Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 37. Daville


__ADS_3

* jangan lupa like, rate, vote ya, Terima kasih atas dukungannya *


Shella menoleh ke arah sumber suara dan ia terkejut ketika melihat ada seorang laki-laki yang berpakaian sederhana tapi nyentrik sedang berdiri di belakangnya.


"Berisik!" kata pria itu pada Sheila seolah mereka sudah saling mengenal.


Sella mengerutkan kening karena ia teringat dengan Alrega yang selalu mengatakan kata yang sama setiap kali ia mau tidur.


Pria ini mempunyai senyum yang menarik matanya lancip alisnya tebal dan rambutnya nya model cepak disisir rapi ke belakang. ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil berkata,


" Jangan paksakan kalau memang belum rela." tatapannya datar melihat ke arah Sella yang duduk di dekat kakinya.


" Kalau kau ingin mendapatkan sesuatu tidak bisa cuma mengandalkan air mata, kalau kau kehilangan atau kecewa, maka kau tidak akan merubahnya dengan tangisan pula, bahkan kau tidak akan mendapatkan apa-apa... sayang kan air matanya nya," kata pria itu lagi terkesan menggurui seolah-olah tahu apa yang menyebabkan Sela menangis.


'Ahk, mengganggu saja!'


Sela mendengus ia tidak memperdulikan laki-laki itu, dan kembali menatap ke depan dan membiarkan air matanya terus mengalir.


Mereka tetap pada posisi mereka masing-masing hingga tak lama setelah itu, Sella berdiri kemudian ia berteriak sekuat tenaga seperti menumpahkan rasa Sesak Dalam dadanya.


"Aaaa...!!"


Tiba-tiba laki-laki yang ada di belakang Sella mengikuti gerakannya, ia menyimpan Kedua telapak tangan di dekat mulutnya dan kemudian berteriak sekuat-kuatnya seolah-olah kedua tangan itu adalah speaker agar suaranya lebih keras.


Setelah mereka puas berteriak laki-laki itu tertawa terbahak-bahak, Sella juga ikut tertawa kecil.


"Siapa namamu?" kata pria itu sambil mengulurkan tangan pada Sela tapi Sela mengabaikannya kemudian ia berkata lagi,


"Kenalkan, aku Hanza. Aku jalan di dekatmu, tadi."


Hanza hendak melajukan motornya lebih cepat, ketika ia justru melihat lawan tandingnya di jalan justru memperlambat laju kendaraannya. Ia sempat merutuk dihatinya karena ia sudah menyebutkan namanya tapi orang itu bahkan seolah tidak mendengarnya.


Ia kemudian memutar motornya dan mengikuti kemana Sella pergi, hingga ia menemukan gadis itu ada di gedungnya tengah menangis. Iya mendengar semua yang dikatakan oleh Sella dalam tangisannya gadis itu terdengar mengumpat seseorang dan mengumpat dirinya sendiri, menyesali kehidupannya serta mempertanyakan masa depannya. Hal paling lucu yang sudah Hanza dengar adalah ketika gadis itu berkata,


" Bagaimana aku bisa membiarkan pertahanan hatiku agar tidak runtuh, kalau aku melihatmu setiap hari? Kau menyebalka! lihat saja aku tidak akan jatuh cinta padamu!!"


Menurutnya gadis itu sudah menolak perasaannya sendiri kalau sebenarnya dia mencintai seseorang, hal ini membuat laki-laki itu merasa geli.


" Aku tidak bertanya padamu, lagipula siapa yang mau berkenalan denganmu," kata Sela sambil kembali duduk dengan menekuk lututnya. Ia bersandar di salah satu dinding pembatas gedung.


Lantai atap gedung itu terasa dingin ditambah dengan angin yang bertiup menjadikan suasana semakin dingin Sella memeluk lengannya sendiri.


" Pergilah Aku ingin sendiri," kata Sella tanpa melihat pada Hanza.


" Kau tidak mau mengatakan siapa namamu? " tanya Hanja.


" Apa kau ini pengangguran dan kau mengejar seorang wanita, hanya untuk mengatakan siapa namamu?" Sella balik bertanya.


Hanza duduk di samping Sella sambil berkata,


" Apa hakmu mengusirku? aku yang lebih berhak mengusirmu dan aku tidak akan kemari kalau tidak mendengar mu bicara macam-macam sambil menangis,"


'Siaal..! Ssharusnya aku tidak bicara keras, tadi. Apa dia mendengar semuanya?'


"Memangnya siapa kamu?" tanya Sella sambil melirik Hanza.


" Sudah ku bilang namaku Hanza, " kata Hanza sambil menoleh dan menatap wajah Sella lekat, menurutnya gadis ini sangat menarik.


" Maksudku apa hubunganmu dengan tempat ini kenapa kau merasa lebih berhak mengusir ku?"sahut Sella jengah.


" Tempat ini namanya Daville, gedung yang bagus, ayahku yang sudah merancangnya. Tapi Ayahku meninggal dua tahun yang lalu, sekarang aku sudah membelinya karena menurutku gedung ini adalah kenang-kenangan terahirku dengan Ayah. Dulu dia sering mengajakku ke sini ketika dia masih hidup, jadi banyak kenangan di tempat ini. Gedung terakhir rancangan ayahku," Hanza bercerita pada Sella.


"Maaf soal ayahmu," kata Sella.


" Tidak perlu meminta maaf karena kau tidak tahu. Dan sekarang bagaimana kalau aku memanggilmu Davi sesuai dengan tempat ini," kata Hanja sambil tersenyum, membuat Sella mengerutkan alisnya dan ia menyahut,


" Kenapa menyebutku begitu Itu bukan namaku, lagi pula nama itu aneh."


" karena kau tidak mau menyebutkan siapa namamu," kata Hanza.


Tempat ini adalah tempat pertemuan pertama mereka.


Sella kesal dengan laki-laki ini, tapi ia merasa sudah melewatkan sesuatu. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk bokongnya agar bersih dari debu yang menempel karena ia duduk tanpa alas. Hanza mengikutinya berdiri dan melakukan hal yang sama.-

__ADS_1


Sella menatap laki-laki di depannya dengan tatapan lurus, ia berkata,


" Kau bilang tadi sudah mendengar aku bicara macam-macam, apa saja yang kau dengar?"


" Menurutku kau sudah jatuh cinta tapi kau menolak perasaanmu sendiri, siapa laki-laki itu yang beruntung sudah mendapatkan cintamu,"


'Ah, ya, kau benar... Alrega akan sangat beruntung kalau aku jatuh cinta padanya, tidak akan!'


Karena melihat Sheila tertegun dan diam, mendengar ucapannya, Hamza menatap dan berusaha mengambil kesimpulan sendiri bahwa Sella tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia tersenyum lalu memanggilnya,


"Davi!"


Entah mengapa, Sella menoleh, membuat Hanza tersenyum lebar.


" Berarti kau setuju dengan sebutan nama itu, " kata Hanza.


'Aku menoleh bukan karena aku setuju dipanggil begitu'


" Siapa yang setuju, " sahut Sela membantah kata-kata Hanza.


" Tapi aku akan tetap Memanggil nama itu kalau suatu saat kita bertemu. "


'Kita tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini'


Sella kemudian turun dari lantai atap gedung itu menuruni tangga, tanpa memperdulikan Hanza, menuju motornya di halaman parkir yang lengang.


Melihat Hanza mengikutinya, Sella tak berkomentar, dia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegahnya.


Ia mulai memakai helmnya tanpa menggulung rambutnya. Bagi Hanza Ini adalah pemandangan yang bagus ia menilai Sella gadis yang sangat cantik, bahkan ia mirip sekali dengan kekasihnya yang sudah lama tiada.


"Di mana rumahmu aku akan mengantarmu," kata-kata Hanza ini membuat Sella tertawa keras. Bagaimana mungkin dia akan mengantarnya? Bahkan mereka membawa sendiri-sendiri kendaraannya.


" Kau tidak perlu mengantarku, aku kan bisa pulang sendiri? Jelas-jelas kita berdua membawa motor masing-masing, kau ini aneh," sahut Sella dengan sisa tawanya.


"Tapi kau senang, kan? buktinya kau tertawa. Aku hanya ingin menghiburmu saja,"


Sella ketika diam, Ia berpikir bahwa yang dikatakan Hanza benar ia tertawa dibuatnya. Kadang-kadang seseorang rela menjadikan dirinya tampak bodoh agar orang lain menjadi bahagia.


Seperti yang dilakukan Hanza, ia mengatakan sesuatu yang terdengar bodoh agar Sela tertawa dan tanpa diduga, perempuan itu sudah terhibur olehnya. Bahkan ia seolah-olah lupa bahwa beberapa saat yang lalu, ia menangis tersedu-sedu dan berteriak dengan suara yang cukup keras.


" Kau sudah mengatakan aku lucu? Maka tertawalah sampai kau puas. Kau juga mengatakan aku aneh," kata Hanza, ia diam sebentar karena terlihat kesal, lalu berkata lagi,


"Apalagi komentarmu tentang aku? Kadang orang gampang sekali menilai padahal namanya saja tidak ia tidak tahu,"


Sella diam, ia terlihat berpikir sejenak kemudian dia bertanya,


" Kalau kau memang pemilik gedung ini kenapa kau membiarkan gedung ini tidak terpakai? Sayang sekali gedung sebagus ini tidak kau gunakan."


"Biarkan saja seperti ini. Aku sengaja. Aku khawatir kalau gedung ini digunakan untuk suatu hal, maka kenangan bersama ayahku akan hilang," kata Hamza membuat Sella kembali berpikir bahwa laki-laki ini sedikit sentimentil.


" Kalau aku menjadi dirimu, aku akan memanfaatkan gedung ini tanpa menghilangkan kenangan darinya., bagian mana yang lebih banyak hadir sebagai kenangan bersama ayahmu, maka akan aku buat lebih Indah," kata Sella sambil menyalakan mesin motornya.


Kata-kata Sella ini membuat Hanza tercenung, lalu ia menimpali,


"Aku pikir kau benar, idemu sangat bagus. Berarti aku harus mengumpulkan uang lagi untuk membuat gedung ini lebih indah."


"Baiklah, aku pergi," kata Sella berpamitan. Tapi Hanza menghadang laju motornya dengan merentangkan kedua tangan.


'Kalau kau tidak begitu manis, aku akan memukulmu menggunakan jurusku'


"Apa lagi?" tanya Sella.


Hanza berdiri membungkuk menggunakan dua tangan untuk menopang tubuhnya di atas tank motor Sella tempat Sheila, lalu berkata,


" Sebulan yang lalu ada orang yang ingin membeli gedung ku dengan harga yang sangat tinggi. Baginya gedung ini adalah harga dirinya. Bagaimana menurutmu?" tanya Hanza membuat Sella mengerutkan kening dan mengangkat kedua bahunya.


"Mana kutahu kenapa kau bertanya padaku?" jawab Sella tak perduli.


" Kau sudah memberiku saran yang bagus. Bagaimana menurutmu kali ini?"


"Biasanya... Seseorang tidak akan melepas sesuatu yang sangat berarti baginya begitu saja dengan mudah.."


Hanza mengangguk sambil memegang dagunya sendiri, lalu berkata,

__ADS_1


" Tapi aku heran dengan orang ini, dia begitu keras kepala ingin mendapatkan gedung ini kembali. Dulu memang gedung ini miliknya tapi Iya sudah memberikannya pada orang lain, secara cuma-cuma. Ayahku hanya sebagai perancang saja dan sekarang orang itu ingin memiliki gedung ini kembali, seolah dia siap menukar dengan harga dirinya,"


" Hahaha, apakah orang ini akan memberikannya pada orang lain lagi? Sungguh beruntung orang yang akan mendapatkannya," Sella berkata sambil tertawa.


Ia berpikir bahwa orang yang sudah membangun gedung dengan susah payah, kemudian memberikannya pada orang lain secara cuma-cuma dan ketika gedung ini sudah dijual pada orang lain, hanya dalam waktu dua tahun, dia akan membelinya kembali seperti gedung ini hanya sebuah permen. Mungkin bagi orang ini mengeluarkan uang untuk membeli sebuah gedung hanya seperti membeli sendal jepit.


"Aku sangat kasihan padanya, hanya saja aku tidak menyukai orang ini. Menurutku dia terlalu sombong."


"Aku tahu kenapa kau tidak memberikannya, tapi biasanya akan terlalu merepotkan berurusan dengan orang seperti itu," sahut Sella.


"Ya aku pikir kau benar. Aku akan melihat sejauh mana kegigihannya. Aku akan melihat siapa orang beruntung yang akan mendapatkan gedung ini nanti," kata Hanza, sambil menuju motornya.


Sella lebih dulu meninggalkannya dan tanpa Sella ketahui, Hanza mengikuti dari belakang. ia mengerutkan kening hingga timbul berbagai pikiran dalam benaknya ketika Sheila mulai memasuki kawasan kaki langit bahkan masuk kedalam pintu gerbangnya begitu saja.


" Apa hubungannya Davi dengan penghuni kaki langit? Aku sudah menceritakan tentang Daville, apakah dia tahu siapa yang kumaksud dengan sebutan orang yang tidak kusukai dan juga sombong?" gumam Hanza.


***


Malam harinya seusai makan malam, Sella memasuki kamarnya karena merasa tidak ada yang perlu dikerjakan lagi. Ia baru keluar dari kamar Zania begitu ia tertidur pulas. Sella sudah menceritakan pada Zania banyak hal hari itu. Walau belum menunjukkan perubahan yang berarti, Sella merasa optimis, bahwa Zania akan lebih cepat sembuh dibanding dengan ibunya dulu.


Alrega tidak hadir bersama mereka dan ia pulang setelah larut malam, Laki-laki itu masuk ke dalam kamar dengan wajah yang suram dan nampak mengeraskan rahangnya. Ia menatap Sella dengan penuh kemarahan lalu berkata dengan keras,


"Beraninya kau tidak menyambutku pulang!?"


'Mana aku tahu kau akan pulang selarut ini aku sudah mengantuk, tau?'


" Maaf, maafkan saya Tuan, " kata Sella langsung turun dari sofa dan berlutut di depan Alrega sambil mengatupkan kedua tangan didepan dada.


'Memangnya aku bisa apa selain begini, mohon padamu agar tidak menambah hukuman ku'


" Saya tidak tahu kalau Tuan akan terlambat dan saya tidak menanyakannya pada sekretaris Zen, maaf..."


"Cium aku, " kata Alrega, membuat Sella ternganga, tapi ia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


" Ayo cepat lakukan, itu hukumanmu!"


'Bagaimana mungkin ciuman bisa dijadikan sebagai hukuman. Yang benar saja aku bisa gila karenanya'


Akhirnya Sella berdiri, ia mendekati Alrega satu langkah dengan ragu-ragu. Iya diam dengan tubuh waspada tapi gemetar. Alrega bisa menangkap ketakutan dalam dirinya membuat hatinya seperti digelitik geli.


Alrega dulu pernah berpikir untuk memeluk pinggang ramping Sela ketika pertemuan pertama mereka di kantor, dan saat ini ia bisa memeluk pinggang itu. Dengan perlahan ia menyimpan satu tangan lagi di belakang kepala Sella dan mulai mencium bibirnya tanpa peringatan sebelumnya.


Sella sudah siap, dan tahu bahwa dia akan berciuman tapi dia tidak menduga bahwa Alrega akan lebih dulu menciumnya, ini gila kan?


Awalnya seluruh tubuh Sella menegang, punggungnya kaku, bahkan ia menahan bibirnya untuk tidak merespon apa yang dilakukan oleh Alrega. Tapi karena merasakan ciuman hangat dan lembut yang diberikan laki-laki itu serta aroma dari Alga yang memenuhi rongga hidungnya, membuat Sela sedikit rileks dan ia bisa membiarkan kan bibir Rega bermain di atas bibirnya.


Ciuman itu semakin lama semakin dalam tapi kemudian Sela mendorong tubuh Alrega dengan kuat, hingga ciuman itu terlepas. Nafasnya hampir habis. ia terengah-engah, Rega melihatnya dengan tersenyum geli.


Bagaimana Ia melihat seorang wanita yang tidak berdaya di hadapannya, bahkan hampir mati karena kehabisan napas tapi terlihat lucu di matanya membuat hati Alrega kembali menghangat.


' Apa kau sudah puas? Aku tidak mau sekamar denganmu. Aku akan tidur dengan mamaku, sialan!'


Sella melirik pada alrega yang terlihat menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, ia melipat selimutnya dan hendak pergi keluar ketika Alrega membentaknya,


"Mau ke mana kau? tetap di tempatmu!"


"Bolehkah saya tidur dengan ibu, tuan? Saya ingin tidur sambil memeluknya, boleh ya ,ya?" kata Sheila sambil kembali mendekati Alrega.


Ia menggamit tangan Alrega dan kemudian menggenggam nya sebagai bentuk permohonan. Lagi-lagi Alrega menatap geli dengan tingkah laku gadis di depannya ini.


" Pergilah kalau aku sudah tidur," kata Alrega ketus sambil menuju tempat tidurnya.


Sella kembali ke sofa dan ia merebahkan dirinya, menunggu beberapa saat hingga ia yakin Alrega sudah terlelap.


Beberapa lama kemudian ia menghampiri Alrega, mendekatkan wajahnya pada wajah Alrega, memastikan laki-laki itu itu benar-benar sudah tidur dengan melambaikan telapak tangannya.


Sella yakin Alrega sudah tidur, ia berkata dengan perlahan,


"Tuan, Al.. Tuan Al.. Apakah anda tahu bahwa anda sangat tampan, aku bisa jatuh cinta pada anda kalau setiap hari berhadapan dengan orang setampan anda. Bahkan wajah anda begitu lembut kalau anda sedang tidur, anda terlihat sangat polos. Anda tidak tergoda dengan saya? Saya senang, ternyata anda hanya berani mencium saja,"


Sela duduk di lantai di sisi tempat tidur, ia meneruskan ucapannya, ia mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya,


" Tuan Al.. Saya yakin Ibu akan segera sembuh. Percayalah pada saya karena Ibu saya juga mengalami hal yang sama dengan ibu anda. Semua terjadi saat Ayah saya pergi meninggalkan kam. Itulah sebabnya mengapa saya sangat sulit mencintai seorang pria."

__ADS_1


Sella pergi keluar dan menutup pintu dengan perlahan di saat yang bersamaan, Alrega membuka matanya secara perlahan.


__ADS_2