Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 90. Semua Sia-sia Lagi


__ADS_3

Zen menautkan alisnya dan menoleh pada Alrega. Ia berpikir apakah semuanya akan sia-sia dan Alrega akan menyerahkan dirinya, untuk menebus surat yang begitu penting baginya? hHatinya bertanya-tanya.


Ia menahan geram pada laki-laki yang ada di hadapannya dan juga Hanza, dengan sekuat tenaga.


Zen sudah menyiapkan semua kemungkinan, apabila laki-laki yang memiliki surat itu, akan memeras Alrega. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata dirinyalah yang dijadikan umpan oleh Hanza.


Sepekan yang lalu sebelum ia mendatangi tempat itu, Zen menyuruh beberapa anak buahnya, untuk menyelidiki orang-orang yang terdekat dan disayangi oleh Mufti Praja. Ia memiliki bukti bahwa orang-orang yang disayang dan dekat dengan laki-laki gemuk itu, ternyata menghianatinya.


Zen akan menghancurkannya dengan caranya, tapi setelah mendengar syarat tebusan itu, ia sedikit ragu. Meskipun begitu, ia harus berusaha semaksimal mungkin sebelum semuanya benar-benar menjadi sia-sia.


Zen mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya, Itu sebuah flash disk dan akan ia perlihatkan melalui ponselnya sambil menggenggam flash disk itu ia berkata.


"Apa Anda tidak membayangkan, seandainya apa yang Anda miliki dan Anda anggap berharga, dimiliki oleh orang lain."


"Apa maksudmu, aku tidak memiliki sesuatu yang berharga seperti dugaanmu." Mufti Praja berkilah, ia tidak ingin menanggung resiko bila ia memiliki seorang yang disayangi, akan menanggung akibat dari pekerjaannya.


Ia memberi tempat tinggal bagi ibu dan istrinya di sebuah pulau jauh dari kota, yang hanya ia kunjungi sebulan sekali saja.


Kebanyakan orang-orang yang hidupnya penuh dengan resiko, akan memilih hidup sendiri tanpa orang-orang yang menyayangi, berada di sekelilingnya. Semua itu karena mereka tidak ingin, orang-orang itu, ikut menanggung resiko yang sama besarnya dengan mereka.


Misalnya, orang yang disayanginya akan mati atau dijadikan tawanan, atau diculik, oleh musuhnya atau orang lain yang membencinya. Mereka menggunakan kelemahannya untuk menghancurkannya.


Memang biasanya seorang yang memiliki musuh akan menggunakan kelemahan yang dimilikinya, untuk menghancurkannya.


"Anda tidak percaya, kalau saya tahu semuanya tentang Anda?!" Zen bertanya dengan angkuh, ia menunjukkan kekuatan negosiasinya.


"Jangan bercanda, apa yang harus aku percayai dari orang sepertimu, ha?!"


"Sebaiknya Anda menyerahkan surat itu pada Tuan Rega sekarang juga, Anda tidak perlu mengambil keinginan Hanza, untuk mempertaruhkan saya, atau saya akan membeberkan aib keluarga Anda di seluruh media!"


Selama Zen bernegosiasi dengan Mufti Praja, Alrega hanya diam ia mempercayakan semuanya pada sekretaris dan pengawal pribadinya itu. Ia duduk tenang dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Disaat yang bersamaan ponsel yang ada di saku bagian dalam jas yang dipakai Zen, berdering. Itu nada dering yang digunakan khusus untuk Pak Sim dalam keadaan darurat. Alrega hanya mengizinkan Pak Sim untuk mengirim pesan, untuk sesuatu yang dibutuhkan atau yang sifatnya pemberitahuan saja. Pak Sim hanya boleh menghubungi ponsel Alrega bila keadaan genting saja.


Alrega pun mendengar suara ponselnya berdering dan itu berarti rumah keluarga Leosan, dalam keadaan darurat.


Zen mengambil ponsel dari saku jasnya, melihat layar ponsel dan memberikannya pada Alrega. Ia membiarkan tuan mudanya menerima panggilan.


Zen memejamkan matanya dengan kedua tangan yang terkepal, menahan geram dan kesal. Ia menyesalkan keadaan darurat muncul di saat yang bersamaan dengan prtaruhan harga diri.


Alrega terlihat panik setelah selesai menerima panggilan, lalu melihat sebuah video yang diputar di layar ponsel. Zen liriknya dan Mukti Praja tersenyum miring melihat reaksi dua orang dihadapannya. Dia tidak tahu apa yang sedang dialami oleh meey, tetapi ia bisa menyimpulkan bahwa Zen dan Alrega sedang dalam kesulitan.

__ADS_1


"Apa kalian yang mencangkup sekarang? kalian saatnya tahu aku orang yang tidak bisa diancam!" Kata Mufti Praja.


Alrega melangkah mendekati Mukti Praja dan ia berkata dengan menarik kerah bajunya. Seketika itu juga, para pengawal yang berdiri di sekitar Mukti Praja mendekat dan mencegah Alrega dengan memegangi bahunya.


"Serahkan surat itu, atau aku akan menghabisimu sekarang juga!" Pekik Alrega.


"Hahaha, Tuan Rega, apakah sekarang kau sudah beralih profesi menjadi seorang pembunuh, bukan lagi pebisnis, hingga kau mau membunuhku?!" Laki-laki tambun itu masih duduk tenang memainkan tongkatnya.


"Hah! Aku tidak peduli apa aku pembunuh atau pebisnis, jadi berikan surat itu!" Alrega masih mencengkram kerah baju Mufti Praja dan laki-laki itu menyimpan surat di belakang punggung dengan kedua tangannya.


Kejadian yang dilihat di layar ponsel, membuat Alrega seperti kehilangan harga dirinya, tapi kemudian Zen menenangkan, dengan mengatakan sesuatu seperti biasa.


"Tuan, jangan kotori tangan Anda untuk membunuhnya, orang seperti dia akan hancur dengan sendirinya, Tuan!" Zen berkata sambil menarik tangan Alrega dari kerah baju Mukti Praja, lalu merapikan jas tuan mudanya sambil menepuk-nepuk bahunya.


Ia tahu telah terjadi sesuatu yang menggemparkan di rumah keluarga Leosan hingga Alrega bersikap demikian.


Zen berbalik dan menoleh pada Mufti Praja yang duduk di belakangnya, lalu ia menunjukkan layar ponsel miliknya sendiri yang sudah ia nyalakan sebelumnya.


Layar ponsel itu memutar sebuah video dimana memperlihatkan istri yang sangat disayangi Mufti Praja, sudah berselingkuh dengan laki-laki lain, yang lebih muda lebih tampan darinya.


"Bagaimana, Tuan Praja. Apa anda masih tidak mempercayai saya, menganggap saya tidak tahu semuanya? Saya akan menyebarkan berita ini ke media. Kalau anda masih tidak mau menyerahkan surat itu pada Tuan Rega!"


Mufti Praja tidak berdaya, dengan berat hati ia menyerahkan surat itu pada Alrega. Alrega menerimanya dengan kasar, ia sudah tidak sabar untuk segera pulang.


Sebenarnya mereka tidak biasa menggunakan ancaman, mereka bukan mafia. Akan tetapi keadaan mendesak lah yang membuat Zen melakukannya.


Zen menepuk pundak Mufti Praja, kemudian ia berkata, "Satu lagi permintaan saya, Tuan. Kalau Anda masih ingin file ini dan semua bukti yang ada saya hapus semuanya, kembalikan semua aset yang dimiliki oleh Lonisa."


Siapa lagi dia, aku tidak mengenalnya?" Tanya Mufti Praja.


"Dia, orang yang beberapa bulan yang lalu seluruh rumah dan kekayaannya Anda ambil, hanya karena hutang yang tidak seberapa dari orangtuanya, jahat sekali anda sudah membuat seorang wanita terlunta-lunta," tandas Zen.


"Oh, aku tidak peduli, aku hanya mengambil hak ku!" Mufti Praja menukas keras.


"Apa Anda tidak mempunyai hati sampai Anda harus menyita seluruh hartanya?" Ketika berkata, Zen sudah melangkah mendekati Alrega yang sudah tidak sabar untuk menyelesaikan masalah di rumah.


Ia merasa tidak ada gunanya memperpanjang masalah dengan Mufti Praja, tentang urusan rumah Lonisa. Ia akan menyelesaikannya lain kali, sebab bukti-bukti memalukan istri laki-laki itu masih aman di tangannya. Untuk saat ini, yang terpenting adalah pulang ke kediaman Leosan dimana tengah terjadi kekacauan.


Zen memasukkan amplop surat itu ke saku bagian dalam jelasnya, lalu berjalan dengan cepat di belakang Alrega. Mereka kembali menyusuri lorong yang sama, tapi siapa yang menyangka bila di tengah jalan itu mereka dihadang oleh Hanza.


Perjalanan pulang ke Kaki Langit pasti akan terlambat karena ketika Pak Sim mengirim video itu, kekacauan tengah berlangsung. Lalu, ketika Hanza menghadang, kepulangan mereka akan lebih terlambat lagi.

__ADS_1


Laki-laki itu berjalan dari arah yang berlawanan sambil bertepuk tangan. Ia berkata dengan setengah berteriak mengucapkan selamat atas keberhasilan Alrega dan Zen, mendapatkan surat penting dengan mudah.


"Kau berhasil, Zen?" Kata Hanza ketika mereka sudah saling berhadapan.


"Minggir! Kami mau lewat!" Hardik Zen kasar sambil mendorong tubuh laki-laki di depannya, agar Alrega bisa lewat.


"Wow, wow, kau kasar sekali, Zen. Atau kau masih ingin mengalahkanku, ha?!" Hanza sepertinya kesal, ia gagal mengerjai Alrega.


Ia pikir akan lebih mudah mengalahkan Alrega, dengan memisahkan Zen dari sisinya.


Dulu, Zen adalah teman seperguruannya, kemampuan Hanza dan Zen, selalu saja seimbang, setiap kali mereka melakukan pertandingan ataupun adu kekuatan. Perguruan karate tempat mereka belajar, sama-sama menjuluki dua orang itu sebagai kepala senior. Tidak ada yang menang dan kalah diantara mereka, walaupun ada yang berbeda, kemungkinan hanya satu angka saja.


Tidak ada penyebab yang jelas, sehingga mereka berdua berseteru seperti itu, kecuali karena Hanza ingin mengerjai Zen dan Alrega. Semua itu dimulai sejak kehadiran Sela di sisi Alrega. Ia benar belum bisa memaklumi bahwa, dirinya kembali tidak dicintai oleh wanita yang yang ia sukai.


Hanza menepis tangan Zen kasar lalu mendekat dan menepuk dada Zen, sambil berkata, "Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Suaranya rendah, tapi terdengar mengancam.


"Zen, ayo jalan. Jangan perdulikan dia!" kata Alrega sambil melangkah.


Mendengar ucapan Alrega, Hanza menoleh, melangkah mendekatinya dan menepuk bahu Alrega.


Alrega pun membalikkan badannya dan menatap tajam Hanza, lalu berkata, "Apa maumu? Aku tidak ada urusan lagi denganmu!" Ia mendengus sambil kembali melangkah, kali ini diikuti oleh Zen.


Namun baru saja satu langkah mereka berjalan, Hanza kembali berteriak, "Aku juga tidak ada urusan denganmu, menggelikan sekali harus berurusan dengan bayi!"


Ucapan Hanza kali ini sukses menyinggung perasaan Alrega yang memang masih galau karena memikirkan Sella, ia pun berbalik, dengan cepat, lalu ....


Bukk!


Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Hanza. Serangan yang tidak diduga olehnya kalau Alrega akan bersikap seperti ini padanya.


Belum sempat Hanza membalas, satu pukulan lain mendarat dari arah yang berbeda, membuatnya terhuyung ke samping ke kanan dan ke kiri. Lalu Alrega mencengkram kerah bajunya kasar dan mendorong dengan sekuat tenaga ke dinding yang ada di sebelahnya.


Tubuh bagian belakang Hanza menempel di dinding, ia tekan dengan kedua tangan dan dadanya, lalu berkata dengan suara rendah bahkan hampir mirip Geraman yang mengerikan.


"Kalau menurutmu aku Bayi? Mana ada bayi yang bisa mengurus tiga Grup perusahaan sekaligus, ha ...? Jadi sebenarnya siapa yang Bayi, disini, aku atau kamu?!"


Setelah berkata demikian, Alrega melepaskan kerah bajunya dengan kasar, lalu benar-benar pergi meninggalkannya dengan langkah cepat.


Zen melihat antara Alrega yang melangkah dengan cepat dan Hanza, ia masih ingin menambah satu tinju lagi padanya, tapi ia urungkan. Sebelum menyusul Alrega, ia melihat Hanza yang menyeringai dan menunjukkan jari jempolnya yang terarah ke bawah.


Zen kesal, ia pun berkata, "Akan ku balas kau suatu saat nanti!" Ia berniat menghabisi dua orang, Hanza dan Delisa, tapi tidak hari ini. Ia harus menggunakan strategi agar mereka mati, tanpa diketahui, tanpa balasan apapun. Itu sebuah pelenyapan yang sepi, hening.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2