanya Alrega yang terlihat sangat menginginkan dirinya, tapi naluri wanitanya pun menuntut demikian. Apalagi saat ini ia merasa sekali lagi, begitu dicintai, hingga ia ingin membalasnya.


Perasaan benci yang dulu Sella miliki, lambat lain terkubur oleh kebaikan pria ini. Walaupun, ia sering dikerjai, tapi setelah itu Alrega akan memberinya hujan kasih sayang. Ia memang masih butuh meyakinkan diri, hingga ia tidak bisa menunjukkan perasaan itu sekarang.


Alrega menatap Sella yang ada di bawahnya, dengan penuh cinta. Kelopak mata yang berbulu lentik itu, setengah terkatub, menunjukkan minatnya yang kuat. Ia ingin segera mengeluarkan sesuatu di tubuhnya dan hanya bisa dikeluarkan melalui pelampiasan dengan menguasai tubuh Sella.


Setelah itu, mereka pun saling memberi peluang, ketika selimut sudah tersibak seluruhnya dan teronggok di sudut tempat tidur.


***


Ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, yang terasa lebih lelah dari biasanya. Walaupun ia sering membuat banyak makanan, untuk di bagikan secara gratis di kedai kopi Zen, tapi lelahnya kali ini berbeda. Ada hal yang baru saja terjadi pada dirinya, yaitu bertemu Sella, teman sekolahnya dulu, yang membuatnya sangat menyesal karena ia dulu sudah berbuat buruk padanya. Akan tetapi Sella sangat baik saat bertemu dengannya kembali, hari ini.


Mungkin kebaikannya itulah yang menjadi penyebab dia mendapatkan suami seperti tuan Rega.


"Apa yang Tuan lakukan di sini?" Tanya Loni.


"Tidak ada." Zen menjawab dengan tenang sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.


"Permisi, Tuan." Loni membungkuk dan berniat membuka pintu saat Zen menahan tangannya, tapi langsung melepaskannya lagi.


"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"


"Tidak."


"Kalau tidak, biarkan saya masuk, saya mau tidur."


"Apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Loni mengernyit mendengar Zen menunjukkan perhatiannya, ia tidak ingin terbawa suasana. Ia tetap harus sadar, siapa dirinya dan siapa Zen di matanya dan di mata banyak orang yang sudah di toolongnya.


Dia menyukai Zen, sangat. Bahkan sejak ia tahu kebiasaan laki-laki itu pada banyak orang melalui usahanya, tapi ia tidak akan merusak reputasi laki-laki ini dan juga dirinya sendiri.


"Terima kasih, saya baik-baik saja."


Loni baru saja kembali melangkah dan hendak membuka pintu kamarnya ketika suara khas milik Zen yang terdengar seperti peluit kereta malam memecah kesunyian di saat turun salju.


"Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?"


'Aahk, apa ini godaan? Apa ini pertanyaan yang harus kujawab? Tidak! Aku tidak menyukaimu dalam keadaan yang seperti ini, aku ingin menyukaimu ketika aku sukses, hingga aku bisa menegakkan kepalaku saat kau menyatakan rasamu dan aku tidak akan malu jika aku berkata, ya, aku menyukaimu, Zendaka!'


"Sebenarnya apa maksudnya, Tuan?"


"Aku dengar semua yang kamu katakan pada Nona."


"Seperti apa misalnya?"


'Hei, beraninya dia bertanya seperti itu?'


"Aku dengar, kau hanya menyukai uangku."


"Maaf, Tuan, menurut saya wajar, setiap orang menyukai uang. Begitu juga saya. Tuan tahu, kan, bagaimana saya sampai bisa bekerja di sini, karena saya butuh uang." Loni berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"Kalau aku bisa mengembalikan semua milik orang tuamu, apa kau juga tidak akan menyukaiku?"


'Apa? Aahk, ini tidak mungkin'


Loni menatap Zen sejurus, sambil menghela napas, lalu berkata.


"Tuan, rentenir yang mengambil semua itu tidak berada di sini, dia punya kaki tangan yang banyak, sulit sekali menemukannya, bahkan pihak berwajib sekali pun."


"Bagaimana kalau aku bisa menemukannya?"


'Tuan, apakah kau ingin aku menyukaimu dengan cara itu? Sebenarnya tidak perlu, Anda sudah begitu baik. Jangan buat aku berhutang budi padamu terlalu banyak, kau hanya akan membuatku sulit bernapas'


"Lakukan saja apa yang Anda inginkan, Tuan. Anda berhak menentukan keputusan Anda sendiri, tanpa bisa saya campuri."


Loni memalingkan pandangannya ke arah pintu dan benar-benar masuk kamar. Namun, ketika ia hendak menutupnya kembali, tangan besar Zen menahannya dan ikut masuk ke dalamnya. Ia meringsek ke depan tubuh Loni dan menutup pintu di belakang tubuhnya, dengan sangat perlahan seolah malaikat pun tidak bisa mendengar.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan. Kenapa Anda masuk ke sini, ini kamar saya!" Loni panik, hingga tanpa sadar ia berkata dengan suara yang sangat keras sambil mendorong tubuh Zen.

__ADS_1


"Kamarmu, kau bilang?!" Zen berkata sambil melangkah maju mendekati Loni.


Bersambung


__ADS_2